Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Istri Sah dan Pacar Kandung

POV Alya

Siang hari, waktu istirahat aku memilih untuk mendatangi Zara di ruang kerjanya.

"Ya, kenapa Al, mau minta review bab? Sini, mana laptopnya?"

Aku hanya bisa mengembuskan napas pelan, duduk di kursi berhadapan dengan meja kerja milik Zara. Tidak ada laptop yang aku bawa, aku hanya ingin mencurahkan apa yang sedang mengganjal di dalam hati ini.

Sampai terasa dua bola mata ini terasa panas, bergetar dengan butiran air mata yang perlahan mengalir.

"Eh, kenapa, Al? Mau cerita? Yaudah, aku tunggu. Habiskan tangisanmu itu."

Zara selalu paham dengan apa yang aku rasakan, mungkin ini keputusan terbaik untuk aku menceritakan kejadian semalam. Karena kejadiannya kurang lebih seperti yang sudah dialami oleh Zara.

"Ra, gimana perasaan seorang istri yang hanya dijadikan bahan pelampiasan nafsu sesaat saja?"

Zara melebarkan kedua bola matanya, sebuah pertanyaan yang mungkin tak terduga olehnya.

"Pasti sangat sakit, Al..."

"Itu yang aku rasakan sekarang, Ra. Hatiku sangat sakit dan perih..."

Zara menyerahkan kembali helaian tisu, untung saja suasana perpus saat ini tidak terlalu ramai.

Aku menerima helaian tisu yang diberikan Zara, mengelap mata yang masih terus saja mengeluarkan air mata yang belum juga ingin berhenti.

"Aku sudah resmi menjadi istrinya Kak Revan, Ra. Tapi bukan dari sebuah kesadaran dari Kak Revan sendiri. Kak Revan terpengaruh oleh minuman keras, dan malam tadi aku hanya dijadikan budak pelampiasan nafsunya saja..."

Aku tergugu, teringat bagaimana malam tadi Kak Revan begitu ganas di ranjang, seolah tidak memberiku celah untuk meronta.

"Syut... aku paham pasti kamu sangat kecewa dan sakit hati, Al. Kamu ingat, aku juga pernah merasakannya. Bedanya, waktu itu aku dan Mas Arsyad belum ada ikatan pernikahan. Dia hanyalah pria asing yang tiba-tiba saja mengubah kehidupanku..."

Aku menatap wajah sahabatku. Menceritakan apa yang menyesak di dalam dada adalah keputusan yang tepat.

"Apa yang aku rasakan waktu itu, Ra, aku tidak mengenal Mas Arsyad, di mana kehidupannya, tidak tahu baik dan buruknya pria itu, dan segala ketakutan yang lain terus menghantuiku. Aku hampir gila, dan rasanya ingin putus asa begitu saja."

Zara mulai menggenggam erat tanganku. Mengalirkan ketenangan.

"Tapi... Allah Maha Tahu dengan segala kebaikannya. Mas Arsyad datang kepadaku dan meminangku, ia bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan terhadapku. Sampai pada akhirnya kami sama-sama mulai merasa nyaman dengan pernikahan ini."

Aku mengangguk singkat. "Tapi ini sangat berbeda, Zara. Bahkan Kak Revan sering melupakan statusku sebagai istrinya. Dan malam tadi... aku merasa bagai wanita bayaran yang hanya bisa memenuhi kebutuhan biologisnya sesaat...."

Zara menggeleng pelan, senyum penuh keteduhan ia berikan padaku.

"Alya, Revan adalah pria normal dan kamu juga wanita normal. Siapa yang tidak akan terpancing, seorang suami istri yang tidur satu ruang dan satu atap, pastilah ada getaran nafsu syahwat yang Revan rasakan. Walaupun misalkan Revan belum mencintai kamu, mungkin Revan tidak tahu caranya untuk mengungkapkan sebuah keinginan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya."

"Kalian masih sama-sama kaku, masih canggung."

"Ish... Zara..." Aku mencubit pelan punggung tangan Zara.

"Siapa sih yang gak tahan lihat istrinya yang cantik ini? Ya, pasti ada getaran yang Revan rasakan. Mungkin itu nafsu yang tertahan sebulan lebih, Ra. Bayangkan Revan harus menahannya..."

