IG : Ciciitdha
Namaku adalah Kejora Permata. Setelah kematian ke dua orang tuaku, aku harus tinggal di rumah sahabat papa yang bernama om Dana.
Awalnya hidupku berjalan baik-baik saja, sebelum akhinya aku jatuh cinta dengan anak laki-laki om Dana yang bernama Bintang, most wanted sekolah yang digandrungi banyak kaum wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cici itdha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diculik
Halo."
"Iya aku bisa pulang sendiri kok, kamu semangat ya kuliahnya."
Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku begitu mengakhiri panggilan dari Langit. Hari ini dia ada kelas dan bilang kalau tidak bisa menjemputku pulang sekolah. Sebenarnya aku juga tidak masalah jika dia tidak mengantar jemputku setiap hari. Itu justru membuat aku semakin gampang menghindar darinya.
Ingin rasanya cepat mengakhiri hubungan ini agar Langit tidak lebih jauh lagi mencintaiku. Tapi mau bicara dari mana? Apa alasannya? Langit terlalu baik untukku. Bahkan dia lebih pantas menjadi kakakku di bandingkan menjadi pacarku.
Selama ini aku tidak bisa menjadi pacar yang baik untuknya. Contohnya saja saat akhir-akhir ini dia membujukku untuk keluar bersama seperti dulu awal kita jadian, tapi aku selalu menolak dengan banyak alasan. Dan dia sama sekali tidak pernah marah.
Aku masih duduk di halte sambil sesekali clingukan menunggu taksi yang lewat. Suasana di sekitar sekolah memang sudah sepi karena sore hari menjelang. Sengaja aku pulang terlambat hari ini karena harus meminjam buku paket di perpustakaan terlebih dulu. Sekalian aku belajar mengerjakan soal-soal disana agar lebih bisa berkonsentrasi.
Aku memincingkan mata ketika melihat ada sebuah mobil jeep hitam berhenti tepat di depanku dengan rem mendadak. Dua orang laki-laki keluar dari mobil itu dan menghampiriku. Saat itu juga firasatku mulai tidak enak.
"Mau apa kalian? Jangan macam-macam, ya. Ini masih area sekolah. Gue bisa triak!"
Rupanya ancamanku barusan tidak membuat kedua preman itu takut. Aku tidak tahu siapa mereka dan apa tujuan mereka ingin menangkapku.
Aku sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari, namun salah satu dari preman itu menarik tasku dari belakang dengan gerakan cepat. Tidak menyerah sampai disitu, aku masih berusaha memberontak sebelum akhirnya preman itu membekapku dengan sapu tangan.
Energiku seperti disedot paksa setelah menghirup aroma yang menurutku asing. Yang bisa aku rasakan sekarang hanya rasa lemas dan pusing. Sepertinya obat bius itu sudah berreaksi dan berhasil membuatku tak sadarkan diri.
***
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Rasanya kepalaku masih teramat pusing. Begitu sadar berada di tempat yang asing, mataku langsung terbelalak. Pandanganku menyapu seluruh pemandangan yang ada di ruangan pengap itu. Tanganku sudah di ikat dengan tali begitupun kedua kakiku. Ingin berteriak minta tolong pun tidak bisa karena mulutku di plaster.
Kepalaku semakin sakit dengan berbagai pertanyaan yang sekarang muncul. Hingga tak lama kemudian pintu berwarna coklat itu terbuka yang menimbulkan suara deritan yang menggema.
Ternyata itu adalah dua laki-laki yang membekapku tadi.Salah satu dari mereka kemudian mendekat membuka paksa plaster di mulutku dengan kasar.
Aku mencoba menahan sakit itu dan memberontak.
"Lepasin gue!"
"Diam kau!" balas laki-laki itu galak.
"Kalian siapa? Apa mau kalian!"
"Nanti kau akan tau sendiri jawabannya, nona." Laki-laki itu tertawa. Mungkin menertawakan ketakutanku sekarang.
