"Kemana anak itu pergi, perasaan tadi masih ada di sini", begitu lah pikir Xhine.
perjalanan ke rumah kosong itu pun menjadi sia-sia bagi dia. Xhine terpesona sesaat tadi karena wanita kecil itu sangat putih, dengan rambut blonde bergelombang tergerai tertiup angin di tambah pantulan sinar matahari terbenam.
Luna kecil tau bahwa dia di ikuti oleh seseorang di belakang sejak dia pulang dari bermain dengan ayah nya, maka dari itu dia segera sembunyi tentu nya dengan kekuatan vampire nya. Luna sangat anti sosial dengan yang nama nya manusia, adapun petuah dari orang tua dan nenek nya untuk segera lari ataupun kabur dari manusia agar tidak ada yang tau kalau masih ada vampire pada jaman sekarang ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yooloo07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Damian Pov
"Vid, loe udah siapin semua nya kan?? kartu nama Rendy, terus ingat intai nanti kalau-kalau mereka pergi ke rumah sakit tes DNA."
"Selow.. sisa gue hack aja system rumah sakit nya, mudah aja itu bagi gue, Sir."
Damian sudah menghampiri David yang masih duduk menyimpan kembali berkas yang baru saja di tanda tangani Tasya.
Keesokan pagi nya, mereka bertiga sudah ada di dalam sebuah mobil hitam, diri nya memakai masker agar tidak di ketahui wajah nya.
"Ini rumah keluarga target kita, ingat kalau mereka tidak yakin loe di hamilin Rendy. Loe ajakin aja bebas mau ke rumah sakit mana aja, nanti sisa loe chat gue nama rumah sakit nya apa."
David memberikan instruksi kepada Tasya saat ini, memberikan segepok uang sebagai tanda jadi atas kesepakatan mereka, itu di luar dari 500 juta.
"Baik akan ku laksanakan dengan sebaik-baik nya."
Damian lalu menyuruh Tasya untuk keluar, Damian sudah terlebih dahulu memasukkan alat perekam ke dalam tas Tasya secara diam-diam.
Agar diri nya bisa mendengar apa yang cewek itu katakan nanti nya, permulaan perlu di pantau apalagi kalau cewek yang gak pernah boong sedari awal.
Tasya keluar dengan mengganguk pelan, dan mulai berjalan ke dalam rumah Rendy.
Diri nya dan David hanya melihat dari dalam mobil sambil mendengarkan alat perekam itu. Tasya mulai mengetuk pintu, di sambut oleh pembantu Rendy.
"Maaf apa betul di sini kediaman Xhine? saya ada perlu dengan cowok bernama Rendy."Tasya memulai pembicaraan yang mereka dengar kini.
"Iya bener, sebentar ya saya panggilkan. dengan siapa ya non?"
"Saya Tasya."
Pembantu rumah itu mengganguk dan masuk ke dalam kembali untuk memanggil Rendy. tidak berapa saat Rendy keluar.
"Tasya siapa ya? gue gak kenal, ada perlu apa nyari gue??" Itu lah yang di dengar oleh Damian dan David.
"Aku mau minta tanggung jawab kamu, ini kartu nama kamu bukan? aku hamil sekarang." Tasya berkata dengan nada rendah.
"Hah?? Apa loe bilang? gue tanggung jawab?? loe hamil?? atas dasar apa loe ngaku itu anak gue??"
"Iya.. ini anak kamu, soal nya kamu yang pertama di hidup ku, sebelum sebelum nya tidak pernah ada pria yang dekat sama aku."
"Gak gak.. gak mungkin itu anak gue.."Rendy berteriak sekarang hingga seperti nya Mommy nya sekarang juga ikut keluar dengan Luna.
"Ada apa Ren? kenapa teriak-teriak sama tamu??" Mommy nya berucap.
"Tante kenalin nama ku Tasya, saat ini aku lagi hamil anak nya tante. usia kandungan ku sudah 3 bulan."
