Anne dan Andre sudah memiliki 2 anak perempuan dan laki-laki. Yang pertama bernama Dreany Wijaya, lahir setelah satu setengah tahun mereka menikah. Yang kedua bernama Drane Wijaya, 3 tahun lebih muda dari Dreany.
Sedangkan Jacky dan Katty Sanjaya hanya memiliki seorang anak bernama Jeremy Wijaya, lahir 1 tahun setelah pernikahan mereka.
Dreany juga memiliki sahabat dekat bernama, Lidni. Lidni adalah anak dari orang kepercayaan mamanya di butik.
Dari pertemuan Jeremy dengan Dreany yang tidak sengaja, membuat mereka semakin dekat. Hingga hubungan mereka akan dibawa ke lebih yang serius. Yaitu, pernikahan.
Namun apadaya. Keluarga Lidni tidak menyetujui pernikahan itu karena latar belakang Jeremy.
Keputusan keluarga Dreany membuat Dreany sangat goncang. Disinilah peran sahabat Dreany sangat berguna sekali.
Selamat membaca readers
Ig: ester_puji.lestari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Puji Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23 - Rencana Jeremy dan Dreany
Jeremy tiba di Cafe lebih dahulu dibandingkan Dreany. Ia mencari tempat yang kosong dan yang bisa nyaman untuk berbicara. Sambil menunggu Dreany, ia memesan Coffe Latte.
Dreany yang sudah sampai di Cafe, kemudian ia masuk dan mencari keberadaan Jeremy. Saat mata menyapu seluruh ruangan cafe, ia menemukan dimana Jeremy duduk dan menghampirinya.
"Hai Jer..." sapa Dreany
"Hai Drean. Kamu sudah sampai. Ayo duduk. Kamu mau pesan apa?" balas Jeremy.
"Aku Green Tea saja." Jeremy melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan cafe dan memesan minuman Dreany.
"Ada apa kamu memanggilku kesini?" tanya Dreany.
"Hanya kangen sama wajah ayumu." canda Jeremy.
"Jangan bercanda, gombalanmu tidak akan mempan." jawab Dreany tersenyum.
"Gini, kamu ingatkan sama temanku yang bernama Steven?"
"Ya, aku ingat. Kemarin ia meminta kontak ke kami via instragram. Dia tidak menyebutkan kontak siapa yang ia minta. Akhirnya kontak Lidni yang kami berikan. Ada apa dengan Steven?" jawab Dreany.
"Sepertinya Steven suka salah satu dari kalian berdua." ucap Jeremy.
"Masa sih?" Jeremy mengangguk.
"Setelah Lidni memberikan nomornya, apakah dia juga minta nomormu?" tanya Jeremy.
"Tidak sih. Kayaknya dia ingin mengenal Lidni lebih dekat deh." timpal Dreany.
"Berarti yang dia suka Lidni. Boleh aku minta tolong?"
"Apa?"
"Mendekatkan mereka. Aku kasihan dengan Steven. Dia adalah orang yang tidak mudah bergaul. Dia lebih senang menyendiri di apartemennya dari pada di keluar. Aku sebenarnya tidak terlalu mengetahui Steven. Tetapi yang aku amati selama ini, sepertinya dia punya masalah dengan masa lalunya. Dia juga tidak pernah menceritakan masa lalunya. Jadi, dia seperti trauma begitu. Dan teman dia itu cuma aku. Itupun aku selalu berusaha jika berbicara tidak menyinggung hatinya." ungkap Jeremy.
"Kasihan ya. Padahal dia itu ganteng lho. Ini tidak mungkin berhubungan dengan dirinya. Seharusnya dia PD dengan ketampanannya. Aku rasa, ini berhubungan dengan orang di dekatnya." analisa Dreany.
"Kamu ada benarnya. Jadi, bagaimana?" tanya Jeremy lagi.
"Aku akan coba." jawab Dreany. Jeremy tersenyum. Kali ini dia tidak akan sendirian berjuang untu Steven.
"Bagaimana kalau kita menginap di Villa malam minggu ini?" ide Jeremy.
"Oke, tapi villa siapa?"
"Aku punya villa. Kita bisa berempat. Tenang saja disana tempatnya bagus dan kamarnya banyak. Biasanya keluargaku datang kesini dan selalu menyediakan waktu untuk menginap disana."
"Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai bertemu malam minggu." Dreany meninggalkan cafe dan tidak lama kemudia, Jeremy pun juga.
Sesampainya di rumah, Dreany langsung menemui Lidni untuk membicarakan acara mereka di malam minggu. Tentu saja Dreany tidak mau Lidni tahu jika acara ini khusus untuknya dan Steven. Dreany mau jika hubungan mereka berjalan secara alami.
"Lid..." panggil Dreany saat masuk di kamar Lidni. Lidni mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia pegang dan menoleh ke arah Dreany.
"Ada apa? Sepertinya serius." tebak Lidni.
"Malam minggu kita akan menginap di villanya Jeremy. Sekali-kali kita perlu menghibur diri." mata Lidni mencari sesuatu di matanya Dreany.
"Kamu harus ikut." lanjut Dreany yang tidak mau ada perlawanan maupun perdebatan dari Lidni.
"Baik bos." Dreany menimpalinya hanya dengan senyuman.
"Baiklah, aku mau ke kamarku." Dreany bertolak ke kamarnya meninggalkan Lidni yang penasaran, kenapa tiba-tiba mereka berencana menginap di villa.
makin kesini makin seru🔥😇
ditunggu🤗❣️
udah gak sabar🤭
the best novel lah ini👍👍👍👍
ditunggu kunjungan nya ya 🤭
nyimak dulu yaa kk.
SATU HATI DUA RASA
Di tunggu mampir baliknya Thor😉
See You🖤
aku mampir nihh
semangatt yaa
yuk baca juga cerita aku yang judulnya CONVERGE!!
dijamin baper deh bacanyaa 😍
mari saling support thorr ❤️❤️
thanks
sudah gak sabar 😁😁😁
selalu like favorit karya terbaik mu kak
selalu like favorit karya terbaik mu kak 👌
selalu like favorit karya terbaik mu kak
smngt up dan smg ceritanya sukses yah, aku tunggu trs feedback-nya. 😉✨
di tunggu feedback nya
the thunder's love
cinta rasa covid-19