Aku mand*l Kayra!" Ucap Rangga tajam. Ada ukeperihan yang terasa di hatinya ketika mengucapkan kata itu. " Dokter tempat kita periksa yang meralat pernyataannya. Aku mand*l." Ucap Rangga memperjelas kalimatnya.
Semua tamu yang mendengar tercengan dan terkejut. Jika Rangga mand*l lalu bagaimana Kayra bisa hamil.
" Gak mungkin Mas!" Ucap Kayra menahan tangisnya namun air matanya lolos begitu saja tak tertahankan.
" Anak siapa yang kamu kandung?" Teriak Rangga. Matanya sudah basah.
" Mas! Aku tidak pernah di sentuh lelaki manapun selain kamu." Bela Kayra.
" BOHONG!" teriak Rangga dengan cepat menyanggah ucapan Kayra.
" Mas. Aku hamil anak kamu!" Kayra berusaha meyakinkan.
" Aku tidak percaya!" Ucap Rangga tegas. " Aku mencintai kamu tetapi apa yang aku dapat! Pengkhianatan!" Ucap Rangga menuding Kayra.
Kayra langsung bersimpuh di hadapan Rangga berharap agar suaminya mempercayai dirinya. " Aku mohon percaya sama aku, Mas." Kayra memegang tangan Rangga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma zahirah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Kayra menatap tajam ke arah Raka ketika melihat Rangga datang bersamanya.
" Kenapa kami bawa dia ke sini?!" Hardik Kayra. Marah karena tanpa persetujuannya Raka mengajak Rangga menjenguknya.
" Biar bagaimana pun, dia ayah dari anak kamu, Kay."' Ucap Raka masih dengan ketenangannya.
Air mata menetes begitu saja dari pelupuk mata Kayra. Secara perlahan. Rangga mendekat pada Kayra.
" Aku minta maaf, Kay. Aku sadar. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Ucap Rangga seraya ingin memeganga tangan Kayra namun Kayra langsung menepis tangan Rangga.
" Aku cuma wanita hina, Mas. Tak pantas aku bersanding denganmu." Ucap Kayra ketus tanpa mau menatap wajah Raka.
" Aku tidak peduli dengan siapa ayah anak itu sebenarnya, Kay! Aku mau kamu kembali jadi istri aku!"
" Kamu masih berpikir itu bukan anak kamu?!" Teriak Kayra marah. " Pergi kamu dari sini! Jangan pernah kamu ganggu aku lagi!" Usir Kayra. Tangisnya pecah memenuhi isi ruangan.
Raka segera mengajak Rangga untuk keluar dari kamar Kayra. Kayra masih sangat terpukul atas ucapan Rangga.
" Tugasku selesai. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa anakmu sudah lahir." Ucap Raka.
Rangga menyunggingkan senyum penuh arti. " Itu anakmu, Raka!" Tuduh Rangga kembali. " Cukup kamu nikmati tubuh istriku! Sekarang kembalikan dia padaku! Kamu bisa ambil anak kalian!" Ucap Rangga masih tetap dengan pikirannya.
' BUK'
Raka melayangkan pukulannya begitu saja mendengar ucapan Rangga. " Aku tak pernah menyentuh istrimu sedikit pun!" Ucap Raka. " Tes DNA bisa memperjelas semuanya!" Tantang Raka.
" Kau hanya mau berkilah!" Ucap Rangga. Detik kemudia dia ingin membalas pukulan Raka. Namun Raka dengan cepat mampu menangkis pukulan Rangga.
" Bersiaplah kehilangan Kayra selamanya!" Ucap Raka dengan sorot mata tajamnya.
" Tidak akan aku biarkan! Kayra hanya milikku!" Ucap Rangga.
Raka kembali masuk ke ruangan rawat inap Kayra dan menghampiri Kayra dengan perasaan bersalah.
" Maafkan aku, Kay." Ucap Raka berusaha menenangkan Kayra.
" Kenapa kamu bawa dia, Ka. Ucapannya selalu menyakiti hatiku." Ucap Kayra di iringi isak tangisnya.
" Rangga berhak tau jika anaknya sudah lahir."
" Dia tidak mengakui anak itu!" Ungkap Kayra sedih. Kasihan putra kecilnya. Harus menanggung beban yang tidak seharusnya.
Kayra menangis hingga tubuhnya berguncang. Hatinya kembali hancur berkeping- keping karena Rangga masih saja beranggapan Kayra mengandung anak hasil hubungan terlarang.Raka hanya mampu mengelus lembut punggung Kayra.
******
Alexa kembali meneguk minuman untuk yang kesekian kalinya. Entah sudah berapa banyak yang dia minum. Ketakutannya akan kehilangan Raka sangat bergelayut di relung jiwanya. Harta yang berlimpah tidak akan di raihnya jika Raka lepas dari genggamannya.
" Sampai kapanpun. Aku gak gak akan lepasin kamu!" Racau Alexa. Matanya sudah merah karena mabuk.
" Apa dia masih menolak?" Tanya Mozza dengan wajah mengejek Alexa yang sangat terlihat kacau.
" Tidak ada yang bisa menolak pesona Alexa!" Ucap Alexa dengan bangga.
Mozza menyunggingkan senyumnya. Melihat Alexa yang tengah mabuk berat Mozza mengambil ponsel Mozza dan membuka ponsel tersebut. Penasaran juga lama- lama Mozza dengan sosok tunangan Alexa yang selalu disembunyikan.
Mozza terkejut ketika melihat foto Raka di ponsel Alexa. Matanya membola.