Satu temannya yang dari tadi hanya berdiri sambil menikmati rokoknya kini mendekat ke arahku. Dia berjongkok di depanku sambil memandangiku dari atas sampai bawah. Aku bergidik ngeri, takut jika mereka akan berbuat macam-macam kepadaku.
"Gue nggak akan nyakitin lo. Gue cuma disuruh bersenang-senang sama lo," ucapnya menyeringai.
Disuruh?
Jadi siapa orang yang sebenarnya ada dibalik penculikan sialan ini? Otakku terus berpikir keras. Apa mungkin Natalie? Seingatku, hanya dia satu-satunya orang yang sangat membenciku.
Lamunanku pecah saat cowok itu menghisap rokoknya dan menghembuskan asap itu tepat di wajahku dengan sengaja, membuatku terbatuk beberapa kali.
"Lepasin gue dari sini!" teriakku yang lagi-lagi memberontak.
"DIAM!" bentak laki-laki yang menghisap rokok tadi.
Umurnya seperti tak jauh beda denganku. Hanya saja penampilannya sedikit urakan. Matanya kemerahan. Wajahnya galak, rahangnya mengeras.
"Gue mohon lepasin gue," aku menangis terisak. Antara rasa takut dan cemas menjadi satu.
"Sst. Jangan nangis. Kita tinggal menunggu orang itu datang dan lo sepenuhnya jadi milik gue." laki-laki itu memainkan jari telunjuknya menyusuri setiap lekukan di wajahku sampai jarinya berhenti di bibirku. Ia mengusap bibirku dengan ibu jarinya, menatapku dengan penuh nafsu. Tubuhku bergetar. Aku semakin takut dia nekat.
Aku mengalihkan pandangan ketika tiba-tiba terdengar langkah seseorang pertanda ada yang datang lagi. Mataku membulat sempurna melihat siapa yang datang barusan. Dia tersenyum. Namun bukan senyum keramahan yang aku lihat darinya.
Jadi ini pesuruh mereka?
Dia datang bersama dua laki-laki berbadan kekar yang berdiri di belakangnya. Aku tidak percaya dia yang merencanakan ini semua.
"Lo pikir lo udah menang, hah!" bentaknya tepat di depan wajahku.
"Bisa-bisanya lo pacarin Langit dan deketin Bintang sekaligus, lo pikir lo itu siapa?! Lo cuma sampah yang di pungut oleh keluarga Bintang!" lanjutnya lagi sambil menampar pipi kiriku.
"Lo udah kalah taruhan sama gue. Tapi dengan nggak punya malunya lo deketin Bintang lagi. Ini pelajaran buat lo biar lo sadar diri."
Plak!
Lagi. Dia menampar pipi kananku.
Aku meringis kesakitan. Pipiku memanas, dadaku sesak karena emosi yang sedari tadi aku tahan.
"Kenapa lo cuma diem sekarang? Kaget liat gue bisa senekat ini? Gue bisa baik kalo lo nggak kurang ajar sama gue. Ini akibatnya kalo lo udah berani main api sama gue, Ra."
Rasa perih mulai menjalar di kedua pipiku. Mungkin akibat cengkraman kuku yang sengaja ditekan kuat olehnya. Aku ingin menahan air mataku, aku tidak ingin terlihat lemah dihadapannya. Dalam hati aku hanya terus berteriak memanggil nama Bintang. Berharap dia akan menolongku seperti waktu itu.
"Lo mau gue gimana sih? Lo mau dua-duanya? Ambil! Gue ikhlasin buat lo biar lo puas sekalian!" balasku menantangnya.
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu? Lo ngatain gue pengemis?!"
Aku tersenyum sinis dan mencibirnya. "Kenapa? Lo ngerasa?"
Plak!
Dia menamparku kembali. Kali ini tamparannya sangat keras hingga membuat sudut bibirku sedikit berdarah.
