Indonesia
NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan / Tamat
Popularitas:891k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pak Adjie menghela napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. Suasana ruang tamu kembali hening. Semua orang memperhatikan pria paruh baya itu, termasuk Arkana yang sejak tadi duduk dengan kepala tertunduk.

"Setelah tahu dirinya hamil, kami sebenarnya meminta Kanaya untuk lebih banyak istirahat," ujar Pak Adjie. "Apalagi waktu itu dia baru memulai usaha warung makan kecil-kecilan."

Bu Winda menoleh ke arah Kanaya. Wanita muda itu hanya tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa.

"Tapi dia tidak pernah mau mendengarkan," sambung Bu Cantika sambil menggeleng pelan. "Pagi-pagi sekali dia sudah pergi ke pasar membeli bahan makanan. Setelah itu memasak, melayani pelanggan, mencuci peralatan, menghitung pemasukan, lalu menyiapkan kebutuhan untuk hari berikutnya."

"Itu memang pekerjaan saya, Bu," ucap Kanaya pelan.

"Itu pekerjaan untuk tiga orang, bukan satu orang yang sedang hamil," balas Bu Cantika cepat.

Kanaya langsung diam.

Bu Winda memandang Kanaya dengan perasaan yang semakin berat. Semakin banyak cerita yang ia dengar, semakin besar pula rasa kagumnya kepada perempuan itu.

Pak Adjie kembali melanjutkan ceritanya. "Kami sudah berkali-kali menyuruhnya mengurangi pekerjaan. Bahkan pernah menawarkan bantuan pegawai. Tapi Kanaya selalu menolak."

"Saya tidak punya cukup uang untuk menggaji pegawai saat itu," jawab Kanaya lirih.

"Padahal alasan sebenarnya bukan itu," kata Bu Cantika.

Kanaya menoleh.

Bu Cantika tersenyum sedih. "Kamu hanya takut usaha itu gagal."

Ruangan kembali hening. Kanaya tidak membantah. Karena memang itulah kenyataannya.

Saat itu Kanaya tidak memiliki siapa-siapa. Tidak ada tempat bergantung. Tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan ketika keadaan sulit. Yang ada hanya dirinya dan dua kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Karena itulah ia terus bekerja meskipun tubuhnya sering kelelahan.

Pak Adjie menatap Arkana sejenak sebelum melanjutkan. "Sampai akhirnya suatu hari Kanaya pingsan di dapur."

Bu Winda langsung terkejut. "Pingsan?"

Pak Adjie mengangguk pelan. "Waktu itu kami mendapat telepon dari salah satu pelanggan warung. Katanya Kanaya tiba-tiba jatuh saat sedang memasak."

Air muka Bu Cantika berubah sedih saat mengingat kejadian itu. "Saya masih ingat betul wajah Kanaya waktu itu pucat sekali. Tubuhnya lemas. Kami langsung membawanya ke rumah sakit."

Arkana yang sejak tadi diam perlahan mengangkat kepalanya. Dadanya mulai terasa sesak.

"Dokter bilang dia terlalu lelah," lanjut Bu Cantika. "Tekanan fisiknya terlalu berat untuk ibu hamil."

Kanaya menundukkan kepala. Meskipun peristiwa itu sudah berlalu lima tahun, rasa takut yang pernah ia rasakan saat itu masih tersimpan jelas di dalam ingatannya.

"Beberapa waktu kemudian, Abi dan Aya lahir lebih cepat dari perkiraan," ujar Pak Adjie.

Bu Winda refleks menutup mulutnya. "Mereka lahir prematur?"

"Iya." Suara Pak Adjie terdengar berat. "Berat badan mereka sangat kecil."

Bu Cantika mengusap sudut matanya yang mulai basah. "Kedua bayi itu harus dirawat di inkubator."

Ruangan kembali sunyi. Anaya dan Abinaya yang sedang bermain tidak menyadari bahwa kisah hidup mereka sedang diceritakan.

Sementara Arkana merasa seperti ada sesuatu yang menekan dadanya semakin kuat. Ia membayangkan Kanaya berada sendirian di ruang bersalin. Membayangkan kedua bayinya harus berjuang di dalam inkubator. Sementara dirinya yang tidak mengetahui apa pun tentang semua itu.

"Saya pernah melihat Kanaya menangis di depan ruang perawatan bayi," lanjut Bu Cantika dengan suara bergetar. "Dia pikir tidak ada yang melihat."

Kanaya langsung memalingkan wajah. Namun semua orang bisa melihat matanya mulai memerah.

"Waktu itu dia terus meminta maaf kepada anak-anaknya," ujar Bu Cantika.

Bu Winda ikut berkaca-kaca.

"Dia bilang gagal menjaga mereka dengan baik selama di dalam kandungan," lanjut Bu Cantika.

Air mata yang sejak tadi ditahan Kanaya akhirnya jatuh juga. Bukan karena ia ingin menangis. Tetapi karena kenangan itu memang terlalu menyakitkan untuk diingat kembali.

