Kisah seorang anak perempuan yang bernama Laras, yang menjadi saksi pahitnya kehidupan keluarganya yang mendapat perlakuan jahat dari orang-orang sekitarnya
Entah kenapa penduduk di kampung halaman dimana Laras tinggal begitu jahat dan picik, kejahatan berlanjut hingga turun temurun pada anak-anak mereka
Hingga terjadi fitnah yang di tujukan pada Bejo, sehingga membuat Bejo terjerat skandal fitnah narkoba dan membuatnya merasakan sakitya hidup di penjara
Kejadian menyakitkan yang terjadi bertubi-tubi dalam kehidupan Laras membuatnya menjadi sosok gadis yang mengerikan, yang tertanam dendam yang besar di hatinya
Hal itu membuat Laras menjadi pembunuh berdarah dingin, sikap pendiam dan dendam di hatinya mengundang mahkluk supranatural hinggap menjadi kekuatannya
( Terinspirasi dari kisah nyata )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjuna bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUNCI MOTOR PEMUDA TAMPAN
Sejak hari itu tak satupun dari mereka berani terus terang menganggu Laras, mereka lebih memilih jalan licik mempengaruhi orang-orang agar memutar balikan fakta membuly kami.
Tidak masalah selama tuhan masih kasih kami rejeki masih kasih kami hidup kami akan berjuang, aku percaya masih ada orang baik di luar sana.
****
Menginjak Kelas 2 SMP, satu kelas dengan Linda, manusia munafik, pengecut, lemah dan tak memiliki daya tarik apapun, rasanya senang sekali melihatnya ketakutan saat melihatku dan membullyku saat bertemu teman-teman sekampungnya
"Haaaah" pengecut memang seperti itu
"Heiiii, cewek kamu takut sama saya ya, hhhhhhhhhhh"
Laras berbisik di telinga Linda lalu pergi berkumpul dengan teman-teman, lirikan sinis beradu pada ujung kelopak mata Linda
Aku suka menyebalkan kadang, ku ambil bukunya, ku lemparkan tasnya, bahkan ku buat dia jatuh, semakin ia mengadu dengan yang lain semakin kejam aku akan menyiksanya
Aku sangat menikmati keindahan menyiksa mereka. Mengikuti ekstrakulikuler karate dan dengan kemampuanku yang sudah di asah sejak kecil di tambah dengan senjata pamungkas kebencian membuatku berasa di rantai makanan teratas di sekolahku
Di tambah teman-teman elit dari luar dan dalam, benar-benar membuat aku merajalela, Pengalaman yang ku ambil dari orang-orang kampung yang suka sekali bersandiwara membuat aku benar-benar bisa menghabisi anak-anak bodoh itu
Hampir satu sekolahku dari kelas 1 sampai kelas 3 mengucilkan mereka membuat mereka jadi kelinci percobaan.
Bahkan merambah kepada para guru, bagaimana tidak deki teman lelakiku yang anak Wakasek tempat aku sekolah, beliau yang memberiku kemudahan mengikuti kegiatan dan menjadikan aku anak emas di sekolah itu ia menawarkan aku banyak hal, asal aku bisa melindungi anak lelakinya yang tampan itu. Seorang siswa bernama Deki. Dengan rahasia, aku selalu mengikuti Deki ke kafe, ke Pesta, bahkan saat ia bersama gadisnya. Seolah kami menjadi teman yang dekat.mudah buatku melakukan itu.
Orang kaya berjalan dengan uangnya, orang miskin berjalan dengan otaknya yang harus di tambah dengan ototnya
Hingga lulus sekolah aku baru berpisah dengan Deki dan kawan-kawan, kami bercerai berai meneruskan ke tingkat SMA masing-masing, Peni dan lainnya pergi ke kota lain, ayahnya yang seorang camat pindah tugas, Deki pun begitu, tinggal kami yang memiliki hidup pas-pasan tetap tinggal di kota kelahiran
"Hah"
*****
Masuk ke sekolah Menengah Atas (SMA) Negri 1 Liwa, Menghirup udara segar melihat pemandangan di sekitar gedung sekolah, aku mengurus pendaftaran seorang diri tak di temani orang tua ku
"Hoi Laras"
Pitak melayangkan tangannya menghampiri Laras yang masih asik menikmati dunia baru yang akan di lewatinya.
Pitak adalah salah satu anggota gengnya saat di SMP, dia penduduk asli, otomatis mereka masih menjadi teman bagi laras.
