Indonesia
NovelToon NovelToon
Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku

Status: tamat
Genre:Teen / Cintamanis / Patahhati / Cintapertama / Tamat
Popularitas:128.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mar Dhyah

Tiga orang wanita yang berstatus sahabat mengaku fans berat seorang pria yang bernama Bian Putra Arianto.

Namun, lama-kelamaan rasa persahabatan mereka memudar. Salah seorang dari mereka mengaku jatuh cinta pada Bian dan membatasi temannya yang lain untuk berinteraksi dengan pria itu.

Akankah persahabatan mereka akan terputus hanya karena seorang pria?

Akankah Bian juga bisa memahami semuanya?

Kepada siapakah akhirnya Bian akan melabuhkan cintanya?

Akankah hubungan mereka berjalan mulus tanpa ada cobaan?

Simak kisahnya di novel ini yuk!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dhyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlakuan Bian

"Pakai ini untuk membersihkan wajahmu." Bian menyerahkan sapu tangannya pada Amara. Tissue di dalam mobilnya ternyata habis. Melihat wajah Amara yang berantakan membuatnya tidak tega melihat wanita itu.

Amara mengangkat wajahnya menatap sapu tangan yang disodorkan Bian.

"Ambillah, kamu terlihat sangat berantakan. Walaupun perasaan kamu sedang hancur, setidaknya tampang kamu tidak ikut hancur."

Amara menelan ludahnya. "T.. tidak usah, Kak. Aku.. aku bisa memakai lengan bajuku."

"Ck, jangan jadi wanita jorok. Pakai saja ini, aku memberikannya untukmu." Ucap Bian lagi tanpa menatap Amara. "Itu kan seragam sekolah kamu. Walaupun kamu akan ganti seragam besok, tapi terlihat sangat jelek. Seragam itu dipakai di tubuh saat kita pergi ke sekolah." Bian kemudian menatap Amara. "Bukan untuk mengelap wajah yang berantakan setelah menangis. Apalagi kalau ada ingus kamu. Ih, jorok."

"Hah?!" Amara melongo menatap Bian. Kembali menelan ludahnya melihat ekspresi Bian yang terlihat eneg.

"Ambil buruan.." Bian mengibas-ibas sapu tangan di depan wajah Amara.

"Eh, i.. iya, Kak." Amara meraih sapu tangan itu. Ia mengerjap-ngerjap menatap sapu tangan yang sudah berpindah ke tangannya.

Bian kembali melirik Amara. "Kenapa hanya ditatap, Mara. Sapu tangan itu bersih kok. Aku baru mengeluarkannya dari lemari pas mengantar kamu pulang tadi. Iya.. cuman agak lama di kantong."

"B.. bukan begitu, Kak." Amara segera mengelap wajahnya. Meraih cermin yang tergeletak di atas dashboard.

"Pastikan kamu mengelap wajahmu dengan benar. Jangan sampai ada sisa air mata." Untuk pertama kalinya Bian menatap Amara agak lama. Gadis itu masih sibuk membersihkan wajahnya. Bian menghela nafas berat saat matanya tertuju pada rambut Amara yang tak kalah berantakan dari wajahnya. "Kamu diapakan saja sih, sama ibu tiri kamu? Apa rambut kamu dijadikan sapu, sehingga terlihat seperti ini?"

Amara tersenyum hambar. "Kak Bian sendiri kan sudah tau, hidupku hambar sehambar senyumanku ini."

"Hah, nggak lucu tau nggak." Bian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sekilas ia melirik ke arah rumah Amara. Cukup lama menunggu Amara membersihkan wajahnya, tidak ada tanda-tanda Bu Hanum akan membuka pintu. Wanita itu benar-benar lepas tanggung jawab pada Amara.

"Wajahku sudah bersih, Kak. Iya.. cuman nggak sebersih kalau dicuci."

"Rambut kamu," Bian menunjuk rambut Amara.

"Tapi, aku nggak ada sisir, Kak."

"Setidaknya ikat rambut itu, Amara. Kamu tetap terlihat berantakan walaupun wajah kamu sudah bersih."

"Aku.. aku nggak ada ikat rambut, Kak. Tadinya aku mengikatnya dengan baik. Tapi, ikat rambut itu ikut tertarik saat Tante menarik jilbabku."

Bian memejamkan matanya menahan kesal. Baru kali ini dia sampai ikut campur masalah orang lain. Bukan ingin ikut campur, lebih tepatnya dia ingin membantu Amara terlepas dari monster gila seperti yang dikatakan Amara.

Saat membuka matanya, tidak sengaja ia melirik gelang hitam di pergelangan tangan kirinya. Ia menghela nafas berat. Apakah ia harus merelakan gelang itu juga untuk Amara?

Bian akhirnya melepas gelang itu. "Pakai ini untuk mengikat rambutmu."

"Eh," Amara terkejut dan gelagapan. Bukannya segera mengikat rambutnya, wanita itu malah memperhatikan tulisan di gelang itu. 'Bian Putra Arianto.' Bibirnya mengulas senyum tanpa dia sadari.

