Ayaz Al Ghani, seorang duda berumur 35 tahun hidup bersama anak lelakinya yang berumur 8 tahun, istrinya meninggal 6 tahun lalu karena sebuah penyakit yang mematikan, hidup ditengah kemewahan di antara kesibukan sang ayah membuat sang putra tumbuh menjadi anak yang nakal.
Zivana Chertykova, gadis sederhana berumur 25 tahun, ia seorang guru disalah satu sekolah dasar negeri, ia mencukupi kebutuhan hidupnya merangkap menjadi guru les privat, karena uangnya selalu dihabiskan oleh ayah dan kakaknya yang pemabuk dan pejudi.
Suatu ketika Zivana yang tengah patah hati ditinggal menikah oleh tunangannya dengan sahabatnya sendiri, bertemu dengan Ayaz sang duda tampan karena Zivana menjadi guru les sang putra nakalnya.
Kisah mereka dimulai.
Lanjut prolog ya jika berkenan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wheena the pooh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang asing ini adalah calon istriku
Bahagia Zizi cukup sederhana, mendapatkan Ayaz, menunggu restu dari Fhadil lalu menikah dan hidup berkecukupan dari suaminya nanti yang akan bisa menyelamatkannya dari keterpurukan ekonomi, tidak lagi memikirkan bagaimana mencari uang dan berhemat agar bisa menabung.
Ia juga berpikir akan menemui ayah dan kakaknya, melunasi hutang-hutang mereka agar keluarga Zizi bisa hidup layak dan lebih baik.
Namun lagi-lagi tidak semudah yang ia bayangkan, bagaimana tidak baru dua hari menjalin hubungan bersama pria yang berhasil ia gaet dalam waktu dua bulan itu Zizi harus pula berhadapan dengan seorang perempuan yang baru ia kenal, siapa lagi kalau bukan Nina.
Nina, gadis yang seumuran dengannya adalah adik ipar Ayaz sendiri, adik mendiang istrinya yaitu bibi dari Fhadil. Gadis ini telah pula menceritakan pada keluarganya bahwa Ayaz telah mendapatkan sosok pengganti kakaknya yang telah tiada, sosok yang mampu meruntuhkan pertahanan Ayaz dalam menduda.
Siapa yang akan menyangka bahwa keluarga besar mendiang istri Ayaz tidak menyambut baik berita ini, mereka masih berharap Nina yang menjadi perempuan beruntung itu.
Selain ia kecewa pada Ayaz yang memilih wanita lain, ia juga tidak mau keponakannya mendapatkan ibu sambung yang belum tentu baik dan mereka tidak ada yang tahu Zizi berasal dari keluarga mana, dari keluarga baik-baik atau tidak.
Hari ini.
Zizi tengah bersiap-siap dengan seragam kerjanya, berputar-putar di hadapan cermin.
"Oh, aku sudah tidak sabar menjadi nyonya di rumah ini...." gumam Zizi memegang wajahnya menghadap cermin.
Merah merona, sesekali ia menjadi geli sendiri atas takdir sempurna yang akan segera menghampirinya.
Fhadil muncul di balik pintu, menatapnya kesal karena telah lama menunggu.
"Kenapa suka sekali berdandan sangat lama?" cetus anak lelaki yang juga telah memakai seragam sekolah.
Zizi berbalik badan, ia menyambut tangan mungil Fhadil yang mengulur ke arahnya, anak lelaki itu seperti biasa, dingin, ketus namun menggemaskan.
"Kau sudah bersiap sayang?"
"Kau tidak lihat aku sudah rapi, pertanyaan yang sia-sia" balas Fhadil memicingkan matanya kesal.
Zizi menggembungkan pipinya.
"Kau sama saja dengan daddy mu, pagi-pagi sudah bersikap dingin, membosankan."
Zizi tersenyum saat mendapat pelukan tiba-tiba dari anak itu.
"Apa arti pelukan ini adalah sebagai restu?" goda Zizi.
"Aku suka kau mau menjadi ibuku nanti, tapi aku juga suka bibi Nina," jawab Fhadil yang mampu membuat Zizi menggigit bibir bawahnya cukup kesal mendengar nama saingannya pagi ini.
"Apa kau marah?" tanya Fhadil saat Zizi diam saja.
