Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA KIRANA
Taksi berhenti tepat di depan gerbang. Bahkan sebelum mobil berhenti sempurna, Kirana sudah membuka pintu. Ia turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Jantungnya berdetak sangat cepat oleh amarah, membuat dadanya terasa sesak. Sesekali ia mengumpat tidak jelas sebagai pelampiasan.
"Ayah!" teriak Kirana sekencang yang ia bisa begitu masuk ke ruang keluarga.
Kirana melempar tas ranselnya ke sofa dengan kasar, jaketnya pun ia lepas dan ia lempar begitu saja ke lantai. Tapi enggan duduk, kakinya terus mondar-mandir tak tenang. Tangannya mengepal, kadang meremas ujung bajunya sendiri. Wajahnya merah, napasnya memburu. Ia seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Tapi bukan Waluyo yang muncul dari arah dapur, melainkan Mbak Rini yang datang dengan langkah tergopoh, dan wajah yang cemas melihat putri majikannya. "Bapak belum pulang, Non. Kalau butuh sesuatu bisa minta ke Bude saja," ujar Mbak Rini khawatir.
Kirana berhenti mondar-mandir, lalu menoleh cepat, menatap Mbak Rini dengan tatapan tajam. "Ya sudah, Bude lanjutkan saja pekerjaan Bude, aku mau menunggu Ayah!" sahutnya ketus.
Mbak Rini hanya mengangguk pelan dan kembali ke dapur, meski matanya masih mengawasi dari jauh.
Kirana kembali mondar-mandir. Ia mengecek ponsel mendiang ibunya yang ada di genggamannya. Di grup khusus wali murid, ia baru saja melihat foto yang dikirim wali murid lain. Foto Waluyo dan Sutami yang berdiri berdampingan di sekolah Dara, tersenyum sebagai pasangan. Hal yang membuatnya pulang secepat ini.
Brummm
Suara deru mobil masuk ke pekarangan.
Kirana cepat-cepat melongok dari jendela dan melihat mobil Ayahnya sudah terparkir.
Langkahnya terhenti ketika hampir mencapai ambang pintu. Dari balik jendela, ia melihat dengan jelas, bagaimana Ayahnya membukakan pintu untuk Sutami, bagaimana Sutami turun sambil menggendong Dara dengan manja, bagaimana Ayahnya menjaga kepala Sutami agar tidak terbentur. Pemandangan itu begitu menyakitkan baginya. Terlalu mirip seperti seorang ayah dan ibu yang pulang bersama anaknya.
Diremasnya kuat-kuat ponsel mendiang ibunya, hingga buku-buku jarinya tampak memutih. "Sialan! Mereka benar-benar tidak tahu diri!" desisnya dengan rahang mengeras.
Amarah yang sejak tadi Kirana tahan, akhirnya menemukan tempat untuk meledak. Dengan tenaga penuh, ia melempar ponsel ke lantai teras rumah.
"Jika kalian sebahagia itu, jangan libatkan aku lagi!" serunya ketus. "Aku nggak Sudi mengurus sekolah Dara lagi!"
Waluyo yang masih terkejut, menatap putrinya tajam. "Kirana, jaga sikapmu. Apa yang kau lakukan?"
"Ayah masih bertanya?" Kirana tertawa sinis. Air matanya pun akhirnya jatuh. "Aku muak! Aku juga kecewa sama Ayah!"
Kirana melangkah maju hingga ke tengah teras, ia menunjuk Sutami yang masih mematung di anak tangga pertama sambil menggendong Dara. Sementara Dara sudah terbangun dan memeluk leher Sutami dengan erat karena ketakutan.
"Kenapa harus dia, Yah?!" suara Kirana pecah. "Ada banyak perempuan di luar sana! Ada Tante Rahma, ada Tante Merita, atau siapa pun itu! Mereka baik, mereka seusia Ayah, mereka pantas! Tapi kenapa harus dia? Kenapa harus perempuan kuyu yang memiliki wajah persis seperti Ibu?!"
Mendengar jerit hati Kirana, Sutami tersentak, tubuhnya bergetar.
Kirana melanjutkan dengan isak yang tertahan yang membuat dadanya naik turun. "Apa Ayah sudah selupa itu dengan ibuku? Apa ayah tidak sakit hati melihatnya?! Setiap hari melihat wajah yang mirip dengan Ibu, tetapi bukan Ibu! Ibu baru meninggal satu bulan yang lalu, Yah! Satu bulan! Tanah makamnya bahkan masih basah! Lalu Ayah sudah membiarkan perempuan lain melenggang bebas di rumah ini, tidur di kamar Ibu, dan menggendong adikku dengan wajah itu?!"
"Kirana! Cukup!" bentak Waluyo dengan emosi yang akhirnya meledak.
