Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Jadwal Malam Itu

#

Sendok plastik itu patah jadi dua. Alessia tidak menjatuhkannya. Ia meletakkan kedua potongnya di atas serbet, rapi, sejajar, seperti merapikan barang bukti.

"Mbak," kata Bima.

"Jangan sekarang."

"Itu tulisan Om Gio yang pensil."

"Aku tahu tulisan siapa."

"Terus maksudnya apa, jadwal..."

"Bima." Suaranya tidak naik. Tapi Rico di ambang dapur ikut menunduk, dan Wartini menarik selendang lebih rapat ke bahunya. "Jangan sekarang."

Alessia berbalik dan keluar lewat pintu depan. Tidak tergesa. Bima melihatnya berhenti di pagar, membelakangi rumah, dua tangan di pinggang mantel. Bahunya tidak bergerak. Ia berdiri seperti itu cukup lama, dan Bima tahu satu hal yang tidak ia mengerti kenapa ia tahu: orang itu sedang menghitung mundur dari angka yang sangat besar.

---

Bima menyusul sepuluh menit kemudian, membawa dua gelas teh yang ia seduh sendiri di dapur Pak Darto. Gulanya dua sendok untuk satu gelas, satu sendok untuk gelas lain, karena ia tidak tahu, dan sudah lelah menebak.

Alessia duduk di bangku semen di bawah pohon sawo, tepat di seberang gang. Dari sana ia bisa melihat pintu rumah dan dua ujung jalan. Bima meletakkan gelas yang satu sendok di sampingnya.

"Aku tidak minta."

"Saya tahu."

Mereka diam. Di ujung gang ada anak-anak berseragam merah putih lewat sambil berebut kerupuk. Salah satunya menoleh ke arah mereka, lalu cepat-cepat berpaling.

"Malam ayahku meninggal," kata Alessia akhirnya, pada udara di depannya. "Aku tujuh belas. Hari itu Om Gio datang ke rumah sore-sore. Dia bawa kue, seperti biasa. Kami duduk di teras. Aku sedang kesal karena Ayah membatalkan janji makan malam kami untuk kesekian kalinya."

Bima tidak menyela.

"Om Gio bertanya, ayah pergi ke mana. Aku bilang tidak tahu. Lalu aku ingat Ayah menaruh jadwal di laci meja kerjanya, dan aku..." Ia berhenti. Jarinya yang memegang gelas mengencang, lalu mengendur sengaja. "Aku mengambilnya. Aku bacakan. Jam, rute, mobil mana. Aku bilang, lihat, dia lebih pilih kerja daripada aku. Dan Om Gio tertawa dan bilang, sabar, nanti dia pulang."

"Mbak masih tujuh belas."

"Itu bukan pembelaan."

"Saya nggak bilang pembelaan. Saya bilang fakta."

Alessia menoleh. Bima menatap balik, tidak mundur, meski wajahnya sendiri terasa panas dan lengannya berdenyut. Ada jeda yang lama. Di dalamnya angin menggerakkan daun sawo, dan satu daun jatuh di pangkuan perempuan itu. Ia tidak mengusirnya.

"Sembilan tahun aku tidak bilang ini kepada siapa pun," katanya. "Bahkan tidak kepada diriku sendiri. Aku bilang, Rinaldi. Selalu Rinaldi. Lebih mudah."

"Karena kalau Rinaldi, bukan Mbak."

"Iya."

Bima mengambil gelasnya sendiri dan meminumnya. Terlalu manis. Ia meringis, dan Alessia, entah kenapa, hampir tertawa. Hanya embusan pendek dari hidung, tapi Bima menangkapnya, dan merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang tidak ia sadari sedang diperebutkan.

"Satu hal," kata Bima. "Dua belas tahun lalu. Ayah Mbak sembilan tahun. Mbak bilang Mbak tujuh belas."

Alessia diam.

"Tadi Mbak bilang ayah Mbak meninggal dua belas tahun lalu, di mobil. Sekarang Mbak bilang sembilan tahun."

Wajah Alessia perlahan kehilangan semua ekspresi, bukan karena disembunyikan, tapi karena ia sendiri baru menyadarinya. Gelas teh di tangannya bergetar kecil, riak halus di permukaan.

"Aku... tahun itu..." Ia memejamkan mata sebentar. "Jarak itu tidak masuk akal. Aku selalu hitung dari malam di jalan tol. Dan itu sembilan tahun. Tapi tanggal dokumen ayahmu dua belas."

"Berarti ada tiga tahun yang..."

"Yang dibuang dari ingatanku." Ia berdiri mendadak. Gelas jatuh, tehnya merembes ke tanah. "Ada tiga tahun antara ayahmu menandatangani dan ayahku mati. Dan aku tidak ingat apa pun dari tiga tahun itu."

---

Ponsel tua di saku Bima bergetar. Alessia menatap sakunya sebelum ia sempat mengeluarkannya.

Satu pesan. Bukan teks. Sebuah foto.

Seorang anak perempuan sekitar empat belas tahun, berdiri di depan gudang bercat biru, mengenakan seragam sekolah yang kebesaran. Di sebelahnya, seorang laki-laki berkacamata dan berjaket kulit, mengacak rambut anak itu sambil tertawa. Tangan satunya memegang bungkusan daun pisang.

Hadi Ardhana.

Dan anak perempuan itu menatap kamera dengan mata yang Bima kenal persis. Mata yang dua hari lalu menghitung dirinya di warung.

Di sudut foto ada stempel tanggal merah. Tiga tahun sebelum malam di jalan tol.

Alessia mengambil ponsel itu dari tangan Bima. Ia tidak bernapas. Bima melihat jempolnya menyentuh wajah anak di foto, lalu wajah laki-laki yang tertawa, lalu berhenti di bungkusan daun pisang.

"Aku kenal dia," bisiknya. "Aku pernah di sini."

"Mbak nggak ingat?"

"Aku tidak ingat sama sekali." Suaranya pecah di tengah, hal yang tidak pernah Bima bayangkan bisa terjadi. "Tapi dia memegang kepalaku seperti sudah melakukannya seribu kali."

Di bawah foto, satu pesan baru muncul. Hanya satu baris, dan ketika Bima membacanya, seluruh darah di tubuhnya seakan turun ke kaki.

*Tiga tahun itu bukan hilang, Alessia. Ada yang menghapusnya. Dan orang yang menghapusnya sedang berdiri di belakangmu.*

Bima menoleh.

Di ujung gang, di balik pohon sawo, seseorang berdiri diam. Jaket hitam, helm full-face diangkat setengah. Tangannya tidak memegang senjata. Ia hanya menempelkan satu jari ke bibir, lalu menunjuk ke atas, ke atap rumah Pak Darto.

Bima mendongak.

Di atas genteng seng, tersembunyi di balik jemuran, seseorang berlutut dengan senapan panjang, laras mengarah lurus ke jendela kamar tempat Dimas bersembunyi.

Lampu merah kecil dari teropongnya berkedip sekali, dua kali, lalu bergeser, pelan, ke arah dahi Wartini yang baru saja membuka pintu dan berdiri di ambangnya, memanggil nama anak-anaknya.

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!