Setelah kematian sang suami yang berprofesi sebagai pilot, Ranum memilih untuk hidup menjanda dan lebih mengutamakan karier. Kesuksesan pun dapat dia raih dengan mudah, tetapi berbanding terbalik dengan perasaannya. Dia tak pernah melepaskan pakaian berwarna hitam selama menjalani hidup sendiri. Hal itu menjadikan Ranum seperti sebuah pelangi yang tanpa warna. Namun, pertemuannya dengan Pramoedya Aryatama yang merupakan mantan kekasih saat remaja, telah berhasil membuat dia kembali bergairah. Dari sana pula, satu per satu kisah kelam masa lalu yang selama ini menjadi rahasia mulai terungkap, dan membuat Ranum mengetahui siapa dia yang sebenarnya.
"Jika warna pelangi itu telah pergi, maka biarkan aku yang membawanya kembali."
(Pramoedya Aryatama/Arya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 ~Cincin di Jari Manis~
Ranum meletakan goodie bag yang dia bawa di meja kayu. Satu-satunya meja yang ada di sana. Dia juga meletakan tas kulitnya tepat di sebelah. Sesaat kemudian, Ranum mulai mengeluarkan semua peralatan kerjanya dan mulai melanjutkan rancangan yang sempat tertunda. Entah berapa lama dia berkutat dengan gambar yang dia buat. Ranum terus menggoreskan pensilnya dan menghasilkan sebuah bentuk yang indah.
"Cantik."
Ranum tersentak. Karena terlalu serius, sehingga dia tak menyadari kehadiran Arya di sana. "Kamu membuatku kaget," ucap Ranum dengan wajah pucat.
Arya tersenyum dan duduk di sampingnya. Dia pun melihat gambar yang sedang dibuat oleh Ranum. "Kamu pintar menggambar," pujinya.
Ranum melirik sesaat, kemudian melanjutkan pekerjaannya. "Biasanya, aku bisa menyelesaikan ini dalam waktu singkat. Namun, akhir-akhir ini ada banyak hal yang terjadi ...." Ranum terdiam.Dia teringat akan pertengkaran tadi dengan Nurmaida. Ranum pun meletakan pensilnya dengan kesal dan mengeluarkan keluhan panjang.
Arya tahu, wanita cantik itu kini sedang dalam masalah besar dan beban yang berat. Dapat dia bayangkan betapa tertekannya Ranum saat ini, karena itu juga yang dia rasakan. "Aku sudah menemui ibu tadi siang," ucap Arya.
"Bu Aisyah?" tanya Ranum. Arya mengangguk. "Apa katanya?" Ranum tampak penasaran.
Arya tidak langsung menjawab. Pandangannya terfokus pada selembar kertas bergambar sketsa sebuah dress buatan Ranum. "Kamu sudah disiapkan untuk Farhan," jawab Arya dengan penuh sesal. Seketika Ranum memeluknya dengan erat. Dia pun terisak di pundak Arya.
Sedangkan Arya hanya dapat mengelus lembut rambut bronde Ranum. Dia membiarkan sang kekasih untuk menumpahkan segala beban yang menghimpit perasaannya selama ini.
Beberapa saat kemudian, Ranum pun melepaskan pelukannya. Arya segera menghapus air mata Ranum dengan lembut. Tidak lupa, dia mencium kening wanita itu.
"Hari ini, ibu bicara dengan sangat keras padaku. Dia terus membentak dan membuatku merasa bahwa aku bukan anaknya," adu Ranum kepada Arya. Wajahnya tampak sangat sedih.
"Jangan bicara seperti itu. Kamu harus mengerti kenapa ibumu bisa bersikap keras padamu," tegur Arya sehingga membuat Ranum kesal dan tidak terima. Dia beranjak dari duduknya dan menjauhi Arya. Raum memilih berdiri di dekat jendela yang terletak di sebelah ranjang.
"Kenapa aku harus memberikan pengertianku padanya, sementara ibu sama sekali tidak mau mengerti aku," ucap Ranum kesal. Dia melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan lengan pada dinding dekat jendela.
Arya kemudian menghampiri dan berdiri di hadapannya. Dia tersenyum dan mencoba menenangkan sang kekasih. "Kamu tenang saja, karena aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh ke tangan Farhan. Kalaupun kamu harus menjadi milik pria lain, maka aku berharap itu bukan dia," Arya memegangi lengan Ranum.