" Bukankah ini.." Gumam Mozza mengingat sesuatu. Mozza buru- buru mengembalikan kembali ponsel Alexa ke dalam tas setelah tentu saja dia mengirimkan foto Raka ke ponsel miliknya sendiri. Wajahnya sedekat itu ternyata jauh lebih tampan dari pada Rangga.
" Sebaiknya kita pulang sekarang." Ucap Mozza dan meminta beberapa staf clubbing itu memapah Alexa keluar dari tempat itu.
" Kenapa kau selalu menyusahkanku kalo mabuk?!" Omel Mozza. Apa lagi Alexa muntah. Untung saja masih berada di luar mobil, Mozza menatap jijik pada Alexa.
" Sebaiknya aku telepon tunanganmu." Ucap Mozza. Tak sanggup rasanya jika Alexa tiba- tiba saja muntah di mobilnya.
Mozza kembali mencari kontak Raka. Sekaligus mengobati rasa penasarannya. Kenapa Alexa sangat terobsesi ada pria ini.
Di biarkan Alexa terduduk di lantai perkiran mobil begitu saja.
" Halo."
" Ada apa? Apa tidak ada hari esok?!" Semprot Raka. Dia kira yang meneleponnya saat ini adalah Alexa.
" Maaf. Aku Mozza. Teman Alexa." Ucap Mozza memperkenalkan diri.
" Ada perlu apa?" Tanya Raka dengan nada dingin.
" Alexa mabuk berat. Bisa kamu jemput dia?"
" Tidak!" Tolak Raka tanpa berpikir lagi.
" Kasihan dia jika pulang sendiri." Ucap Mozza mencari alasan agar Raka mau menjemput Alexa.
" Kau temannya bukan?!"
" Iya."
" Seharusnya kau yang menemani. Atau setidaknya kau hubungi keluarganya saja!" Ucap Raka tak mau kalah.
" Alexa baru saja muntah. Aku takut dia muntah lagi. Dan aku sangat jijik." Ucap Mozza lagi masih pantang menyerah.
" Aku tidak peduli!" Ucap Raka dan tanpa berpamitan lagi. Raka menutup panggilan teleponnya.
" Ihh! Kok malah ditutup!" Omel Mozza kesal. Mau tidak mau. Mozza tidak lagi punya pilihan. Dengan berat hati dia mengantarkan Alexa pulang.
******
" Siapa?" Tanya Kayra.
" Bukan siapa- siapa." Jawab Raka. Raka memang belum bercerita pada Kayra jika saat ini dia sudah memiliki tunangan.
" Istirahatlah." Ujar Raka. " Besok kamu sudah diperbolehkan pulang. Dan aku sudah menyewakan kamu apartemen." Ucap Raka.
" Tidak perlu, Ka. Di rumah itu aku sudah nyaman." Tolak Kayra halus.
" Aku mau kamu dan bayimu punya tempat tinggal yang nyaman. Aku juga sudah menyewa seorang asisten rumah tangga." Raka menambahkan.
Kayra menatap nanar wajah Raka. Perhatian itu dan tatapan mata yang lembut itu masih sama.
" Apa kau sudah mendapatkan nama untuk bayimu?" Tanya Raka matanya memandang lembut bayi yang tengah tertidur pulas.
" Apa kamu punya rekomendasi?" Kayra berbalik bertanya.
" Emmm... Sepertinya belum ada." Ucap Raka di iringi tawa kecilnya.
Kayra menarik nafasnya dalam. " Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Tanya Kayra menatap Raka sendu.
" Tentu."
" Berjanjilah kamu akan menjawabnya dengan jujur." Ujar Kayra terlebih dahulu.
Raka berpikir sejenak. " Tergantung." Jawabnya.
" Aku serius Raka."
" Oke. Aku akan menjawab jujur sebisa mungkin." Ujar Raka akhirnya.
Kayra menatap Raka lekat. " Setelah kamu kembali ke kota. Kenapa kamu tidak kembali lagi?" Ucap Kayra dengan memaksa dirinya. Sulit sekali dia bertanya hal ini. Seolah ada yang mengganjal tenggorokannya.
Raka menarik nafas dalam. " Setelah kepulanganku. Nenek langsung mengirimku kuliah di luar negeri. Aku berusaha menyelesaikan studiku secepat mungkin." Ucap Raka. " Saat aku kembali. Keadaan sudah berubah. Tak ada lagi rumah yang pernah aku singgahi. Semua rata menjadi jalanan." Ujar Raka.
Kayra menarik nafasnya dalam. Kampungnya memang terkena relokasi untuk pembuatan jalan tol setahun setelah Raka kembali ke kota.
" Betapa terkejutnya aku ketika bertemu kamu dengan keadaan yang berbeda." Ucap Raka. " Aku bahagia, Kay. Ketika kamu merasa bahagia dengan suamimu."
Air mata Kayra menetes begitu saja mendengar ucapan Raka.
" Sekarang pun, aku tetap Raka yang sama." Ucap Raka.
Kayra mengusap air mata yang membasahi pipinya. " Aku sudah jadi Kayra yang berbeda." Ucap Kayra. Isak tangisnya kembali terdengar.
" Tidak ada yang berubah dari kamu, Kay." Ucap Raka. " Kamu tetap jadi Kayra yang kuat."
Kayra kurang menyakinkan gimana perasaan Raka ke kamu, coba belajar menerima Raka. Optimis jangan pesimis dan betul kata Raka harus bekerjasama ber2 untuk menghadapi nenek nya
Raka semoga kamu selamat ya, dan ada satpam yg lihat ke jahatan Rangga
Semoga nanti akan jodoh yg lebih baik dr Rangga kl MMG Raka menikah dg orang lain