Julukan CEO hanya sebagai topeng belaka untuk menutupi identitasnya yang lain.
Tidak ada yang tahu, dibalik itu semua ia adalah seorang Mafia yang sangat kejam dan tidak berperasaan.
Trauma masa lalu, pembantaian habis keluarganya menjadikan Keenan tidak mengenal kata cinta, dan tidak mengenal belas kasihan, bagi Keenan tujuan hidupnya hanya satu, yaitu membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuanya.
Dendam dan Cinta sang Boss Mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan
Sepulang kuliah siang ini Aruna hanya berguling-guling diatas kasur, kejadian tadi malam membuatnya terus senyum-senyum sendiri.
lalu berulang kali menepuk-nepuk wajahnya agar segera bangun dari mimpi, seharusnya saat melihat raut wajah Keenan yang tampak dingin tadi pagi menggambarkan jika pria itu sama sekali tidak menganggapnya spesial, dan hanya menganggapnya hal menyenangkan yang hanya datang sesaat.
Aruna beranjak dari kasur, ia mengambil langkah keluar kamar lalu menyusuri setiap ruangan, entah apa yang ia tuju, namun rasa penasarannya terhadap kamar Keenan kembali menguasai diri.
Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju kamar Keenan dan memegangi handle pintu tersebut yang ternyata terkunci rapat.
"CK, sebenarnya apa yang kau sembunyikan didalam sana kak, selain senjata dan benda tajam yang menyeramkan itu?" ucap lirih Aruna dengan helaan napas pelan.
Cukup bosan hanya berdiri disana akhirnya Aruna memilih keruangan lain untuk menonton TV.
Lama gadis itu berada diruangan tersebut, bahkan tanpa ia sadari ia tertidur dengan sendirinya.
Pukul 19.00 Keenan memasuki rumah dengan wajah lelah ia meletakkan tasnya serta jasnya diatas sofa, duduk dengan kedua mata terpejam merasakan penat serta rasa ngilu ditubuhnya.
Bukan pekerjaan kantor yang membuat tenaganya terkuras, namun karena pekerjaannya yang berada diluar.
Berkelahi dengan musuh, bukan lagi hal aneh bagi seorang Keenan, bahkan melenyapkan nyawa sekalipun.
Keenan membuka kedua matanya saat samar-samar mendengar suara percakapan yang ia yakini berasal dari sebuah tayangan didalam televisi.
Gegas ia beranjak, melangkah ke sumber suara untuk memastikan siapa yang sedang menontonnya.
Diambang pembatas antara ruang tengah dan ruang TV, Keenan mematung saat melihat wajah damai Aruna yang sedang terlelap diatas sofa.
Gadis itu terlihat jauh lebih imut saat sedang tidur begini, pikir Keenan.
Tanpa sadar ia semakin mendekat, lalu duduk disisi sofa yang Aruna tempati, kemudian memalingkan wajahnya saat menyadari jika gadis tersebut hanya mengenakan kaos putih yang sedikit menerawang dipadukan dengan celana hotpants yang hanya menutupi setengah pahanya yang putih dan halus.
Ia tentu saja pria yang normal, terlebih jika Aruna sama sekali tidak ada hubungan darah dengan dirinya.
Tak mau semakin dalam terjerat dengan pesona sang adik ia pun bergegas mengangkat tubuh Aruna membawanya kedalam kamar dan meletakkannya ditempat tidur dengan sangat hati-hati khawatir jika gerakannya dapat membangunkan gadis tersebut.
Keenan menutup pintu kamar Aruna, lalu memasuki kamarnya sendiri sembari membuka kancing bajunya satu persatu, CK berlama-lama berdekatan dengan Aruna membuat tubuhnya terasa panas bercampur gerah.
Inilah yang Keenan takutkan sejak awal, ia takut terjerat oleh pesona sang adik yang memang tampak mempesona sejak ia kecil.
Keenan menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan kasar lalu memasuki kamar mandi.
*
"Kak,?" panggil Aruna saat pagi ini Keenan hendak berangkat bekerja dengan ditemani Dave seperti biasa.
Keenan tak menjawab, tapi pria itu menatapnya dengan diam seolah memberinya kesempatan untuk bicara.
"Kak, bolehkah sore ini aku keluar untuk berjalan-jalan?"
"Ditemani kak Dave saja, kalau tidak boleh sendiri." sambung Aruna saat melihat raut wajah Keenan yang tampak keberatan.
Pria itu menoleh kearah Dave, "Bagaimana Dave, kau ada waktu luang sore ini?"
"Ada tuan."
"Baiklah temani dia sore ini, pastikan dia keluar hanya untuk jalan-jalan bukan untuk bertemu dengan seseorang." ucap Keenan sarkas, tanpa menoleh kearah Aruna, kemudian berlalu pergi dengan langkah angkuh seperti biasanya.
Ditempatnya berdiri Aruna hanya bisa berdecak mengucapkan sumpah serapahnya dalam hati, sembari mengerucutkan bibirnya kesal.
*
"Maaf, saya terlambat non, tadi mobilnya sedikit bermasalah non." ucap Dave, yang sore ini memenuhi janjinya untuk menemani Aruna jalan-jalan sore.
"Tidak masalah kak, ayok berangkat!" gadis itu masuk kedalam mobil dan memilih duduk disamping Dave, membuat pria tersebut merasa canggung.
"Aku lagi males duduk dibelakang kak." ucapnya saat menyadari raut wajah Dave yang berubah kaku.
"I-iya non senyamannya saja."
Aruna mengangguk, kemudian menatap wajah Dave dari samping.
"Kak?"
"Iya non."
"Tunangannya kak Keenan pernah datang kekantor tidak?"
"Pernah beberapa kali saya rasa."
"Untuk apa?" tanyanya yang entah mengapa membuat perasaannya mendadak kesal.
"Saya tidak tahu non, mungkin saja mereka mengobrol membahas pernikahan, karena saat mbak Wina datang pintu ruangan tuan Keenan selalu tertutup."
"Apa?!" pekiknya, membuat Dave mengerem mobilnya secara mendadak.
"Nona tidak apa-apa?"
Aruna mendengus, "Tidak apa-apa kak, lanjutkan saja."
Setelah mendengar ucapan Dave barusan Aruna jadi lebih banyak diam, lebih tepatnya tak lagi berbicara hingga sampai didepan sebuah mall.
"Non, mau berhenti disini atau mencari tempat yang lain?" ujar Dave sembari melirik kearah Aruna yang tampak cemberut.
"Ke Cafe saja kak, aku sedang ingin minum yang dingin-dingin." ucapnya tanpa menoleh dengan raut wajah yang masih sama kesalnya.
Dave mengangguk, "Baiklah."
Sesampainya di Cafe Aruna memesan berbagai macam jenis minuman dan juga makanan untuk dirinya dan juga Dave.
Gadis itu tampak lahap memakan makanannya namun dengan gerakan yang sangat kasar, seolah tengah melampiaskan sesuatu.
*
*