Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Pria asing itu tersungkur ke lantai dengan suara berdebum keras, kesadarannya lenyap seketika akibat cengkeraman maut sang Jenderal yang menghantam saraf lehernya. Ruangan yang baru saja dipenuhi ketegangan mencekam itu kini kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas Damian yang memburu. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama bagi Aurelia. Pemandangan brutal yang baru saja disaksikannya—betapa mudah dan dinginnya Damian melumpuhkan penyerang itu—memicu respons trauma yang jauh lebih dalam daripada sebelumnya.
Tanpa berani menatap Damian, tanpa sepatah kata pun, Aurelia segera berbalik dan berlari menuju pintu belakang, menutupnya dengan kunci grendel yang berbunyi tajam. Ia tidak lagi peduli pada toko, pada kerusakan, atau pada pria yang terkapar di lantai. Ia hanya ingin menghilang.
Beberapa hari kemudian, suasana kota pelabuhan tampak lebih cerah. Matahari bersinar terik, memantulkan cahaya di atas permukaan laut yang biru tenang. Di tengah pasar tradisional yang ramai, Damian Valerius berjalan dengan langkah panjang dan tegap. Di sampingnya, Putri Mahkota Elaina Valancaster melangkah dengan keanggunan seorang bangsawan, mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang kontras dengan debu jalanan pasar.
Mereka menjadi pusat perhatian. Warga kota berhenti sejenak untuk menoleh, berbisik-bisik kagum melihat sosok jenderal agung yang begitu gagah bersanding dengan putri mahkota yang jelita.
"Lihatlah mereka," bisik seorang pedagang kain kepada tetangganya. "Bukankah mereka tampak begitu serasi? Seperti pasangan yang turun dari lukisan istana."
"Tentu saja," timpal wanita di sebelahnya dengan nada mengagumi. "Sang Jenderal yang perkasa dan Sang Putri yang begitu anggun. Bukankah desas-desus mengatakan bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar sandera dan penakluk?"
Damian mengabaikan bisikan-bisikan itu dengan rahang yang tetap kaku. Pikirannya tidak berada di pasar, melainkan tertuju pada toko roti kecil di sudut jalan yang selama ini menjadi pusat gravitasinya. Di sampingnya, Elaina mendengar semua itu. Ia tidak membantah, justru merespons dengan senyuman tipis yang misterius, yang membuat hatinya tampak seolah menerima takdir tersebut.
Tanpa disadari—atau mungkin karena Damian memang tidak memiliki kendali atas langkah kakinya yang terus ditarik oleh takdir—mereka tiba di depan Roti Hangat Auris. Elaina berhenti sejenak, menatap plang toko itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mari mampir," ujar Elaina lembut, mendahului Damian sebelum pria itu sempat menolak.
Di dalam toko, suasana sedang sibuk. Aurelia berada di belakang etalase, sedang berjuang memindahkan karung tepung seberat dua puluh kilogram yang baru saja tiba dari pengiriman pelabuhan. Wajahnya berkeringat, dan napasnya sedikit terengah.
Seorang pemuda lokal—pembantu toko yang rajin—segera melompat mendekat. "Biar saya saja, Nona Auris. Anda tidak perlu memaksakan diri."
Pemuda itu mendekat, tangannya menyentuh punggung Aurelia untuk menopangnya saat ia menarik karung tersebut, menciptakan kedekatan fisik yang sangat tidak disengaja namun terasa intim di mata siapa pun yang melihatnya.
Di sudut ruangan, Damian yang baru saja melangkah masuk bersama Elaina, merasakan sekelilingnya mendadak menjadi gelap. Darah di pelipisnya berdenyut kencang. Ia menyaksikan tangan pemuda itu—tangan kotor seorang buruh pelabuhan—menyentuh gaun Aurelia, menyentuh kulit yang selama ini tidak pernah disentuh siapa pun kecuali dirinya dalam bentuk kekuasaan.
Rasa cemburu yang buta, ganas, dan primitif meledak di dalam dada Damian. Ia merasa ingin mencabut pedangnya dan menghabisi pemuda itu di tempat. Otot-otot tangannya menegang, kukunya mencengkeram erat gagang sarung tangan militer hingga kulitnya hampir sobek. Dia tidak punya hak. Dia tahu dia tidak punya hak. Tapi hatinya berteriak bahwa wanita itu adalah miliknya—bahkan jika ia telah menghancurkannya, wanita itu tetap miliknya.
Elaina, yang menyadari perubahan aura Damian yang mendadak menjadi sedingin es dan seberbahaya badai, memilih duduk di salah satu meja kosong. Ia memberi isyarat agar Damian duduk.
"Duduklah, Jenderal," suara Elaina memecah ketegangan, meskipun matanya menatap tajam ke arah interaksi di etalase.
Setelah memesan dua porsi teh, Elaina memberanikan diri. Ia menatap Damian dengan tatapan yang sangat dalam dan mengusik.
"Anda sering menghilang ke kota perbatasan belakangan ini, Tuan. Setiap kali kita berada di mansion, anda tidak pernah ada di sana. Dan saya pun tidak pernah melihat Nyonya Aurelia. Ke mana istri sah dari Jenderal Agung Kekaisaran itu berada? Apakah mansion yang begitu megah itu benar-benar kosong dari seorang nyonya rumah?"
Damian menatap Elaina dengan tatapan tajam yang seolah ingin membelah kepala wanita itu. "Itu bukan urusanmu, Putri."
"Oh, tentu saja itu urusanku," balas Elaina dengan nada bicara yang merendah, nyaris berbisik. "Sebagai seseorang yang dipaksa menjadi bagian dari hidupmu, aku berhak tahu mengapa pria yang mengaku sebagai pelindung kekaisaran justru meninggalkan rumahnya sendiri dalam keadaan hampa. Atau mungkin... apakah ada seseorang yang lebih berharga daripada statusmu di istana?"
Damian tidak menjawab. Pandangannya kembali terlempar ke etalase. Pemuda lokal itu masih tertawa kecil saat membantu Aurelia mengelap debu dari dahi wanita itu dengan sapu tangan.
Itu adalah tetes terakhir bagi kewarasan Damian.
Tanpa memedulikan Elaina, tanpa memedulikan keberadaan mereka di tengah keramaian toko, Damian berdiri dari kursinya. Langkah kakinya berat dan penuh ancaman saat ia berjalan menuju etalase. Pemuda itu mendongak, menyadari kehadiran Damian yang menjulang tinggi di depannya seperti bayangan kematian.
"Menjauh," desis Damian dengan suara yang lebih mirip raungan serigala daripada suara manusia.
Aurelia memucat, menyadari kegilaan yang mulai terpancar dari mata abu-abu Damian. Pria itu sudah berada di jarak yang sangat dekat, tangannya yang bersarung kulit telah mencekik kerah baju pemuda tersebut, mengangkatnya dengan satu tangan seolah pemuda itu tidak lebih dari boneka kain—tepat saat pintu toko terbanting terbuka dan seseorang dari pihak kekaisaran masuk dengan membawa surat perintah penangkapan atas nama Aurelia yang entah bagaimana telah bocor ke tangan musuh—
mampir diceritaku juga ya😊