"Kenapa harus marah, karena daddy mu memilihku tentu akulah gadis beruntung yang akan dapat suami sekaligus bonus anak setampan ini," jawab Zizi mengusap kepala Fhadil dengan gemas.
"Rambutku jadi rusak, awas kau akan ku ganggu saat malam pertama kalian nanti!"
Fhadil menarik tangan Zizi keluar kamar.
"Apa? Hei sayang dari mana kau tahu tentang malam pertama?"
Wajah Zizi mendadak merah.
"Aku sering mendengarnya dari orang dewasa."
Zizi menghentikan langkahnya, Fhadil menatapnya heran, lalu gadis itu mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu.
"Jangan semua kata-kata orang dewasa kau menirukannya, sayang kau masih belum cukup umur untuk mengerti tentang malam pertama, tidak boleh oke?"
Fhadil mengangguk. Zizi tersenyum dan memberi pelukan. Mereka kembali ke niat awal untuk menyusul Ayaz yang telah berada di meja makan.
Sampai di sana rona wajahnya kian memerah, Zizi dapat membayangkan jika benar kelak ia akan menjadi istri dari pria tampan berjambang itu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Ayaz datar.
"Aku sedang sembelit jadi lama di kamar mandi," jawab Zizi polos.
"Hei, itu jorok untuk dibicarakan di meja makan," cetus Fhadil.
Ayaz hanya diam tidak bertanya lagi, tersisa Zizi dan putranya yang masih berdebat tentang sembelit. Meja makan yang semula hening jika sarapan berdua saja bersama sang putra beberapa tahun terakhir, kini menjadi riuh semenjak Zizi tinggal di sana.
Ayaz menyunggingkan senyum tipisnya, ia saja masih belum percaya bahwa gadis itu benar-benar telah mengikat hatinya, wajah cantik, polos dan ceria, apa adanya, dan agresif pula, semula ia anggap gadis yang menyedihkan namun sekarang berubah menggemaskan.
Membawa rona berbeda dalam rumah besarnya yang selama ini sepi dalam keheningan. Hanya ada pelayan yang tunduk padanya tanpa berani membantah.
Ayaz seorang yang disiplin dalam segala hal namun sejak Zizi tinggal di sana ia sedikit melupakan kebiasaannya, bahkan ia tidak merasa keberatan saat harus terlambat ke kantor hanya demi menunggu putranya dan gadis itu selesai sarapan dengan menyaksikan drama-drama tidak penting namun cukup membuat perasaannya menghangat disetiap paginya.
Ayaz berniat mengambil cuti akhir bulan nanti dan bertepatan dengan sang putra yang akan libur sekolah, untuk memboyong Zizi pada ayah ibunya yang menetap di negeri jiran.
Mereka berjalan bertiga setelah keluar dari mobil, Zizi tidak melepas genggaman tangannya pada anak lelaki tampan setampan ayahnya itu.
Namun langkah Zizi terhenti, membuat Ayaz menoleh.
"Kenapa?"
"Aku menunggu di sini saja," jawab Zizi yang enggan masuk mengantar Fhadil hingga ke depan kelas anak itu, ia tidak siap jika bertemu dengan ibunya lagi.
"Apa kau takut bertemu ibumu?"
"Aku hanya sedang malas menangis," jawab Zizi pelan dan menunduk.
"Kau tidak ingin mengenalkanku padanya?"
"Tidak ada gunanya."
"Baiklah, tunggulah di sini aku harus bertemu wali kelas Fhadil."
Zizi mengangguk, ia menatap punggung dua pria yang bahkan masih seperti mimpi menerimanya sebagai wanita beruntung yang akan menjadi istri dan ibu sambung bagi anak kecil arogan itu.
Mata Zizi menahan sesuatu yang ingin tumpah, ia teringat beberapa hari lalu dimana ia dikejutkan oleh pertemuan dengan ibunya, ibu kandung yang telah sangat lama meninggalkannya tidak pernah kembali, hari itu pula yang membawanya dan Ayaz seperti saat ini.
Zizi mengusap sudut matanya yang berair saat Ayaz telah kembali, ia tidak berkedip menatap wajah lelaki itu.
"Apa kau akan terus berdiri di situ?"
Zizi memajukan bibirnya saat tanpa ia sadari Ayaz telah berada dalam mobil, ia pun menyusul.
