Cerita ini adalah kisah sekumpulan orang-orang dengan inner child bermasalah. Mereka tumbuh dengan luka psikologis masing-masing.
Agus adalah karakter utamanya, sesuatu terjadi dengan orangtuanya membuat ia memiliki dendam paling absurd sedunia: mendendam malaikat maut. Ia terobsesi membunuh malaikat Izrail si pencabut nyawa.
Pertemuannya dengan gadis misterius serbatahu, Maya. Mengubah segala hal. Di satu sisi ia harus menyaksikan kematian tragis teman-temannya: Joe, Zidan, Angel dan Tantri. Siapa sebenarnya Maya? Berhasilkah ia membunuh Izrail?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimaz Pray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Terungkap!
"Jangan kuatir, Nona manis! Melakukan kejujuran itu baik, meskipun pahit dan sakit," Wongso melanjutkan. Ia menyelesaikan suapan terakhirnya, terdengar ia bersendawa kecil, Wongso lalu meneguk air putih di dekatnya.
"Ketika jujur itu pahit, awalnya saja. Setelah itu akan lebih mudah dan plong! Cintai dan terima saja diri kita apa adanya. Setelah itu, hadapi dunia. Semua akan jadi baik-baik saja." Wongso bersikap bijak.
Angel masih terisak-isak. Seperti anak kecil habis dimarahi ibunya.
Brian menatap Angel beberapa saat, lalu pandangannya berganti memandangi Wongso.
"Ayah, biarkan Angel menenangkan dirinya." Pinta Brian. Wongso berdehem pelan.
"Ketika dia tenang nanti, biarkan aku menanyakan apa kebutuhannya sekarang. Kalau ibunya masih hidup, biarkan aku tahu apa yang ibunya butuhkan." Wongso mengatakan itu seolah Angel tak berada di sana.
"Baik. Akan ku sampaikan saat waktunya sudah tepat," balas Brian. Juga bertingkah seakan itu hanya percakapan antara dirinya dan Wongso saja.
Isak tangis Angel mulai terdengar melambat dan mereda. Bukan karena iming-iming dari Wongso, melainkan karena ia sudah lebih bisa mengendalikan diri saja. Jelas telinganya menangkap apapun yang diucapkan dua pria yang sedang mengobrol santai di sana. Tetapi pikiran dan hatinya sedang tidak menentu untuk menjawab apapun.
Wongso mulai menyalakan rokok yang ia ambil dari balik jasnya.
Orang tua itu menyelipkan batang rokok ke bibirnya dan cess! Satu petikan korek gas berhasil menyulut api kecil untuk membakar ujung rokok.
"Saya ini bukan orang sadis. Saya juga bukan orang jahat. Jadi, apapun yang mungkin menjadi kesalahan saya. Saya sebisa mungkin akan mencoba bertanggungjawab penuh." Ujar Wongso, sembari rokoknya ia hisap dalam-dalam. Lalu mengeluarkan kepulan putih keabuan.
"Ya. Semua orang tahu, Ayah masih menanggung nafkah keluarga Januar, sebulan lalu ia juga kedapatan mencuri uang Ayah. Kita tahu bagaimana akhirnya dia." Brian menambahkan sembari memperhatikan tamu-tamunya di sekeliling. Tamu-tamunya mulai terlihat tak nyaman, sibuk dengan pikiran sendiri.
"Kita bicara bisnis?" Brian menawarkan pada Wongso.
Wongso terkekeh geli.
"Sudah kuduga pada akhirnya ini semua tentang deal." Wongso menyedot rokoknya lagi.
"Ayah mengajarkan soal perhitungan. Ya, aku masih belajar. Jadi, aku butuh bimbingan. Jika tidak keberatan. Aku harap kali ini situasinya lebih bersahabat. Aku keterlaluan kemaren, tapi itu aku yang kemaren." Brian memulai lobi-lobinya.
"Jadi apa yang kau inginkan?" Wongso langsung pada intinya.
"Permintaan sama seperti kemaren. Proposal sudah dibuat," seorang pengawal datang membawa proposal permohonan, menyerahkannya pada Wongso.
"Kalau itu belum menggerakkan hati Ayah untuk mempercayakan padaku, mungkin bisa dimulai dengan hotel kecil di wilayah timur sepaket dengan apartemennya. Ayah tahu, kan? Aku lumayan pengalaman dengan itu." Brian memohon. Nadanya ramah.
Wongso sekali lagi terkekeh.
"Itu wilayah vital. Salah satu pendapatan terbesar. Jadi, kamu bisa memilikinya setelah Wongso Abdinegara ini meninggal. Kalau kamu bersikap baik, saya tidak keberatan mencantumkan lagi namamu sebagai ahli waris tunggal," Wongso memegangi rokoknya di antara dua jari tangan kirinya, menunjuk kepada Brian.
"Selagi menunggu, kamu bisa pegang hotel-hotel kecil dulu. Yang kecil saja masih sering kamu kacaukan." Wongso terdengar keberatan.
Brian kecewa. Tetapi jelas ia belum ingin berputus asa.
"Brian," Angel tiba-tiba memanggilnya. Matanya bengkak sehabis menangis.
"Ya, Sayang. Butuh sesuatu?" Tanya Brian, melembut.