Teman-teman yabg tampak urakan membuat Laras di cap bangsat di kampung halamannya
"Jadi bukan Laras si miskin lagi melainkan Laras si bangsat, heheheh, l like it"
Dengan ciri khas, Laras nyengir kuda dan mengacungkan jari tengahnya pada siapapun yang mengganggu baik lawan maupun kawan
Dan kebanyakan teman-teman Laras adalah sopir angkutan umum atau trevel, jadi untuk waktu panjang bukan masalah buatnya soal transportasi
"Hoooi"
Laras menyambut pitak yang langsung mengepalkan tinju tanda salam mereka, duduk nongkrong sesaat di depan gedung SMA.
Menemani temannya itu bergurau menunggu yang lainnya datang, hari itu acaranya Hanya melihat pengumuman penerimaan siswa baru
"Gimana, rasanya jadi dewasa"
"Maksud nya"
"Kita pacaran"
Lanjut Pitak menggoda Laras yang tetap pada posisinya nyengir
"Kamu yakin mau jadi pacarku"
"Yakinlah"
"Gw yang nggak yakin, koplak Lo"
Laras melompat dari tempat duduknya meninggalkan Pitak karena ramai siswa berebut melihat papan pengumuman, terlihat para pecundang yang langsung menyingkir dariku, menjauh jijik
"OOO...h"
"Yes, gw masuk huuuuaaahww"
Laras mengacungkan jari tengah nya tepat ke arah para pecundang teman sekampungnya dan melangkah pergi.
Hari itu masih terlalu pagi ia pulang, dengan melambaikan tangan ke Heri temannya yang selalu menumpanginya angkutan umum
Laras melangkah dengan senang menuju hutan rimba hutan kali menyan, hal yang masih sering ia lakukan meski tak ada lagi mbak Mayang, tapi hamparan sungai derasnya air terjun sejuknya udara hutan itu adalah tempat yg paling nyaman baginya untuk berbaring, melepaskan lelah.
"Uuuugggghhh uwaaahhh segeeer"
Ku hirup udara segar melirik gelang di tanganku, meraba kalung di leher dan menyentuh antingku adalah satu-satunya cara untuk melepaskan rinduku pada mbak Mayang, dia pasti datang meski dalam mimpiku.
"Aku sudah besar sekarang"
Membaringkan tubuhnya di atas dahan pohon yang tinggi, menghindari binatang buas.
Hutan kali menyan adalah hutan rimba yang angker yang tak pernah di datangi manusia.
Banyak binatang buas di sana, Harimau, Gajah Ular, Babi hutan dan lainnya akan datang melepas dahaganya di sana
Ada sebuah pohon rindang di sana pohon yg selalu di dudukinya bersama Mayang saat kecil hingga kini, waktu yang panjang membuat pohon itupun semakin tumbuh rindang dan tinggi, tapi Laras tak pernah berpaling dari pohon itu, selain itu sebuah batu lempeng di bawah air terjun yang letaknya lebih jauh dan masuk ke hutan itulah 2 tempat yang sering di kunjungi Laras
Hanya mengingat mayang, sosok misteri yang hilang tanpa bekas, laras menyakini 3 benda peninggalan mbk Mayang adalah cara ia berkomunikasi padanya
"Tapi bagaimana caranya"
Semilir angin membuai lembut membawa gadis remaja itu tertidur pulas
Laras membuka matanya, Sentuhan lembut di keningku membangunkan tidur nya yang nyaman
"uuuufff"
Ternyata sudah sore, waktunya pulang
"Heeem, mbak aku sudah besar"
Bibirnya bergumam lirih, matanya yang masih tampak kucel ala bangun tidur mengerjap imut, ia melompat dari dahan pohon merapikan bajunya dan melangkah pergi,
Menapaki sepanjang jalanan mengingat dirinya yang masih kecil berlari-lari bersama mbak Mayang.
Kaki Laras yang mungil terus melangkah melewati persawahan yang membentang panjang
"Hai"
Sebuah suara menggangu telinganya membuatnya melihat ke arah suara, Mata Laras bergerak menjawab panggilan tanpa suara
"Bisa minta tolong nggak aku kehilangan kontak motor, sudah hampir 1 jam, aku keliling mencarinya, nggak ketemu"
Laras mendengarkan bibir merah alami cowok yang tidak dia kenal itu berbicara bersungut-sungut memohon.
Laras menghela nafas memejamkan matanya mencoba mencari dengan bertanya pada mahluk kasat mata yang ada di situ
Dengan santai Laras melangkah menghampiri gang sempit yang terletak agak jauh dari situ mengambil sebuah benda kecil yang di cari si pemuda, menyerahkan dan pergi tanpa komentar.
"Hai, aku Alexa"
Pemuda itu mengejar langkah Laras, dan mengimbangi langkahnya
Musyrik mah nyembah iblis.
Gregetan jdinya ehh bacanya
Di awal bejo tdk mengajarkan adiknya utk jd aosok kuat harus melawan jgn mau di tindas
Bgtulah kl miskin pst di hina dan di abaikan jrng bgt ada yg peduli.
Haduh mesakne