Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35: cuci mata berujung petaka dan cemburu diam diam mas Jendral
Proses meracik kosmetik mewah di Paviliun Anggrek baru saja mau dimulai ketika tiba-tiba Xie Jian melangkah masuk membawa seorang tamu tambahan. Pria itu memakai jubah sutra hijau muda khas tabib muda istana, membawa kotak obat perak, dan berjalan dengan langkah yang sangat anggun.
Begitu pria itu mendongak dan menjatuhkan pandangannya pada Yufei, dunia Xie Yufei rasanya langsung berubah jadi berlatar belakang bunga sakura berguguran dengan efek slow-motion tingkat tinggi.
(Pria itu luar biasa tampan! Wajahnya seputih porselen, matanya lentik nan teduh layaknya aktor utama drama kolosal modern, dan senyumnya sangat ramah, memancarkan aura cowok baik-baik good boy yang bikin adem batin.)
"Salam, Nona Xie. Nama hamba Gu Yan, tabib muda yang diutus istana untuk membantu memeriksa kualitas bahan lili salju ini," ucap tabib tampan itu dengan suara selembut angin sore, sambil membungkuk sangat hormat.
KREK. Yufei langsung mematung dengan mulut sedikit terbuka. Otaknya yang sempat konslet semalam kini mendadak segar benderang karena dapet asupan visual tingkat dewa. Di dalam hatinya, urusan bisnis kosmetik langsung tergeser oleh jiwa pencinta cowok ganteng yang bersorak-sorai gembira ria:
(MAMAAAKKK!!! Demi apa ini ada oppa drakor nyasar jadi tabib kuno?! Ganteng banget woy, mukanya estetik tanpa celah! Duh, lumayan banget ini buat cuci mata gratis setelah berhari-hari cuma bisa ngeliat muka triplek Mas Jenderal. Memang ya, Mas Jenderal emang gagah banget kek dewa perang zirah besi, tapi Mas Gu Yan ini tipe-tipe brondong manis yang bikin adem! Seger bener mata gue!)
Pangeran Mo Cheng yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan mendadak merasakan dadanya seperti dihantam batu besar. Rahangnya mengeras seketika. Telinganya yang tajam dengan sangat jelas menangkap setiap kata pujian, istilah 'oppa drakor', hingga niat 'cuci mata' yang diteriakkan oleh batin Yufei untuk pria lain.
Hawa dingin yang luar biasa pekat dan mencekam langsung keluar dari tubuh Pangeran Mo Cheng, membuat suhu di dalam paviliun merosot drastis mengalahkan dinginnya puncak utara.
Xie Jian yang berdiri di samping pangeran refleks memegang gagang pedangnya, merinding merasakan aura membunuh jenderalnya yang mendadak aktif tanpa alasan jelas.
"Tabib Gu," potong Pangeran Mo Cheng dengan suara yang sangat rendah, dingin, dan penuh penekanan berbahaya. "Bahan-bahan ini sudah diperiksa oleh hakim istana sebelum dikirim. Tugasmu di sini sudah selesai. Kau boleh pergi sekarang juga."
Tabib Gu Yan yang merasa tidak berbuat salah langsung gemetar ketakutan melihat tatapan mata elang sang pangeran yang seperti siap mencopot kepalanya. "Ah... b-baik, Yang Mulia Jenderal! Hamba mohon pamit!" Tanpa menengok lagi, tabib tampan itu langsung lari tunggang-langgang keluar dari paviliun.
Yufei yang merasa tontonan cuci mata gratisnya diusir paksa langsung merengut di dalam hati:
(Yah... kok diusir sih? Padahal baru juga mau nanya zodiaknya apa. Mas Jenderal posesif amat sih, pelit banget jadi bos, orang cuma mau liat yang bening-bening dikit biar otak gak stres...)
"Xie Jian, bawa semua prajurit keluar dan jaga paviliun ini. Jangan biarkan satu lalat pun masuk," perintah Mo Cheng lagi, suaranya terdengar makin berat karena menahan dongkol.
"Siap, Jenderal!" Xie Jian dengan sigap langsung menggiring pelayan dan prajurit keluar, lalu menutup pintu paviliun dengan rapat.
Kini, di dalam paviliun hanya tersisa Pangeran Mo Cheng dan Xie Yufei. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan menegangkan. Mo Cheng melangkah lebar mendekati meja tempat Yufei berdiri, membuat Yufei refleks melangkah mundur hingga pinggulnya membentur tepian meja kayu.
Pangeran Mo Cheng menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Yufei, mengurung gadis itu sepenuhnya dalam dominasi tubuh tegapnya. Jarak mereka sangat dekat, hingga Yufei bisa merasakan deru napas hangat Mo Cheng yang memburu karena menahan cemburu yang membakar dada.
"Yang... Yang Mulia? Kenapa Anda menatap hamba seperti itu?" cicit Yufei di luar dengan wajah ketakutan, namun batinnya masih sempat-sempatnya dugem heboh:
(Aduh... posisinya kenapa jadi kabedon begini woy! Muka tripleknya kalau lagi cemberut cemburu gini malah keliatan seksi banget, sialan! Jantung gue beneran mau melompat keluar dari dada ini!)
Pangeran Mo Cheng menatap lurus ke dalam manik mata jernih Yufei, telinganya memerah padam mendengar batin Yufei yang menuduhnya cemburu meski tebakan gadis itu seratus persen akurat. Walaupun gengsinya setinggi langit untuk mengaku suka, aksi posesifnya tidak bisa disembunyikan lagi.
"Berhenti menatap pria lain dengan pandangan seperti itu, Yufei," ucap Pangeran Mo Cheng dengan suara rendah yang terdengar sangat protektif, matanya mengunci pandangan Yufei.
"Hah? Pandangan apa, Yang Mulia? Hamba hanya melihat bahan lili salju..."
"Aku tidak bicara tentang bahan obat," potong Mo Cheng dengan tegas, wajahnya maju beberapa senti lagi hingga Yufei bisa mencium aroma kayu cendana yang menenangkan. "Aku tidak suka kau memperhatikan tabib muda tadi terlalu lama. Mulai sekarang, ingat posisimu selama berada di bawah perlindunganku. Matamu... hanya boleh melihat ke arahku."
BYARRRR!!!
Otak Xie Yufei resmi mengalami mati total dan konslet massal. Walaupun Mas Jenderal belum menembaknya atau mengaku suka secara blak-blakan, tapi ucapan barusan sudah sukses membuat seluruh monolog batin kocak di dalam kepalanya... mendadak sunyi senyap tanpa suara.
(Ini namanya cemburu level VIP dari seorang dewa perang!) Wajah Yufei langsung berubah menjadi semerah kepiting rebus yang matang sempurna akibat aksi ngalus terselubung sang pangeran.