"Lo liat aja apa yang bakal gue lakuin selanjutnya. Ini balasan buat lo karena lo udah berani merebut kebahagiaan gue."
"Lo mau bunuh gue? Silahkan! Gue nggak takut."
Seperti baru saja mendengar sebuah lelucon, dia tertawa nyaring hingga suaranya menggema di ruangan itu.
"Bunuh lo? Sepertinya ide yang bagus. Gue nggak kepikiran sampai kesitu, tapi kalo lo minta, gue bakal kabulin dengan senang hati. Dan karena gue baik hati, gue bakalan bikin lo seneng-seneng dulu dengan mereka."
Bulan.
Ya. Aku bersumpah tidak akan memaafkannya karena sudah membuatku seperti ini. Aku juga tidak akan membiarkan Bintang jatuh pada orang yang jahat seperti dia. Hatinya benar-benar busuk. Penilaianku selama ini salah besar. Seorang putri konglomerat dari keluarga kaya yang terlihat anggun dan berwibawa di mata orang lain bisa melakukan hal kotor seperti ini.
"Kalian bertiga jaga di depan pintu. Dan lo Rei, telanjangi dia. Terserah lo mau apain cewek ini." perintahnya kepada laki-laki yang sebaya denganku tadi.
"Bulan tolong jangan lakuin ini!" aku berteriak ketakutan.
Tak ada sahutan darinya. Dia membelakangiku dan memberikan kode kepada orang suruhannya hingga laki-laki di depanku itu kini mendekat.
"Minggir! Jangan sentuh gue!"
Aku memberontak saat laki-laki itu mulai mencium rambut panjangku penuh nafsu. Tubuhku semakin bergetar hebat ketika seruanku tadi hanya berakhir sia-sia.
Laki-laki itu mulai membuka kancing seragamku satu per satu, membuat tanktop yang aku kenakan sekarang terlihat. Tangan sialan itu sudah menelusup tanktop yang aku kenakan dan menggerayangi perutku. Hal yang bisa aku lakukan hanya menutup mata rapat dan terus meminta keajaiban datang, hingga suara keras itu terdengar dan membuatku membuka mata.
Braak!
"Anjing lo semua!"
Teriakan melengking itu membuatku menoleh ke ambang pintu. Aku spontan menendang laki-laki di depan ku dengan kaki sekuat mungkin saat dia mengalihkan pandangannya.
Kemudian laki-laki itu di pukul dari belakang dengan papan kayu hingga membuatnya jatuh pingsan.
"Abel, Natalie!"
Aku kaget melihat mereka bisa datang ke tempat ini dan menolongku.
"Sori, Ra. Kita hampir telat nolongin lo." jawab Natalie sambil membuka ikatan tali di kaki dan tanganku. Aku segera mengancingkan kembali seragamku yang tadi sudah terbuka.
Sedangkan Abel dengan cepat menekuk tangan Bulan kebelakang karena berusaha melarikan diri.
"Mau kemana lo nenek lampir. Enak aja mau langsung kabur. Nat, lempar talinya ke sini," Abel berteriak dan diangguki oleh Natalie. Tali yang tadinya untuk mengikatku di lemparkan ke arah Abel untuk mengikat tangan Bulan.
Aku masih tak percaya mereka melakukan ini. Bagaimana bisa Adira Cs akrab dan kompak dengan Natalie sampai mereka bisa menolongku di tempat ini. Aku melihat Adira dan Beval masih menghajar preman-preman itu.
"Dasar banci lo!" umpat Beval sambil menendang perut preman itu.
Semua preman itu akhirnya limbung ke lantai sambil merintih kesakitan. Wajah mereka sudah babak belur dan tidak ada lagi yang berani untuk melawan.
Beval menendang salah satu kursi di depannya yag membuat mereka beringsut karena takut. "Pergi lo semua dari sini!"
Dan tanpa diteriaki dua kali preman itu melarikan diri masing-masing.
Abel menatap Bulan dengan sorotan tajam. "Nah tinggal nih cewek resek. Enaknya di apain nih orang?"
