Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Genius: Jalan Menuju Dasha

Anak Genius: Jalan Menuju Dasha

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Anak Genius / Romansa-Percintaan bebas / Hamil di luar nikah / Single Mom / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nurwahidah Bi

Celaka!

Anastasha Andromeda terlambat mengetahui bahwa dia sedang hamil, saat lelaki yang ditemuinya beberapa kali justru dikabarkan meninggal dunia.

Beberapa tahun berlalu, sebuah surat misterius datang ke kediamannya di Izmir, Turki.

Dasha Andromeda, sang putri yang penasaran dengan pengirim surat tersebut, mendesak Anastasha untuk kembali ke Swiss.

Siapakah pengirim surat itu? Mampukah Dasha membantu sang ibu membuka pintu hatinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurwahidah Bi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia

Sebagai pengasuh Julian, Alice cukup mengkhawatirkan keadaan Julian saat ini. Tapi, dia tidak bisa berbuat hanyak. Status sebagai pelayan senior di rumah ini tidak bisa membantunya sama sekali untuk meringankan rasa khawatir.

Julian sudah seperti adik baginya, walau hal itu memang berubah setelah Julian mengalami amnesia, karena bukan hanya kehilangan ingatan lima tahun ke belakang, Julian juga kehilangan beberapa ingatan masa kecilnya.

Saat-saat Julian terasa asing bagi Alice, dia justru semakin dekat dengan Gina Ainsley.

Melihat kedua anak keluarga Ainsley yang perlahan saling menjatuhkan, membuat dada Alice bergemuruh.

Alice lantas teringat Dasha yang sedari tadi mengunci dirinya di kamar. Membuatnya teringat satu kejadian di mana Julian yang berusia delapan tahun, tertangkap memasuki ruang kerja ayahnya dan merusak salah satu koleksi pahatan kayu mahal milik ayahnya. Saat dimarahi oleh ayah dan ibunya, Julian memilih mengurung diri di kamar, sama persis seperti Dasha.

Alice pun masuk ke kamar Dasha dengan master key rumah yang dipegangnya.

Rupanya Dasha tertidur di sofa depan ranjang. Dalam posisi meringkuk memeluk boneka dan selembar foto sang ibu, gaya tidur meringkuknya berbeda dari Julian.

Alice duduk di sebelahnya dan mengusap kepala gadis kecil itu, sambil berucap pelan, "Kau anak yang cerdas. Kau bahkan tertidur saat baru saja dipisahkan dengan ibumu." Alice menggeleng sambil tersenyum kecil.

"Anne!" panggil Dasha mengigau.

Alice tersenyum dan memeluk Dasha perlahan lalu memindahkan Dasha ke tempat tidur.

"Tindakan apa yang tepat agar keluarga Ainsley mendapatkan ketenangan dan kedamaian?" batinnya mempertanyakan apa yang harus dilakukan untuk keluarga yang sudah dilayaninya selama 25 tahun lebih.

Alice berjalan menuju saklar lampu dan memadamkan lampu di kamar Dasha. Kemudian pergi.

***

Di rumah sakit.

Anastasha yang duduk agak jauh dari depan kamar Julian, melihat wanita berbaju hitam dengan renda emas berjalan cepat menuju kamar yang ditempati Julian. Matanya sembab dan tampak gelisah.

"Julian sangat beruntung, ada Rosella yang terlihat begitu mencintainya," lirih Anastasha menahan dirinya.

"Nona Andromeda," panggil seseorang sedikit mengejutkan Anastasha.

"Rawless! Kupikir kau siapa?" ucap Anastasha takut bertemu kenalannya dulu.

"Ikut denganku!" Rawless berucap serius berjalan mendahului Anastasha. Anastasha pun bergerak mengikuti Rawless.

Mereka tiba di depan lift, sambil menunggu lift terbuka Anastasha terdiam menatap bayangan samar yang memantul dari pintu lift.

"Aku akan antarkan kau kembali ke hotel." Rawless membuka pembicaraan.

"Bagiamana dengan Dasha? Apa dia menangis? Apa dia baik-baik saja?" tanya Anastasha menatap Rawless lekat.