Zara malah semakin usil, padahal ia tahu jika hubungan aku dan Kak Revan tidak baik-baik saja. Tapi ia tetap mendukung hubunganku dan Kak Revan untuk terus lanjut.

"Percayalah, Al, jika sudah satu kali. Maka kamu akan merasakan yang kedua kalinya dan seterusnya...."

"Zara... stop deh. Kak Revan tidak berharap lebih dengan pernikahan ini."

"Ingat, Ra, Allah Maha Membolak-balikkan hati."

Lama berbincang dengan Zara, dimulai dengan kejadian tadi malam, sampai tentang karyaku yang sudah mencapai lima belas juta viewer. Hari ini antara sedih dan senang sangat bercampur aduk.

Ayah: Nak, minggu lalu Ayah sudah check-up kesehatan di rumah sakit suami mu. Sekarang hasil lab-nya keluar. Tolong ambilkan ya, Revan yang pegang hasilnya. Ayah masih di kampung dan rencananya besok akan pergi ke kota.

Deg.

Otomatis aku harus bertatap wajah dengan pria itu. Kenapa, ya Allah? Hari ini terasa begitu berat. Pria yang sedang aku hindari, malah Engkau takdirkan untuk kami bertemu.

Aku: Kenapa Ayah gak bilang kalau udah check-up? Kalau bilang, Alya bisa temui Ayah...

Ayah: Tiba-tiba, Nak. Revan yang suruh Ayah untuk check-up.

Deg.

Satu hentakan di dalam rongga dada kembali terasa.

"Zar, aku pamit dulu, pulang duluan ya. Ayah suruh ambil hasil lab di rumah sakit."

"Weheheh, ketemu Revan dong."

Sontak aku mendelik malas pada Zara, tapi sahabatku itu malah mencubit pipiku kencang.

🌸🌸🌸

Aku berjalan melewati setiap lorong putih rumah sakit, dengan langkah pelan. Karena rasa perih dan bercampur sakit sisa semalam masih sangat terasa. Bahkan bagian lengan dan bahuku juga terasa sangat remuk.

Tibalah di depan pintu ruang kerja Kak Revan, ada seorang perawat yang berjaga di depan.

"Bu Alya? Silakan masuk saja."

Mereka tahu kalau aku Alya? Dari mana mereka mengetahui kalau aku ini istri dari dr. Revan?

"Terima kasih..."

"Silakan ditunggu, Bu Alya. Dr. Revan sedang ada tamu."

Aku mengangguk lantas duduk di kursi tunggu yang sudah tersedia di dalam ruangan.

Keheningan mulai terasa, bau antiseptik dan obat-obatan kini telah menyapaku.

Sampai terdengar suara bariton yang memecah keheningan itu.

"Maafkan aku, Aira. Aku telah membuat suatu kesalahan besar."

"Apa yang kamu katakan, Revan? Aku tidak paham. Terus kenapa kamu tiba-tiba memanggilku untuk datang menemui kamu di sini? Sudah kubilang semalam. Mending kita break dulu."

Deg...

Denyutan nyeri di dalam dada sangat terasa sakit dan perih. Belum sembuh luka semalam, kini sudah tersayat lagi dengan sebuah kenyataan pahit.

Alasan Kak Revan mabuk adalah karena keputusan dari Aira yang ingin break.

Kak Revan yang stres dan frustrasi, hingga melampiaskan itu semua dengan meminum minuman haram dan melampiaskan nafsunya padaku.

Ya Allah, aku merasa sangat terhina.

Aku memutuskan untuk berdiri, menarik napas secara perlahan untuk menetralkan rasa sesak yang kian menghimpit dada. Berusaha keras agar air mata ini tidak turun.

"Aku gak mau, Aira. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku. Tolong..."

"Tidak, keputusanku sudah bulat Revan. Jika kamu masih memelihara wanita itu, aku tidak mau kembali sama kamu. Aku pergi, pikirkan lagi baik-baik..."

Sret...

Gorden putih yang menjadi tabir itu terbuka, menampilkan sosok wanita cantik dengan rambut pirang, Aira. Tatapan kami bertemu untuk beberapa detik, bahkan aku bisa melihat jelas wajahnya. Sebelum kemudian Kak Revan sadar akan keberadaanku.

"Alya...?"

Bersambung...

Jangan lupa like, komen, dan subscribe.

Para readers, kalian tim mana nih? Tim istri sah atau tim pacar kandung?

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!