Ranum menatap pria yang ada di hadapnnya. "Aku heran padamu. Pada awalnya kamu memaksaku agar bersedia untuk mengenal Farhan lebih dekat, tapi sekarang kamu justru tidak melakukan hal yang sebaliknya. Apa maksud semua ini?" tanyanya. Sementara Arya hanya terdiam. Dia menatap Ranum dengan tatapan yang aneh. Sepasang bola matanya menyiratkan sesuatu yang mungkin hanya Arya yang tahu.
Ranum masih menatapnya lekat. Dia menunggu jawaban dari pria yang kini terlihat lebih tampan. Beberapa saat kemudian, Arya pun bersuara, "Sebenarnya, Farhan memintaku untuk meyakinkanmu agar mau menerimanya, dengan jaminan dia akan menganggap semua utang-utangku lunas. Namun, seiring berjalannya waktu ... aku tidak tahu jika ternyata aku akan jatuh cinta lagi padamu dengan sangat cepat. Maaf, Ranum," Arya tampak menyesal.
Ranum tidak menjawab. Dia memalingkan wajahnya dan menatap ke luar jendela.
"Aku mohon jangan marah. Saat itu aku tidak berpikir apapun. Aku hanya ingin segera melunasi semua utang-utangku kepada Farhan. Kamu tahu sendiri 'kan, dia terus mengungkit hal itu?"
Ranum menyandarkan tubuhnya pada dinding dan menatap Arya. "Jika ternyata kamu tidak jatuh cinta lagi padaku, maka kamu sudah berhasil mengirimku ke neraka," jawab Ranum dengan wajah kecewa. Dia tidak mengerti, kenapa semua orang ingin membuat hidupnya hancur.
"Tidak. Aku mohon jangan bicara seperti itu," Arya meraih tangan Ranum dan menggengamnya. Dia sangat berharap, wanita itu dapat memaafkannya.
Ranum kembali menatap Arya. Bagaimanapun juga, rasa cintanya kepada Arya jauh lebih besar dari kesalahan yang hampir pria itu lakukan padanya. "Apa kamu akan mempertahankanku?" tanya Ranum setengah putus asa.
"Tentu. Aku lebih baik mati daripada harus kehilanganmu," ucap Arya seraya menyentuh pipi Ranum dengan punggung tangannya. Jawaban Arya telah membuat Ranum kembali tersenyum.
Melihat hal itu. Arya segera memeluknya. "Kamu akan selalu aman selama bersamaku," bisiknya lembut. Itulah kata-kata yang paling Ranum sukai.
Perlahan Arya mengurai pelukannya. "Aku punya sesuatu untukmu."
"Apa?" tanya Ranum penasaran.
Arya lalu melangkah ke arah lemari dan mengambil sesuatu. Bungkusan kecil yang dia buka semalam. Sementara Ranum masih menatapnya dengan penasaran saat Arya kembali menghampiri dirinya. Arya membuka bungkusan tersebut di hadapan Ranum. Sontak hal itu membuatnya terbelalak. "Ini adalah cincin milik ibuku. Dia memberikan ini tepat pada hari dirinya menghilang. Ibu menyuruhku untuk menyimpan bungkusan ini dengan baik.
Tadinya, ini akan kupakai sendiri, tapi aku rasa ini adalah cincin wanita. Aku tidak berharap diejek lagi setelah bleeby itu ada di sini. Lagi pula, ukurannya tidak cukup di jariku," Arya tertawa pelan dan memperlihatkan jari-jarinya yang besar dan kokoh.
Ranum pun ikut tertawa, dan dia sudah paham dengan maksud Arya. Karena itu, tanpa diminta Ranum segera menyodorkan tangan kiri kepada Arya dan memperlihatkan jemarinya yang lentik dan terawat dengan sangat paripurna. Arya pun tersenyum lebar. Dengan segera, dia meraih tangan Ranum dan memasangkan cincin itu di jari manis sang kekasih. Setelah itu, dia lalu mencium kedua tangan Ranum dengan lembut. Cincin itu sangat pas di jari manis Ranum. Warna birunya terlihat sangat cantik dan serasi dengan warna kulit Ranum yang putih. Dia terlihat sangat bahagia dengan pemberian Arya.
Sementara waktu terus merayap. Langit biru kini telah berubah menjadi warna jingga terang. Betapa Tuhan sudah mencipatakan banyak sekali warna yang dapat memperindah hidup semua orang. Arya berharap Ranum pun dapat menemukan lagi warna dalam hidupnya. "Kamu sangat cantik, sama seperti sebuah pelangi," bisik Arya lembut.
"Aku hanya sebuah pelangi yang sudah kehilangan semua warnanya, Arya," jawab Ranum pelan. Ada rona sedih dalam matanya.
