Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Satu jam kemudian, akhirnya Amira menemui Ricki di sebuah tempat yang mungkin menjadi tempat favorit mereka dulu. Tempat yang pernah menyimpan begitu banyak kenangan. Namun, kali ini tempat itu akan menjadi saksi pertemuan terakhir mereka.
Ricki sudah duduk di sana. Rahang tegas menghiasi wajahnya. Entah apa sebenarnya yang ingin lelaki itu sampaikan kepada Amira hingga memintanya datang ke tempat ini.
“Duduk,” ucap Ricki ketika menyadari Amira sudah berdiri di hadapannya.
Gadis itu menatapnya nanar, lalu perlahan menarik kursi di hadapannya.
“Mau bicara apa lagi?” tanya Amira.
Ricki menghela napas berat. “Mira, aku hanya ingin kau tahu... semua ini tidak pernah ada dalam pikiranku sama sekali.”
Amira tersenyum getir. “Lalu?”
Ricki terdiam. Ia tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana tentang pertunangannya yang akan digelar satu minggu lagi dengan keluarga Wijaya.
Keluarga yang tidak lain adalah keluarga Alika, kakak dari gadis yang pernah mengisi hidupnya selama tiga tahun.
“Mira, aku nggak bermaksud menerima pertunangan itu.” Ricki memejamkan mata sejenak. “Aku hanya tidak mau membantah perintah orang tuaku.”
Amira menganggukkan kepala meskipun dadanya terasa semakin penuh.
“Aku tahu. Semua orang tua pasti ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya. Mereka juga berhak menentukan bobot, bibit, dan bebet seseorang yang akan menjadi bagian dari keluarga mereka.” Amira tersenyum hambar. “Tapi bukan berarti anak yang terlahir tidak beruntung seperti aku tidak pantas untuk bahagia.”
“Mira, aku tidak bermaksud—”
“Kau bilang tidak bermaksud.” Amira memotong perkataannya. “Tapi kamu tetap menerima semuanya.”
Ricki terdiam.
“Padahal kamu tahu aku seperti apa. Kamu bahkan tahu bagaimana keluargaku memperlakukanku.”
Ricki hendak menggenggam tangan Amira. Namun gadis itu segera menepisnya.
“Sudahlah.” Amira menarik tangannya ke pangkuan. “Mulai sekarang kita lanjutkan hidup masing-masing. Dan mulai sekarang aku akan belajar terbiasa melupakan semuanya.”
Ricki mengepalkan tangannya. Sejak awal, ia memang berusaha mencintai dan menyayangi gadis di hadapannya. Hanya saja, status keluarga selalu menjadi alasan terbesarnya untuk ragu.
Dan kesalahannya adalah ia tidak pernah mampu menepati janji untuk membahagiakan Amira. Justru sekarang, dirinya menjadi orang pertama yang menyakiti gadis itu.
“Mira...” suara Ricki terdengar berat. “Aku harap kamu tidak pernah lupa kalau aku juga pernah memperjuangkanmu. Aku pernah ada di saat kamu rapuh.”
“Tentu.” Amira menjawab cepat. “Justru karena itu, mulai sekarang aku tidak akan bergantung lagi kepadamu.”
Ia menarik napas panjang. “Terima kasih untuk waktu tiga tahun ini.”
“Mir.”
Amira berdiri. Namun saat mendengar panggilan itu, ia kembali menoleh. Ricki menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan.
“Aku harap di pertunanganku nanti kamu tetap hadir.”
Amira mengernyit. “Untuk apa?”
“Aku tidak ingin kamu membuat seolah-olah keluargaku jahat kepadamu.”
Amira terdiam beberapa saat. Kemudian ia tersenyum pahit.
“Tenang saja.” Tatapannya mulai berkaca-kaca. “Dari dulu aku sudah terbiasa menerima semuanya. Bahkan menutupi rasa sakitku demi kebahagiaan orang lain juga sudah sering aku lakukan.”
Ia tertawa kecil, tetapi terdengar getir. “Tapi aku juga tidak bisa menyetop mulut orang satu per satu untuk tidak membicarakan keburukan kalian.”
Amira menatap Ricki. “Tanganku cuma dua. Aku bukan tentakel yang punya banyak tangan.”
Ricki terdiam lalu Amira berbalik. Dalam hati, ia sempat berpikir lelaki itu akan menyesali perbuatannya. Namun ternyata kedatangannya hanya untuk meminta agar Amira tidak membuat keributan di pesta pertunangannya nanti. Sama seperti keluarganya.
“Mira, jangan tersinggung,” ucap Ricki.
Langkah Amira terhenti. Suasana hening beberapa saat. “Menurutmu hatiku ini terbuat dari apa?”
Ricki terdiam pria itu mencoba tenang sambil membenarkan dasinya sendiri.
“Hal sebesar ini, semua orang menyuruhku diam. Menyuruhku tidak bersuara. Menyuruhku tidak tersinggung.”
Suara Amira mulai bergetar. “Aku punya hati.”
Ia menatap Ricki dengan mata berkaca-kaca.
“Apa kalian pikir aku akan baik-baik saja saat tangan kalian mulai menyakitiku? Saat mulut kalian mulai memerintahku?”