Mommy Rendy seketika sedikit shock dan limbung, untung Luna yang di samping nya dengan sigap segera memegang nya.
"Gak mom, gak mungkin ini anak Rendy.. Rendy selalu main aman punya, gak mungkin bisa ada benih gue di situ." Rendy menunjuk perut Tasya.
Damian dan David hanya terlihat saling senyum, seperti nya rencana ini juga bisa sukses. lihat saja Rendy saja sekarang sudah sedikit frustasi.
Di samping membuat Ibu nya shock, bahkan jadi mengaku kalau memang suka bermain cewek di depan Luna.
"Huffhhh.. Nak tasya, kalau memang itu anak Rendy. tante akan bantu kamu untuk menikah dengan Rendy, tapi apa boleh tante tes DNA? agar bisa menyakinkan kami." Ibu Rendy sudah sedikit tenang.
......................
Luna Pov
Diri nya sedang asik berbincang dengan ibu nya Rendy pagi ini, sambil membantu ibu Rendy menghias bunga di ruang tamu.
Tiba-tiba terdengar suara Rendy berteriak amat keras di depan, diri nya menatap ibu nya dan ibu nya juga menatap nya.
Terus Ibu nya mengajak Luna untuk ke depan menemani, kira-kira ada apa dengan teriakan anak nya.
Rupa nya ada cewek ngaku-ngaku kalau lagi hamil anak Rendy.Luna kecewa dalam hati nya sekarang, karena Rendy yang di pikir nya tidak pernah sampai tidak bertanggung jawab gini.
Luna berkata dalam hati, sekali yang nama nya cowok brengsek tetap lah brengsek, tidak ada nama nya bisa berubah.
Baru diri nya sadar dari isi lamunan nya, ibu Rendy hampir pingsan.untung segera di pegang nya dari belakang agar tidak terjatuh ke lantai.
Diri nya berusaha menenangkan ibu Rendy sambil mengelus pelan punggung wanita tua itu.
Disini lah diri nya kini duduk bertiga dengan dia samping ibu Rendy dan Tasya di samping ibu nya Rendy.
Sedangkan cowok brengsek itu hanya berdiri agak jauh, masih terlihat jelas emosi Rendy meluap-luap dengan tatapan sangat Murka.
Tidak lama hasil tes keluar, ibu Rendy dan Rendy tentu langsung menuju dokter untuk melihat hasil tes.
"Hasil tes nya menunjukkan 99,9% positif hubungan parenting ya tuan nyonya. ini bisa di lihat." Lalu dokter itu permisi undur diri.
"Ren, kamu harus tanggung jawab kalau begitu. jangan tidak bertanggung jawab jadi cowok."
"Mom.. percaya lah dengan Rendy, bisa aja hasil tes ini palsu. kita tes di rumah sakit lain lagi."Rendy segera mengajak mereka pergi ke rumah sakit lain lagi.
Lagi-lagi hasil nya sama dengan rumah sakit sebelum nya, Rendy menjambak rambut nya dan memukul tembok rumah sakit hingga meninggalkan bekas kemerahan dan sedikit ada luka lecet.
Sedangkan Tasya di lihat nya hanya duduk diam dengan tatapan takut, takut akan kemarahan Rendy.
Rendy langsung pergi setelah memukul tembok meninggalkan mereka bertiga, entah kemana cowok itu.
Ibu Rendy menelepon supir untuk menjemput di runah sakit terus ke pemakaman. Luna melihat ibu Rendy heran. bukan nya hari jni ulang tahun kakak nya Rendy.
Sebelum itu mereka mampir ke rumah dulu karena menurut ibu Rendy, Tasya sedang hamil muda gak boleh ikut ke pemakaman.
Saat di mobil Ibu nya hanya sesekali menghela nafas berat.
"Tante kita mau ke pemakaman siapa ya kalau boleh Luna tau??"
"Ke pemakaman kakak nya Rendy, nama nya Felix nak." Ibu Rendy memberikan seulas senyum sedih.
lanjut lagi..