Hening selama perjalanan, entah kenapa ia mendadak sedih saat dari sekolah Fhadil, Ayaz seperti biasa diam dan tidak banyak bicara meski ia cukup penasaran dengan hati perempuan itu hingga bisa mengunci mulutnya sampai halaman sekolah dasar yang menjadi tempat Zizi mengajar.
Ayaz memberi kecupan kening saat Zizi hendak keluar mobil.
"Jangan nakal," ucap lelaki itu.
"Memangnya aku siswa bisa nakal."
Ayaz hanya tersenyum.
"Berhati-hatilah calon suamiku," ucap Zizi dibuat seimut mungkin.
Ayaz memberinya tatapan datar, "Ckkkk..... selalu saja kaku, apa kita akan pergi nanti malam?"
"Tentu, jangan pikirkan hal itu fokuslah mengajar. Turunlah, kenapa lama sekali aku tidak ada waktu banyak."
Zizi memukul kesal lengan lelaki itu, "Aku mencintaimu," ucap Zizi lalu memberi kecupan bibir sekilas sebelum keluar mobil dan melambai tangan meninggalkan Ayaz yang hanya bisa tersenyum dari jauh.
Kebetulan malam nanti adalah malam perayaan ulang tahun perkawinan orangtua Nina, mertua dari Ayaz sekaligus kakek dan nenek Fhadil dari garis ibunya.
Hal itu yang membuat pikiran Zizi cukup tersita, ia tidak tahu apa yang akan ia hadapi nanti malam, Irwan memberitahu bahwa keluarga mendiang istri Ayaz adalah keluarga terpandang dan kaya raya, tidak mudah Zizi akan menghadapi mereka nanti.
Belum juga sampai kelas, langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Hei, kau!"
Zizi menoleh.
"Aku?"
"Lalu siapa lagi?"
Zizi memutar bola matanya malas, ternyata Nina menemuinya sepagi ini di sekolah pula.
"Maaf aku harus mengajar, apa tidak ada waktu lain?"
"Aku hanya sebentar, maaf pagi-pagi sekali kemari menemui mu."
"Bicaralah, ada apa?" tanya Zizi tanpa basa basi.
"Aku hanya ingin mengatakan, sebaiknya kau tidak datang nanti malam."
"Memangnya kenapa? Bukankah aku calon istri Ayaz tentu aku akan ikut kemana calon suamiku pergi."
Nina tersenyum sungging.
"Kau cukup percaya diri nona, aku hanya ingin mengatakan bahwa keluarga ku tidak menyukai berita bahwa kau dan kak Ayaz memiliki hubungan, aku hanya tidak ingin kau minder itu saja."
"Kenapa harus minder? Apa kau pikir aku tidak berharga hingga tidak harus hadir di sana pestanya para kaum sosialita?" Zizi tampak tersinggung.
"Bukan itu maksudku."
"Lalu kau ingin mengatakan, sebaiknya aku tidak ikut datang karena malam nanti kau ingin mendekati Ayaz begitu?"
"Percuma bicara padamu, jika aku ingin bicara dan dekati kak Ayaz aku tidak perlu menunggu kau hadir atau tidak, aku bisa mendekatinya kapan saja jika aku mau, aku hanya tidak mau kau hadir disaat semua keluarga akan bicarakan hal serius pada kak Ayaz, keluarga ku tidak menyukaimu, tentu kau akan lebih sulit jika memutuskan untuk datang."
"Aku rasa aku harus segera masuk kelas sekarang, maaf nona Nina pergilah tidak enak dilihat guru lain."
Zizi pergi meninggalkan Nina tanpa berbasa-basi lagi, membuat Nina cukup kesal akan keras kepala gadis itu.
*****
Zizi terus bercanda sepanjang perjalanan menuju sebuah pesta anniversary orangtua mendiang istri dari sang duda tampan lagi dingin di sampingnya saat ini, Fhadil yang menggemaskan baginya memberi warna berbeda saat mereka menempuh perjalanan.
Mereka sampai pada sebuah hotel berbintang, Ayaz terus menggenggam tangan Zizi selama perjalanan menuju ruangan yang menjadi lokasi perayaan anniversary pernikahan mertuanya.
