Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Tubuh Sebagai Kuali (Revisi)
Begitu pintu Halaman Bambu Hijau tertutup, tubuh Lin Xuan yang sejak tadi berdiri tegak di aula akhirnya tidak mampu bertahan lagi.
Punggungnya perlahan membungkuk.
“Uhuk!”
Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
“Tuan Muda!”
Xiao Ya segera panik. Ia bergegas menopang tubuh Lin Xuan dan membantunya menuju ranjang. Wajahnya masih pucat akibat kejadian di aula tadi.
“Tuan Muda, apakah yang Tuan lakukan tadi benar-benar ilmu iblis?”
“Saya pernah mendengar orang-orang di pasar membicarakannya. Katanya, seseorang yang menggunakan ilmu semacam itu akan kehilangan nyawanya keesokan harinya!”
Mendengar ocehan pelayannya, Lin Xuan hampir tertawa. Namun rasa nyeri di dadanya membuat tawanya urung keluar.
“Xiao Ya, terlalu banyak mendengar cerita para pengembara di pasar telah membuat imajinasimu semakin liar.”
Lin Xuan duduk bersila dan mengatur napasnya.
“Itu bukan ilmu iblis. Hanya sedikit cara untuk memanfaatkan Kekuatan Jiwa.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun kali ini kau benar. Tubuh ini memang sudah berada di ambang batasnya.”
Kekuatan Jiwa yang ia gunakan untuk menghadapi Zhao Tian tadi telah menguras hampir seluruh tenaganya.
Sisa racun di dalam meridian kembali bergejolak.
Jika dibiarkan, meridiannya akan membusuk sepenuhnya dan tidak mungkin dipulihkan dengan cara biasa.
Lin Xuan merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan seluruh isinya ke telapak tangan.
Sepuluh keping Koin Tembaga Spiritual.
Itulah seluruh harta yang dimilikinya saat ini.
“Xiao Ya, dengarkan baik-baik.”
“Baik, Tuan Muda!”
“Bawa semua ini ke pasar di pinggiran kota. Jangan pergi ke paviliun milik keluarga kita. Paman Ketiga pasti akan mengusirmu.”
Ia menyerahkan koin-koin itu kepada Xiao Ya.
“Belikan tiga batang Rumput Darah Ayam, dua kelopak Bunga Api Liar, dan sepotong Akar Tembaga Berkarat. Sisanya gunakan untuk membeli arang dari kayu keras terbaik. Pilih yang apinya paling kuat.”
Xiao Ya tertegun.
“Tuan Muda, Rumput Darah Ayam dan Bunga Api Liar bukankah bahan yang biasa diberikan kepada Kuda Tanduk? Sedangkan Akar Tembaga Berkarat bahkan mengandung racun!”
Ia menatap Lin Xuan dengan bingung.
“Untuk apa Tuan membeli bahan-bahan tak berguna seperti itu?”
“Untuk meracik obat.”
“Obat?”
Xiao Ya semakin bingung.
“Tuan Muda, apakah Tuan yakin tidak salah memilih bahan?”
“Belikan saja.”
Lin Xuan meliriknya.
“Jangan terlalu banyak bertanya.”
Ia kemudian melanjutkan.
“Setelah itu, siapkan bak mandi kayu terbesar yang kita miliki. Isi hingga penuh dan panaskan airnya sampai mendidih.”
Xiao Ya yang masih dipenuhi kebingungan akhirnya mengangguk.
“Baik, Tuan Muda.”
Ia mengambil keranjang bambu lalu bergegas meninggalkan halaman.
Begitu sendirian, Lin Xuan memejamkan mata.
Kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam Lautan Jiwa.
Di tengah kegelapan tanpa batas, Kuali Naga Hitam melayang dalam kesunyian.
Permukaannya tertutup karat tebal. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa benda kuno itu akan bergerak.
“Seperti dugaanku.”
Lin Xuan menatapnya dalam diam.
Untuk membangunkan Kuali Naga Hitam, ia membutuhkan Qi murni.
Namun saat ini, ia bahkan tidak memiliki sedikit pun Qi.
Delapan puluh titik meridiannya telah terputus.
Untuk memperbaiki meridian, ia membutuhkan pil.Untuk meramu pil, ia membutuhkan kuali dan Qi.
Semuanya saling berkaitan.
Jika seorang alkemis lain berada dalam keadaan seperti ini, mereka pasti telah kehilangan harapan dan hanya bisa menerima nasib sebagai seorang cacat seumur hidup.
