Genre: Action, Adventure, Fantasy, Kingdom, Romance
Dunia Etheria, dunia pedang dan sihir. Dunia fantasi di mana terdapat monster dan berbagai ras.
Erza Diozor merupakan seorang anak bangsawan di Kerjaan Mountenia.
Sejak bangun tidur hari itu, Erza mendapat sebuah sistem dan ingatan kehidupan sebelumnya di bumi.
Erza juga mendapat sebuah keberuntungan besar, yaitu mendapat salah satu Job Legendaris: Necromancer.
Seri 1: Bab 1 - Bab ?
Keluarga Diozor merupakan keluarga tersohor di kerajaan Mountenia, karena jasa-jasa mereka melindungi kerajaan dari berbagai malapetaka. Banyak orang yang memuji dan mengangungkan nama Diozor, namun banyak juga yang iri dan ingin menjatuhkan.
Bagaimana cara Erza membalas mereka? dengan pedang? atau dengan bantuan sistem?
Nantikan petualangan Erza mencari pasukannya, dan pembalasan Erza pada para bangsawan yang berbuat buruk pada keluarga dan orang terdekatnya!
Seri 2: ?
Seri 3: ?
Instagram: inki_inira
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inki Inira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Berburu
Malam kedua, Melvin menunggu para petualang, namun tak kunjung ada kabar.
Melvin hanya bisa berjalan bolak-balik di depan kediaman Ignisia. Hingga akhirnya berakhir dengan kekesalan.
Melvin menginjak-injak tanah kesal sambil mengucapkan kata-kata kotor.
“Sialan, dasar tidak berguna! Aku sudah membayar separuhnya. Seharusnya aku tidak mempercayai mereka begitu saja!” Melvin terus mengumpat.
Pelayan menghampiri Melvin, “Tuan muda, sudah waktunya makan malam. Count sudah mengunggu.”
Melvin menghembuskan nafas panjang, mencoba rileks, namun tidak dengan urat-urat kencang di leher dan dahinya. “Aku kesana!”
Pelayan tidak berani mendekat lagi. Bahkan saat Melvin melewatinya, Pelayan itu menjaga jarak. Ia takut terkena semprotan Melvin.
Melvin yang menyadari itu hanya bisa berdecak.
Sementara itu, Count Alvan Ignisia telah menunggu di meja makan, “Menu apa hari ini?”
“Babi panggang dilapisi madu kesukaan tuan muda Melvin,” ucap Koki.
Alvan mengetuk-ngetukan jarinya menunggu Melvin.
Tiba-tiba, pintu ruang makan terbuka dengan kasar. Siapa lagi jika bukan Melvin pelakunya.
“Kemana saja kau? ini sudah sangat telat,” ucap Alvan dengan nada menekan.
Melvin yang sedang kesal pun mengekerut seperti anak kucing. “Aku sedang berlatih,” ucap Melvin beralasan.
Alvan naik pitam kemudian menggebrak meja, “Kau pikir aku bodoh? Kau hanya bolak-balik di depan mansion. Apanya yang berlatih?!”
Melvin sudah tidak bisa menahan kekesalannya, ”Jika kau tahu, kenapa bertanya!”
Alvan terdiam, aura di ruangan semakin mencekam.
Para pelayan berikut koki keluar ruangan lantaran hampir tidak bisa bernafas.
Melvin sesak nafas dan tidak bisa bergerak.
“Kau sudah berani melawanku?” ucap Alvan, kemudian seluruh meja makan terlahap oleh api. Hidangan enak yang tersaji sudah tak layak makan.
Malam itu akan selalu diingat oleh para pelayan dan koki. Melvin pun tak akan pernah melupakannya.
***
Ibukota malam itu sangat dingin.
Leni menggosok-gosokkan kedua tangannya menunggu kepulangan Erza. Meskipun Sara sudah bilang bahwa Erza akan pergi selama beberapa hari, namun Leni bersikeras menunggu di luar.
Luki membawa selimut dan melingkarkannya pada tubuh Leni.
“Sudahlah, kau tidak perlu khawatir. Tuan muda sangat kuat,” ucap Luki menenangkan Leni.
“Meski begitu, kenapa tuan muda tidak bilang sesuatu sebelum pergi? Pasti ada sesuatu yang terjadi,” ucap Leni bersikukuh dengan perasaannya.
Leni bersandar pada Luki, “Kakak, apakah aku sangat buruk menjadi pelayan pribadi tuan muda?”
Luki mengelus-elus kepala Leni, “Tidak, bukan begitu. Tuan muda terlihat nyaman saat bersamamu.”
“Tapi, Tuan muda telah berjanji padaku,” ucap Leni dengan suara makin mengecil.
Gerbang terbuka.
Ekspresi Leni berubah senang, kemudian murung kembali.
Sara berjalan mendekati Leni dari arah gerbang, “Apa yang terjadi?”
Leni hanya diam tak menjawab. Luki pun hanya menggelengkan kepalanya.
Sara sadar apa yang Leni pikirkan kemudian mengorek kantungnya.
“Apa kau ingin bicara dengan Master?” tanya Sara pada Leni.
Leni tiba-tiba bersemangat, “Apakah bisa?”
Sara mengulurkan tangannya, di telapak tangannya terdapat sebuah batu, “Pegang batu ini.”
Leni heran, namun Sara melanjutkan ucapannya, “Aku menggunakan batu ini untuk berbicara dengan Tuan muda.”
Leni dengan cepat mengambilnya, namun tak terjadi apa-apa.
Sara memegang tangan Leni dan mengalirkan Mana.
Setelah beberapa saat, suara muncul dipikiran Leni.