"Apa kau malu membawaku ke tempat ini?"
"Kenapa malu?"
"Lihatlah mereka semua menatap ke arah kita," ucap Zizi malu sendiri, ia membenarkan ucapan Nina tadi pagi, sekarang ia merasakan sendiri apa itu rasanya minder.
Pesta para orang kaya, pakaian dan perhiasan mahal menjadi ciri khas pesta ini, pesta yang akan diawali dengan makan malam para keluarga inti sudah duduk di kursi meja panjang dengan hidangan beraneka ragam masakan dari berbagai negara yang menjadi menu makan malam ini.
Ayaz melihat hanya ada satu tersisa kursi, kursi yang biasa ia duduki setiap tahun jika pesta anniversary tahun-tahun sebelumnya. Lalu dimana Zizi akan duduk.
Tampak sekali mereka hanya mengundang Ayaz saja malam ini, putranya sudah berada duduk disamping papa mertuanya saat ini.
"Mana tempat duduk ibu Zizi?" tanya Fhadil yang baru menyadari bahwa kursi tersisa hanya satu untuk ayahnya saja.
Semua mata melihat ke arah Zizi, gadis itu merah karena malu, ia merasa kecut sendiri saat berhadapan dengan para orangtua yang tampak berpenampilan jauh berbeda darinya.
Ia melirik Nina, gadis itu tampak datar menatapnya, ada satu hal yang menarik perhatian Zizi dari semua orang yaitu wanita cantik paruh baya yang berpenampilan sosialita yang wajahnya mirip dengan Zizi.
Ibunya juga berada di deretan kursi meja makan keluarga inti di sana. Wanita itu menatapnya lama, begitupun Zizi tidak kalah lama menatap ibunya yang tidak berkata apa-apa saat ini padahal jarak mereka cukup dekat yaitu tepat di depan Zizi berdiri dengan Ayaz saat ini.
"Maaf, sepertinya kami duduk di meja tamu saja," cetus Ayaz yang tidak melepas genggaman tangannya pada sang gadis.
Zizi menoleh, entah seperti apa perasaannya saat ini. Jika sebelumnya ia berpikir akan mudah menghadapi siapa saja karena ia tidak pernah takut pada siapapun, namun lain malam ini. Minder, iya Nina benar Zizi benar-benar minder saat ini.
"Seharusnya kau duduk di tempat mu nak Ayaz, kenapa harus ke meja tamu?" tanya mama mertuanya yang melirik Zizi tidak suka.
"Aku datang berdua kemari, tentu satu kursi tidak cukup untuk berdua, jadi kami akan duduk di sana saja," jawab Ayaz dingin.
"Ibu Zizi di kursiku saja, aku masih kecil untuk ikut makan di meja ini, aku akan bermain saja," tiba-tiba Fhadil berdiri memberi kursinya pada Zizi namun kakeknya mencegah.
"Ayaz, kursi ini cukup untuk semua keluarga inti tidak ada ruang untuk orang asing," ucap papa mertuanya langsung menyindir Zizi tanpa basa basi.
"Untuk itulah aku kemari membawa orang asing ini untuk ku kenalkan sebagai calon istriku," balas Ayaz juga tanpa berbasa-basi.
Airmata Zizi menggenang, ia tidak tahu bahwa Ayaz akan menghargainya seperti ini. Berbeda dengan ibunya, ibu kandung yang seolah hanya menatapnya dalam diam tidak mengenalkannya sama sekali pada keluarga yang diyakini Zizi adalah keluarga suami baru ibunya, bahkan perempuan paruh baya itu seolah tidak mengenalnya sama sekali.
Semua suasana mendadak dingin, semua berperang dengan pikiran masing-masing tentang gadis itu, gadis cantik yang tampak sederhana dengan balutan dress berwarna hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih.
Tidak memakai aksesoris apapun membuat tampilan Zizi tidak kehilangan pesonanya. Semua acara pesta berjalan semestinya, meski tegang diawal sebab kehadiran Zizi ditambah Ayaz yang mengumumkan pada keluarga mendiang istrinya bahwa gadis itu akan menjadi ibu sambung bagi putranya.
Untuk menghormati para tamu lain dan tidak ingin merusak acara tahunan itu ayah dan ibu mertua dari Ayaz itu memilih mengalah untuk tidak membahas nasib cucu mereka di hadapan umum seperti ini.
