Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Hina Karena Miskin

Di Hina Karena Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kim Yuna

Apa jadinya jika pernikahan dibangun atas dasar ketidakpercayaan pada pasangan, padahal mereka menikah atas nama cinta.

Sang suami selalu beranggapan kalau keluarga nya sudah menerima sang istri sebagai menantu namun sebaliknya. Zahra selalu di perlakukan kasar, dianggap sebagai pembantu, di hina bahkan di fitnah oleh ibu dan kakak perempuan Firman.

Hanya karena terlahir dari seorang janda miskin, dan tamatan SMA. Zahra tidak pernah di anggap sebagai keluarga, apapun yang di lakukan nya selalu salah.

Marni ibu mertua Zahra dan Nissa kakak perempuan Firman berusaha untuk menghancurkan rumah tangga Zahra dan Firman sampai menghadirkan Lydia mantan kekasih Firman sebagai wanita yang di harapkan sebagai menantu impian mereka.

Sanggupkah Zahra menjalani pernikahan seperti itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Ambang pintu

Setibanya di rumah, Zahra dan Firman langsung merasa lega. Setelah tiga hari berlibur ke Puncak, akhirnya mereka kembali ke tempat yang paling dirindukan — rumah kecil mereka. Kontrakan satu petak yang sederhana itu terasa seperti dunia kecil yang melindungi mereka dari segala hiruk-pikuk dan luka di luar sana.

“Mas… aku senang sekali,” ujar Zahra sambil memandang langit-langit kamar yang kusam namun terasa akrab. Firman di sebelahnya melakukan hal yang sama, membiarkan keheningan mengisi ruang sebelum ia berkata apa pun.

“Rasanya beban di kepalaku sedikit berkurang. Kayaknya kita memang harus sering pergi berlibur,” ucap Zahra tanpa menahan senyum kecilnya.

Firman tersenyum tipis. “Iya, Ra… aku juga ngerasa beda,” jawabnya pelan. “Di Puncak… aku lihat kamu ketawa lagi. Udah lama banget aku nggak lihat kamu kayak gitu.”

Zahra menoleh, sorot matanya lembut. “Aku juga kangen sama diriku sendiri, Mas. Belakangan ini rasanya… berat. Kayak napas aja susah.”

Firman mengulurkan tangan, menggenggam jari-jari istrinya dengan hangat. “Maaf ya kalau aku kadang terlalu cuek… atau terlalu capek buat dengerin kamu. Tapi aku senang kamu mau ngomong jujur kayak gini.”

Zahra menggeleng kecil. “Aku nggak nyalahin Mas. Kita cuma… capek sama hidup, ya?”

Firman terkekeh pelan. “Capek yang wajar. Tapi… punya kamu bikin semua itu rasanya lebih ringan.”

Keheningan turun perlahan, tapi itu bukan keheningan yang canggung. Justru hangat — seperti selimut tipis di malam hujan. Di luar, gerimis mulai mengetuk pelan atap seng kontrakan. Zahra merapatkan tubuhnya, bersandar ke bahu Firman, membiarkan suara hujan membawa pikirannya kembali pada kenangan-kenangan yang pernah ia kubur.

“Mas…” bisiknya lirih, “Kadang aku masih nggak percaya… kita bisa sampai titik ini.”

Firman menatapnya sebentar. “Titik yang mana?”

“Titik di mana kita bisa pulang tanpa rasa takut… tanpa merasa diawasi… tanpa dengar bisik-bisik yang dulu bikin aku gemetar.”

Firman terdiam. Napasnya berat, tapi ia memilih mendengarkan — sesuatu yang dulu sering ia lewatkan.

“Aku ingat waktu itu, Mas… waktu Ibu dan Mbak Nisa ngomong di dapur,” Zahra melanjutkan, suaranya pelan namun jelas. “Mereka pikir aku nggak dengar. Ibu bilang aku nggak pantas buat kamu… cuma karena aku anak janda miskin.”

