Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Jadwal Malam Itu
#
Sendok plastik itu patah jadi dua. Alessia tidak menjatuhkannya. Ia meletakkan kedua potongnya di atas serbet, rapi, sejajar, seperti merapikan barang bukti.
"Mbak," kata Bima.
"Jangan sekarang."
"Itu tulisan Om Gio yang pensil."
"Aku tahu tulisan siapa."
"Terus maksudnya apa, jadwal..."
"Bima." Suaranya tidak naik. Tapi Rico di ambang dapur ikut menunduk, dan Wartini menarik selendang lebih rapat ke bahunya. "Jangan sekarang."
Alessia berbalik dan keluar lewat pintu depan. Tidak tergesa. Bima melihatnya berhenti di pagar, membelakangi rumah, dua tangan di pinggang mantel. Bahunya tidak bergerak. Ia berdiri seperti itu cukup lama, dan Bima tahu satu hal yang tidak ia mengerti kenapa ia tahu: orang itu sedang menghitung mundur dari angka yang sangat besar.
---
Bima menyusul sepuluh menit kemudian, membawa dua gelas teh yang ia seduh sendiri di dapur Pak Darto. Gulanya dua sendok untuk satu gelas, satu sendok untuk gelas lain, karena ia tidak tahu, dan sudah lelah menebak.
Alessia duduk di bangku semen di bawah pohon sawo, tepat di seberang gang. Dari sana ia bisa melihat pintu rumah dan dua ujung jalan. Bima meletakkan gelas yang satu sendok di sampingnya.
"Aku tidak minta."
"Saya tahu."
Mereka diam. Di ujung gang ada anak-anak berseragam merah putih lewat sambil berebut kerupuk. Salah satunya menoleh ke arah mereka, lalu cepat-cepat berpaling.
"Malam ayahku meninggal," kata Alessia akhirnya, pada udara di depannya. "Aku tujuh belas. Hari itu Om Gio datang ke rumah sore-sore. Dia bawa kue, seperti biasa. Kami duduk di teras. Aku sedang kesal karena Ayah membatalkan janji makan malam kami untuk kesekian kalinya."
Bima tidak menyela.
"Om Gio bertanya, ayah pergi ke mana. Aku bilang tidak tahu. Lalu aku ingat Ayah menaruh jadwal di laci meja kerjanya, dan aku..." Ia berhenti. Jarinya yang memegang gelas mengencang, lalu mengendur sengaja. "Aku mengambilnya. Aku bacakan. Jam, rute, mobil mana. Aku bilang, lihat, dia lebih pilih kerja daripada aku. Dan Om Gio tertawa dan bilang, sabar, nanti dia pulang."
"Mbak masih tujuh belas."
"Itu bukan pembelaan."
"Saya nggak bilang pembelaan. Saya bilang fakta."
Alessia menoleh. Bima menatap balik, tidak mundur, meski wajahnya sendiri terasa panas dan lengannya berdenyut. Ada jeda yang lama. Di dalamnya angin menggerakkan daun sawo, dan satu daun jatuh di pangkuan perempuan itu. Ia tidak mengusirnya.
"Sembilan tahun aku tidak bilang ini kepada siapa pun," katanya. "Bahkan tidak kepada diriku sendiri. Aku bilang, Rinaldi. Selalu Rinaldi. Lebih mudah."
"Karena kalau Rinaldi, bukan Mbak."
"Iya."
Bima mengambil gelasnya sendiri dan meminumnya. Terlalu manis. Ia meringis, dan Alessia, entah kenapa, hampir tertawa. Hanya embusan pendek dari hidung, tapi Bima menangkapnya, dan merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang tidak ia sadari sedang diperebutkan.
"Satu hal," kata Bima. "Dua belas tahun lalu. Ayah Mbak sembilan tahun. Mbak bilang Mbak tujuh belas."
Alessia diam.
"Tadi Mbak bilang ayah Mbak meninggal dua belas tahun lalu, di mobil. Sekarang Mbak bilang sembilan tahun."
Wajah Alessia perlahan kehilangan semua ekspresi, bukan karena disembunyikan, tapi karena ia sendiri baru menyadarinya. Gelas teh di tangannya bergetar kecil, riak halus di permukaan.
"Aku... tahun itu..." Ia memejamkan mata sebentar. "Jarak itu tidak masuk akal. Aku selalu hitung dari malam di jalan tol. Dan itu sembilan tahun. Tapi tanggal dokumen ayahmu dua belas."
"Berarti ada tiga tahun yang..."
"Yang dibuang dari ingatanku." Ia berdiri mendadak. Gelas jatuh, tehnya merembes ke tanah. "Ada tiga tahun antara ayahmu menandatangani dan ayahku mati. Dan aku tidak ingat apa pun dari tiga tahun itu."
---
Ponsel tua di saku Bima bergetar. Alessia menatap sakunya sebelum ia sempat mengeluarkannya.
Satu pesan. Bukan teks. Sebuah foto.
Seorang anak perempuan sekitar empat belas tahun, berdiri di depan gudang bercat biru, mengenakan seragam sekolah yang kebesaran. Di sebelahnya, seorang laki-laki berkacamata dan berjaket kulit, mengacak rambut anak itu sambil tertawa. Tangan satunya memegang bungkusan daun pisang.
Hadi Ardhana.
Dan anak perempuan itu menatap kamera dengan mata yang Bima kenal persis. Mata yang dua hari lalu menghitung dirinya di warung.
Di sudut foto ada stempel tanggal merah. Tiga tahun sebelum malam di jalan tol.
Alessia mengambil ponsel itu dari tangan Bima. Ia tidak bernapas. Bima melihat jempolnya menyentuh wajah anak di foto, lalu wajah laki-laki yang tertawa, lalu berhenti di bungkusan daun pisang.
"Aku kenal dia," bisiknya. "Aku pernah di sini."
"Mbak nggak ingat?"
"Aku tidak ingat sama sekali." Suaranya pecah di tengah, hal yang tidak pernah Bima bayangkan bisa terjadi. "Tapi dia memegang kepalaku seperti sudah melakukannya seribu kali."
Di bawah foto, satu pesan baru muncul. Hanya satu baris, dan ketika Bima membacanya, seluruh darah di tubuhnya seakan turun ke kaki.
*Tiga tahun itu bukan hilang, Alessia. Ada yang menghapusnya. Dan orang yang menghapusnya sedang berdiri di belakangmu.*
Bima menoleh.
Di ujung gang, di balik pohon sawo, seseorang berdiri diam. Jaket hitam, helm full-face diangkat setengah. Tangannya tidak memegang senjata. Ia hanya menempelkan satu jari ke bibir, lalu menunjuk ke atas, ke atap rumah Pak Darto.
Bima mendongak.
Di atas genteng seng, tersembunyi di balik jemuran, seseorang berlutut dengan senapan panjang, laras mengarah lurus ke jendela kamar tempat Dimas bersembunyi.
Lampu merah kecil dari teropongnya berkedip sekali, dua kali, lalu bergeser, pelan, ke arah dahi Wartini yang baru saja membuka pintu dan berdiri di ambangnya, memanggil nama anak-anaknya.