Namun Lin Xuan bukanlah alkemis biasa.
“Kalau aku tidak memiliki kuali...”
Tatapannya perlahan menjadi tajam.
“...maka tubuh ini akan kujadikan kuali.”
Dalam ingatannya terdapat sebuah catatan terlarang dari Era Primordial yang pernah ia baca.
Teknik Tungku Daging Sembilan Kesengsaraan.
Teknik itu tidak menggunakan tubuh manusia sebagai sekadar wadah untuk menyimpan kekuatan.
Sebaliknya, tubuh ditempa menjadi sebuah tungku hidup.
Daging menjadi tungku.
Tulang menjadi penyangga.
Meridian menjadi jalur api.
Dan jiwa menjadi pengendalinya.
Tidak seorang pun berani mencobanya.
Teknik tersebut terlalu berbahaya. Sedikit saja terjadi kesalahan, tubuh dapat hancur dan jiwa akan tercerai-berai menjadi debu.
Namun bagi Lin Xuan, yang pernah merasakan penderitaan jauh lebih mengerikan di masa lalu, rasa sakit semacam ini bukanlah sesuatu yang patut ditakuti.
Rasa sakit tubuh baginya tidak lebih dari gigitan seekor semut.
“Kalau begitu...”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“...mari kita lihat apakah tubuh ini mampu menanggung Kesengsaraan Pertama.”
Satu jam kemudian, Xiao Ya kembali dengan napas terengah-engah.
Keranjang bambu berisi bahan-bahan yang dianggap tak berguna itu tergantung di punggungnya. Di tangannya terdapat sekantong arang hitam.
Ia segera menuju ruang pemandian.
Api dinyalakan.
Bak kayu terbesar diisi hingga penuh.
Arang terus ditambahkan ke dalam tungku sampai nyalanya membesar.
Tak lama kemudian, air mulai bergolak.
Gelembung-gelembung besar bermunculan di permukaannya. Uap panas memenuhi seluruh ruangan.
“Kau boleh keluar sekarang, Xiao Ya.”
“Tapi, Tuan Muda...”
Xiao Ya menatap air mendidih itu dengan cemas.
“Airnya terlalu panas! Jika Tuan masuk ke dalamnya, kulit Tuan pasti akan melepuh!”
“Tidak masalah.”
Lin Xuan menatapnya dengan tenang.
“Bagaimanapun suara yang kau dengar dari dalam nanti, jangan masuk sebelum aku memanggilmu.”
Satu kalimat itu membuat Xiao Ya terdiam.
Ia dapat merasakan ketegasan dalam suara Tuannya.
Akhirnya ia mundur beberapa langkah lalu menutup pintu dengan tangan gemetar.
Lin Xuan melepaskan jubahnya.
Tubuhnya kurus dan pucat.
Urat-urat hitam merambat di bawah kulitnya. Racun telah menyebar mengikuti meridian yang mulai membusuk.
Namun Lin Xuan tidak menunjukkan sedikit pun keraguan.
Ia melangkah maju dan masuk ke dalam bak berisi air mendidih.
Kulitnya seketika memerah.
Rasa panas membakar menyelimuti seluruh tubuhnya.
Namun Lin Xuan hanya mengatupkan gigi dan duduk bersila di dalam bak.
Ia mengambil seluruh Rumput Darah Ayam dan Bunga Api Liar lalu memasukkannya ke dalam air.
Seketika warna air berubah menjadi merah pekat. Aroma logam yang menusuk memenuhi ruangan.
Terakhir, ia mengambil Akar Tembaga Berkarat.
Krek!
Akar itu dipatahkan menjadi dua. Getah berwarna gelap mengalir dari dalamnya.
Tanpa sedikit pun keraguan, Lin Xuan menelan seluruh getah tersebut.
Duar!
Tubuhnya bergetar hebat.
Kekuatan liar yang berasal dari rumput dan bunga menerobos pori-porinya lalu mengamuk di sepanjang pembuluh darah.
Getah Akar Tembaga Berkarat meledak di dalam perutnya.
Lin Xuan segera menjalankan teknik kuno tersebut.
“Tungku Daging Sembilan Kesengsaraan...”
“Putaran Pertama, Kupas Tulang dan Rebus Meridian!”
Wusss!
Kekuatan di dalam tubuhnya seketika dikunci.
