Ada lagu yang mengatakan "tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah, tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah". Sepertinya itu benar adanya. Kisah di sekolah itu banyak, bukan cuma soal cinta, ada segudang cerita mulai dari mimpi dan cita-cita, kisah persahabatan sampai kisah pencarian jati diri.
Kadang kita hanya mengingat kenangan itu di memori, seiring waktu berjalan tergerus oleh kesibukan, mungkin memori-memori itu akan hilang sebagian, bahkan ada yang sampai terlupakan.
Puri Indriyani berusaha mencatat kisah yang pernah terukir selama di SMK. Agar kelak ia bisa membuat novel dan menjadi penulis terkenal, bukunya laku dipasaran dan bisa di film kan. Kalau pun mimpinya terlalu tinggi, setidaknya karyanya bisa mengingatkan teman-teman satu angkatannya, bahwa mereka pernah berjuang bersama dan mengukir cerita bersama selama 3 tahun.
Mau tahu kelanjutannya? check it out...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaldina Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
H1 Prakerin Part 2
Kecrek...kecrek..kecrek...!!!
Kernet bus memainkan uang logam di genggaman tangannya, mengeluarkan suara khas untuk menagih penumpang agar membayar ongkos, berjalan berkeliling dari depan ke belakang. Kepiawaiannya mengenali penumpang tidak membuat lupa siapa saja yang sudah dan belum membayar kewajibannya.
"Mall jogya pak, 4 orang," ucap gue sambil menyerahkan selembar uang berwarna hijau muda dari saku almamater.
"Tiga ribu di kali empat, jadinya dua belas ribu ya neng, kembaliannya delapan ribu," ucap lelaki paruh baya itu mengembalikan uang sisa ongkos ke tangan gue.
"Terimakaaih pak," sahut gue.
"Cuy, nanti gue ganti ya uangnya," ucap cacing
"Iya, nanti gue juga ganti ya curut." ucap Aini dan Lidya dengan nada lemah.
"Iya slow aja cuy," sahut gue.
Nggak tega juga liat Aini dan Lidya lemah begitu. Mabok perjalanan adalah rasa yang sangat tidak nyaman, kepala pusing mual dan ingin muntah. Gimana dua bulan ke depan nanti ya?.
Sepanjang perjalanan nggak ada canda tawa, hanya sesekali gue dan cacing bercanda saling sikut ketika bus menghantam polisi tidur yang membuat badan terangkat dari duduk, atau ketika tiba-tiba mobil mengerem mendadak dan membuat badan terhempas ke depan.
Mengasyikan bagi kami yang sehat dan dalam keadaan fit, namun sangat menyiksa bagi Aini dan Lidya yang mungkin perutnya merasa terkocok akibat laju kendaraan yang tidak stabil, di tambah aroma parfume penumpang yang bercampur aduk dan tak jelas wangi nya, belum lagi panas dan sesak saat bus berhenti untuk menunggu penumpang
MALL JOGYA ... MALL JOGYA ...!!!
ucap kernet bus dengan suara lantang sambil mengetuk kaca dengan uang logam, memperingatkan penumpang yang hendak turun di mall tersebut untuk bergegas mempersiapkan diri.
Dua jam perjalanan terasa cukup melelahkan, akibat kemacetan parah dan kondisi jalan yang belum mulus semua. Make up yang di poles dengan penuh perjuangan sudah mulai luntur tergerus keringat yang mengucur.
Kami pun langsung bangkit dari duduk, bersiap berdiri di depan pintu belakang bus, setelah bus benar-benar berhenti kami pun langsung turun bergantian.
Bus kembali melaju, meninggalkam kami yang berdiri di pinggir jalan, dari sebrang terlihat mall yang cukup besar, dan tujuan kami ada pada deretan ruko di sebelahnya, terlihat plang Bank yang kami tuju, ternyata bukan hanya satu, di sebelahnya ada beberapa bank swasta lainnya.
"Cuy... Itu bank nya," ucap Cacing bersemangat.
Uwek...uwek ...!!!
Lidya berlari ke arah pohon cherry yang lumayan rindang di pinggir jalan. Terlihat ingin menembakan sesuatu dari dalam mulutnya. Wajahnya pucat pasih, sama seperti Aini, tapi dia terlihat sudah lebih membaik.
Kami bertiga mengejar dan menghampiri Lidya. Lidya berjongkok sambil memegangi perut dan mulutnya, sesekali meludah. Sepertinya perjalanan ini cukup menyiksa baginya.
Gue berinisiatif memijit punggung leher Lidya agar dia bisa mengeluarkan yang ingin di keluarkan. Tapi hanya ludah yang dia keluarkan.
"Cukup curut ...!" ucap Lidya sambil menepuk tangan gue pelan.
"Ini tissue Lid," Aini menyerahkan tissue pada Lidya untuk mengelap bibirnya.
"Ini minum dulu Lid," gue pun menyerahkan botol minum yang biasa gue bawa.
Sementara Cacing hanya menjadi penonton, sambil memperhatikan dengan seksama keadaan Lidya.
Setelah minum beberapa teguk Lidya nampak mulai membaik, dan wajahnya lebih segar. Unruk bebeeapa menir kami memutuskan menunggu sampai keadaan Lidya membaik.
"Maaf ya cuy, gue jadi ngerepotin begini" ucapnya lirih.
"Slow aja Lid, kita nggak ngerasa repot kok," jawab gue.
"Iya, lagian kita udah sampe, kan? Slow aja dulu sampe loe agak enakan," timpal Cacing.