Arya menggeleng pelan. "Jika memang semua warna pelangi itu sudah pergi dan menghilang, maka biarkan aku yang akan membawanya kembali," Arya mencium lembut bibir Ranum dengan warna burgundynya. Itu adalah hal yang selalu Ranum rindukan dari diri seorang Arya.
Senja pun berlalu dan tergantikan oleh malam gelap. Sudah hampir jam delapan malam, tetapi Ranum masih terlelap di sebelah Arya dan dalam satu selimut yang sama. Sementara Arya hanya duduk termenung sambil bersandar pada kepala tempat tidurnya. Berita penting kali ini, mereka belum makan sama sekali.
Perlahan, Ranum membuka mata. Dia menatap Arya yang belum menyadari bahwa Ranum telah terbangun dari tidur lelapnya.
Ranum kemudian menyentuh lengan kokoh Arya dengan lembut, sehingga membuat Arya tersentak dan menoleh. Sesaat kemudian, dia tersenyum. "Aku akan keluar sebentar untuk mencari makanan," ucapnya.
"Ambilkan ponselku," Ranum menunjuk tas kulit berwarna cokelat yang dia letakan di atas laci, tepat di sebelah bleeby berada.
Arya menurut saja. Dia meraih tas itu dan memberikannya kepada Ranum.
Sesaat kemudian, Ranum tampak menghubungi seseorang. Ternyata, dia memesan makanan dari kedai miliknya. Lagi pula jarak dari kedai sangat dekat dan pastinya lebih enak daripada nasi goreng.
"Mudah bukan?" Ranum tersenyum kepada Arya yang hanya geleng-geleng kepala.
Tidak berselang lama, pesanan pun datang. Sementara Ranum terlihat sudah berpakaian rapi dengan rambut panjang yang menjuntai indah di pundaknya. "Aku harus pulang," ucap Ranum dengan wajah malas.
"Bukannya kita akan makan dulu?" protes Arya
"Aku tidak lapar. Saat merasa bahagia, aku akan kehilangan rasa laparku," jawab Ranum sekenanya. Dia sibuk membereskan isi tas.
Arya segera memeluknya dari belakang dan mencium pundak indah Ranum yang polos.
"Aku senang kamu kemari. Aku sangat merindukanmu," bisiknya.
"Aku harus segera pulang, jadi jangan merayuku lagi," tolak Ranum geli. Dia lalu membalikan badannya. "Ibuku pasti akan bertanya aku dari mana saja."
"Jawab saja kamu baru selesai di servis, karena ada beberapa onderdilmu yang kendor," celetuk Arya, yang seketika membuat Ranum melotot sempurna padanya. Dia lalu memukul lengan Arya dengan wajah cemberut. Sementara Arya hanya tertawa geli. Jarang sekali Arya tertawa seperti itu. Namun, kini dia merasa jauh lebih bahagia. Hidupnya terasa jauh lebih berwarna. Ranum, sudah memberikan warna baru dalam hari-harinya. Terlepas dari semua masalah yang ada, Arya yakin pasti semuanya akan segera terselesaikan dengan baik. Dia hanya berharap agar dirinya bisa selalu memeluk si pemilik rambut bronde itu.
Sementara Ranum, mengendarai mobilnya dengan lebih tenang. Meskipun pekerjaannya terbengkalai lagi, tetapi hati dan pikirannya sedikit lebih tenang hari ini.
Sesaat dia melirik jari manisnya. Ranum menyukai cincin itu. Dia memastikan tidak akan ada cincin lain yang akan melingkar di jari manisnya, selain dari cincin yang Arya berikan. Ranum tak peduli dan tidak ingin tahu seperti apa tanggapan dari Nurmaida nantinya.
Malam ini, dia harus kembali bersiap untuk menerima tatapan tajam dari wanita yang dipanggilnya dengan sebutan " ibu".
Entah sampai kapan semua ini akan berakhir. Entah seperti apa penyelesaian dari masalah ini. Namun, satu yang pasti bahwa dia tidak akan pernah merelakan dirinya berakhir dalam pelukan pria sakit jiwa seperti Farhan.
Selang beberapa saat, Ranum sudah memasukan mobil ke dalam garasi. Perasaannya mulai cemas. Dia tidak ingin bertengkar lagi dengan Nurmaida. Hati-hati, Ranum membuka pintu rumahnya. Dia lalu melangkah masuk dan melihat sekeliling ruangan itu. Nurmaida tidak ada menyambutnya dengan wajah marah dan tatapan tajam. Ranum pun bertanya -tanya tentang keberadaan ibunya. Akan tetapi, ini akan jauh lebih baik. Dia pun segera melangkah menuju tangga sebelum akhirnya tertegun saat mendengar suara benda pecah yang terjatuh di lantai.
