"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BAWAH SOROT LAMPU GENTAR
Malam pembukaan pameran di galeri seni ternama daerah Menteng itu berlangsung riuh dan megah. Pendar lampu sorot kekuningan memantul anggun di atas lantai marmer hitam yang mengilap, membiaskan bayangan belasan lukisan terpilih dari para seniman muda berbakat. Di tengah hilir mudik para kolektor seni, kurator berpengalaman, dan jurnalis media ternama, lukisan dua kanvas milik Nayla menjadi salah satu pusat perhatian utama.
Kanvas pertama yang mengabadikan pendar fajar di atas bukit utara dan kanvas kedua yang melukiskan kehangatan sore di pasar kuno terpajang anggun di dinding utama galeri. Setiap goresan kuasnya yang jujur, berani, dan sarat emosi berhasil menyedot perhatian banyak pasang mata.
Nayla berdiri tak jauh dari dinding pamerannya, mengenakan gaun hitam sederhana berpotongan elegan tanpa ornamen berlebihan. Di sampingnya, Zavier berdiri tegap dengan kemeja hitam yang tergulung hingga siku dan jas gelap yang ringkas. Kehadiran mereka yang serasi dan tenang memancarkan aura tersendiri yang sukar diabaikan.
"Goresan garis di lukisan kedua ini luar biasa, Nona Nayla," puji seorang kurator senior seraya mengamati detail tekstur cat minyak pada kanvas pasar kuno. "Ada rasa kebebasan dan keberanian yang sangat kuat. Rasanya seperti melihat seseorang yang baru saja melepaskan dahaganya di tengah gurun."
Nayla menyunggingkan senyum tulus, membungkuk kecil penuh rasa hormat. "Terima kasih banyak, Pak. Lukisan ini memang tentang momen saat saya menemukan arti kebebasan yang sesungguhnya."
Namun, suasana hangat dan apresiatif di sudut galeri itu mendadak hening seketika saat pintu kaca utama terbuka lebar.
Langkah kaki yang berat dan teratur menggema kaku. Alexander Lauren Alveric melangkah masuk bersama Eleanor dan Adrian. Kehadiran pimpinan klan Alveric itu seketika membuat beberapa tamu VIP menepi, menyadari atmosfer tegang yang mendadak menusuk udara galeri.
Alexander berjalan lurus melewati deretan lukisan lain, pandangannya terkunci penuh pada dua kanvas karya putrinya dan pada sosok Zavier yang berdiri kokoh menjaga di samping Nayla.
Nayla menahan napasnya sejenak. Jemari tangannya refleks bergetar pelan, namun sebelum rasa cemas itu sempat menguasainya, Zavier melangkah halus setengah tapak ke depan, menyentuh punggung tangan Nayla dengan genggaman erat yang memberi kepastian.
Alexander berhenti dua meter di depan kanvas. Pria paruh baya yang biasanya begitu dominan dan tak tersentuh itu menatap karya seni putrinya dalam diam yang cukup lama. Di mata Alexander yang tajam, ada kilatan emosi asing yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya, sebuah pengakuan kaku atas bakat besar putrinya yang selama ini berusaha ia padamkan demi ambisi aliansi.
"Jadi... ini tempatmu sekarang, Nayla?" buka Alexander dengan suara tebal dan berat yang menggema kaku.
Nayla mengangkat kepalanya tegak, menatap langsung ke dalam manik mata sang Ayah. Tidak ada lagi tarikan napas panik atau sorot mata memohon seperti dulu di Istana Alveric.
"Iya, Ayah," jawab Nayla dengan suara jernih, tenang, dan pasti. "Ini dunia yang kupilih sendiri. Tempat di mana lukisanku dihargai karena jiwanya, bukan karena nilai transaksi saham keluarga."
Eleanor di samping Alexander tampak mengusap sudut matanya yang berkaca-kaca, menatap putri sulungnya dengan rasa bangga campur haru yang ditahannya rapat-rapat.
Alexander beralih menatap Zavier. "Kamu sudah membuktikan ancamanmu di pasar modal, Zavier. Vanguard Capital berhasil mematahkan pergerakan Barito dan memaksa Kael menarik kembali keputusannya."
Zavier membalas tatapan pimpinan Alveric itu dengan ketenangan mutlak. "Aku tidak pernah berniat menghancurkan Alveric atau Mahendra, Om Alexander. Aku hanya memastikan tidak ada lagi yang bisa menggunakan Nayla sebagai alat negosiasi."
