Anita atmaja putri seorang gadis cantik yang kaya raya memutuskan untuk merubah penampilannya karena masa lalu yang harus di tuntaskan.
tapi disaat memutuskan untuk menikah dengan hasan lelaki sederhana yang di cintainya ia berusaha ikhlas untuk melupakan dendamnya kepada sang mertua.
dengan keikhlasan yang tulus dalam diri anita, anita berusaha untuk mengambil hati mertuanya tapi usahanya menjadi gagal, karena bu susi yang tak lain mertua anita sangat tidak menyukainya hanya karena anita hidup dari kalangan bawah, cara demi cara dilakukan bu susi untuk menyingkirkan anita tapi bayi malang yang masih dalam kandungannya yang terkena dampaknya.
setelah sadar dari koma, anita sangat murka mendengar kematian anaknya sehingga ia bertekad untuk kembali membalaskan dendamnya atas kematian anaknya dan ibu angkatnya di masa lalu dengan berpura-pura menjadi orang tidak waras.
akan kah anita berhasil membalaskan dendamnya?
lalu apakah hasan akan mendukung rencana istrinya atau malah meninggalkannya.
ikuti kelanjutan nya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisah Alawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
Dua hari kemudian.
"mas, nita mau pergi ke butik dulu ya" ucap anita yang sudah berpakaian rapi, sedangkan hasan yang sedang menikmati secangkir kopi langsung mengernyitkan keningnya.
"ngapain kesana? kamu itu harus banyak istirahat agar bayimu juga sehat" tolak hasan, anita sudah mengerucut bibirnya merasakan kecewa, air matanya sudah mengalir begitu saja, hasan yang melihat istrinya menangis langsung salah tingkah. akhir-akhir ini anita mudah sekali menangis hatinya menjadi lebih sensitif, padahal sebelum hamil dia adalah wanita kuat dan tegar.
"yaudah aku ijinkan. tapi, jangan lama-lama ya dan cepat kembali" ucap hasan sambil memberikan senyuman tipis.
Hasan adalah salah satu laki-laki yang paling tidak tegaan, hatinya lembut bagaikan tissu bahkan hasan paling tidak bisa melihat istrinya menangis.
mendengar itu air mata anita tiba-tiba mengering, senyumnya mekar bagaikan mawar, tak bisa di bohongi kalo dia benar-benar bahagia.
"benarkah? apa kamu yakin mengijinkan ku untuk pergi ke butik? kalo begitu makasih banyak sayang, aku bahagia sekali" ucap anita riang, tak di sia-sia kan anita langsung berpamitan pergi sebelum suaminya berubah pikiran.
setelah berpamitan pada Hasan, anita langsung melajukan mobil putih nya dengan kecepatan sedang, sengaja dia tidak membawa sopir, soalnya ada urusan yang harus dia lakukan.
setelah sampai butik senyum Anita kembali mengembang saat melihat sosok anak kecil yang sangat dia rindukan, air matanya menetes karena bahagia.
"arum sayang, apa kabar?" tanya anita setelah duduk di sisi arum.
"baik tante, tante sendiri apa kabal? dimana cibi?" tanya bocah gembul itu.
"Tante juga baik sayang, chiby milikmu juga baik, dia ada di rumah tante. apa kamu ingin bertemu dengannya?" tanya anita dengan senyum manisnya, arum hanya menggelengkan kepalanya.
"kenapa?" tanya anita penasaran.
"jaga cibi baik-baik ya tante, alum gak mau cibi menderita cepelti alum" ucap arum pelan. tapi, anita masih bisa mendengarnya.
deghhh
menderita? tau apa bocah kecil ini tentang penderitaan? apa selama ini dia sangat menderita? apa bocah ini tidak di perlakukan baik oleh orang tuanya? dan kemana orang tuanya sekarang? keterlaluan, kalo mereka melakukan hal yang tidak baik pada arum, awas saja akan aku beri pelajaran.
"arum dimana bunda dan ayah mu?" tanya anita menatap lekat bocah kecil itu.
"unda kelual kota cama ayah, meleka pelgi kelja. ayum di cini cama aunty lisa" ucap arum dengan nada yang ketakutan.
"terus aunty lisanya dimana?" tanya anita penasaran, hatinya memanas melihat anak kecil berkeliaran sendirian.
"aunty lisa ada di dalam, ayum gak di ijinin masuk. kata aunty lisa anak kecil di lalang masuk oleh kalyawannya" ucap arum menunduk.
peraturan macam apa itu? apa aku pernah membuat peraturan tidak masuk akal seperti itu? ini bukan rumah sakit sehingga melarang anak kecil untuk masuk.
"arum aunty lisa di dalam bersama siapa?" tanya anita yang masih penasaran.
"cama om lio" ucapnya yang masih menunduk, anita sudah geleng-geleng kepala, mereka asik pacaran sedangkan anak kecil ini di telantarkan. dan orang tuanya bodoh sekali menitipkan anak pada orang seperti lisa.
"ayo ikut tante, kita temui aunty mu ya" ajak anita yang sudah memegang tangan mungil milik arum. tapi, lagi-lagi Arum menggeleng.
"kenapa sayang? kamu gak perlu takut ya, butik ini milik tante. kalo di dalam ada yang berani memarahimu, tante janji nanti akan tante marahin balik, ok" rayu anita, dia sungguh tidak tega jika harus meninggalkan Arum begitu saja. rasa cintanya pada bocah kecil ini sangatlah besar, rasa itu muncul saat pertemuan pertama di rumah sakit.
