Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:790
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Kau terlalu riuh menghakimi
Mulutmu berisik menggujing
Nanarmu tajam menelisik
Cukup!
Hentikanlah!
Diam kau bedebah ... enyahlah si paling tahu...
Demi Tuhan, kau tak mengetahui apa-apa
Sebelum menyelami–menyelinap masuk ke raga yang kau sebut ini dan itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Nyatanya sesimple itu

Demikianlah keseharian Anin selama dua tahun berturut-turut, sangat monoton. Anin sadar, menjadi ibu rumah tangga memang peran yang sangat mulia, tapi juga tak mudah, karena menuntut fisik dan mental yang benar-benar harus siap selama 24 jam. Pekerjaan yang tak pernah ada masa pensiunnya. Mulai dari mengurus anak, beres-beres rumah, sekaligus menjabat sebagai menteri keuangan nyaris dilakukan sepanjang karir sebagai istri. Terlihat mudah, tetapi harus multi-tasking. Butuh kesabaran tak terbatas. Sering memicu kelelahan dan stres jika tanpa dukungan sepadan.

Kadang kala Anin rindu masa lajang. Rindu masa di mana ia hanya perlu mengurus diri sendiri tanpa haru memikirkan semua hal. Tetapi inilah hidup, ia sadar bahwa ternyata pernikahan tak sesimple hanya perihal cinta. Namu, jauh menyusup lebih dalam dan luas. Setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Kadang Anin memang rindu ingin terbang. Ia rindu bisa kerja dan melintasi berbagai tempat seperti saat jadi Pramugari dulu. Ia ingin punya kegiatan lain, tetapi ia sadar kini langkahnya sangatlah terbatas, ada Zura yang harus diutamakan lebih dari apa pun dan juga ada Harsa yang harus turut andil dalam setiap keputusan yang akan diambil.

Walau kadang berat, tapi Anin sangat menikmati keseharian ini. Apalagi Harsa menyokongnya dari segala arah. Ia sangat bersyukur untuk itu.

“Yey, akhirnya selesai juga, Zura,” ia berseloroh riang menatap anaknya yang selalu ia libatkan dalam obrolan apa pun, hal yang membuat bayi 17 bulan itu sangat pandai berceloteh di usianya ini.

Zura sendiri tengah sibuk ke sana ke mari di halaman belakang, masih lengkap dengan pakaian tidurnya semalam. Dia memang sudah bangun sejak setengah enam tadi, tepat saat Nana pamit pulang untuk pergi bekerja.

Dan kini ia baru saja selesai menjemur pakaian di halaman belakang.

“Ayo, Ra, masuk. Kita mandi.” Diraihnya keranjang laundry berwarna putih itu. Lalu dengan sabar Anin menunggu Zura melangkah ke arahnya yang sudah berdiri di ujung pintu. Tangan Anin terurai, maraih Zura untuk digandeng masuk.

“Man di? Nyam-nyam?” tanya anak Harsa itu dengan cadel, ciri khas anak-anak.

Dengan mata berbinar Anin lantas menatap Zura. Bibirnya mengulas mendengar apa yang dilontarkan. “Zura mau lapar?” tanyanya yang lantas dijawab anggukan riang oleh bestie yang keluar dari rahim sendiri.

Ia lalu melangkah sendiri menuju meja makan. Menunjuk kursi, mengisyaratkan bahwa dia ingin naik dengan usahanya sendiri.

Sungguh Anin senang sekali melihat perkembangan anaknya. “Tempat Zura bukan di situ, di sini.” Ia lalu membawa Zura ke kursinya sendiri setelah menarik kursi yang nangkring di pinggir area dapur itu.

Lalu mengambil mp-asi yang sudah ia masak lebih dulu. Menaruhnya di depan Zura. Dengan berbinar langsung disambut oleh si bayi gembul.

“Gak boleh banyak goyang, ya. Nanti jatuh!” peringat Anin lagi setelah mengambilkan botol air minum untuk Zura.

“Mama mau taruh ini dulu ke kamar mandi.” Anin menunjuk ke area kamar mandi, masih berbicara memberi pengertian pada anaknya. Memperingati agar si bayi tak banyak gerak selama ia tinggal dan berharap ia bisa diajak kerjasama.