Saat itu Kanaya benar-benar takut kehilangan kedua anaknya. Takut pulang dari rumah sakit tanpa melihat perkembangan mereka. Takut menjadi seorang ibu yang gagal bahkan sebelum sempat menggendong anak-anaknya.

Arkana menundukkan kepala lebih dalam. Tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak yang memenuhi dadanya semakin sulit ditahan.

Kenapa dirinya tidak ada saat Kanaya menangis sendirian di depan inkubator. Tidak ada saat kedua anaknya berjuang untuk bertahan hidup. Tidak ada saat Kanaya membutuhkan seseorang untuk bersandar.

Arkana merutuki dirinya yang tidak peka dan berpikir jika kemungkinan Kanaya hamil saat pergi dahulu. Sehingga dia tidak tahu bahwa kedua anak itu ada.

Pak Adjie kemudian tersenyum kecil. "Untungnya Abi dan Aya anak-anak yang kuat."

Bu Cantika mengangguk. "Iya. Sedikit demi sedikit kondisi mereka membaik."

"Waktu pertama kali boleh pulang ke rumah, Kanaya sampai menangis semalaman karena bahagia," kenang Bu Cantika tersenyum lembut.

Kanaya tersipu malu. "Bu ...."

"Saya masih ingat," lanjut Bu Cantika sambil tertawa kecil di sela air matanya. "Kamu tidak tidur semalaman karena terus memastikan mereka bernapas."

Semua orang tersenyum tipis.

Di tengah cerita yang penuh luka itu, terselip kehangatan seorang ibu yang begitu mencintai anak-anaknya.

"Setelah itu warung makan milik Kanaya mulai berkembang," kata Pak Adjie. "Awalnya pelanggan hanya datang untuk makan. Saya dan istri sering meminta Kanaya untuk membuatkan hantaran makanan jika ada acara di kantor."

"Alhamdulillah, masakan Kanaya banyak yang suka. Lalu, ada yang meminta dibuatkan makanan untuk acara keluarga. Ada yang memesan untuk rapat kantor. Ada juga yang memesan dalam jumlah besar untuk acara pengajian," lanjut Pak Adjie senang.

"Pesanannya semakin banyak dari waktu ke waktu," sambung Bu Cantika dengan bangga. "Akhirnya warung kecil itu berubah menjadi usaha katering. Lalu lahirlah ketring Bunda Aya."

Bu Winda tersenyum kagum.

Kanaya menatap kedua anaknya yang sedang tertawa di atas karpet. Senyum kecil muncul di wajahnya.

Nama "BUNDA AYA" memang ia pilih karena dua anak itulah alasan terbesar dirinya bertahan dan bangkit setelah masa-masa paling sulit dalam hidupnya.

Arkana hanya bisa memandang kedua anaknya dalam diam. Kesedihannya semakin besar setelah ia mengetahui seluruh perjuangan yang telah dilalui Kanaya. Dia menyadari bahwa penyesalan terbesar dalam hidupnya bukan kehilangan Kanaya, melainkan kehilangan setiap momen berharga dalam perjalanan hidup wanita itu dan kedua anak mereka.

1
v_cupid
💪
Jamayah Tambi
Alhamdulillah ,Tamat.Tq Athur.Ceritanya bagus,hingga berendam air mata,ada kelakarnya juga.Tidak banyak yg menyakitkan hati.Cuma kes Marlina saja Bagus tak buat pembaca sakit kepala.Selamat berkarya
v_cupid
❤️
Jamayah Tambi
Sedihnya kehidupan kamu Kanaya.Padahal kamu daribketurunan yg baik2.Tidak kekurangan apa pun.Macam2 cara Allah mengatur hidup manusia.
Jamayah Tambi
Bawa saja Bu Cintia,Paj Adjre da Shaka je Jakarta.Belikan mereka tempat tinggal yg layak seperti ibu bapa kandung.Urusan Catering di kota ini biarkan diurus oleh pekerja yg kau percaya.Buka cawangan baru di Jakarta.Seperti ini tiada yg terluka dan terlepas pandang.Jaryan catering mu tetap punya pejerjaan dan penghasilan./CoolGuy//CoolGuy/
Jamayah Tambi
Aku rasa di sini bukan Arkana sepenuhnya betsalah.Kabaya degil,kerascjepala,dia tidak mau mendengar luahan Arkana.Diavyg meninggalkan Arkana.Klalau fi kira2 dia boleh dikatakan nusyuz,meninggalkan suami yg belum menalakmu
Jamayah Tambi
Siasat cctv di tempat acara
v_cupid
❤️
Jamayah Tambi
susah klu gini .Macam mana nak sembuh
Ani Kurniati
bagus ceritanya,,, konflik nya gk terlalu berat
Jamayah Tambi
Terbaik Aya.Tentu saja Arkara sangat berterima kasih pada puterinya
Jamayah Tambi
Kalsu dah jodoh tak memana
v_cupid
💪
v_cupid
suka
v_cupid
❤️
Suyati
cakep idenya nih bch
Suyati
ayolah Kanaya buka hatimu
Suyati
jangan begitu dong kanaya ga semuanya slh arkana
Suyati
ayo arkana jangan putus asa
v_cupid
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!