"kenapa sayang?" ucap anita mengernyitkan keningnya.
"ayum akut acuk enjala" ucapnya sambil menatap ku. tapi, rasa ketakutannya masih terlihat jelas.
berengsek mereka, tega sekali mereka menakut-nakuti anak kecil seperti ini.
"gak sayang, kamu gak akan masuk penjara. tapi, mereka lah yang akan tante masukkan kedalam penjara" ucap anita tegas, darah anita seakan mendidih, wajahnya sudah merah padam karena emosi.
"siang nyonya" sapa beberapa karyawan saat anita masuk, tanpa menjawab anita mengedarkan pandangannya mencari sosok lisa.
"arum yang mana tante mu?" tanya anita yang sudah merendam emosinya.
"gak ada di cini, tante" ucap arum jujur. anita membawa arum ke atas, kalo mereka tidak ada di sini berarti mereka pergi ke atas.
"arum kamu tunggu disini dulu bareng tante lia ya, biar tante yang mencari aunty mu" ucap anita lembut, arum hanya mengangguk pelan, memang pada dasarnya bocah kecil itu sudah kelelahan karena di ajak mengelilingi butik oleh anita untuk mencari lisa.
"kamu jaga dia baik-baik, kalo dia sampe terluka maka kamu akan tau akibatanya" ancam anita menatap tajam karyawan yang bernama lia, sedangkan lia hanya mengangguk patuh dengan hati was-was.
anita sudah berjalan mengelilingi lantai atas, saat matanya menatap sepasang pasangan, dengan cepat anita berjalan ke arahnya, tadi arum sudah memperlihatkan poto lisa, tanpa ada rasa ragu anita menghampiri nya dengan emosi.
plaaakkkkkk
plaaakkkkkk
anita mendaratkan tamparannya kepada sepasang kekasih itu, sedangkan yang di tampar menatap nya dengan penuh amarah.
"apa-apaan kamu ini, tiba-tiba menamparku seenaknya" ucap kesal rio.
"kalian yang apa-apaan, kenapa kalian meninggalkan bocah kecil di pinggir jalan, sedangkan kalian malah asik bercum*u di sini" teriak anita "dan kamu, bukannya kamu itu tantenya arum. tapi, kenapa kamu malah tega membohongi keponakanmu untuk tidak masuk ke dalam butik dengan alasan di larang oleh karyawan, sebagai pemilik toko saya tidak pernah membuat peraturan bodoh seperti itu dan bukankah kamu sudah di beri kepercayaan oleh orang tuanya untuk menjaga anaknya. tapi, apa yang sudah kau lakukan sekarang, sungguh sangat menjijikan" ucap Anita tersenyum sinis.
"da-dari ma-mana ka-kamu tahu" ucap lisa gelagapan, rasa sakit akibat tamparan yang anita berikan sudah dia lupakan begitu saja.
"bagaimana aku tahu, kamu bilang? semua orang juga akan tahu bodoh jika liat anak kecil berkeliaran di luar sendirian, apa dalam hatimu tidak ada rasa peduli sedikit saja pada keponakan mu, hingga dengan tega kamu meninggalkan bahkan berani mempekerjakan anak kecil itu, manusia terbuat apa kalian sebenarnya?" ucap anita menatap tajam lisa, tadi saat keliling mencari lisa anita sengaja memancing Arum untuk cerita kehidupannya, Arum bilang kalo dia sering di suruh untuk mempekerjakan rumah sendirian, sedangkan lisa setiap harinya hanya asik teleponan atau tidak menonton tv. apa orang tuanya tahu? tentu saja tidak, wanita se*an itu selalu berubah wujud saat orang tua arum ada di rumah.
"kenapa anda ikut campur urusan saya? ini kehidupan saya dan arum keponakan saya, jadi terserah saya dong mau memperlakukan anak pungut itu bagaimna, lagian arum bukan keponakan asli saya, dia hanya anak jalanan yang di pungut oleh kaka saya" ucapnya lantang tak ada rasa ragu setiap ucapannya. darah anita kembali mendidih saat mendengar ucapan lisa.
"kalian akan tahu akibatnya" ucap anita emosi, anita mengambil benda pipih dalam sakunya dan mencari nomor seseorang yang iya percayai.
"datang ke lantai atas sekarang" ucap anita pada seseorang di sebrang sana, setelah mendapat jawabannya anita mematikan teleponnya secara sepihak.
"mau apa kamu sebenarnya" ucap rio dengan tajam.
"kita lihat saja nanti" ucap anita tersenyum mengejek.
"bang**t kau" rio sudah emosi, amarahnya dari tadi terus memburu. saat tangannya akan memukul anita, tiba-tiba seseorang berteriak.
"tunggu".....
*****
maaf baru up lagi, soal pengeditan itu masih berlangsung kok. pengeditannya baru otw bab tujuh ya, bila berkenan silahkan lihat lagi dan jangan lupa like dan komennya.
oh ya, dalam pengeditan ada yang di perbaiki dan ada pula yang di rubah di setiap bab nya ya, dan ada kemungkinan soal pembalasan dendam pada susi pun ada di bab bawah. tapi, ini baru kemungkinan ya. tapi, gak tau juga sih, author juga belum tahu hehehe.
jangan lupa like komennya, kalo berkenan vote juga ya. biar author nya semangat.
mampir like balik novel ku judul menikahi anak majikan