Rawless menggerakkan kakinya agar menghadap Anastasha. "Dia menangis cukup lama dan mengeluhkan tangannya gemetar," jawab Rawless lembut.

"Dia pasti sangat sedih." Anastasha mengalihkan pandangannya pada angka lantai di depan mereka yang semakin mendekati lantai 4.

"Dan takut, kurasa," tambah Rawless menatap hal yang sama dengan yang ditatap Anastasha.

"Apa?" Anastasha menoleh. Mendengar Dasha ketakutan, membuat dirinya jadi khawatir.

"Nona Gina Ainsley terlalu keras padanya, aku khawatir itu akan membuatnya semakin takut," ungkap Rawless jujur.

"Ini salahku!" gumam Anastasha.

Pintu lift terbuka, Rawless masuk lebih dulu disusul Anastasha yang berjalan pelan seolah kehilangan jiwanya.

"Apa kau tidak bisa membawa Nona Dasha pergi? Aku akan membantu jika diperlukan." Rawless tiba-tiba menyatakan hal yang dipikirkannya selama perjalanan pulang pergi tadi.

"Jika Dasha kembali bersamaku, dia akan sedih karena berpisah dari ayahnya. Dia akan merasakan sakitnya perpisahan untuk sekali lagi. Dasha baru saja memiliki ayah dan keluarga lengkap. Aku tidak bisa menghancurkan apa yang sudah kuberikan dengan pengorbanan dan membuat Dasha kehilangan hal-hal yang seharusnya memang menjadi miliknya," jelas Anastasha menjadi dilema.

"Aku—"

"Rawless," potong Anastasha. "Julian akan baik-baik saja kan?" lanjutnya menatap Rawless, seolah tidak ingin membahas hal tentang Dasha lagi.

"Ya, aku harap dia baik-baik saja. Kau tenang lah, Nona!" jawab Rawless terdengar tidak meyakinkan.

"Semoga Gina akan sesegera mungkin mengizinkan aku bertemu dengan Dasha." Anastasha mengembus napas untuk mengatur laju napasnya itu.

"Apa kau dan Nona Gina punya urusan tertentu yang aku dan Julian tidak ketahui?" tebak Rawless merasa curiga dengan pernyataan Anastasha barusan.

"Apa maksudmu?" Anastasha mencoba mengatur ekspresi-nya agar tak terlihat seperti orang yang baru saja ketahuan.

"Kenapa kau butuh izin dari Nona Gina untuk bertemu dengan putrimu sendiri? Itu aneh! Sangat aneh," tanya Rawless berpikir keras.

"Itu karena—"

"Kalian melakukan sesuatu?" tuduh Rawless curiga.

"Tentu saja tidak" Lift terbuka. "Apa maksudmu?" Anastasha mendadak salah tingkah, dia seperti kucing yang baru saja ketahuan mencuri ikan.

"Baiklah, jika memang tidak ada apa-apa! Tidak perlu gugup, ayo pergi!" ucap Rawless berjalan keluar dari lift.

"Rawless!" Anastasha memanggil sambil mengikuti di belakangnya.

Mereka tiba di parkiran basemen. Rawless mengeluarkan sebuah jaket dari kursi belakang dan tiba-tiba memakaikan jaket itu ke pundak Anastasha.

"Kau akan kedinginan," katanya santai.

"Aku baik-baik saja." Anastasha hendak melepas jaket yang dipakaikan Rawless.

"Benarkah?" Rawless memusatkan pandangannya ke tubuh Anastasha yang hanya memakai one piece dress berlengan panjang, dan bahan kainnya terlihat jelas bukan bahan yang hangat.

"Apa yang kau lihat?" Anastasha mengembalikan jaket yang tersampir ke samping kanan itu kembali ke pundaknya.

"Masuklah," perintah Rawless berjalan menuju depan mobil.

"Apa yang kau lihat?" Anastasha memaksa.

"Kau butuh jawaban?" Rawless terhenti.

"Aku akan pakai jaketnya," ujar Anastasha melepaskan jaket di pundak dan mulai memakainya dengan benar.

