Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Pertautan jari kelingking mereka seolah menjadi jangkar pertama yang menahan ingatan Zela yang rapuh di tengah samudera ketakutan. Perlahan, Zela menurunkan kedua kakinya dari posisi berjongkok. Tubuhnya yang mungil masih gemetar tipis, namun sorot mata kelabu milik Bashkar memberi rasa aman yang belum pernah ia rasakan sejak terbangun di ruangan asing ini.
Melihat Zela yang sudah tidak lagi menunjukkan pertahanan ekstrem, Bashkar bergerak sangat pelan. Tanpa membuat gerakan mendadak yang bisa memicu kepanikan istrinya, pria tegap itu mengulurkan kedua tangannya yang kokoh. Satu tangannya menyangga punggung ramping Zela, sementara tangan lainnya terselip di bawah lipatan lutut wanita itu.
Dengan sangat hati-hati seolah sedang mengangkat porselen paling rapuh yang mudah retak Bashkar menggendong Zela ke dalam dekapan dadanya.
"Ngh..." Zela refleks menahan napasnya. Kehangatan tubuh Bashkar yang tegap langsung menyergap indra penciumannya, berpadu dengan aroma woody dan kayu cendana khas milik suaminya. Refleks tubuhnya bekerja jauh lebih cepat daripada ingatannya yang hilang; jemari mungil Zela yang pucat dan gemetar langsung meremas kencang kerah kemeja hitam Bashkar, menyandarkan wajahnya yang dingin di balik leher tegap pria itu.
Bashkar berdiri perlahan, merasakan betapa ringannya bobot tubuh Zela sekarang. Rasa bersalah kembali menghantam dadanya saat menyadari betapa banyaknya tenaga yang terkuras dari tubuh istrinya akibat siksaan dan rasa takut. Langkah kakinya yang tenang membawanya menuju brankar medis. Dengan kelembutan yang sangat luar biasa, Bashkar membaringkan tubuh Zela di atas kasur pualam yang empuk.
Namun, begitu Bashkar hendak menarik tangannya kembali untuk merapikan selimut, genggaman jemari Zela di kerah bajunya justru makin mengencang.
Zela menatap Bashkar dengan mata bulat yang polos dan penuh kepanikan tipis. Jari kelingking mungilnya kembali berpindah menggenggam ibu jari tegap Bashkar, menahannya rapat-rapat seolah takut jika pria itu melangkah satu inci saja dari sisinya, dunia asing yang menakutkan akan kembali menelannya.
"J-jangan pergi..." cicit Zela polos, suaranya halus bagaikan bisikan angin. "Kamu janji kan... tadi mau di sini?"
Bashkar menatap jemari mungil yang mencengkeram jempolnya begitu erat. Garis kaku di wajahnya makin melunak. Pria dingin itu menarik kursi porselen di samping brankar, memajukannya hingga mepet dengan tepi tempat tidur, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di sana tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
"Aku tidak pergi," desis Bashkar pelan namun pasti. "Aku di sini."
Bashkar kemudian memutar pandangannya ke arah pintu kaca, memberi kode dengan isyarat mata yang tajam. Dokter bedah saraf dan suster yang sejak tadi menunggu di luar langsung paham. Pintu terdorong terbuka pelan. Dokter dan suster melangkah masuk tanpa menimbulkan suara bising, berupaya menjaga atmosfer ruangan tetap tenang.
Melihat kehadiran dua orang berseragam medis itu, cengkeraman Zela pada ibu jari Bashkar makin menguat hingga kuku-kukunya yang pucat memutih. Tubuhnya menyusut di balik selimut tebal.
"Jangan takut," bisik Bashkar, menurunkan wajahnya sedikit di dekat telinga Zela. Suaranya yang dalam bagaikan penawar rasa cemas. "Dokter hanya mau memasang kembali selang makananmu agar kamu cepat sembuh. Aku memegangimu."
Zela menyandarkan kepalanya ke lengan Bashkar yang berada di tepi brankar, memejamkan matanya rapat-rapt seraya mengangguk pelan. Dokter dengan gerakan terampil dan sangat berhati-hati kembali memasang jarum infus di punggung tangan kiri Zela yang sempat terlepas. Selama prosedur singkat itu berlangsung, Zela sama sekali tidak merintih; ia hanya makin mempererat genggaman tangannya pada ibu jari Bashkar, menjadikan genggaman itu sebagai satu-satunya tumpuan kekuatannya.
Setelah jarum infus dan selang pemantau kembali terpasang rapi, suster menyodorkan kembali baki porselen yang berisi semangkuk bubur halus yang masih hangat. Suster itu menunduk sopan, meletakkan baki tersebut di meja samping brankar, lalu bergegas mundur keluar ruangan bersama dokter untuk memberikan privasi mutlak bagi pasangan tersebut.
Keheningan kembali melingkupi ruang perawatan VVIP.
Bashkar menggunakan tangan kirinya untuk meraih mangkuk bubur hangat tersebut. Dengan tangan kanannya yang masih erat digenggam oleh Zela, Bashkar mengambil sendok, menyendok sedikit bubur halus berkaldu lembut, lalu meniup uap panasnya dengan sangat sabar hingga suhunya pas.
"Buka mulutmu," ujar Bashkar pelan, mengarahkan sendok itu tepat di depan bibir pucat Zela.
Zela membuka matanya perlahan. Ia menatap mangkuk bubur itu, lalu beralih menatap wajah tegap Bashkar yang menunggunya dengan penuh kesabaran. Kejadian traumatis saat ia menolak makan tadi siang perlahan menguap, tergantikan oleh rasa percaya yang polos pada pria yang mengaku sebagai suaminya ini.
Dengan ragu-ragu, Zela membuka bibirnya sedikit.
Nyam.
Sendok itu masuk dengan lembut. Zela mengunyah bubur halus itu perlahan, menelannya dengan agak payah karena tenggorokannya yang sempat kering dan terluka. Namun rasa gurih kaldu hangat itu secara perlahan memberikan kehangatan yang sudah lama hilang dari perutnya yang kosong.
"Enak...?" tanya Bashkar singkat, sepasang mata kelabunya menatap lekat setiap pergerakan di wajah istrinya.
Zela mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman tipis dan polos sebuah senyuman kecil yang sangat murni tanpa kenangan penderitaan masa lalu. "Hangat..." bisiknya pelan. "Makasih..."
Melihat senyuman tipis yang kembali menghiasi wajah porselen pucat itu, dada Bashkar bergemuruh oleh campuran rasa lega dan kehangatan yang asing. Pria yang tak pernah melayani siapa pun sepanjang hidupnya itu kembali menyendokkan bubur, meniupnya dengan telaten, dan menyuapkan sendok demi sendok ke mulut Zela dengan ketelitian dan kelembutan yang teramat sangat.
Setiap kali Zela menerima suapan itu, genggaman jemari mungilnya di ibu jari Bashkar tidak pernah mengendur sedikit pun seolah mengunci janji bahwa di tengah ingatan dunianya yang hampa, hanya pria bernama Bashkar inilah satu-satunya tempat ia pulang dan merasa aman.