"Buruan, Mara. Kita belum shalat Maghrib." Bian berdecak saat melihat Amara belum juga mengikat rambutnya.

"I.. iya, Kak," Amara segera menyisir rambutnya dengan jari-jarinya lalu mengikat rambutnya. "Maafkan aku membuat Kak Bian repot. Nanti aku cuci gelang ini sebelum mengembalikannya pada Kak Bian."

"Nggak perlu. Kamu cukup menjaganya untukku. Ingat aku kalau kamu disiksa lagi oleh wanita itu. Ingat kalau masih ada orang yang perduli padamu."

Amara tidak bisa berkata-kata. Ucapan terakhir Bian langsung masuk ke dalam hatinya. Hatinya yang panas karena pertikaian dengan Bu Hanum tadi, serasa seperti di siram air es yang membuatnya langsung sejuk. "T.. terimakasih, Kak."

"Mm.." Bian menghidupkan mesin mobilnya setelah melihat Amara selesai mengikat rambutnya.

Bian menghentikan kendaraannya di depan sebuah Masjid besar. "Kita shalat dulu."

"Kenapa tidak di rumah Kak Bian saja nanti."

"Kau takut waktunya terlalu mepet dengan waktu shalat Isya' nanti. Ayo turun.."

Amara akhirnya mengangguk dan mengikuti Bian. Gadis itu terkejut saat melihat mobil hitam berhenti di belakang mobil Bian. Apalagi pengemudinya ikut turun. Orangnya tinggi besar, berkaca mata hitam dengan kepala pelontos.

"Kamu lihat apa?" Bian mengikuti arah tatapan Amara. Dia hanya berdecak saat melihat Anton yang sedang ditatap Amara. "Jangan dilihat, Mara. Palingan orang itu cuman mau shalat sepeti kita. Nggak ada penjahat kok disini. Iya.. kecuali kalau ibu tiri kamu yang menyusul kita, baru itu penjahat."

Amara tersenyum kaku. "I.. iya, Kak." Amara akhirnya melangkah ke dalam Masjid mengikuti Bian. Mereka berpisah saat akan mengambil air wudhu.

Setelah selesai, Bian mengajak Amara mampir di sebuah restoran siap saji. "Kamu belum makan kan?"

"Mm.. tadi siang kan udah di rumah Kak Ayra."

"Hmm.. itu makan siang namanya, Mara. Ini sudah malam. Makan yang baik itu tiga kali sehari. Pagi, siang dan malam."

"Hehehe ... aku mah, makan kapan aja yang penting ada yang di makan." Amara menjawab sambil tersenyum meringis.

"Huh, pantas aja kamu terkena maag. Makan tidak teratur semau kamu."

"Ayo turun."

Amara menggaruk-garuk kepalanya. Perasaannya sudah tidak enak karena Bian sudah menanggung beban hidupnya dari tadi.

"Mara.. kenapa malah diam disana?"

"Hmm.. i.. iya, Kak." Amara gelagapan karena terkejut.

"Kamu selalu bilang iya dari tadi, tapi gerakan kamu lambat."

Amara tersenyum salah tingkah. Bian hanya menggeleng-geleng pelan melihat hal itu.

_________

Bian mengajak Amara duduk di sebuah bangku panjang setelah selesai makan malam. Sebenarnya perasaannya sudah tidak enak berada di luar di jam segini. Apalagi itu bersama dengan wanita seperti saat ini. Tapi, Amara belum terlihat baik-baik saja. Walaupun dia selalu menjawab kalau dirinya baik-baik saja, tetapi tatapan matanya tidak bisa berbohong.

"Mara,"

"Iya, Kak."

"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?"

Amara terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Bian. "Tanyakan saja, Kak," jawabnya kemudian.

Bian menarik nafas panjang. "Sejak kapan wanita itu berbuat semaunya padamu?"

"Aku.. aku tidak ingat waktunya, Kak. Intinya, Tante tidak suka kalau papa memberikan perhatian yang lebih padaku. Apalagi itu menyangkut masalah uang. Tante akan murka seperti tadi kalau tau papaku meninggalkan jatah yang lebih dari yang seharusnya."

"Memangnya berapa jatah belanja kamu?" Bian melirik Amara. Rasa penasarannya mendorongnya untuk bertanya lebih jauh lagi. Entah mengapa, ia merasa perlu tau kehidupan yang dijalani gadis yang menjadi teman setia Adzra beberapa bulan terakhir ini.

Amara tersenyum kecil. Matanya menatap sekeliling tempat yang masih ramai pengunjung. "Biasanya papa memberiku satu juta lima ratus, Kak. Itu untuk semua kebutuhanku untuk satu bulan ke depan. Tapi, pas berangkat kemarin, papa memberiku di juta. Katanya aku sudah beranjak dewasa, pasti kebutuhanku juga bertambah. Kami sedang sarapan bersama kemarin. Papa sengaja memberikan itu di depan Tante. Seharusnya Tante sadar, kalau Papa melakukan itu, agar kami tidak saling mengusik karena sudah memiliki jatah masing-masing." Amara menunduk. Matanya terasa memanas membuka kembali rasa sakit yang harus dia tanggung disaat papanya pergi.