Ranum tersentak kaget. Dia melepas stilettonya dan melangkah menuju arah suara. Keributan itu berasal dari kamar Nurmaida. Apa yang terjadi pada ibunya? Ranum semakin bertanya-tanya. Semakin mendekat ke arah kamar Nurmaida, sayup-sayup terdengar suara isakan berat dari wanita itu yang membuat Ranum tertegun.
Ibu menangis? gumamnya dalam hati. Rasa penasaran pun semakin menyelimuti perasaannya. Perlahan, Ranum menempelkan telinga di dekat pintu. Ya, itu memang suara Nurmaida.Akan tetapi, kenapa dia bisa sampai menangis seperti itu? Dari isakan yang keluar dari mulutnya, jelas sudah bahwa ia merasa sangat tersakiti.
Ranum terdiam. Dia lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding dekat pintu kamar sang ibu. Terbersit rasa bersalah yang sangat dalam di hatinya. Dia telah sangat mengecewakan wanita itu. Ranum juga sudah banyak berkata kasar padanya.
Ya Tuhan, kenapa Ranum bisa sampai lupa jika wanita yang selalu mengajaknya bertengkar itu adalah seorang wanita yang seharusnya dia hormati dan bahkan dia cium kakinya.
Ranum bermaksud untuk menuju kamarnya saja. Dia tidak tahan mendengar suara isakan dari Nurmaida, karena semakin berlama-lama di sana, maka rasa bersalah dalam hatinya akan semakin besar. Namun, baru baru saja dirinya hendak melangkah, tiba-tiba dia mendengar Nurmaida berbicara.
"Kamu tega melakukan ini padaku, Mas. Meskipun sudah lebih dari dua puluh lima tahun lamanya, tapi aku tidak pernah lupa dengan semua rasa sakit ini. Setiap kali melihatnya, maka rasa sakitku akan semakin besar," Nurmaida terus terisak.
Ranum menautkan alisnya. Nurmaida menangis karena almarhum ayahnya, bukan karena dirinya. Setidaknya Ranum merasa sedikit lega. Namun, ada apa dengan almarhum ayahnya? Ranum pun segera berlari menuju tangga dan pergi ke kamarnya. Di sana dia merenung sejenak. Ada apa antara Nurmaida dan almarhum ayahnya?
Seingat Ranum, ayahnya adalah sosok yang baik. Dia pria yang penuh kharisma serta gagah. Sang ayah sangat menyayanginya dan Rania. Dia bahkan tidak pernah membiarkan Nurmaida memarahinya.
Andai sekarang sang ayah masih ada, mungkin Nurmaida pun tidak akan melakukan hal gila seperti menjodohkannya dengan pria sakit jiwa seperti Farhan.
Ayahnya pasti akan selalu melindungi dan tidak akan membiarkan Nurmaida terus-menerus memarahinya.
Namun sayang sekali, sebuah kecelakaan tragis telah merenggut nyawa sang ayah tercinta. Hal itu sudah meninggalkan kepedihan mendalam bagi Ranum, mengingat selama ini dia jauh lebih dekat terhadap sang ayah, jika dibandingkan dengan ibunya sendiri. Pria itu jauh lebih perhatian dan peduli padanya. Dia tidak pernah marah ataupun membentaknya.
Namun, tiada guna menyesali semua yang sudah terjadi, karena ayahnya sekarang telah tertidur dengan tenang dalam pangkuan Yang Maha Kuasa. Seperti halnya Vincent. Dia pun kini sudah tenang di sana. Ranum, hanya berharap agar semua masalah yang dihadapi saat ini, akan segera berakhir. Semoga Tuhan dapat membukakan mata hati Nurmaida, membuat dia dapat melihat kenyataan yang sebenarnya tentang Farhan. Setelah itu, merestui hubungannya dengan Arya.
Semuanya terdengar begitu mudah dan juga indah saat dibayangkan. Akan tetapi, entah bagaimana dengan kenyataan yang sebenarnya.
aku bacanya juni 2025 kak
semangat berkarya kakak..
btw, ig nya apa?
dan yg jlas kata2 itu sngt tepat untk almh nurmaida itu sendri,,sumph thor ak bnar2 mnntikan kpn ajal dtng mnjmputny,,menjijikan
oh astaga thor,berdebar2 rasa ny😁😁😁
jelaslah banyak yg mau😄😄😄