"Nggak pantes lo sebut orang Bel. Kelakuannya aja bagusan anjing tetangga gue." sahut Beval menimpali.
"Lo mau apain nih cewek terserah lo, Ra. Saran gue sih jangan di kasih ampun lagi." timbal si Adira.
Aku mendekatkan wajahku dengan Bulan yang tampak ketakutan. Membalas dengan perlakuan fisik? Rasanya itu bukan aku banget. Aku masih punya hati. Kalau aku membalas perlakuannya dengan cara yang sama, itu artinya aku tidak jauh lebih baik darinya juga.
"Gue nggak mau bales perlakuan lo tadi, lo nggak perlu takut. Gue cuma mau bilang sama lo, kalo lo mencintai seseorang dengan tulus, harusnya lo rela lihat dia bahagia dengan siapapun. Bukan cinta karena paksaan. Karena itu hanya bikin hati lo capek sendiri."
Bulan menundukkan kepala sambil menangis terisak di balik rambut panjang yang menutupi wajahnya. Aku kembali berdiri dan mengajak Adira Cs untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Gue sengaja bawa kejutan nih buat lo. Biar lo juga ngrasain apa yang gue rasain kemarin," Natalie tiba-tiba mengeluarkan sebuah botol minuman yang tadi dia simpan di dalam tasnya. Dengan senyum kemenangannya Natalie menuangkan isi minuman itu diatas rambut Bulan. "Lo harus ngucapin makasih karena gue nggak nglakuin ini depan umum."
"Kalo gue jadi Kejora, udah abis lo di tangan gue." ucap Abel menambahkan.
"Untung lo cewek." umpat Adira acuh.
Berbagai hinaan dan celaan dari mereka rasanya sudah cukup untuk membalas perlakuan Bulan. Aku yakin dia sudah sakit karena itu.
"Makasih ya kalian udah nolongin gue. Mungkin kalo kalian telat sedetik aja tadi, gue nggak tau lagi mau jadi apa." ucapku lirih setelah keluar dari tempat terkutuk itu.
"Sama-sama, Ra. Ini semua karena Natalie. Dia tadi yang telfon gue dan bilang lo di culik," jawab Adira sambil tersenyum ke arah Natalie.
Aku kaget mendengar jawabannya. Padahal aku tadi sempat mengira ini adah perbuatannya. Natalie yang dulu berambisi untuk mendapatkan Bintang. Natalie yang pernah membullyku tanpa rasa ampun dulu. Sekarang dia justru menyelamatkan nasibku. Ternyata dia memang sudah berubah semenjak kejadian di pesta ulang tahun Bintang kemarin.
Aku memeluk Natalie dan menangis di balik punggungnya. "Makasih ya lo udah nolongin gue."
"Sama-sama, Ra. Gue juga minta maaf sama lo karena sikap gue dulu. Gue sempet jahat sama lo. Dan lo emang bener, kalo kita mencintai seseorang dengan tulus, kita harus rela lihat dia bahagia dengan pilihannya meskipun dia tidak memilih kita," jawabnya lembut.
"Tapi gimana ceritanya lo bisa tau gue disini?" tanyaku seraya melepaskan pelukannya.
"Gue emang sengaja pulang sore karena harus latihan teater buat pensi di acara promnight nanti. Saat mobil gue keluar dari gerbang, gue lihat lo pingsan dan di bawa dua preman ga jelas. Saat itu gue ikutin mobil mereka diam-diam dan menelfon Adira buat nyusulin," panjangnya menceritakan.
"Thanks for all."
Dari sini aku bisa belajar kalau orang jahat tidak selamanya akan jahat. Dalam hatinya pasti ada sedikit kebaikan yang tersisa.
***
tidaaaaaaaaaaaak🥴😱
kami selalu ada bersama mu ...
pengen gue remes dech tau mulut
sengaja TK lamain baca x ..
ehh ternyata nangis juga 😭