Leni berteriak terkejut dan tak sengaja melempar batunya.
“Maafkan aku, Sara. Aku terkejut.” Leni dengan cepat mengambil kembali batu itu, namun tak ada lagi yang terjadi.
“Tidak apa, sepertinya kau juga sudah cukup baik,” ucap Sara melihat raut wajah Leni membaik.
“Aku sudah-“ Sebelum menyelesaikan ucapannya, Leni pingsan karena lemas dan kedinginan.
***
Erza menebas kepala Rusa Sapi di depannya, “Makan malam kali ini lumayan mewah.”
Erza meneguk air liurnya membayangkan Rusa Sapi panggang.
Tiba-tiba, batu yang berada di leher Erza bergetar. Sebelumnya, Erza sengaja mengikat Batu Komunikasi dan memasangnya di lehernya agar mudah dihubungi oleh Sara.
Erza memegang batu itu, “Ada apa, Sara?”
Erza sedikit terkejut mendengar teriakan yang langsung masuk ke pikirannya.
“Eh? Leni, apa ini kamu? Kamu baik-baik saja?”
Tidak ada jawaban balasan apa pun. Hanya suara serangga yang terdengar.
“Sudahlah, lagipula Leni bersama Sara, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Perhatian Erza kembali pada Rusa Sapi yang baru diburunya.
Erza, Raven dan tiga anak serigala mulai menikmati daging Rusa Sapi.
Erza berkali-kali menelan ludahnya saat lemak jatuh pada bara api.
Erza menggigit dagingnya. Gigitan pertama terasa sangat renyah, gigitan selanjutnya sangat berair dan lembut.
Rasa gurih memenuhi mulut Erza, “Ah, ini makanan favoritku nomer dua. Daging ini sangat enak meski tanpa bumbu.”
“Lalu, apa makanan favorit Master nomer satu?” tanya Sena.
“Tentu saja masakan Ibuku. Meski ibu tak bilang, aku tahu bahwa rasa makan malam keluarga sangat berbeda,” ucap Erza kemudian kembali menggigit dagingnya. “Ah, bagaimana kabar Emily di rumah?”
“Master, apakah aku boleh mencoba masakan ibu Master?” tanya Sena.
Seno mengangguk, “Aku juga Master. Ibu kami tak pernah memasak. Kami hanya makan daging mentah.”
Tinju mendarat menuju kepala Seno.
“Itu tidak sopan!” ucap Sari.
Erza tertawa melihat kelakuan ketiga anak itu.
Ketiganya telah berevolusi menjadi Monster kelas tinggi dan mendapat Human Transformation.
Tubuh mereka mungkin sedikit lebih dewasa dari Luki, namun umur mereka hanya 5-6 tahun. Itu berkebalikan dengan Erza, yang tubuhnya 10 tahun, namun dalamnya lebih dewasa.
Beberapa binatang liar dan monster tertarik oleh bau dari daging Rusa Sapi.
Sari dengan mudah membunuh mereka dengan melempar pisau es pada mereka.
Hanya Raven yang masih berwujud serigala. Ia menjadi senderan untuk Erza.
“Raven, apa kamu tak ingin makan?” Erza mengulurkan sepotong daging.
“Berkat Master, aku sudah tidak perlu makan,” ucap Raven dengan dingin.
“Ayolah, coba ini!” Erza menyodorkan daging pada mulut Raven.
Raven mau tidak mau membuka mulutnya dan memakan daging yang diberikan Erza.
Wajah Raven bersinar setelah mencoba daging itu.
Erza tersenyum, “Apakah enak? Kamu mau lagi?”
Raven batuk pelan, “Ekhem... apakah aku boleh meminta satu gigit lagi?”
Erza tertawa kemudian menyodorkan sepotong besar daging Rusa Sapi.
Sena dan Seno tertawa melihat tingkah Raven.
“Hahaha... Sudah besar masih disuapin!”
Raven hanya diam menahan rasa malunya dan mencoba kembali bersikap dingin.
Tinju kembali mendarat di kepala keduanya.
“Oh iya, Master. Sepertinya monster di hutan ini sudah sangat berkurang. Apakah kita perlu mencari tempat berburu lain?” ucap Sari melempar pembicaraan.
Erza berpikir dan melihat sekelilingnya memang sudah tidak banyak monster untuk diburu. “Tidak, kita sudah cukup untuk berburu. Besok pagi kita pulang.”
Ketiga anak itu entah harus senang karena kembali atau sedih karena mengakhiri pemburuan mereka.
Mereka belum cukup puas memburu monster dan saling berlomba untuk menjadi lebih kuat agar lebih berguna untuk Erza.
“Tenang saja, kalian bisa menjadi petualang setelah kembali dan akan bisa terus memburu monster,” ucap Erza seakan tahu kekhawatiran anak-anak serigala.
Ketiganya memasang wajah gembira.
Rusa Sapi yang terlihat banyak tidak tersisa, bahkan tulangnya pun habis dilahap.
Erza berdiri dan memungut binatang liar dan monster yang baru saja di bunuh Sari.
“Ah, inventori-ku penuh oleh mayat monster. Dimana aku bisa membuangnya?”
[Inventory]
[pedang biasa, MP potion X9, batu komunikasi X2, Job penyihir api, HP potion X5, Tongkat penyihir langka, armor biasa X3, Pedang Penakluk gunung, mayat Rusa Keajaiban, Core Monster Spesial, Gauntlet X2, mayat monster X197, mayat binatang X32]
“Oh iya, aku punya senjata untuk mereka, dan aku melupakan Pedang roh ini.”
kenapa di gras sedikit langsung jujur aneh
kn bisa jadi bantuan di Medan perang