Seorang gadis berusia 23 tahun yang dipaksa menikah dengan ayahnya karna perjodohan, gadis itu bernama Raisa.
Raisa terpaksa menerima perjodohan itu sebab dia tidak bisa menolak keinginan papanya, dia dijodohkan dengan seorang pemuda berusia 29 tahun anak dari sahabat papanya.
pemuda itu bernama Billy, pemuda yang sama sekali belom pernah dia kenal bahkan melihatnya, namun kini akan menjadi suaminya.
pernikahan karna perjodohan tanpa adanya cinta diantara mereka berdua.
Apakah yang akan terjadi dirumah tangga mereka??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani Suaharani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9.
Setelah beberapa saat Billy dan Raisa sudah siap untuk menjenguk Daddy Billy yang berada dirumah sakit.
Disepanjang perjalanan mereka hanyalah berdiam, sampai tiba dirumah sakit mereka memasuki ruangan dimana Daddy Billy sedang dirawat.
"Mom bagaimana keadaan Daddy?" tanya Billy kepada Maminya dan Raisa berada disamping Billy.
"Masih sama Bil, sekarang Daddymu sedang beristirahat" ucapnya.
Billy mendekati Daddynya dan membisikkan sesuatu ditelinga Daddynya.
Sedangkan Raisa duduk disofa bersama bu Hana.
"Sayang bagaimana rumah tanggamu dengan Billy?" Tanya bu Hana.
"Baik-baik saja bu" ucap Raisa dengan senyuman mengarah ke ibu mertuanya itu.
"Ibu harap kamu bisa sabar ya dengan anak ibu itu" ucap bu Hana memegang tangan Raisa penuh harap.
Raisa hanya membalas dengan senyuman, didalam hatinya dia berkata 'aih kalau bukan ini perintah orang tua gue, udah minta cerai gue sama tu cowok yang sumper nyebelin'.
Tiga jam telah berlalu, Billy dan Raisa ingin kembali kerumahnya, karna memang Daddy nya juga butuh beristirahat.
"Mom sepertinya Billy harus pulang, kalau ada apa-apa Mammy kabarin Billy ya" ucap Billy sembari memeluk Mammya.
Bu Hana tersenyum.
"Kemarilah nak" ucap Daddy Billy pelan memanggilnga.
"Kenapa Daddy bangun!, sudahlah Daddy, Daddy harus banyak beristirahat" ucap Billy yang telah menghapiri Daddynya dan memengang tanganya.
"Jagalah istrimu dengan Baik dia sekarang adalah tanggung jawabmu, dan Daddy tidak mau ada perceraian diantara kalian" bisik Daddy ditelinga anaknya itu.
"Baik Daddy, sudahlah Daddy tidak usah khawatir ya, Billy bisa menjaga rumah tangga Billy, yang terpenting Daddy cepat sembuh ya" ucap Billy.
"Daddy senang mendengarnya sayang" ucap Daddy nya.
Billy mengecup kening Daddy lalu meninggalkan ruang tersebut untuk segera pulang.
Disepanjang perjalanan Billy hanya memikirkan perkataan Daddy nya.
'Kenapa aku selalu memikirkan perkataan Daddy, aku merasa bersalah telah mengelabui Daddy dengan adanya perjanjian akan menceraikan gadis ini setelah satu tahun, ahh sudahlah ku jalani saja dulu' bathinya .
"Bisakah kita berhenti sejenak" ucap Raisa namun pria itu tetap saja dengan pandangannya kedepan yang sedang mengemudi namun nampak sekali kalau dia sedang melamun.
"Bisakah kita berhenti sejak" ulang Raisa dengan nada keras tepat disamping telinga Billy.
"Kurangajar sekali kau, Bisakah kau berbica pelan, apa kau tidak sadar bahwa etika seorang wanita itu lemah lembut, dan ditambah aku sedang mengemudi, kalau terjadi kecelaan bagaimana! heh" ucap Billy yang geram akan kelakuan gadis itu.
"Aku sudah berkata pelan namun kau tidak mendengarkanku, dan masih saja melamun" sahut Raisa yang kian mulai kesal.
"Tadi kau ingin berhenti kenapa?" tanya Billy.
"Aku ingin membeli persiapan makanan dirumah" ucap Raisa.
"Baiklah, didepan ada supermarkt nanti kita berhenti saja disitu" ucap Billy menyetujui.
"Aku tidak mau kesupermart" balas Raisa.
"Kenapa? " tanya Billy spontan menengok kegadis itu nampak aneh.
"Belanja dipasar tradisional saja lebih murah dan harganya terjangkau, lagi pula disana juga sayurannya dan dagingnya banyak yang segar tidak kalah seperti disupermart" ucapnya.
"Hey apa kau fikir aku tidak punya uang cukup membeli perlangkapan makanan disupermart sampai-sampai kau memelih kepasar tradisional?" Billy menatap ketus kearah gadis itu.
'Duh sepertinya singa ini mulai marah dengan kata-kataku, sebaiknya aku jinakan saja dia' bathin Raisa.
"Tuan Billy yang terhormat, saya tidak berfikiran seperti itu hanya saja saya lebih senang berbelanja dipasar, penjual dipasar mayoritas pedang kecil, meraka mencari nafkah untuk menyekolahkan anak-anaknya berarti secara tidak langsung kalau kita membeli dagangannya kita telah membantunya, lalu bila kita membeli kesupermart kan pemiliknya sudah banyak uang mending uangnya untuk membatu orang yang lebih membutuhkannya." ucapnya menjelaskan pria itu.
"Baiklah" setelah Billy fikit-fikir ternya benar juga gadis itu, 'Aku salut dengannya baru kali ini aku mengenal orang sepertinya' bathinnya.
Mobil mereka melaju kepasar tradisional sesuai permintaan mereka.