"Gue udah enakan kok, yuk kita nyebrang jalan," ajaknya bersemangat dan berdiri, wajahnya terlihat sudah mulai segar.
"Yakin Lid? Kalo belum kita santai di sini aja dulu," kembali gue memastikan.
"Iya yakin,"
Cacing memperhatikan wajah kami satu persatu. Sambil tertawa cekikikan, entah apa yang ia tertawakan, sepertinya ada yang salah.
"Kenapa loe ketawa cekikikan gitu, obatnloe abis ya?" tanya gue ketus.
"Mendingan loe pada ngaca dulu gih, itu make up udah pada luntur." kembali Cacing tertawa.
Denger pernyataan Cacing semuanya jadi ngeluarin alat tempur dari tas masing-masing, dan merapikan makeup, terutama bedak yang udah nggak tersisa karena tergerus keringat.
"Cuy, muka kita udah nggak jelas ya makeup nya," celetuk Aini.
"Iya, licin banget ini muka sama keringet, udah kayak gorengan serebu tiga," sahut gue sambil menempelkan spon bedak pada muka yang emang udah licin banget, layaknya gorengan.
Ketiganya tertawa mendengar ocehan gue, Lidya bahkan sampai menghentikan aktifitas merapikan make up nya dan kembali memegangi perutnya.
"Curut, loe kalo ngomong suka bener ih, sumpah perut gue sakit nih nahan tawa,"
"Ya gimana dong, emang iya kan? Muka kita licin-licin banget," sahut gue kembali.
Tanpa rasa malu kami make up di pinggir jalan, entah lah, ini pengalaman pertama, jadi ingin memberikas kesan pertama yang luar biasa, katanya kan kalau nanti ngelamar kerja juga kita harus memberikan kesan pertama yang bikin orang interesting.
Gue nyebrang berdua Cacing, sedangkan Aini menyebrang berdua Lidya, maksud hati pengen terlihat feminim, gue malah sering ketiklek pake ini sepatu, mana kegedean pula, kalo nggak di ganjel kaos kaki tebel makin nggak bisa di pake jalan deh.
Ternyata bukan cuma gue yang kewalahan pake sepatu ini, yang lainnya juga sama, jalan udah kayak robot semua. Hahahha. Dari awal udah gue bilang kan, pake pantopel aja, biar lebih nyaman, malah di bilang kayak sepatu cowok lah, sekarang mereka juga ngerasain sendiri tersiksa pake sepatu macam gini, mana belum terbiasa, siap-siap aja deh dua bulan ke depan bawa balsem.
Di parkiran ruko terlihat pak Hamdi pun baru sampai. Pak Hamdi menanggalkan helm nya. Kami menghampiri dan bersalaman bergantian.
"Alhamdulillah, kalian udah sampe juga, nggak nyasar kan?," tanya pak Hamdi.
"Alhamdulillah nggak pak, tapi perjalanannya luar biasa banget pak, jalannya rusak, bus banyak berenti dan ngetem, sumpek sampe nggak bisa nafas, si Aini malah sampe mabok tuh pak" curhat Cacing.
Pak Hamdi tertawa kecil mendengar curhatan Cacing yang nyerocos kayak kereta.
"Bener Aini? kamu mabok? " tanya pak Hamdi memastikan keadaan Aini.
"Iya pak," jawab Aini singkat dan tersipu malu
Pak Hamdi melihat jam di tangan kanannya, jarum jam sudah menunjukan pukul 09.50.
"Ayo... Kita langsung masuk aja," ajak pak Hamdi.
Kami berjalan membuntuti pak Hamdi berurutan layaknya anak ayam yang mengekor pada induknya.
Di depan Bank kami di sambut ramah oleh satpam bank, lelaki paruh baya berperawakan besar, tinggi, kulit putih dan mata sipit. AWAN begitu yang tertulis di name tag yang menempel pada seragamnya.
Pak Hamdi sudah mengenal rupanya, mereka terlihat sedikit berbincang ringan.
Pak Hamdi pun memperkenalkan kami pada Pak Awan, dan memberikan isyarat kepada kami untuk bersalaman pada pak Awan. Setelah itu pak Awan membukakan kami pintu dan mempersilahkan kami duduk, kebetulan suasana bank sedang sepi, terlihat hanya ada 1 orang yang duduk di kursi tunggu, satu orang di kursi customer service dan satu orang lagi duduk di teller.
BER ....!!!
Rasa sejuk dan dingin merusuk ke rongga pernafasan, baju yang awalnya basah karena keringet berasa di kipas-kipas dan lama-lama mengering kembali. Wangi ruangan begitu segar, lantai kantor pun sangat bersih
Jumlah kursi tunggu ada tujuh, kami duduk berbanjar. Sambil menunggu unruk bertemu dengan bapak supervisor bank, kami pun menonton tv yang di tempel di pojok kanan atas dinding.
aku mampir again.
Jan lupa mampir di sport girl ya
eh tapi udah ketemu ding
ijin promo thor 🙏
jgn lupa baca novelku dg judul "AMBIVALENSI LOVE" 🍭🍭🍭
kisah cinta beda agama,
jgn lupa tinggalkan jejak dg like and comment ya 🙏😁
ijin promo thor 🍿🍿🍿
jgn lupa mampir di novelku dg judul "AMBIVALENSI LOVE",
kisah cinta beda agama 🍿🍿🍿
jgn lupa tinggalkan like and comment ya 🍿❤️❤️❤️