Mohon untuk tidak membaca novel ini saat di bulan puasa. Terutama disiang hari. Untuk malam hari, silahkan mampir jika berkenan.
"Aku tidak mau menikah dengan Pria tua itu, Ibu" kata Elina pada Ibu tirinya.
Elina di jual oleh Ibu tirinya pada seorang Pria yang tidak diketahui identitas aslinya. Sakit, jelas Elina merasa hatinya sangat sakit.
Apakah Elina bisa mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Dengan lihai Elina mengobati tangan Jonathan tanpa menatap wajah sang pemilik tangan. Kebaikan Jonathan pada Elina membuat Elina perlahan menyimpan rasa untuk suaminya. Namun, untuk mengungkapkannya ia takut perasaannya bertepuk sebelah tangan. Mencintai dalam diam adalah caranya agar tidak terluka.
"Apa Ibu memintamu untuk menikahi wanita itu?" tanya Elina saat ia sudah mengobati tangan suaminya.
"Apa kamu mendengarnya?" Jonathan balik bertanya, ia menatap istrinya yang kini tersenyum padanya.
"Aku mendengar semuanya," balas Elina dengan senyum.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Jonathan.
"Jika kamu memiliki alasan untuk menerimah pernikahan itu maka terimalah," jelas Elina sambari menatap manik mata suaminya.
"Apa aku tidak punya tempat dihatinya hingga ia membiarkan aku untuk menikahi Niza," batin Jonathan. Hatinya terasa sakit saat ia mendengar kalimat itu ke luar dari mulut istrinya. Memang benar ia memiliki alasan, alasan kenapa ia bertahan sampai sejauh ini sekalipun ibu tirinya sudah sangat keterlaluan padanya.
"Aku mau ke kamar dulu," Jonathan berdiri meninggalkan Elina di sofa.
Di sofa, Elina terdiam seperti orang yang memiliki banyak beban. Ingin rasanya ia menangis dan berteriak, tapi dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap tegar.
"Apa Jonathan akan meninggalkanku? Harusnya aku sadar diri dan tak berharap lebih darinya," batin Elina.
"Aku ke kamar saja," gumam Elina lalu beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri suaminya di kamar.
Kreekk... pintu terbuka lebar.
"Jonathan, kamu mau ke mana?" tanya Elina saat melihat suaminya sedang memakai baju kemeja. Jonathan tidak menjawab pertanyaan istrinya. Ia terus memperbaiki kancing baju kemejanya.
"Apa aku membuat kesalahan?" tanya Elina, ia merasa Jonathan tidak seperti biasanya.
"Aku harus ke Perusahaan, ada urusan mendadak di sana" Jonathan berlalu pergi tanpa menatap istrinya.
Sejak Jonathan menggantikan ayahnya di Perusahaan, ia tidak pernah menampakan wajah aslinya di Perusahaan. Di Perusahaan hanya asisten Rainex yang tahu wajah asli Jonathan. Semua karyawan tidak begitu penasaran dengan tampan CEO mereka karena informasi yang tersebar mengatakan CEO Perusahaan Javelis adalah pria yang sudah berumur dan tidak tampan. Jonathan lebih menekuni kegiatan yang ia lakukan yaitu sebagai profesor di Harvard University. Bekerja sebagai seorang Dosen bukan tanpa alasan, ia memiliki alasan kenapa ia masih bertahan di Harvard University.
--------------
Perusahaan Javelis
"Maaf, Pa. Bapa cari siapa?" tanya seorang pegawai Perusahaan saat melihat Jonathan hendak masuk ke dalam lift yang dikhususkan untuk CEO Perusahaan. Bukan hanya satu kali Jonathan ditegur tapi sering kali. Ia selalu lupa bahwa dirinya sedang menyamar sebagai klien Jonathaan.
"Aku sudah membuat janji dengan CEO Perusahaan ini," balas Jonathan.
"Baiklah, Pa. Bapa bisa naik ke lantai 20 dengan menggunakan lift yang sana," ujar pegawai tadi sambil menunjuk lift umum.
"Akhh, sial!" umpat Jonathan dalam hatinya.
"Maafkan pegawai kami, Pa." ujar Rainex asisten kepercayaan Jonathan. Ia sengaja mengatakan pegawai kami agar orang lain tidak curiga.
"Kamu boleh pergi!" titah Rainex pada pegawai yang menegur Jonathan.
"Baik, Pak." balasnya.
Jonathan dan Rainex masuk ke dalam lift pribadi menuju lantai 20. Lift terbuka, Jonathan dan Rainex melangkah keluar menuju ruangan Jonathan. Sesampainya di dalam, Jonathan maupun Rainex duduk di sofa yang ada di dalam ruangan.
"Kenapa semua investor menarik saham mereka pada Perusahaan kita?" tanya Jonathan.
"Aku sudah meminta orang lain untuk mencaritahunya dan ini semua ada hubungannya dengan Perusahaan keluarga Nona Niza," jelas Rainex.
"Kamu boleh ke luar sekarang," ujar Jonathan.
"Baik, Pa" balas Rainex lalu ke luar dan duduk diruang kerjanya.
