Seorang gadis terpaksa menikah dengan seorang pria yang kehilangan calon istri, calon istri pria tersebut meninggal karena kecelakaan yang melibatkan saudara kembar Clara.
Regan terpaksa menikah dengan Clara, karena calon istrinya meninggal saat kecelakaan.
Sampai satu hari, Clara memutuskan untuk meninggalkan Regan.
Tanpa diketahuinya, bahwa saat itu Clara sudah mengandung.
Sampai suatu saat Regan melihat Clara, dan Regan mengetahui bahwa dirinya mempunyai anak.
Apa yang dilakukan oleh Regan, saat mengetahui bahwa. Kecelakaan yang menyebabkan calon istrinya meninggal, bukanlah suatu kecelakaan.
Regan juga cukup terkejut, ketika mengetahui bahwa Amara ?
Apa yang membuat Regan terkejut, mengenai Amara?
Siapa dalang Kecelakaan tersebut ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Takut
Happy reading guys ❤️
Tetap jaga kesehatan dan selalu positif thinking guys
****
Kesempatan Manuel untuk mengatakan kepada Regan, bahwa Clara tadi berada di perusahaan sangat sulit. Karena setelah selesai menjadi juri, Regan mendapatkan kunjungan mendadak investor dari luar negeri yang ingin mengajak kerjasama untuk membuat acara kolaborasi antara dua negara.
"Bagaimana aku mengatakannya saat ini, boss lagi mengatakan pertemuan dengan dengan rekan bisnisnya " ujar Manuel, saat Manuel pergi ke toilet.
Keluar dari toilet, Manuel kembali menuju ketempat pertemuan. Dan Regan masih serius berbicara dengan calon investor dari Thailand.
****
Begitu tiba disekolah, Randhi dan Rhiana langsung pulang kerumahnya dengan perasaan tidak sabar.
"Kak, sepeda kita dibawa kemana oleh Om Poltak ?" tanya Rhiana.
"Mungkin kerumah ? atau ke bengkel . Di rumah tidak ada orang kan ." kata Randhi.
Ketika ingin pulang, Bu Evi memanggil Randhi dan menyerahkan piala yang di menangkannya saat lomba nyanyi.
Setelah mendapatkan piala, Randhi dan Rhiana langsung bergegas pulang.
"Kita ke bengkel saja ." dengan setengah berlari, Randhi dan Rhiana berjalan menuju bengkel Poltak.
"Kak, jalannya jangan cepat-cepat." napas Rhiana tersengal-sengal, karena sedari kecil. Kesehatan Rhiana tidak begitu baik, Rhiana sakit asma. Makanya Diana sangat melarang Rhiana untuk ikut olahraga di sekolah, Rhiana diperbolehkan untuk mengikuti olahraga renang.
"Maaf ." Randhi menghentikan langkahnya, dan memegang tangan Rhiana dan mengandengnya.
"sesak ?" tanya Randhi kepada Rhiana, dan membawanya untuk duduk di bangku didekat taman.
"Sedikit kak ." Rhiana mengambil sapu tangan dan mengelap peluh yang membasahi wajahnya.
Randhi mengeluarkan botol minum nya dan memberikannya kepada Rhiana.
"Punya Rhiana masih ada ." Rhiana mengeluarkan botol minumnya dan meminum isinya sampai tandas.
"Ayo kak ." Rhiana bangkit, mengajak Randhi untuk melanjutkan langkahnya.
"Sudah, kita pelan-pelan saja " kata Randhi.
Dengan berjalan secara perlahan, Randhi dan Rhiana menuju bengkel Poltak. Di tengah perjalanan, banyak orang yang mengenal Randhi dan Rhiana, mereka bertanya karena Randhi membawa piala. Randhi mengatakan bahwa dirinya baru saja memenangkan lomba menyanyi, mereka memberikan selamat kepada Randhi. memberikan selamat kepada Randhi.
" Selamat ya !"
"Terimakasih ," jawab Randhi dengan menampilkan senyum lebar.
Rhiana hanya menampilkan wajah tanpa senyum, seperti biasa.
Rhiana berjalan duluan, karena Randhi masih diberi selamat orang yang mengenalnya.
"Mama !" panggil Rhiana, melihat mamanya berdiri didepan bengkel.
Diana memutar badannya, dan melihat kearah asal suara.
"Rhiana !" Diana bergegas mendekati Rhiana dan menggendongnya dan memeluknya.
"Mama, ada apa ?" tanya Rhiana, yang heran melihat mamanya tidak seperti biasanya.
"Mama rindu ?" alasan Diana.
Jelita keluar dan bertanya kepada Rhiana mengenai Randhi.
"Randhi mana Rhi ?" terbersit rasa khawatir dalam diri Jelita.
Diana tersadar, bahwa Randhi tidak bersama dengan Rhiana.
"Mana Randhi, apa mereka menahannya !" seru Diana dengan panik dan menurunkan Rhiana dari gendongannya.
Rhiana yang tidak mengerti apa yang dikatakan mamanya, menatap wajah mamanya dan bunda.
"Di !" Jelita menenangkan Diana, karena ia khawatir Rhiana akan bertanya.