Rawless tertawa kecil dan masuk lebih dulu ke dalam mobil. Anastasha selesai pakai jaket dan terdiam saat melihat Rawless yang sudah ada di dalam mobil.

Rawless membunyikan klakson, hampir membuat Anastasha tuli.

"Masuklah, apa aku harus membukakan pintu untukmu juga, Nona?" Rawless terdengar sedang meremehkan Anastasha.

"Tutup mulutmu!" Anastasha kesal dan bergegas masuk ke dalam mobil.

***

Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Anastasha baru saja tiba di hotel tempatnya tinggal selama beberapa hari ini.

Badannya letih, ranjang tempat Julian berbaring tadi masih berantakan. Bahkan dompet Julian masih ada di kamarnya.

Semua kejadian yang terjadi hari ini membuat batinnya berkecamuk. Anastasha mulai mengantuk dan perlahan tertidur di lantai dengan badan yang bersandar di pinggiran ranjang.

***

Matahari yang tidak terlalu menyengat, menyumbangkan sedikit cahayanya dari celah-celah tirai jendela hotel.

Dengan badan yang berat karena tertidur di lantai, Anastasha bergerak pelan menuju toilet. Usai membasuh muka dan buang air serta menatap diri sendiri di depan cermin. Anastasha kemudian beralih ke ranjangnya yang masih berantakan.

Usai merapikan kamar, Anastasha menyimpan dompet Julian di tasnya. Pagi ini, Anastasha mendadak ditelepon oleh Gina, dengan hati-hati Anastasha pun mengangkat panggilan telepon itu.

"Kita harus bertemu," ujar Gina tanpa basa-basi.

"Baiklah." Anastasha setuju tanpa bertanya apapun.

"Kau harus jelaskan padaku apa yang terjadi dengan Julian semalam!" lanjut Gina.

"Aku mengerti," jawab Anastasha tidak berselera.

"Aku akan datang ke hotelmu, jangan terlihat di manapun. Aku tidak ingin orang-orang tahu hubungan kita!"

Anastasha memutar bola matanya, kesal. "Hubungan apa?"

"Kau harus tetap menjadi rahasia, sampai rapat pemegang saham berikutnya. Tidak perlu kujelaskan apa yang jadi penghubung di antara kita berdua, bukan?" jelas Gina benar-benar membuat Anastasha hampir kehabisan kesabaran.

"Baiklah." Anastasha mengangguk sambil memejamkan mata.

Kapan aku akan selesai berurusan dengan Gina Ainsley? Batin Anastasha merengek.

***

Bersambung

1
Alya Yuni
, Thor ko trllu brpihak dng orng jhat msa si Anas sellu di tekan karna si Julian orng kya
tpi syngnya orng kya trllu brlbihan
Alya Yuni
IBU macm ap kau Anas
Alya Yuni
Si Anas trllu bodoh
dri awal dah membodohkn drinya smpai dah punya ank ju msih bodoh dsar wanita pling membodohkn dri
Nurwahidah Bi: Sayangnya, tipikal perempuan egois dan bodoh kayak Anastasha itu banyak, Kak 😭
total 1 replies
Alya Yuni
Ngapain mrka cri Anas sendri yg mengusir e tiba tba blng cucu dsar bodoh
Alya Yuni
Kebodohnmu Anas
Nurwahidah Bi: Terima kasih sudah mampir, Kak
total 1 replies
Alya Yuni
Dsar si Anas yg trllu bodoh
Lilia Darra
up
Eunsoo Cha
gila nih cewek. gila harta sama gila perhatian. Anastasha dibikin boneka terus sama dia cuih
Eunsoo Cha
dan si kakek ya gak terlalu suka Dasha kan
Eunsoo Cha
Sudah ku duga Gina nih licik
Oktavia Dirani
NEXT KAK!
Antimono
lanjut Thor!!!!!!
Antimono
Rawless sama Anastasha kayak nya bakal ada loveline ni
Antimono
Kapan di lanjut nih?!!!
Rasa Sayange
Ada magnet yg tdk terlihat antara anastasha dan julian
Jalanyang Luruss
up up
Jalanyang Luruss
Eyya
Antimono
gila
Antimono
hmmm
Eunsoo Cha
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!