Indonesia
NovelToon NovelToon
Pesona Istri Simpanan

Pesona Istri Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: mbak miss

Serena Madison rela menghalalkan segala demi ketenaran dan popularitas. Dia bahkan bersedia menjadi istri simpanan seorang pria tua yang merupakan pimpinan rumah produksi film ternama demi memenuhi ambisinya.

Bukan hal mudah menjadi istri simpanan, selain menyimpan rapat-rapat statusnya, dia juga harus menghadapi kebencian sang istri pertama.

Hingga suatu ketika, dia dipertemukan dengan seorang pria yang mampu menggetarkan hatinya. Dia menjalin hubungan secara diam-diam di belakang suaminya. Dia juga berniat mengakhiri pernikahannya dan menjalin hubungan serius dengan pria itu.

Namun, bagaimana jadinya ketika sebuah kenyataan mengejutkannya? Akankah dia berhasil mewujudkan niatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbak miss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Akan Mempertahankan

"Tidak mungkin ... Tidak mungkin! Ini pasti salah."

Tangan Serena bergetar hebat memegang sebuah alat tes kehamilan. Tatapannya memburam akibat genangan kristal bening menumpuk di area mata. Dia menggeleng keras berusaha menyangkal kenyataan yang ada.

"Kenapa hal ini bisa terjadi? Selama ini aku tidak pernah lupa meminum obat pencegah kehamilan."

Tangan wanita itu refleks menyentuh perut tempat bersemayam seonggok daging yang bernamakan 'janin'.

Dia teringat peristiwa satu bulan lalu, lebih tepatnya sehari sebelum mendapat kenyataan mengejutkan. Malam itu, Serena baru selesai melayani hasrat suaminya. Pria itu sudah berjanji untuk menginap di tempatnya. Akan tetapi, tiba-tiba Rosalind menelpon meminta Arnold untuk menemaninya dengan alasan rindu. Karena memang waktu itu Arnold baru pulang dari luar kota untuk urusan bisnis. Pria tua itupun menyanggupi demi sebuah azas bernamakan 'keadilan'.

Wanita itu kecewa dan marah karena Arnold mengingkari janji. Ingin menahan, tetapi dia sadar akan posisi serta tak ingin membuat keributan dengan si istri tua. Pada akhirnya, meski berat Serena mengizinkan suaminya untuk pergi.

Dia tak ingin berlarut-larut dalam kekecewaan. Selepas kepergian Arnold, Serena segera menghubungi Ernest untuk menemani malam dinginnya yang tentu saja langsung disambut baik oleh pria yang telah mengisi hari-harinya selama enam bulan terakhir.

Tak berselang lama, Ernest tiba di tempatnya. Setiap kali pria itu menginap, mereka tak pernah luput untuk menghabiskan malam bersama, bahkan hingga pagi menjelang. Serena seolah lupa jika beberapa saat yang lalu juga melakukan hal yang sama dengan suaminya.

"Jika memang iya, lalu dia milik siapa? Siapa yang harus kumintai pertanggungjawaban?"

Pikirannya semakin kalut mengingat selama ini, ia berhubungan dengan dua orang pria sekaligus. Ingin meminta pertanggungjawaban Arnold, tetapi takut jika pria tua itu menyangkal dengan mengatakan, 'bisa saja itu bukan milikku, tapi milik selingkuhanmu.'

Jika seperti itu, dia harus menjawab apa, karena dia sendiri pun juga ragu jika makhluk kecil itu milik mantan suaminya. Begitu pun dengan Ernest, dia juga merasakan ketakutan yang sama.

"Aku harus bagaimana?"

"Ser, lo udah baikan, belum?"

Serena segera menyembunyikan benda kecil itu di bawah bantal ketika Aurel tiba-tiba masuk ke kamarnya.

"U-udah, kok ... Kemarin udah minum obat, gak terlalu pusing lagi. Kenapa?" Dia berusaha bersikap biasa agar sahabatnya tidak curiga.

"Gue mau ke tempat adik gue, barusan dia nelpon ... Gue diminta nemenin dia karena teman kostnya pulang kampung. Loe gak apa-apa ‘kan gue tinggal sendiri? Lusa gue udah balik kok," tutur Aurel memberi penjelasan, "Lo tau sendiri ‘kan gimana penakutnya adik gue?"

"Tau mirip kakaknya." Serena berkelakar menanggapi.

"Sue loe!"

Aurel menanggapi dengan wajah dibuat seolah-olah sedang kesal. Namun, sedetik kemudian sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya.

"Iya juga, ya, hehe...."

"Udah, ah ... Gue mau berangkat. Lo baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa, cepet hubungi gue!" Aurel berpesan sebelum menghilang di balik pintu.

"Iya...."

Serena menghela nafas lega. Beruntung, dia menyembunyikan benda itu di waktu yang tepat.

"Aku harus memanfaatkan kesempatan ini," gumamnya.

...----------------...

Sore itu setelah menutup kedai, Serena bersiap untuk memeriksakan kandungannya ke rumah sakit terdekat. Dia sudah membuat janji dengan salah seorang dokter melalui sebuah aplikasi layanan kesehatan. Meskipun kehadirannya di waktu yang tidak tepat, bukan berarti dia akan mengabaikan begitu saja. Biar bagaimanapun juga dia seorang ibu. Dia tidak akan tega untuk melenyapkan darah dagingnya sendiri.