Jonathan membuang rempetan berkas yang tersusun rapi dari atas meja kerjanya. Rahangnya mengeras, ia bukan orang kejam tapi menurutnya Niza sudah sangat keterlaluan. "Aku memberimu kesampatan tapi kamu tidak mempergunakannya dengan baik. Kamu semakin melewati batas! Aku pastikan Perusahaan ayahmu akan hancur ditanganku!" ujar Jonathan sambil mengepal kedua tangannya.
Ponsel Jonathan bergetar, Jonathan meraih pnselnya lalu melihat siapa yang menghubunginya. "Ibu, kenapa Ibu menelpon?" gumam Jonathan lalu menjawab panggilan telepon ibunya.
"Ada apa lagi, Bu?" tanya Jonathan.
"Ibu sudah mendengar masalah penurunan saham Perusahaan. Jonathan, Ibu tidak mau tahu kamu harus mempercepat pertunanganmu dengan Niza dan cepat nikahi dia!" seru Nyonya Alira.
"Harus berapa kali aku bilang ke Ibu, aku tidak mau menikah dengan Niza, Bu" balas Jonathan sedikit meninggikan suaranya.
"Ibu tidak mau mendengar jawaban itu," kata Nyonya Alira. Nyonya Alira terlihat marah. Jika Jonathan tidak menikahi Niza maka rencana Nyonya Alira akan sia-sia.
"Jika Ibu ingin Niza menjadi bagian dari keluarga kita kenapa Ibu tidak meminta Ayah saja untuk menikahinya," ujar Jonathan. Setelah mengatakan itu, Jonathan langsung memutuskan panggilan telepon.
-------------
Jerman
"Aku akan membuatmu menderita seperti ibumu! Lihat saja nanti," gumam Nyonya Alira tersenyum licik.
"Kamu tidak akan pernah bahagia selama aku masih hidup!!" batin Nyonga Alira.
"Ibu kenapa?" tanya Klara yang tiba-tiba muncul.
"Tidak. Kenapa kamu menatap Ibu seperti itu?" tanya Nyonya Alira saat Klara menatapnya dengan aneh.
"Ibu yang kenapa? Aku dengar Ibu mau membuat seseorang menderita, Ibu punya musuh?" tanya Klara menyelidik.
"Kamu salah dengar, Ibu tidak berkata seperti itu" balas Nyonya Alira. Ia sangat pandai beracting.
New York
Perusahan Javelis
Jonathan menggeser layar ponselnya, mencari nomor seseorang. Tangan Jonathan berheti saat nomor yang ia cari terpapang dengan jelas di kontak. Dengan segera Jonathan menghubungi temannya. Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, Jonathan masih berkutak di depan layar komputernya. Mencari investor bukanlah hal yang sulit baginya, ia sangat pandai dalam dunia bisnis. Mau tidak mau, Jonathan harus terlihat oleh publik.
Jonathan mendengar suara ketukan pintu dari luar, ia pun menoleh, di depan pintu ada Rainex yang sedang berdiri. "Kenapa kamu belum pulang?" tanya Jonathan.
"Bagaimana mungkin aku pulang kalau Bapa sendiri masih di sini," balas Rainex.
"Pulanglah Rainex, keluargamu pasti sedang menunggumu di depan rumah" ujar Jonathan tersenyum pada Rainex.
"Aku sudah memberitahu mereka kalau aku lembur malam ini," balas Rainex. Ia tidak mau pulang jika CEO perusahaan belum pulang.
Setelah mengatakan itu, Rainex pun masuk dan duduk di sofa. "Pa, apa yang bisa aku bantu?" tanya Rainex.
"Tidak ada. Oh ya Rainex. Besok kita adakan rapat untuk membahas semuaya," ujar Jonathan.
"Adakan rapat? Apa itu tandanya Bapa akan----" Rainex tidak melanjutkan kalimatnya.
"Aku sudah siap, biarkan orang-orang tahu siapa Jonathan yang sebenarnya" sambung Jonathan.
"Iya, Pa. Aku akan memberitahu mereka," balas Rainex.
Penthouse At The Pierre.
Elina terlihat mondar mandir di dalam apartemen, ia begitu gelisah. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam namun Jonathan belum juga pulang. Di meja makan, beberapa menu makanan sudah tersedia. Makanan yang tadinya panas kini menjadi dingin.
"Kenapa Jonathan belum pulang? Apa aku telpon saja, tapi bagaimana jika dia sedang sibuk!" gumam Elina.
Elina mengurungkan niatnya untuk menghubungi suaminya. Sudah beberapa kali Elina menguap, ia pun memilih berbaring di atas sofa. Hampir sejam Elina berbaring namun suaminya belum juga pulang.
"Mungkin dia sibuk. Mending aku tidur saja," gumam Elina kemudian menutup matanya hingga terlelap tanpa menyentuh makanan yang ia sudah masak. Elina mengerjap, ia melirik jam dinding.
"Sudah jam 6 pagi " gumamya kemudian berdiri.
"Apa Jonathan sudah pulang?" batin Elina kemudian berjalan memasuki kamarnya.
.
.
.
.
Bersambung...
secara walopun udah nikah lama kan mrk selalu berantem n terpisah trus...