Firman mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Tapi ia tetap diam — ia tahu ini saatnya Zahra melepaskan beban yang lama ia simpan.

“Terus Mbak Nisa bilang…” Zahra menelan ludah, bibirnya bergetar, “‘Kalau perlu, cariin aja yang lebih pantas buat Firman. Lydia anak juragan tanah itu loh… cantik, kerja kantoran. Pantas banget buat Firman.’”

Matanya memejam, menahan perih lama yang tiba-tiba terasa seperti baru terjadi kemarin.

“Mereka bahkan bilang… mereka lebih rela lihat Lydia berdiri di samping kamu… daripada aku.”

Hening sejenak. Zahra mengusap matanya yang mulai basah.

“Yang paling sakit… ketika Mas lebih percaya mereka dibanding istri Mas sendiri.”

Perkataan itu menusuk. Firman menoleh cepat, tatapannya dipenuhi sesal yang tak bisa disembunyikan.

“Ra…” suaranya parau, “Maafkan Mas. Saat itu Mas nggak bisa mikir jernih. Mas menyesal — bener-bener nyesal. Mas cuma cinta sama kamu.”

Ia menggenggam tangan Zahra lebih erat, lalu mengusap sisa air matanya dengan lembut.

“Apa pun yang Ibu dan Mbak Nisa lakukan buat misahin kita… Mas janji, Mas akan selalu ada di samping kamu.”

Zahra menatapnya. Ada luka di matanya… tapi juga harapan. Namun sebelum ia sempat merespons, suara petir kecil terdengar dari luar, membuat mereka berdua tersentak ringan.

Zahra menghela napas. “Kadang aku masih takut, Mas…”

“Takut apa?”

“Takut masa lalu itu datang lagi. Takut mereka muncul lagi… dan Mas goyah lagi.”

Firman meraih pipinya, mengarahkannya agar Zahra menatap langsung ke matanya.

“Kali ini… nggak akan ada yang bisa goyah, Ra. Mas udah lihat rasanya kehilangan kamu. Dan Mas nggak mau ulangi itu.”

Zahra menunduk. “Tapi… kalau Ibu datang lagi? Kalau Mbak Nisa mulai ngomongin aku lagi?”

Firman tersenyum tipis — sedikit getir, sedikit mantap. “Kalau mereka datang… biar aku yang hadapi.”

Zahra ingin percaya. Dan ketika ia membuka mulut untuk menjawab, terdengar suara ketukan keras dari pintu depan.

Mereka berdua saling menatap — tegang, terkejut, dan entah kenapa… firasat buruk merayap perlahan.

Tok… tok… tok.

Ketukannya semakin keras.

Zahra menggenggam lengan Firman. “Mas… siapa malam-malam gini?”

Firman bangkit pelan, menelan ludah. “Aku cek dulu.”

Ketika ia melangkah ke arah pintu, suara dari luar terdengar jelas.

“Firman! Bukain pintunya! Ini Ibu!”

Zahra membeku. Napasnya tercekat.

Dan kali ini… sorot mata Firman berbeda. Ia tidak terlihat ragu.

Ia membuka pintu perlahan dan di ambang sana, Marni berdiri dengan wajah basah oleh hujan, namun mata yang menyala penuh amarah.

...----------------...

...----------------...

...----------------...

1
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Elisa 01
jangan lupa mampir di chat story mu judul nya pernikahan 10 hari
Fatma Kodja
lanjut thor 👍👍🙏🙏
Fatma Kodja
pergi aja Zahra, rumah tanggamu sudah tidak sehat, karena suamimu lebih percaya ibu dan juga ipar"mu
Mama lilik Lilik
terimakasih sudah hadir kembali KK author, semoga Zahra menemukan kebahagiaannya tidak dengan firman, semangat KK di tunggu lanjutannya 🙏🏼
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!