"Tidak! Aku tidak akan diam!" Kirana menggeleng keras, dengan air mata yang tak bisa ia cegah. Lalu menatap Sutami dengan kebencian yang begitu jelas.
"Aku benci kamu!" tunjuk Kirana lagi. "Aku tidak terima kamu seenaknya melenggang di rumah ini! Sok baik, sok perhatian sama Dara dengan wajah itu! Kamu pikir kamu bisa menggantikan Ibuku? Tidak akan pernah! Ibuku hanya satu dan hanya dia yang terbaik untukku! Kamu hanya pembantu Ayah! Kamu bukan siapa-siapa!"
Sutami menunduk dalam. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia memeluk Dara semakin erat untuk menutupi rasa sakitnya, tapi lidahnya terasa kelu, ia tak mampu menjawab satu kata pun.
Dara mulai menangis. "Kakak... jangan marahi Ibu..."
"Diam! Dia bukan Ibu kita!" bentak Kirana pada Dara.
Waluyo langsung menarik napas panjang dan maju satu langkah. "Jaga bicaramu, Kirana!" bentaknya mulai kehilangan kendali.
Tapi Kirana menjadi lebih berani, ia menatap Ayahnya tajam, tapi sorot mata gadis itu penuh luka. "Kalau Ayah tetap mempertahankan dia di rumah ini, lebih baik aku yang pergi! Aku tidak sanggup! Aku tidak sanggup setiap hari harus melihat wajahnya! Aku muak melihat wajah Ibu di tubuh orang lain!"
Setelah mengatakan itu, Kirana berbalik. Ia masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan sangat keras.
BRAK!
Suara bantingan itu menggema ke seluruh rumah.
Di teras, Waluyo berdiri mengepalkan tangan, Sutami yang terisak pelan sambil menggendong Dara yang menangis, dan sebuah ponsel retak yang tergeletak di tangga. Menjadi saksi bahwa luka terdalam keluarga ini baru saja terbuka kembali.
Dari balik pintu dapur, Mbak Rini keluar dengan tergesa. Sejak tadi ia mendengar semuanya. Melihat Sutami yang berdiri mematung dengan air mata yang tertahan, sambil memeluk Dara yang ketakutan, ia merasa kasihan.
Mbak Rini mendekat perlahan. "Non Dara biar sama saya, Bu," ucapnya lirih sambil mengulurkan tangan. "Dara, ganti baju sama Bude, yuk. Ibu biar bicara dulu sama Ayah."
Namun Dara menggeleng keras. Ia justru semakin erat memeluk leher Sutami. "Enggak mau! Mau sama Ibu saja!" isaknya.
Sutami mengusap punggung Dara untuk menenangkannya sembari berusaha mengatur napas dan menata emosinya sendiri, meski dadanya terasa sesak dan perih, tapi ia mengerti, luka Kirana jauh lebih dalam.
"Tidak apa-apa, Mbak. Aku baik-baik saja," jawab Sutami dengan bibir yang bergetar, memaksanya menyunggingkan senyum tipis pada Mbak Rini, "Tolong ambilkan minum untuk Dara saja."
Mbak Rini mengangguk dan segera berbalik masuk lagi ke dalam rumah.
Waluyo masih berdiri dengan rahang mengeras. Rasa bersalah dan marah bercampur menjadi satu di wajahnya. "Maaf, aku tidak pernah menyangka akan ada hal seperti ini. Biarkan aku bicara dengan Kirana!" ujarnya hendak melangkah masuk.
Namun Sutami mencegahnya. Tangannya menahan lengan Waluyo dengan lembut. "Kau memang harus bicara dengannya, tapi tidak sekarang," ucap Sutami pelan, namun tegas. Matanya masih berkaca-kaca, tetapi sorotnya jernih. "Berikan putrimu waktu untuk meredakan hatinya sendiri."
Waluyo menatap Sutami yang perlahan duduk di lantai.
"Entah kau setuju atau tidak," lanjut Sutami dengan suara lirih, "Sebaiknya kita juga perlu merenungkan hal ini lagi. Aku pun sebaiknya bicara jujur tentang statusku di rumah ini pada dua anakmu yang sudah dewasa. Mereka memiliki hak untuk menolakku."
Waluyo terdiam menatap Sutami yang terlihat lelah, tapi masih memikirkan perasaan Kirana. Waluyo pun menyadari bahwa keputusannya menikahi Sutami secara mendadak memang terlalu cepat bagi anak-anaknya.
'Haruskah kubuatkan tempat tinggal terpisah untuk mereka?' pikir Waluyo kusut.
...****************...
Bersambung....
Kalau begini, harus memihak Kirana atau Sutami, atau authornya?🥴
rasain tuh 😏