.

.

Di belahan bumi yang lain. Tepatnya di tanah Sulawesi.

Harsa dan Angga yang baru bangun menjelang siang itu tampak tengah menikmati sarapan dengan dilayani Wida, si anak ketiga tentunya.

“Ayah mana?” tanya Angga di sela mengunyah makanan.

Sementara Harsa, si anak sulung itu lebih banyak diam setelah tadi sempat bertanya banyak hal pada Wida. Menanyakan ke mana kedua keponakannya, menanyakan ke mana adik iparnya dan bagaimana kabar keluarga almarhum ibunya di kota itu. Ia sudah bertanya seperti wartawan dan kini energinya sudah habis. Dan diam adalah pilihan akhir.

Wida yang hanya duduk menemani dua kakak laki-lakinya pun ikut tertarik untuk mengunyah walau tadi ia sudah sarapan lebih dulu. “Katanya mau ke makam Ibuk dulu,” ujar Wida seraya menjumput sebuah bakwan untuk dicemil.

“Tadi lama ko na tunggui.”

Angga pun manggut-manggut mendengar jawaban adiknya. Walau menetap di Jakarta, ia jelas tak akan lupa dan paham betul apa yang Wida ucapkan meski aksen mereka sangat berbeda.

“Sore pi kita juga ke kuburannya, ibuk, Angga,” Ayah Harsa menyahuti. Ia juga ternyata tak lupa memakai logat daerahnya. Tentu saja, meski besar di Semarang dan sudah menetap di Jakarta lebih dari sepuluh tahun, ia juga tak akan pernah melupakan logat kampung halaman ibunya.

Rumah ini adalah rumah peninggalan Ibuk, Yang mana atas kesepakatan bersama mereka sepakat agar Wida lah yang menetap di rumah ini, tak perlu buat rumah lagi untuk ditinggali. Toh, sayang rasanya jika rumah yang sebesar ini dibiarkan tak terurus. Apalagi memang hanya Wida satu-satunya saudara yang menetap di Kota kelahiran Ibu mereka. Sehingga setiap kali mereka berkunjung ke kota ini, sudah pasti tujuan utamanya adalah rumah ini. Begitu pula dengan Wijaya.

Setelah sarapan, lalu mandi. Waktu dzuhur pun sudah selesai dan Wijaya Adiguna juga sudah kembali dari ziarah kubur. Kini anak dan ayah itu tengah berkumpul di ruang tamu. Bersiap membahas hal penting.

Auranya tampak suram mencekam. Apalagi jika melihat bagaimana kediaman Harsa yang menatap Ayahnya dengan nanar, tajam menelisik. Kilatan emosi jelas ada dan terselubung di relung mata.

Berbeda dengan Angga. Sosok yang lebih santai dengan pembawaan ceria itu tampak sibuk dengan ponselnya sembari menunggu Ayahnya selesai dengan kepulan asap yang dibiarkan memenuhi ruang tamu. Andi Wijaya Adiguna tengah sibuk sendiri dengan batang kanker diantara celah jemari yang memang sudah seperti sahabat karibnya sendiri.

“Anak-anak kalian apa kabar?” tanya Wijaya membuka obrolan dengan senyuman yang terurai di ujung bibir. Jika diperhatikan lamat-lamat, senyumnya agak mirip Harsa saat sedang menyeringai. Ah, bukan mirip Harsa. Lebih tepatnya Harsa yang mirip Ayah nya.

Dan jelas pertanyaan itu ditujukan pada Angga dan Harsa, bukan Wida. Karena Ayah nya sudah tiba di sana lebih dulu dan jelas telah banyak mengobrol dengan anak ketiganya itu. Jadi, Angga yang sadar diri dengan cepat menatap Ayah nya. “Baik, Afi tahun depan udah masuk TK.” Ia menjawab dengan tangan yang masih sibuk mengusap-usap benda pipih tersebut.

Angga melirik Harsa yang acuh, tak tertarik menjawab pertanyaan Wijaya. Ia sibuk sendiri, membaca buku dengan judul Filosofi Teras dari Henry Manampiring, yang entah darimana asalnya buku itu tiba-tiba ada di genggamannya.