Alexander menghela napas panjang, sebuah helaan napas berat dari seorang penguasa yang akhirnya harus mengakui kekalahannya di hadapan tekad anak-anak muda ini. Pria itu kembali menatap dua lukisan di dinding, lalu memutar tubuhnya.
"Pameranmu... tidak mengecewakan, Nayla," ujar Alexander pelan, sebuah pengakuan langka yang keluar dari bibirnya sebelum ia melangkah meninggalkan galeri bersama Eleanor dan Adrian.
Saat pintu kaca galeri kembali tertutup, Nayla menyenderkan bahunya pelan pada lengan tegap Zavier, menghela napas lega seraya tersenyum lebar di bawah pendar terang lampu pameran.
"Kita benar-benar berhasil, Zav," bisik Nayla penuh rasa syukur.
Zavier meremas lembut genggaman tangan Nayla, memandangi senyuman paling indah di wajah gadis itu. "Kita baru saja memulainya, Nay. Dan kali ini, seluruh warna di kanvas hidupmu adalah milikmu sepenuhnya."
Lampu-lampu galeri yang hangat membiaskan kilau lembut di atas marmer hitam, memantulkan bayangan dua manusia yang kini berdiri tegak di tengah kebebasan yang berhasil mereka perjuangkan. Suara riuh rendah pengunjung galeri yang mengagumi dua kanvas milik Nayla terdengar seperti alunan musik kemenangan yang menenangkan.
Nayla memiringkan kepalanya sedikit, menikmati hangat jemari Zavier yang menyelip erat di sela-sela jarinya. Rasa sesak yang bertahun-tahun mengendap di dadanya setiap kali berhadapan dengan sang Ayah kini benar-benar luruh, berganti menjadi kedamaian murni yang tak ternilai harganya.
"Aneh ya, Zav," bisik Nayla pelan, pandangannya masih tertuju pada pintu kaca galeri tempat ayahnya baru saja menghilang. "Selama ini aku berpikir Ayah tidak akan pernah mau melihat lukisanku. Tapi hari ini... dia bahkan berdiri di sini dan bilang kalau karya-karyaku tidak mengecewakan."
Zavier memutar sedikit tubuhnya, menatap wajah Nayla yang terpapar cahaya lampu sorot pameran. Senyum tipis yang sarat akan rasa bangga terukir di bibirnya.
"Itu karena kamu tidak lagi meminta pengakuannya sebagai seorang putri yang tertekan, Nay," tutur Zavier dengan suara bass-nya yang tenang dan dalam. "Kamu hadir sebagai seorang seniman yang berdiri di atas kakinya sendiri. Orang-orang seperti Om Alexander tidak bisa menghargai kepasrahan, tapi mereka tidak punya pilihan selain menghormati keberanian."
Nayla menengadah, mengunci pandangannya pada mata kelam Zavier. "Dan keberanian itu ada karena kamu tidak pernah membiarkanku berjalan sendirian, Zav."
Zavier menggeleng pelan, mengusap lembut punggung tangan Nayla dengan ibu jarinya. "Aku cuma memegang pintu, Nayla. Yang melangkah keluar dan melukis takdir baru ini adalah jemarimu sendiri."
Seorang kurator muda kemudian melangkah mendekati mereka dengan membawa sebuah nampan berisi dua gelas minuman dingin dan sebuah brosur yang telah ditandai.
"Permisi, Nona Nayla," ujar sang kurator dengan nada penuh hormat. "Ada dua kolektor independen yang bermaksud mengajukan penawaran untuk kedua lukisan Anda. Mereka juga menanyakan apakah Anda bersedia membuka studio terbuka untuk karya-karya selanjutnya."
Nayla membelalak pelan, melirik Zavier yang hanya memberikan anggukan kecil penuh dorongan. Nayla lalu tersenyum lebar, menyambut brosur tersebut.
"Terima kasih banyak," jawab Nayla jernih. "Sampaikan pada mereka, saya sangat bersenang hati untuk berdiskusi lebih lanjut."
Setelah kurator itu pamit mundur, Nayla menghela napas panjang dan kali ini bukan napas berat penuh beban, melainkan helaan napas lega menyambut masa depan yang membentang luas tanpa batas. Di balik pualam istana yang pernah mengurungnya dan sengketa dua klan raksasa yang kini tak lagi sanggup menyentuhnya, Nayla tahu... cerita hidupnya baru saja dimulai, dan kali ini, seluruh kuas dan warnanya ada di tangannya sendiri.
kekny zavier ini tipe aku 🤭