Lin Xuan memaksa seluruh energi liar itu tetap berada di dalam tubuhnya tanpa membiarkannya keluar sedikit pun.
Kemudian ia mengarahkannya menuju sisa racun Bubuk Peluruh Tulang yang mengendap di delapan puluh titik meridian yang telah terputus.
Darah mulai menetes dari hidung, telinga, bahkan sudut matanya.
Setetes demi setetes darah bercampur dengan air mendidih di dalam bak.
Namun Lin Xuan tetap tidak bergerak.
Jika konsentrasinya terputus bahkan untuk sesaat, keseimbangan energi di dalam tubuhnya akan runtuh.
Saat itu, tubuhnya akan meledak dari dalam.
Namun Lin Xuan adalah Kaisar Pil.
Ia tidak membiarkan kekuatan liar itu sekadar membakar racun.
Ia memaksanya melelehkan racun tersebut dan mengubahnya menjadi sumber kekuatan untuk menyambung kembali meridiannya.
Krak... Krak...
Suara retakan halus terdengar dari dalam tubuhnya.
Meridian yang telah membusuk terbakar habis.
Kemudian, dari kehancuran itu, meridian baru mulai tumbuh.
Permukaannya bahkan memancarkan kilau samar seperti tembaga yang ditempa ribuan kali.
Di luar ruangan, Xiao Ya berlutut di depan pintu.
Air mata terus mengalir dari sudut matanya.
Dari balik pintu, ia dapat mendengar rintihan tertahan Tuannya.
Namun ia tidak berani masuk.
Ia hanya bisa mengepalkan tangan dan berdoa dalam hati.
Di dalam ruangan, air yang semula merah perlahan berubah menjadi hitam pekat.
Bau busuk memenuhi seluruh tempat.
Itulah kotoran dan racun yang dipaksa keluar dari tubuh Lin Xuan melalui pori-porinya.
Satu demi satu meridian yang rusak mulai tersambung.
Hingga akhirnya, Meridian kedelapan puluh tersambung kembali.
Wusss!
Angin tiba-tiba berputar di atas Halaman Bambu Hijau.
Awan di langit Kota Awan Merah mulai bergerak.
Energi Spiritual dari seluruh penjuru kota seakan ditarik oleh kekuatan tak kasatmata.
Dalam sekejap, energi itu menembus atap dan mengalir deras menuju ubun-ubun Lin Xuan.
Kecepatannya begitu mengerikan.
Tubuh Lin Xuan seakan berubah menjadi jurang tanpa dasar yang menelan seluruh Energi Spiritual tersebut.
Boom!
Gelombang udara meledak.
Bak kayu raksasa itu hancur menjadi kepingan.
Air hitam yang dipenuhi bau busuk menyembur ke segala arah dan mengotori dinding ruang pemandian.
Aura Lin Xuan berubah.
“Kondensasi Qi Tingkat Pertama.”
Namun terobosannya belum berhenti.
Boom!
“Kondensasi Qi Tingkat Kedua!”
Namun pada saat itu, Lin Xuan segera menghentikan aliran energinya.
Ia tahu bahwa menerobos terlalu cepat hanya akan membuat fondasinya menjadi rapuh.
Kultivasi harus ditempa selangkah demi selangkah.
Untuk saat ini, Kondensasi Qi Tingkat Kedua sudah lebih dari cukup.
Lin Xuan membuka matanya.
Ia bangkit dari tengah puing-puing bak mandi.
Kulitnya kini memancarkan warna sehat dengan kilau lembut seperti giok. Otot-ototnya menjadi lebih padat dan tubuhnya tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kelemahan.
Lin Xuan mengepalkan tangan.
Krek!
Udara di sekeliling tinjunya berderak pelan.
“Tidak buruk.”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Meridiannya bukan hanya pulih. Bahkan telah ditempa menjadi seperti tembaga.”
Ia merasakan aliran Qi yang mengalir di dalam meridian barunya.
“Ketahanan tubuhku sekarang jauh melampaui kultivator Kondensasi Qi Tingkat Kedua biasa.”
Lin Xuan mengambil sehelai handuk dan menutupi tubuhnya.
Kemudian tatapannya beralih ke arah pintu.
“Paman Ketiga... Keluarga Zhao...” Senyum dingin perlahan muncul di wajahnya.
“Kalian mengira seorang jenius telah jatuh. Sayangnya...” Aura tajam perlahan muncul dari tubuhnya.
“Kalian baru saja membangunkan seorang monster.”