Semua yang ada di ruangan itu tahu pasti jika Harsa sengaja melakukan hal tersebut demi untuk menghindari basa-basi dengan Wijaya.

Mereka paham, Harsalah yang terlalu banyak menyimpan amarah dan dendam. Meski waktu berlalu, tetapi amarah dan kekecewaan itu tak pernah benar-benar reda. Apalagi terakhir bertemu pun anak sulung dan Ayah itu masih memperdebatkan masalah harta yang Ayahnya jual tanpa persetujuan mereka, sementara hasilnya entah ke mana.

Bahkan apa yang Harsa lakukan pun tak lepas dari tatapan ibu tirinya, wanita itu melirik Harsa dan Wijaya secara bergantian. Ia lalu menghembuskan napas sebelum akhirnya berkata. “Kami selalu berencana mau berkunjung, tapi Ayahmu terlalu sibuk. Ini saja kalau ndak penting-penting sekali, mungkin ndak ke sini.“

Wanita yang semua anak kandung Wijaya sebut gundik itu memang demikian. Dia terlalu ahli dalam pencitraan. Entah siapa yang mau dikelabui di saat semua hapal mati dengan gerak-gerik dan rencananya. Ia tak lebih hanyalah wanita yang penuh topeng. Terlalu ahli main peran. Kalau kata Anin pada Harsa, ibu tiri suaminya itu kalau jadi artis pasti akan jadi langganan Villain dan akan langganan penghargaan saking pronya.

“Tapi kami nda sangka pas Wida bilang kalian menyusul cuma untuk bahas ini.”

“Padahal Ayah kalian saja bisa loh kalau cuma urus ini. Kan gampang.” Wanita itu masih terus berceletuk tanpa rasa malu. Padahal jelas-jelas tak ada satu pun yang mau mendengarkan. Selain jago akting, dia juga tebal muka.

Harsa muak melihatnya. Kebencian pada wanita yang menjadi penyebab retaknya hubungan almarhum Ibu dan Ayahnya ini kian meningkat saat Ayah resmi menjadikannya ibu tiri mereka. Wanita ini bahkan sangat tak tahu posisi, selalu menampakkan diri seolah ingin menunjukkan betapa dominannya ia dalam keluarga ini. Harsa muak karena ia selalu merasa punya kendali atas mereka. Bahkan setelah beberapa kejadian besar yang pernah terjadi, tapi wanita ini seakan tak peduli. Terus melenggang bagai tak punya malu.

 Emosi Harsa seperti ingin tersulut jika mengingat bagaimana penderitaan dan luka yang dipikul ibunya semasa hidup karena dua manusia laknat di hadapannya ini. Jika tak bisa mengontrol diri, mungkin vas bunga di rak sampingnya sudah ia lemparkan.

Di tengah perasaan kesal yang membuat kepala dan sekujur wajah terasa mendidih. Kata-kata Anin tiba-tiba terlintas di benak Harsa.

“Kalau kamu mau bertindak ceroboh, setidaknya ingat anak kamu, mas. Emang gak kasian kalau dia harus dilabeli anak dari Harsa si anak durhaka?!”

“Anindiyaswari istri jaksa yang ternyata anak durhaka?”

Kalimat itu berhasil membuatnya mengulas senyum di tengah emosi yang meletup. Mengingat bagaimana ekspresi Anin tadi malam saat mengkhawatirkannya lantas membuat Harsa lebih mudah meredam emosi. Memang benar kata istrinya, ia harus selalu mengingat mereka jika ingin bertindak ceroboh. Ia lalu menghembuskan napas pelan.

Wida yang sedari tadi melihat gerak geriknya pun mulai bisa bernafas lega saat Harsa kini tampak lebih rileks dengan menyandarkan tubuh ke sofa. Tangannya tak lagi sibuk mencengkram seperti tadi. Wida tahu, diantara saudara mereka, Harsa lah satu-satunya yang paling keras menentang. Sebenarnya mereka semua sama menentang, tapi tak sekeras dan sevokal anak sulung itu.