Ya, Serena telah membuat keputusan jika dirinya akan mempertahankan janin itu terlepas dari apapun yang akan terjadi nanti. Dia bertekad kuat akan menghadapinya dengan penuh keberanian. Mengingat dirinya yang sebatang kara, anaknya kelak bisa menjadi teman di masa tua.

Wanita itu berusaha untuk berprasangka baik, jika makhluk kecil itu adalah hadiah dari Tuhan atas semua yang menimpa hidupnya selama beberapa tahun terakhir.

Serena tampak terburu-buru, segera menghentikan taksi yang melintas untuk mencapai tempat tujuan.

"Pak ke rumah sakit Citra Medika, ya."

"Siap, Non."

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tanpa ada yang menyadari dari arah belakang ada sebuah sedan hitam tampak mengikuti taksi tersebut.

"Mau kemana dia? Kenapa buru-buru sekali?" gumam seorang pria lengkap disertai tatapan mata tajamnya.

Dia berusaha menjaga jarak agar aksinya tidak ketahuan. Dahinya berkerut dalam kala mendapati taksi tersebut berhenti di sebuah rumah sakit.

"Siapa yang sakit?"

Demi mengikis rasa penasaran, Ernest segera membelokkan mobil ke rumah sakit tersebut hingga berhenti di parkiran yang berada tepat di depan lobby.

Pria itu melebarkan langkah agar tidak kehilangan jejak Serena. Namun, saat berada di persimpangan lorong, ia dikejutkan dengan deringan ponsel yang berada di saja jas. Ernest segera mengangkat panggilan tersebut karena berhubungan dengan pekerjaan, sembari menerima telepon matanya tetap awas mengikuti setiap pergerakan Serena. Namun, beberapa menit kemudian, langkahnya terpaksa terhenti ketika sang asisten mengabarkan ada situasi darurat di kantor.

"Oke, aku akan segera ke sana," pungkasnya sebelum mengakhiri panggilan.

Dengan terpaksa Ernest menunda niat untuk membuntuti mantan kekasihnya. Ada masalah mendesak yang harus ia tangani.

...----------------...

"Kapan terakhir Anda datang bulan?"

Serena merasa kikuk untuk menjawab pertanyaan dokter pria di depannya. Menurutnya itu masalah sensitif yang tidak sepatutnya diumbar di hadapan orang lain, terutama pria dewasa.

"Harus dijawab, ya, Dok?"

Bukannya langsung menjawab, wanita itu justru balik bertanya.

"Ya, untuk mengetahui usia kandungan Anda."

"Gak bisa gitu langsung diperiksa aja," ucapnya bernegosiasi.

Pria berjas putih itu menghela nafas panjang.

"Baiklah, silahkan berbaring. Saya akan langsung memeriksanya."

Pada akhirnya, dokter bername-tage Rayyan A.H itupun memilih menurut karena ia juga sedang malas berdebat dengan pasien. Dia meminta bantuan suster untuk mengoleskan gel ke perut pasiennya.

"Usianya baru enam minggu, pertumbuhannya sangat baik," ujar Rayyan dengan tangan menggerakkan alat ke area perut Serena.

"Di mana janin saya, Dok?"

"Kamu bisa lihat bulatan kecil itu?" Rayyan mengarahkan alat di tangannya ke arah yang ditunjuk.

Serena mengangguk mengiyakan.

"Itu janinmu."

"Hah, kecil amat?"

Ungkapan itu terlontar begitu saja dari bibir Serena yang berhasil membuat Rayyan dan suster yang mendampingi kompak menaham tawa.

"Dia memang kecil tapi nanti jadi besar. Beberapa bulan ke depan perutmu juga akan buncit seperti orang terkena busung lapar."

Serena hanya merotasi kedua bola matanya mendengar tanggapan pria itu.

Beberapa menit kemudian, pemeriksaan telah selesai dilakukan. Rayyan tampak menuliskan resep vitamin yang harus diminum selama masa kehamilan serta menanyakan mengenai kondisi terakhir pasiennya.

"Apa saja yang dirasa? Pusing, mual, muntah dan bisa makan apa tidak?"

"Normal, sih, Dok. Cuma dua hari kemarin sering pusing sama muntah hebat. Saya kira karena kecapekan, ternyata isi."

"Oke, saya resepkan obat mual sekalian. Diminum hanya saat mual saja. Jaga pola makan, jangan sampai stress!" Rayyan berucap dengan tangan bergerak lincah diatas sebuah kertas. "Ini harus habis dalam satu bulan. Jangan lupa lakukan pemeriksaan rutin setiap bulan untuk memantau perkembangannya."

"Baik, Dok," jawab Serena seraya menerima resep tersebut.

1
Usmi Usmi
semangat Rena kau tidak sepenuh nya salah si Arnold juga salah😀
Reni Anjarwani
doubel up thor
Rice Btamban
semangat
Rice Btamban
tetap semangat
Rice Btamban
mantap lanjut
Rice Btamban
semangat
Rice Btamban
tetap semangat
Rice Btamban
hrs ht2 SM pelakor
Rice Btamban
lanjut
Cinta Diva
mampir kak
Susana
Next, Kak.
Sedih, sih, lihat nasib Serena. Semoga masa depannya akan bahagia. 🤧🤧
mbakmiss: Ya ampun ... Makasih udah mampir, Kak 🙏🥰
total 1 replies
Mari ani
Aku kirim kopi biar betah begadang kak.
mbakmiss: makasih 😘
total 1 replies
Mari ani
Keren Kak lanjut.
Mari ani
aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!