Air matanya akhirnya jatuh. “Apa serendah itu aku di hadapan kalian?”
Ricki menggeleng. “Mira, tidak begitu.”
“Seolah aku ini orang yang terbiasa diinjak dan memang pantas untuk diinjak.”
“Mira...”
“Sudah cukup.”
Amira menghapus air matanya. “Mulai sekarang aku tidak mau lagi menjadi pesuruh kalian.”
Tatapannya mengeras. “Aku akan menentukan sendiri hidupku. Jadi jangan pernah ikut campur lagi.”
Amira kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Ricki hanya bisa menatap kepergiannya. Ada penyesalan besar di dalam hatinya. Namun semuanya sudah terlambat. Selama ini, usia dan cara berpikirnya yang lebih dewasa membuatnya selalu menganggap Amira masih terlalu kekanak-kanakan.
Ia tidak pernah benar-benar memahami bahwa gadis itu bukan lemah. Amira hanya terlalu lama menahan semuanya sendirian.
Dan kali ini, ia runtuh karena terlalu mencintai seseorang yang tidak mampu memperjuangkannya sampai akhir.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Amira sampai di rumah menjelang sore. Ia baru saja membuka pintu ketika melihat Alika duduk di ruang keluarga. Begitu melihat Amira, Alika langsung berdiri.
“Kamu sudah bertemu Ricki?”
Langkah Amira terhenti. Tatapannya perlahan beralih kepada sang kakak.
“Bagaimana kamu tahu?”
Alika tampak sedikit terkejut, tetapi hanya sesaat. Kemudian ia tersenyum.
“Ricki yang memberitahuku.”
Amira menatapnya tanpa berkedip. Jadi benar. Pertemuan tadi bukan keinginan lelaki itu. Ricki datang menemuinya karena Alika.
Alika yang menyuruhnya. Seketika luka di dada Amira terasa semakin dalam.
“Kenapa?” tanya Amira lirih.
“Aku cuma ingin semuanya baik-baik saja.”
Alika berjalan mendekat. “Aku tahu kamu masih terluka. Karena itu aku meminta Ricki bicara baik-baik denganmu.”
Amira tertawa kecil. “Bicara baik-baik?”
“Iya.”
“Dia datang hanya untuk meminta aku tidak membuat masalah di pertunangan kalian.”
Alika menghela napas. “Aku tidak menyangka Ricki akan mengatakan seperti itu.”
Amira menatapnya. Untuk sesaat ia berharap kakaknya akan meminta maaf. Namun Alika justru menggenggam tangannya.
“Mira, kamu harus belajar menerima kenyataan.”
Amira menarik tangannya. "Bukannya kemarin kita sudah membicarakan ini, kenapa harus diulangi lagi. Kamu sebegitu takutnya."
Alika kembali tersenyum. "Aku bukannya takut, tapi karena aku juga sedang mempersiapkan pertunanganku.”
Amira diam, ia seolah malas mendengar ocehan dari ratu drama dihadapannya itu.
“Gaunnya sudah hampir selesai.”
Alika mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa foto.
“Menurutmu yang mana yang lebih bagus?”
Amira melihat layar itu sekilas. Gaun-gaun mewah terpampang di sana.
“Aku tidak tahu.”
“Kenapa?”
“Aku sedang tidak ingin membicarakan itu.”
Alika mengangguk. “Baiklah.”
Namun beberapa detik kemudian, ia kembali tersenyum. “Oh iya, tempat pertunangannya juga sudah ditentukan.”
Amira hanya mengangkat alis seolah tidak tertarik dengan pembicaraan itu.
“Aku yang memilih, tempat itu loh," pancing Alika."
Entah kenapa, dada Amira tiba-tiba terasa tidak nyaman mendengar kata itu hingga akhirnya ia bertanya.
“Di mana?”
Alika menyebutkan sebuah nama tempat. Seketika wajah Amira berubah. Matanya membesar. Tempat itu... tempat yang dulu pernah ia pilih bersama Ricki. Tempat yang pernah mereka datangi tiga tahun lalu.
Saat itu Ricki pernah berkata bahwa suatu hari nanti, jika mereka menikah, ia ingin mengadakan acara di sana.
Amira bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana mereka berdiri berdampingan sambil membayangkan masa depan.
Namun sekarang... tempat yang pernah menjadi bagian dari impian mereka akan menjadi saksi pertunangan Ricki dengan Alika.
“Kenapa diam, Mira?” Suara Alika menyadarkannya.
Amira menatap kakaknya. “Tidak apa-apa.”
“Kamu suka tempatnya?”
Amira tersenyum. Senyum yang nyaris tidak terlihat. “Bagus.”
“Syukurlah.”
Alika terlihat bahagia. “Kalau begitu, kamu harus datang nanti.”
Amira mengangguk pelan. “Iya.”
Alika tersenyum puas lalu kembali melihat foto-foto gaunnya. Sementara Amira berdiri mematung. Entah terbuat dari apa hati gadis itu sehingga masih mampu berdiri disaat sang Kakak menjelaskan detail pertunangannya dengan mantan kekasihnya.
Bersambung .....