“Kalau kau, anak sama jstrimu bagaimana kabarnya Harsa?” Wijaya mengalihkan tanya pada Harsa. Sungguh, ia pun sadar dengan gerak-gerik anaknya itu. Melihat bagaimana Harsa masih menaruh dendam padanya selalu berhasil membuatnya was-was. Ia masih trauma jika mengingat bagaimana terakhir kali Harsa mengamuknya dulu lantaran istrinya bertengkar dengan Ava dan Dira.

“Baik.”

Wijaya manggut-manggut. Ia baru ingin melanjutkan tanya, tapi Harsa malah menyela dan langsung bertanya ke inti. Padahal dia masih ingin tahu bagaimana perkembangan cucu dan menantu yang jarang ditemui.

“Jadi, kali ini apa tujuan ta mau jual tanahnya Ibuk diam-diam?”

“Kenapa tanpa konfirmasi ke kita-kita dulu, paling dak ke saya atau Angga.”

“Kenapa selalu orang lain yang kabari.”

“Saya anak sulung. Seharusnya Ayah tanya persetujuanku lebih dulu kalau ada hal seperti ini. Bukan malah dapat kabar gak mengenakkan dari orang lain.”

“Pelan- Pelan Harsa, kamu mau buat Ayahmu mati cepat?” Si ibu tiri menginterupsi. Pertanyaan beruntun Harsa bikin Wijaya pegang dada, pria paruh baya itu berusaha mengatur napas.

Angga dan Wida juga tampak khawatir. Mereka menatap Harsa dengan wajah meringis karena terlalu blak-blakan.

“Weh, Harsa. Pelan-pelan, kasian Ayah.” Pelan-pelan Wida memperingatkan. Takut kakak sulungnya itu tersinggung dan akan menyemprotnya.

Angga pun tak mau ketinggalan. “Kita dengar dulu alasannya, pelan-pelan.” Ia yang tahu betapa sensitifnya Harsa jika menyangkut soal Ayah pun berusaha menenangkan.

Kening Harsa menyerngit, ia menatap Ayah dan ibu tirinya secara bergantian. Lalu menyunggingkan senyum di ujung bibir, lebih ke mengejek. Sungguh ia muak. Kali ini ia tak mau pakai hati lagi. Sudah cukup si Wijaya menjual semua sesuka hati tanpa izin dan sepengetahuan mereka. Padahal sebagai anak, mereka semua berhak tahu. Apalagi ini jelas hak mereka sebagai ahli waris.

“Coba kau dengar Ayahmu dulu Harsa. Jangan selalu mengedepankan emosimu seperti ini.” Ibu tiri kembali bersuara dan Harsa masih diam, ia kelihatan tenang meski hasrat ingin menendang.

“Sudahlah. Diam mko dulu, biar saya yang bicara.” Wijaya yang tak ingin istrinya semakin dibenci karena terlalu ikut campur pun menyuruhnya untuk diam. Ia tahu bagaimana anak-anaknya sangat membenci wanita ini.

Ia lalu menatap ketiga anaknya secara bergantian, terutama Harsa. “Ayah kira kamu sudah tahu, Harsa?!”

Harsa menatap bingung bersamaan dengan Wida dan Angga menoleh padanya yang duduk sendirian di sofa single.

“Bukannya mertuamu sudah mengabarkan, orang dia yang ngasih saran, ndak mungkin kan dia ndak kaish tau kalian, atau paling tidak Anin.”

“Makanya Ayah rasa ndak perlu ngasih tahu. Tahunya pas dengar Wida bilang kamu sama Angga marah, ya Ayah kaget.”

“Meski dibilang ini peluang bagus, tapi Ayah juga tak akan menjual kalau kalian ndak setuju.”

Wijaya masih berkata panjang lebar. Yang mana membuat Harsa dan Angga semakin mengeryit tak mengerti. Serentak mereka balik menatap Wida, meminta penjelasan dari adiknya itu.

Wida menggeleng tak tahu seraya menaikkan kedua bahu. “Saya ndak tau apa-apa.”

“Tapi kau tau kalau tanahnya mau dijual?” tuding Harsa tak habis pikir. “Kalau tau kenapa bukan kau yang langsung kabari kita.”