Diana jongkok dan memegang kedua bahu Rhiana dan bertanya.
"Rhi, di mana Randhi ?" tanya Diana.
"Dia di.." belum selesai Rhiana berkata, terdengar suara memanggil mama.
"Mama !" Randhi berlari dengan membawa piala ditangannya.
"Randhi !" teriak Diana dan Jelita secara bersamaan.
"Lihat maa, bunda. Randhi menang !" seru Randhi sembari mengangkat piala ditangannya dengan tinggi.
"Selamat sayang !" Diana dan Jelita memeluk Randhi secara bergantian.
"Rhi, kenapa kau meninggalkan ku?" tanya Randhi.
"Kau lama sekali, aku letih berdiri !" kata Rhiana.
"Dia meninggalkan aku di ujung jalan maa ." adu Randhi.
"Sudah..sudah jangan ribut, ayo kita masuk ." Diana membawa Randhi untuk masuk kedalam bengkel, sedangkan Jelita membawa Rhiana.
"Mana om Poltak ?" tanya Randhi, karena tidak melihat keberadaan Poltak dan sepeda hadiah ulang tahun mereka.
"Om Poltak mana ?" Rhiana ikut bertanya dan berlari kearah belakang bengkel, untuk mencari keberadaan orang yang mereka cari.
"Tidak ada !" seru Rhiana.
"Untuk apa kalian mencarinya ?" tanya Jelita.
"Om Poltak, mengunjungi kalian tadi ditempat lomba. Apa kalian tidak bertemu ?" tanya Diana.
"Bertemu maa, Om tadi membawa sepeda kami ," kata Randhi.
"Sepeda? apa ada hadiah sepeda dari lomba?" tanya Jelita.
"Bukan, itu hadiah ulang tahun. Karena hari ini ulang tahun kami ," kata Rhiana.
Mobil pickup berhenti didepan bengkel, membuat Rhiana dan Randhi berhambur keluar.
"Sepeda !" Randhi dan Rhiana bersorak kegirangan, karena sudah sejak lama mereka sangat menginginkan sepeda.
"Kenapa Om lama sekali ?" tanya Randhi.
"Ya Om, kami sudah menunggu lama ," kata Rhiana.
"Om mencari mobil dulu untuk mengangkat sepeda, tidak mungkin sepedanya Om bawa dengan sepeda motor," sahut Poltak.
Setelah sepeda diturunkan, keduanya langsung memegang masing-masing sepedanya.
"Ingat, jangan main dijalan raya ." ingatkan Diana kepada Randhi dan Rhiana.
"Oke boss !" jawab Randhi.
"Maa, Rhiana belum bisa menaikinya," kata Rhiana kepada mamanya.
"Randhi juga tidak bisa maa ," ujar Randhi.
"Besok kita ke lapangan, nanti belajar disana ," kata Jelita.
"Hore..!" sorak Randhi dan Rhiana.
Randhi dan Rhiana mengangumi sepedanya, Diana dan Jelita menanyakan keadaan saat Poltak ke perusahaan Regan tadi.
"Tidak ada apa-apa, mungkin saja mereka tidak mengenali kalian. Jangan khawatir," kata Poltak.
"Betul bang ?" Diana tidak percaya.
"Betul, tadi Abang bertemu dengan anak-anak saat mereka sudah mau pulang. Kalau mereka diketahui ada hubungan dengan mu, tidak mungkin mereka bisa pulang lagi ," kata Poltak.
"Mungkin kita memang tidak dikenali asisten boss Di ," kata Jelita.
"Sudah, jangan khawatir. Kapan kalian berencana pindah ?" tanya Poltak kepada Diana.
"Mungkin besok bang, tempatnya bagus. Tidak ada yang perlu diperbaiki ," kata Diana.
"Besok kita tutup bengkel saja, biar bisa seharian mengangkut barang untuk pindahan."
"Iya bang ," jawab Diana.
"Ayo mbak kita pulang, biar kita mulai bisa menyusun barang-barang," kata Diana.
****
Papa Clara duduk dihalaman belakang, matanya jauh menatap kedepan.
"Dimana kau Clara, apa kau benar-benar sudah melupakan kami." Papa Clara berbicara sendiri, hal ini dilakukannya setiap sore menjelang.
Tuk..tuk..tuk
Papa Clara menghapus air matanya, saat mendengar suara tongkat berjalan mendekati tempatnya duduk.
"Paa ." wajah istri muncul.
"Kenapa keluar maa, jangan terlalu sering bawa berjalan. Nanti tidak sembuh-sembuh," kata Papa Clara.
Papa Clara menggeser kursi untuk diduduki oleh istrinya.
"Apa papa rindu dengan Clara ?" tanya istrinya.
Papa menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah bohong paa, mama tahu. Papa habis menangis, mata papa saja merah ," ujar istrinya.
"Apa mama tidak rindu ?" tanya suaminya.
"Bohong, jika mama katakan tidak rindu. Tinggal Clara anak kita paa ," terlihat wajah istrinya yang sedih.
"Apa sudah ada kabar dari menantu kita ?" tanya mama.
"Tidak ada, Regan juga terus mencari ."
*
*
*
*
*
Bersambung