Naina..gadis penuh luka ditubuh dan hatinya...... Dipukul, dilukai, dikecewakan, dianggap murahan, dikasihani, sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi ia selalu bangkit. Bukan untuk menjadi Cinderella, tapi hanya untuk menjalani yang telah Tuhan gariskan.
Arkana...lelaki yang pernah terluka begitu dalam. Menganggap dirinya cacat dan hanya pentas dengan kesendirian.
Saat keduanya dipertemukan dalam ikatan pernikahan..... saat itulah mereka tidak bisa melawan yang Tuhan takdirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Yatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Kekuatan Matahari Pagi
Naina terbangun karena cahaya matahari pagi jatuh diwajahnya. Dirasakannya cahaya yang penuh kehangatan.
Kehangatan dari Tuhan.
Kehangatan yang tidak dapat dibeli dengan apapun.
Ia tersenyum.
Tadi malam ia bermimpi bertemu dengan ibunya, mereka tidak bicara... hanya saling berpelukan dan Naina menangis mencurahkan isi hatinya.
Sekarang ia merasa lega.
Ada nasihat ibunya yang selalu ia ingat. Bersedihlah jika ingin bersedih, menangislah jika ingin menangis, tapi jangan biarkan diri kita terpuruk. Bersyukur lebih baik dari pada meratapi nasib.
Arkana melihat sinar matahari masuk melalui jendela. Sinar itu jatuh ke tubuh lemah yang sedang berbaring di atas ranjang. Karena takut mengganggu tidur Naina, ia berjalan menuju jendela untuk menutup tirai.
"Jangan," suara lembut Naina menghentikannya. "Aku suka matahari pagi. Hangat," ucap Naina tanpa sadar tersenyum sangat manis pada sang Matahari.
Arkana memperhatikannya sekilas. Wajahnya tampak lebih cerah, pipinya memerah tertimpa sinar matahari, matanya sudah tidak berkaca-kaca lagi.
Naina memang gadis yang kuat. Padahal tadi malam ia masih menangis di pelukan Arkana..
"Sudah siang, ayo bangun. Sarapan dan minum obat," nada suaranya terdengar memerintah.
Naina bangun dan menatap lelaki yang sudah kembali kedepan laptopnya diatas sofa.
Arkana tampak segar, gagah, dan sangat menawan. Sayang bukan untuknya....
Stop Naina, jerit hatinya.
Jangan meratap lagi.
Bersyukurlah.
Kau selamat dari penculikan dan pemerkosaan.
Lilyana juga baik-baik saja.
Bukankah itu yang paling penting?
Masalah dirinya dan Arkana hanya perlu dua hal yang harus ia lakukan.
Pertama... menghitung hutangnya dan memikirkan bagaimana cara membayarnya pada Arkana. Walaupun mungkin butuh waktu seumur hidup...
Yang kedua..... jangan pernah jatuh cinta pada lelaki itu.
Hanya itu.
Hanya itu......
Semangat Naina!!!
Tanpa sadar Naina memukul udara di atasnya untuk membuktikan semangatnya yang menggebu-gebu.
"Are you oke?" tanya Arkana sambil menahan senyumnya.
"Ehm...ya.," Naina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mau melihat senyum tampan itu...ia memilih untuk mencoba turun dari tempat tidur.
"Kau ini...."Arkana mengomel sambil memapah tubuh Naina. "Kenapa turun?" Arkana masih dalam mode ketus.
"Kamar mandi," jawabnya. Membuang pandangan saat wajah mereka hampir bersentuhan.
Arkana langsung menggendongnya. Seperti kemarin, didudukkannya Naina diatas closet duduk.
"Mau dipanggilkan suster?" tanya Arkana.
"Tidak, aku bisa sendiri." Naina meyakinkannya. Tersenyum manis.
"Oke. Call me if you're done."
"Yes Sir!" Naina membuat gerakan menghormat dengan tangan kanannya.
Arkana mengacak-acak rambut Naina dengan gemas sebelum melangkah keluar.
Mereka berdua sarapan di sofa. Naina sudah membasuh dirinya, perawat membantu mengganti pakaiannya dan menyisir rambutnya membentuk cepol. Lebam di wajahnya sudah sangat berkurang berkat salep ajaib Dr.Bram.
"Rasanya beda," ucap Naina saat memakan bubur. Kemarin rasanya hambar, bubur yang ini jauh lebih gurih, ada aroma rempahnya juga.
"Makan saja," perintah Arkana. Ia meneguk kopinya sambil menahan senyum. Mana mungkin Arkana bilang kalau ia mengancam Dr.Bram supaya memberikan bubur super enak untuk istrinya. Arkana merasa Naina akan menolak jika tahu ia yang membelikan.
"Kapan kau kembali ke kantor?" tanya Naina berusaha mengalihkan pikiran dari bubur dihadapannya.
Arkana langsung menatapnya tajam.
"Kau?" protesnya.
Naina mendesah. Salah lagi.
"Maaf mas, kapan mas kembali ke kantor?" ulangnya mengalah.
Sabar Naina, Abang becak langganannya juga dia panggil mas..
Anggap aja tukang becak.. Hehehe..
"Kenapa? Sudah bosan melihat aku disini?" nada bicara Arkana sudah naik satu oktaf.
"Bukan begitu...mas kan sibuk, nanti pekerjaannya terbelengkalai kalau disini terus."
"I'm not stupid. Aku bisa menjalankan perusahaan dimana saja."
Sombong.
Naina menjulurkan lidahnya. Untung Arkana tidak melihat.
"Aku tidak enak ditunggui terus. Merepotkan ," Naina berdalih.
Arkana menatapnya. Memang benar, ada beberapa proyek besar yang tertunda semenjak ia menemani Naina.
"Nanti kupikirkan," ucap Arkana.
Naina membalasnya dengan senyuman.
"Aku ingin bertemu Lily...bolehkan?"tanya Naina. Aneh sekali rasanya. Semuanya harus seizin lelaki itu.
"Boleh, tapi besok."
"Kenapa tidak sekarang?"
"Adikmu hanya tahu kau dibawa ayah kalian. Apakah kau sudah siap menceritakan semuanya?'
Naina terdiam. Arkana ada benarnya. Buat apa menambah beban pikiran untuk Lily. Biar dia saja yang merasakannya.
"Dia baik-baik saja. Samuel yang menemaninya." Ucap Arkana seolah tau yang dikhawatirkan gadis itu.
"Benarkah? Aku harus berterimakasih jika bertemu dengannya nanti."
"Tidak perlu. Aku yang menyuruhnya. Dia aku bayar, jauh diatas UMR. Kalau mau berterima kasih... berterima kasihlah kepada ku."
"Angkuhnya...." Naina menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah cemberut.
Arkana tertawa kencang.
Tawa lepas pertamanya setelah bertahun-tahun.
Tanpa ia sadari.... rasa terpendam itu mulai muncul kepermukaan hatinya.
Dan itu jelas bukan rasa kasihan.
maaf ya thor itu cuma pendapat q 🙏