Bian hanya diam menunggu kelanjutan cerita Amara. Untuk pertama kalinya Amara menceritakan perbuatan tantenya pada orang lain. Iya.. walaupun kedua sahabatnya, Khanza dan Ameena mengetahui hal ini, karena mereka sering berada di rumah Amara saat Bu Hanum memarahi gadis itu.

Amara tidak kuasa menahan tangisnya setelah menceritakan semuanya. Bian hanya tersenyum lemah. Ia rasa keputusannya untuk membawa Amara pergi dari rumah itu untuk sementara waktu sudah tepat.

"Terimakasih sudah mendengarkan ceritaku, Kak. Maaf kalau aku merepotkan Kak Bian."

"Tidak apa-apa." Hanya itu jawaban Bian. Matanya menatap Amara dengan perasaan iba. "Kamu harus bisa menjaga perasaan kamu, Mara. Sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian. Sangat tidak adil rasanya kalau kamu tertekan dengan masalah seperti ini." Bian sedikit menggeser tubuhnya agar lebih dekat pada Amara. Menarik kepala wanita itu dan menyandarkan di pundaknya. "Maaf, aku hanya bisa melakukan sebatas ini. Aku tau kamu butuh bahu untuk bersandar. Kamu butuh teman yang bisa mendengarkan keluh kesah kamu. Jangan sungkan untuk bercerita padaku. Berbagilah denganku, agar kamu tidak memendam semuanya sendirian."

Amara semakin sesenggukan di pundak Bian. Suaranya tidak bisa keluar.

Perlahan, tangan Bian terangkat. Walaupun terlihat ragu, tangan itu akhirnya membelai kepala Amara. Hal itu membuat Amara sedikit terkejut. Tapi, sandarannya terlalu nyaman. Belain di kepala membuatnya semakin merasa tenang.

********

1
Noxera
bgsss bgtt
hanum hanania
trima kasih Thor ekstra part nya top markotop pokok e👍👍👍
Azka Dias Pratama
Next thor....
suka skli sm crtanya😚
Sadiah
Wahh amara hamil lagi kasian sie adreena masih kecil, tp emng udh rezeqi dr allah ya alhamdulillah, tohh mas bian bisa bayar banyak baby sister untuk adreena.. 😊🥰
Azka Dias Pratama
bagus thor critanya...
saya suka...
ksih bonus dong thor...
Azka Dias Pratama: mksud nya bonus chapter thor,
msa bhgia nya amara cma sdkit aja thor😌
total 1 replies
hanum hanania
kok tamat Thor🥺🥺 kasih bonus dong🤭
Sadiah
Sedih thor sudah tamat😢😢,,semangat terus berkarya thor dengan cerita² mu yg lain nya,,😊👍👌
Sadiah
Alhamdulillah,, akhirnya khanza mengakui kesalahan nya dn meminta maaf sma amara,,waduh bau² mau tamat kayanya.. 🤔
Sadiah
Semoga penjara bs menyadarkan mu khanza dn membuat mu berubah untuk lebih baik,,ingatlah persahabatan kalian dulu bersama amara dn ameena itu lebih baik bagimu khanza..
Sadiah
Bian.. bian.. lucu dr pendiam smpi bucin gitu ke amara,, mudah²an khanza sadar apa yg di lakukan nya kalau gak sadar juga ywdh penjara aja thoor,, 🤭🤭
Sadiah
Sabar alesha ith semua sudah takdir allah,kamu lg hamil nenek kamu memang sangat keterlaluan, dr bu santi, adrian,amara, di musuhin sama dia, do'a kan saja semoga nenek di ampuni segala dosanya,,
Sadiah
Sabar mas bkan sabar,, salah khanza ga da niat baik buat minta maaf sama bian apa lg sama amara, ya biar rasa di penjara smpi dia minta maaf sama amara.. 😏
hanum hanania: betul itu kak biar tau rasa itu si khanza
total 1 replies
Sadiah
Engga anak nya gapa bapak nya ngeselein banget pak Edward,, bagus danil jangan mau di omelin sama orang gak sopan itu.. 😏
Sadiah
Gpp thoor santai saja.. lanjutt... 😊👍
hanum hanania
langsung cuzz baca 👍👍👍 semangat trus z kk 💪💪
Sadiah
ya allah kakek bayinya juga baru ada 2 minggu udh di bikinin mainan aja,kangen sama Chayra dn Adrian nongol juga akhirnya, ka zidan nikah sama temen nya Chayra juga kan Yasmin, anak nya udh 4 aja.. 😅😅
hanum hanania
buat selusin lg bian 🤭😅
Sadiah
😅😅😅,, puasa puasa.. bian..
Sadiah
Kakek kakek, kadang ngeselin sekarang gemesin,, udh dong amara jangan marah kasian bian kan bukan salah dia sepenuh nya.. 😊
hanum hanania
bagus bian joss pokok e👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!