Tak pernah merasakan jatuh cinta, namun sekali jatuh cinta ternyata jatuh cinta pada orang yang salah, karna wanita yang Rama cintai ternyata calon istri kakaknya sendiri.
Sanggupkah Rama dan Sintia bertahan dengan cinta mereka berdua. ataukah keduanya akan berpisah untuk selamanya.
Yuk ikuti kisah selanjutnya..... dan jangan lupa baca novel berjudul PENYESALAN sebelum membaca kisah ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta restu
"Apa ini ma?" tanya Tia.
"Ini ambillah nak, barang kali berguna untuk mu nanti, isinya tidak banyak, tapi insyaallah cukup untuk memenuhi kebutuhan mu beberapa bulan ke depan." sahut mama Anisa sembari tersenyum ke arah sang putri yang nampak enggan untuk menerima kartu ATM itu.
"Maaf kan Tia ma, tapi Tia tidak bisa menerima kartu ini, papa sudah mengharamkan hartanya untuk ku, jadi aku tidak bisa menerima sepeserpun uang ataupun barang milik papa." Tia mencoba menolak dengan halus pemberian sang mama.
"Tapi sayang, ini bukan kartu milik papa mu, ini uang tabungan milik mama saat bekerja di malang waktu kamu masih kecil dulu." jelas mama Anisa sembari menaruh kartu itu di tangan sang putri.
Tia tidak bisa lagi menolak karna sebenarnya dia juga membutuhkan uang untuk hidupnya beberapa bulan kedepan, mengingat dia dan Rama belum punya pekerjaan.
Ahirnya Tia menerima kartu itu dengan tersenyum manis kearah sang mama lalu memeluk wanita yang melahirkan nya itu dengan penuh haru. "Terima kasih ma, Tia sayang mama." ungkap Tia penuh keharuan.
"Iya, mama juga sayang sama kamu. ingat jika butuh sesuatu jangan sungkan, kamu bilang aja sama mama, dengan senang hati mama siap membantu mu." ucap Mama Anisa sembari mengusap punggung sang putri.
Setelah melerai pelukan nya dari sang putri, kini mama Anisa beralih menghampiri Rama yang sedari tadi jadi penonton setia antara anak dan ibunya itu.
"Nak Rama." sapa mama Anisa lembut.
"Iya Tante." sahut Rama sembari tersenyum sopan ke arah sang mertua.
"Jangan panggil tante, panggil saja mama seperti Tia." sahut mama Anisa.
"Baiklah tante, eh maksut saya, mama." sahut Rama kikuk.sembari tersenyum canggung.
Mama Anisa pun balas tersenyum. "Mama punya satu permintaan buat kamu nak Rama, tolong jaga putri mama, cintai dia sepenuh hatimu jangan kecewakan dia." pesan mama Anisa yang segera di jawab oleh Rama.
"Pasti ma, saya akan menjaga Tia sepenuh hati saya, dan saya berjanji akan mencintainya sepanjang hidup saya." ucap Rama mantap tanpa ragu.
"Terima kasih nak, mama percaya sama kamu, aku serahkan putri mama untuk mu. jika perlu sesuatu jangan sungkan segera beri tahu mama."
"Pasti ma." sahut Tia dan Rama bersamaan.
Setelah itu mama Anisa segera pamit untuk pulang.
******
Kini Tia dan Rama berada dalam mobil menuju ke kediaman keluarga tuan Burhan. Rama berniat meminta restu pada orang tua angkatnya dan sekaligus meminta maaf karna telah menikahi calon istri kakak angkatnya.
"Mas, apa kamu yakin akan membawaku ke rumah orang tua angkat mu? bagaimana jika mereka marah dan mengusir kita?" tanya Tia merasa khawatir jika kehadiran nya akan membuat keluarga angkat Rama murka dan mengusirnya dari rumah.
"Kita harus siap dengan kemungkina itu sayang, karna selama ini mereka tidak pernah menyayangiku, lalu bagaimana jika kita di usir? apakah kamu masih mau hidup susah dengan ku?" tanya Rama sembari memegang jemari sang istri, jantungnya berdegup di atas normal, khawatir sang istri akan pergi jika nanti dia di usir dan hidup susah.
"Aku tidak perduli mas, mau kita hidup susah atau pun mewah, asalkan dengan mu, aku bersedia, aku mencintai mu bukan karna harta aku tulus mencintaimu, kita akan hidup bersama apapun yang terjadi." jawab Tia tanpa ragu. dan hal itu membuat senyum Rama mengembang penuh kebahagiaan.