"Aku izin pulang. Badanku terasa mulai tidak enak. Boleh?" Angel terdengar seperti merengek.
Brian tersenyum ramah.
"Boleh. Orangku akan mengantarmu. Soalnya masih ada yang harus aku bicarakan dengan Ayah. Atau kalau kamu ingin aku yang antar, kamu bisa menunggu di ruang lain sambil beristirahat?" Brian menawarkan.
Agus, yang sedari tadi hanya menyimak saja. Ikut berdiri, coba menjadi penyelamat bagi Angel.
"Biar aku aja yang nganter." Usul Agus.
Pandangannya bertemu dengan tatapan Brian. Tatapan permusuhan yang masih sangat terasa di sana.
"Siapa yang mengizinkan kamu bicara?" Gertak Brian.
"Sorry, aku juga ada sedikit urusan. Jadi mungkin Angel bisa sekalian aku antar pulang." Jawab Agus, coba berbicara baik-baik.
Brian semakin terlihat tidak senang. Maya melirik Agus tajam dari balik kacamata hitamnya.
"Sangat tidak sopan bicara di rumah orang tanpa dipersilahkan, Mas." Hardik Agus kembali.
"Biar aku balik sendiri aja." Angel menengahi. Ia tak ingin semakin berlarut-larut.
Tetapi tangan Brian dengan cepat mencegahnya beranjak.
.
Tatapan Brian dan Angel beradu tajam.
"Pilihannya aku antar tetapi kau tunggu sebentar di ruangan lain, atau di antar orang suruhanku. Tidak ada pilihan lain!" Ancam Brian, ada kemarahan di dalam matanya.
Angel menyerah. Cengkeraman Brian di pergelangan tangannya semakin erat. Ia memutuskan untuk duduk kembali.
"Kau kasar sekali sama perempuan." Agus geram. Kata-kata itu meluncur keluar begitu saja pada akhirnya.
Brian tertawa mencemooh.
"Wow. Wow!" Sambil memberi applause, jelas Brian menyindir Agus.
Agus berdiri, tinjunya terkepal. Buru-buru Zidan di sebelahnya mencegatnya sebelum bertindak lebih jauh.
"Agus, hipokrit." Brian mendengus, "kau mau mengantarkan pacarku pulang agar bisa merayunya dan menidurinya?" Brian menyerang Agus terang-terangan sekarang.
Semua yang hadir tentu saja terkejut. Angel sendiri langsung menatap Brian tajam. Apa maksudnya?
"Apa maksudmu?" Agus coba mengelak.
Brian tampak santai, ia memegang kartu. Ia otomatis memegang kendali sekarang.
"Mengajak pacar orang jalan-jalan, alasannya sih menemui dosen pembimbing. Ya semacam support system' sebagai sahabat dekat," Brian menyerang bertubi-tubi. Membuat Agus dan Angel kian terpojok.
"Kalian tahu, mereka hang out. Sampai sini aku masih coba mentoleransi. I trust him as a friend, as a MAN." Brian menuding Agus. Kata-kata Brian benar-benar menusuk jantung Agus.
Agus jelas tak bisa berkutik.
"Mereka mulai berciuman di bioskop. Mereka tak peduli lagi pada film yang sedang tayang. Kalian tahu kelanjutannya? Mereka bercinta!!!" Teriak Agus. Memekakkan telinga semua orang di situ.
Tak ada satupun yang bersuara.
Angel tampak mulai menangis lagi.
"Sedihnya adalah," Brian memasang tampang sedih sambil tangannya menggenggam tangkai gelas kaca, matanya menatap gelas itu seolah perasaannya saat itu serapuh gelas di tangannya.
"Pacarku lah yang lebih dulu mengajaknya bercinta." Suara Brian sangat rendah, nyaris tak terdengar.
Kepalan tangan Agus perlahan mengendur. Wajahnya tertunduk lesu campur malu.
Teman-temannya meliriknya, entah iba. Entah jijik. Agus kehilangan kepercayaan dirinya detik itu juga.
"Mereka bercinta di kamar mandi bioskop. Tiga puluh menit kurang lebih. Aku sampai menangis menyaksikan rekaman cctv-nya." Brian berkata pelan. Namun terdengar getir.
...****************...
1. Penulis berani bernarasi panjang lebar untuk menggambarkan suasana sekitar. Setelah sekian lama, saya baru kali ini menemukan cerita bernarasi panjang di pf digital. Yang mana cerita semacam ini adalah kesukaan saya.
2. Penulis berani menerapkan sejumlah analogi pada dialog karakternya. Saya sangat mengapresiasi hal ini karena, sebagai penulis fiksi, kemampuan semacam ini mutlak harus dikuasai.
Secara keseluruhan, saya sangat menggemari cerita ini, terutama cara penulis membangun narasinya dengan bubuhan suspense yang acap kali ditemukan di cerita thriller misteri.
Jangan khawatir, Penulis. Meskipun karya dengan narasi sepadat ini tak lagi digemari para pembaca kebanyakan, paling tidak masih ada saya dan sebagian kecil pembaca lain yang telah terbiasa dengan gaya bercerita sebaik ini.
Tetapi jujur ini sesuatu yang baru. Sebuah terobosan segar di dunia kepenulisan novel.