Angga pun yang agak geram ikut menyergah. “Iya, harusnya kau kabari juga kami, Wida. Ini malah om Arif yang telepon. Katanya Ayah di sini, mau jual tanah lagi.”

“Ya, saya juga ndak tahu. Ayah cuma bilang pasti kalian setuju kalau ini, karena mertuanya Harsa juga tahu. Jadi bilang ka, ndak usah saja dikabari. Toh pasti kau sudah tau dari mertuamu.” Wida menjelaskan sambil sesekali menatap Harsa karena memang ia yang dirasa jadi topik utama.

Sungguh Harsa makin tak mengerti karena mertuanya beberapa kali disebut. “Ini maksudnya mertuaku tahu atau gimana?” tanyanya penasaran sekaligus heran kenapa nama mertuanya ikut terlibat.

“Ya, jadi kan katanya di daerahnya sana ada kebun yang mau dijual. Ada isinya. Jadi, Ayah rasa bagusnya tanah kalian di sini itu dialihkan ke yang berpenghasilan. Hasilnya bisa kalian nikmati tiap bulan. Entah kalian bagi rata gajinya atau mau bagi tanahnya terus kelola sendiri kan bisa.”

Harsa hanya bisa mendesah pelan mendengar penjelasan Ayah nya. Ia dan Angga saling tatap, sebelum akhirnya Angga berkata.

“Ya, kalau begitu saya juga setuju. Apalagi tanah di pinggir kota kan mahal, bisa dapat lumayan kalau dialihkan ke perkebunan.”

“Nah, makanya itu juga saya ndak kasih tahu kalian. Saya juga pikir begitu, tapi pas kalian marah-marah, bilang mau ke sini yaa kaget ka juga, lah.” Wida menimpali dengan setengah terkekeh. Suasana yang awalnya tegang jadi agak mencair.

“Makanya itu jangan langsung emosi. Bicara baik-baik, kan bisa.”

“Ck, sudah, Ma. Kamu diam dulu,” tegur Wijaya, tak mau istrinya ikut campur. Apalagi hal ini sensitif. Makin ke sini ia makin tak mau egonya menang, sungguh kali ini ia tak ingin ada keributan dengan anak-anak. Ia pun sudah lelah terus-menerus dimusuhi, terutama oleh Harsa. Membuat wanita itu memutar mata kesal, merasa hak bicaranya dirampas.

Di saat semua tampak tenang dan mulai larut atas mencairnya suasana tegang. Ia malah diliputi hal yang masih mengganjal di hati, yaitu tentang keterlibatan mertuanya. Jika benar, seharusnya mertuanya bisa langsung mengabarinya atau paling tidak menghubungi Anin. Sehingga ia tak perlu panik dan buru-buru seperti tadi malam.

“Ini yang tahu mertua laki-lakiku atau yang perempuan?” tanya Harsa penasaran.

“Pak haji Indra, beliau tahu. Memangnya Anin gak dikasih tahu?”

“Mertuamu itu juga mau beli tanah yang di Kalimantan itu, makanya dia pulang ke Semarang jual tanah di sana. Mau diganti pakai sawit di sana.”

Harsa menggeleng. Ia tersenyum miris dengan memalingkan wajah ke arah lain. Sambil menghembuskan napas kecewa ia menggerutu kesal. Entah kenapa kali ini rasanya ia bisa merasakan dengan jelas berada di posisi istrinya. Bagaimana rasanya tak dianggap dan bahkan hal yang menyangkut keluarga suaminya ia tak diberitahu. Harsa merasa dadanya yang sesak, sakit karena Anin tak diberitahu.

Soal mengalihkan tanah ke lahan yang berpenghasilan ia jelas setuju meski di wilayah mertua laki-lakinya sana. Dan jika benar demikian harusnya ia tak perlu repot-repot terbang jauh-jauh jika Ayah mertuanya paling tidak mengabari Anin atau dirinya.

Sungguh Harsa pun merasa tak dianggap. Ia marah karena Anin lagi-lagi diperlakukan begini.

1
falea sezi
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
falea sezi: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!