Kini mobil Rama sudah sampai di kediaman tuan Burhan, keduanya turun dari mobil dan langsung menuju pintu utama sembari bergandengan tangan.
Sebelum masuk Rama mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok tok tok..
Seorang pembantu membuka pintu dan mempersilahkan Rama dan Tia masuk.
"Papa sama mama di mana Bik?" tanya Rama pada asisten rumah tangga itu.
"Tuan dan nyonya ada di ruang keluarga Den, di sana ada Den Devan juga." jawab sang pembantu sembari menunduk sopan.
"Terima kasih bik. Ayo sayang." ajak Rama sembari memegang tangan Tia agar tidak gugup menghadapi keluarganya yang pasti akan murka.
"Assalamualaikum," ucap Tama setelah sampai di ruang keluarga.
Sontak tiga orang itu menoleh pada Rama dan Tia, ketiganya tak ada yang menjawab salam dari Rama, mereka begitu terkejut saat melihat Rama datang dengan Tia sambil bergandengan tangan.
"Apa maksut nya ini Farhan?" tanya tuan Burhan seraya berdiri dari duduknya dan menatap Rama dengan tajam. melihat sejenak tangan Rama dan Tia yang saling bertaut.
"Seperti yang papa lihat, kami saling mencintai dan kami sudah menikah." jawab Rama tanpa keraguan, bahkan dia tidak merasa takut sama sekali, rasa hormat nya sudah hilang sejak mengetahui sang ayah dan kakak angkatnya punya rencana licik pada keluarga Tia.
"Apa kau bilang." sela Evan sambil memegang kerah baju Rama.
Tia pun langsung panik dan memegang lengan sang suami dengan ketakutan. "Mas." panggilnya lirih.
"Coba kamu katakan sekali lagi?" tanya Evan dengan tatapan nyalang.
Namu Rama tersenyum menyeringai, membuat Evan semakin murka, dan hendak memukul wajah Rama.
Tapi dengan cepat Rama menghalau pukulan Evan dan lansung memelintir tangan Evan ke belakang membuatnya meringis karna sakit. Rama bukan nya melepaskan malah ia semakin membuat Evan kesal dengan membisikkan sesuatu di telinga Evan.
"Kak Evan yang terhormat, sekarang calon istrimu sudah menjadi istri sah ku, jadi rencana kakak untuk mendapatkan harta keluarga bagaskara pupus sudah." ucap Rama, dan hal itu sukses membuat mata Evan membulat sempurna.
Rama segera melepaskan cekalan tangan nya di tubuh Evan dengan kasar hingga membuat Evan hampir saja terjatuh.
"Kamu keterlaluan Farhan." bentak tuan Burhan tidak terima dengan perlakuan Rama terhadap Evan.
"Maaf pa, aku hanya membela diri." sahut Rama santai.
Nyonya Ana hanya diam tanpa menyahut pembicaraan antara suami dan anak angkatnya yang sudah makin memanas, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Lalu apa tujuan mu datang kesini jika kamu sudah menikahi calon tunangan kakak mu sendiri, apa kamu belum puas membuat keluarga ini kecewa? apa kamu lupa siapa yang membesarkan kamu? Yang membiaayai pendidikan mu sehingga kamu pintar seperti sekarang ini?" ucap Tuan Burhan lantang dengan menatap Rama dengan tajam.
"Aku tidak lupa pa, aku datang kesini hanya untuk meminta restu kalian berdua, aku minta maaf jika telah membuat kalian kecewa, aku tidak bermaksut untuk itu, aku hanya ingin memperjuangkan cintaku, jadi sekali lagi aku minta maaf, dan terima kasih karna kalian sudah membesarkan aku, juga sudah membiayai pendidikan ku." ucap Rama dengan mata berkaca kaca.
Sesungguhnya Rama begitu merasa bersalah pada orang tua angkatnya itu, andai tidak ada niat busuk dari kakak dan ayah nya, pasti Rama tidak akan nekat menikahi Tia, Rama pasti merelakan cintanya meskipun itu sakit, setidaknya itu untuk balas budi kepada orang tua angkatnya.
erasili jati apa Nono,hingga teda menghancur ksn rmh tangga anak ny sendiri.
metekan lilusan luar megeri
kol malah Rsms kd okol, sayang dong srkolah tinggi my di anggirin