Zizi permisi ke toilet saat sudah tidak tahan ingin melepaskan sesak di dadanya oleh sikap ibunya dan semua orang yang menatapnya aneh sejak tadi.
Memperbaiki penampilan barulah Zizi keluar dari toilet saat dadanya mulai lapang kembali, ia berpikir jernih untuk tidak merusak acara dengan sikapnya yang akan mempermalukan Ayaz nantinya, ia sebisa mungkin menjaga sikapnya agar pria itu tidak malu karenanya.
Langkahnya terhenti saat bertepatan dengan sang ibunda yang masuk ke toilet, tatapan mereka kembali bertemu.
"Zivana," sapa ibunya.
"Ck.... Panggilan yang sudah sangat lama tidak ku dengar, bahkan belasan tahun adanya," sahut Zizi dingin.
"Kenapa kau bisa kenal Ayaz?"
"Pertanyaan apa ini? Apa ibu tidak percaya bahwa aku adalah calon istri dari pria itu?"
"Zi..... Nina sudah sangat lama menyukai Ayaz, ibu hanya tidak yakin kau bisa melawan keluarga itu, mereka bisa melakukan apa saja."
"Memang kenapa aku harus takut, apa yang akan mereka lakukan padaku? Bukankah ibu termasuk dari keluarga itu? Oh aku bahkan baru tahu sekarang bahwa nona Nina adalah keponakan suami kaya ibu itu, apa karena itu ibu lebih membelanya dari pada anak ibu yang tidak ada harganya ini?"
"Zi, ibu hanya tidak ingin kau mendapatkan kesulitan, ibu dengar mereka akan mengambil Fhadil dari Ayaz jika kalian benar-benar menikah. Mereka menginginkan Ayaz menikah dengan Nina."
Zizi berdecak kesal.
"Ancaman yang tidak masuk akal, Ayaz adalah ayahnya dia kuasa penuh atas Fhadil tidak ada hubungannya dengan aku menikah atau tidak dengan lelaki itu, Ayaz memilih ku bukan Nina, aku tidak takut pada ancaman kekanakkan keluarga kalian!"
"Zi, mereka bisa melakukan apa saja termasuk menyakitimu, ibu hanya tidak ingin kau terluka nantinya."
"Terluka? Aku bahkan lebih terluka karena ibu berpura tidak mengenalku pada semua orang. Kau ibu kandungku, kita pernah berada di tubuh yang sama mengalir darahku dari darahmu juga. Aku tidak berbeda dengan ibu yang menginginkan kekayaan dengan menikah dengan orang kaya, kenapa aku harus mundur dari hubungan ini?"
"Aku akan menikah dengan Ayaz, menjadi nyonya besar dan berubah menjadi sosialita sama sepertimu, punya kekayaan dan kekuasaan yang akan membuatku tidak dipandang remeh seperti tadi, aku sama seperti mu bu, mengincar orang kaya agar bisa hidup enak dan tidak miskin lagi."
"Kenapa harus takut ancaman mereka jika aku saja bisa melakukan apa saja jika sudah menikah nanti bahkan untuk melawan kalian sekeluarga, menunjukkan bahwa gadis miskin yang mereka anggap remeh ini tidaklah selemah yang mereka kira, aku ini orang berpendidikan bu aku sarjana bukan orang awam yang bisa lari hanya karena ancaman kecil seperti itu."
"Mereka akan merebut Fhadil hanya karena Nina tidak bisa mendapatkan Ayaz, oh sungguh drama lama para orang kaya, tidak bisakah memberi ancaman yang lebih berkelas? Seperti ingin membunuh ku misalnya?"
Nyonya Camelia terdiam.
"Sudahlah bu, jangan memikirkan anak orang lain yang belum tentu akan membela mu nanti jika suatu saat kau dicampakkan karena ketahuan adalah ibu dari gadis miskin yang mereka benci ini, atau ibu ingin mengatakan bahwa ibu cemas jika mereka tahu aku adalah putri mu?"
******
Panjang kan episode nya? aku ga up karena anakku lagi sakit, dua-duanya sakit. Jangan tanya seambyarrr apa hatiku kalo anak lagi sakit itu.... maaf yaaaa nunggu lama.