Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan dan Kalung Misterius
Grey dan Ressa akhirnya tiba di panggung teater, tetapi sambutan yang mereka terima jauh dari hangat. Tiga sosok berdiri di atas panggung dengan ekspresi yang berbeda-beda, menunggu kedatangan mereka dengan ketidaksabaran.
Angel Ranvell berdiri dengan tangan dilipat di dada, matanya bergantian menatap Grey dan Ressa dengan tatapan tajam. Wajahnya cantik, tetapi di balik kecantikannya ada api kecemburuan yang terus membara.
"Darimana saja kalian?" tanyanya, suaranya sengau. "Kalian membuang banyak waktu latihan. Kami sudah menunggu berjam-jam!"
Di sampingnya, Barteil Aerhas menatap Grey dan Ressa dengan mata berbinar. Mulutnya sedikit terbuka, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ini sungguh memukau," gumamnya, nyaris seperti bisikan. "Apa aku salah lihat? Ressa terlihat seperti seorang putri meskipun dia hanya pelayan Tuan Muda Grey."
Angel langsung menyahut cepat, suaranya penuh sarkasme. "Putri? Jangan bermimpi! Dia hanya pelayan rendahan yang beruntung bisa berada di dekat Tuan Muda Grey."
Grey menatap Angel dengan tatapan dingin. Matanya yang tajam menusuk langsung ke arah wanita itu.
"Sekali lagi kau bicara," ucapnya, suaranya pelan namun penuh ancaman, "kepalamu akan tergantung di alun-alun kota Ragonves."
Angel sontak terdiam. Wajahnya memucat, dan ia mundur selangkah ketakutan. Tidak ada yang meragukan bahwa Grey bersungguh-sungguh.
Barteil berusaha menenangkan suasana dengan canggung. "Jangan terlalu kejam pada wanita, Tuan Muda. Angell hanya—"
"Dia tahu apa yang dia lakukan," potong Grey, matanya masih tertuju pada Angel. "Dan dia akan membayar jika berani menyentuh Ressa lagi."
Angel menunduk, tidak berani membalas.
Vega yang sejak tadi diam tiba-tiba berbicara. Matanya tidak tertuju pada Grey atau Angel—melainkan pada Ressa.
"Hm. Apa aku tidak salah lihat..." ucapnya pelan, matanya menyipit. "Kalung itu bukan kalung biasa."
Ressa yang mendengar itu segera menutup kalungnya dengan tangannya, berusaha menyembunyikannya.
"Ah, Tuan Grey!" ucapnya cepat, mengalihkan perhatian. "Anda mau minum? Saya bisa menyiapkannya untuk Anda!"
Grey menoleh pada Ressa, sedikit bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba bersemangat. "Aku mau teh. Tapi akan lebih tenang jika meminumnya berada di dekatmu."
Ressa tersenyum lega, dan mereka berdua berjalan menjauh dari ketiganya.
Angel masih menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian.
Vega mengamati kepergian Ressa dengan saksama.
"Dia menyembunyikan kalung itu," pikirnya. "Apa yang dia sembunyikan?"
---
Di sudut ruangan, Grey dan Ressa duduk bersama. Teh panas mengepul di hadapan mereka, tetapi Grey tidak meminumnya. Ia malah menatap Ressa dengan tatapan penasaran.
"Kenapa kau tiba-tiba menawarkan minuman untukku?" tanyanya. "Kau biasanya tidak sebersemangat itu."
Ressa tersenyum kecil. "Saya hanya ingin Tuan Grey merasa nyaman. Hari ini sudah cukup melelahkan."
Grey mengamati gadis itu dengan saksama. Ada sesuatu yang berbeda pada Ressa—sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Kenapa Ressa menjadi peduli?" pikirnya, hatinya berdebar aneh. "Apa mungkin dia mulai menyukaiku?"
Ia menatap Ressa yang sedang fokus menuangkan teh ke dalam cangkir. Gerakannya lembut, anggun—seperti seorang bangsawan, bukan pelayan.
"Ku harap begitu," lanjutnya dalam hati. "Ressa bukan Keilla yang tak pernah ramah padaku."
Grey menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia merasa aman.
"Tuan Grey," ucap Ressa tiba-tiba, "apakah Anda baik-baik saja?"
Grey tersenyum. "Aku baik-baik saja, Ressa. Terima kasih."
Ressa tersenyum balik, tetapi di balik senyumnya, ada kegelisahan yang ia sembunyikan.
"Tuan Vega mulai curiga," pikirnya. "Aku harus lebih berhati-hati."
Ia menyentuh kalung di lehernya—kalung yang bersinar di bawah cahaya matahari, tetapi terlihat biasa saja di tempat teduh.
"Aku tidak bisa membiarkan siapa pun tahu siapa aku sebenarnya."
Malam mulai turun, dan rahasia-rahasia mulai terungkap perlahan.