Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Ingin Sekarang
Mobil Louis sudah masuk ke garasi yang sangat luas. Mobilnya berhenti berdampingan dengan mobil-mobil mewah miliknya yang lain. Suasana di dalam mobil saat ini terasa panas dengan dua orang yang masih berada di dalam mobil. Suara napas dari keduanya sangat jelas terdengar, diiringi suara desahan dari mulut sang wanita.
Karissa memeluk leher Louis dengan erat, menempelkan tubuhnya dengan tubuh pria itu dengan penuh pengharapan. Mereka berbaring di atas jok mobil yang sudah diturunkan.
"A-aku ... ingin sekarang," bisiknya di telinga Louis.
Tubuh keduanya sudah tidak berpakaian, namun pria itu masih saja ragu untuk melakukannya di dalam mobil.
"Kenapa kau seperti ini? Siapa yang memberimu obat?" Louis masih menahan diri.
Ia hanya ingin tahu, siapa orang yang berani memberi Karissa obat. Tidak mungkin Karissa segila ini kalau bukan karena sesuatu.
"Ahhhh!"
Karissa tidak menjawab. Ia hanya menggeliat sambil menggelengkan kepala. Sama sekali tidak peduli siapa yang memberinya obat. Yang ia pedulikan saat ini adalah ... keinginannya untuk bercinta.
"Sekarang, lakukanlah! Aku mohon!" lirihnya dengan susah payah.
Ia sudah tidak bisa menunggu lagi. Ingin segera memakan Louis dan melepaskan semua rasa tidak nyaman di tubuhnya.
"Apa kau tidak takut seseorang melihat kita di sini?" bisik Louis.
Ia menekan tubuh kecil itu dengan sedikit tenaga. Menunduk dan melihat ketidakberdayaan wanita di bawahnya.
Karissa menggelengkan kepalanya lagi, menandakan bahwa dia tidak takut apapun. Yang ia takutkan hanya keinginannya tidak terpenuhi.
"Sebaiknya kita ke kamarku saja, ya?"
Karissa kembali menggelengkan kepala. Sama sekali tidak ingin pindah ke manapun. Ia ingin melakukannya di sini dan detik ini juga. Tidak ingin berpindah dan melanjutkannya di tempat lain.
"Baiklah! Jangan menyesal, kau yang menginginkan ini," jawab Louis.
Ia pun mulai menekannya, mencium Karissa lagi dan membuka kedua kakinya.
"Ennhh!"
Permainan pun dimulai. Mereka menghabiskan malam ini di dalam mobil, di garasi yang sangat gelap tanpa ada cahaya sedikitpun.
Hingga di pagi hari, sebelum Louis bangun, Karissa sudah memakai kembali pakaiannya. Ia keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap. Bukannya masuk ke kamar Tuan Lee yang ada di lantai dua, ia malah memilih untuk masuk ke dalam kamar tamu yang ada di lantai satu.
Di sana Karissa segera melepaskan semua pakaiannya. Ia pergi ke kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhnya yang terasa lengket karena keringat.
Pergulatan tadi malam itu masih terbayang jelas di ingatannya. Bagaimana dirinya memohon pada Louis tanpa rasa malu, bermain lagi dan lagi seolah tidak pernah puas. Pengaruh obat itu benar-benar sangat dahsyat. Membuat Karissa menjadi wanita liar.
"Aishhh, sial!" makinya di bawah guyuran air di kamar mandi.
Ia menggosok kasar kepalanya sendiri. Merasa bodoh dengan tindakannya semalam.
"Kenapa aku harus memohon pada Louis? Tidak bisakah aku menahannya?"
"Dan ini ...." Karissa menunduk, melihat banyak tanda merah di tubuhnya karena perbuatan Louis. Itu menandakan betapa gilanya permainan mereka di dalam mobil.
"Argh ... kenapa aku tidak bisa mengendalikan diri?"
Karissa segera menggosok seluruh tubuhnya, menggosoknya lagi beberapa sampai bersih. Setelah selesai, ia mengambil handuk yang tersedia di sana dan segera memakainya.
Tidak lupa, ia meminta asisten rumah tangga untuk mengambil pakaian bersih dari kamarnya yang ada di lantai dua.
***
Siang hari, Karissa bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat hasil rontgen kemarin. Ia pun langsung menghubungi Dokter Kevin.
"Tunggu saja di ruang kerjaku! Sebentar lagi aku selesai," ucap Dokter Kevin dari seberang telepon.
"Apa benar tidak apa-apa kala aku menunggu di dalam ruang kerjamu?" tanya Karissa sedikit ragu.
Pasalnya, saat ini ia sudah sampai di depan ruang kerja Dokter Kevin. Namun di dalam ruangan itu nampak sepi, sama sekali tidak ada orang. Karissa takut akan menimbulkan masalah untuk pria itu jika dirinya menunggu di dalam.
"Tidak apa-apa, masuk saja! Sebentar lagi aku selesai, kok!" Dokter Kevin meyakinkan.
"Emh, baiklah! Aku tutup dulu teleponnya, ya!"
"Oke!"
Klik!
Sambungan terputus.
Karissa segera masuk ke dalam ruang kerja Dokter Kevin dan menunggunya.
Baru sepuluh menit menunggu di ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Karissa pikir itu Dokter Kevin. Karissa yang sedang duduk di kursi segera berdiri, dengan wajah berseri-seri menatap seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Dokter Kev—"
'Vin!' lanjutnya di dalam hati.
Karissa melihat yang masuk ke ruangan itu buka pria yang ia tunggu, namun seorang wanita muda dengan pakaian putih seperti seorang dokter.
"Eh, maaf! Apa Kevin ada?" Tiba-tiba wanita itu bertanya.
Dia masih berdiri di depan pintu sambil menatap Karissa.
"Dokter Kevin belum datang! Dia masih ada di ruang operasi!" jawab Karissa sesuai dengan apa yang Dokter Kevin tadi katakan di telepon.
"Oh, seperti itu! Baiklah!"
Ketika dokter cantik itu hendak pergi, terdengar seseorang berkata di belakangnya, "Risty?"
"Eh, Kevin! Sudah selesai?" tanya Risty dengan senyum cerah di bibirnya.
Ia mengikuti langkah Dokter Kevin masuk ke dalam ruangan itu. "Bagaimana operasinya ... apa berjalan dengan lancar?"
"Emh, semuanya selesai dengan baik!" jawab Dokter Kevin sedikit acuh.
Ia terus berjalan masuk ke dalam ruangannya tanpa menoleh sedikit pun pada Risty.
"Maaf, membuatmu menunggu!" ucap Dokter Kevin sangat ramah pada Karissa.
Lalu ia duduk di kursinya sambil tersenyum. Rasa lelahnya tiba-tiba menghilang setelah melihat wajah cantik yang ada di depannya.
"Eh, tidak apa-apa ... aku baik-baik saja! Kenapa harus meminta maaf segala?" jawab Karissa dengan sedikit bercanda. Membuat wanita di sampingnya segera menekuk wajahnya.
"Sepertinya kau sedang sibuk!" ucap Risty tiba-tiba.
Wajahnya terlihat kecewa. "Nanti aku akan kembali lagi setelah kalian selesai!"
Dia pun berbalik dan pergi.
"Ya! Kembalilah satu jam lagi! Mungkin kami sudah selesai!" jawab Dokter Kevin setengah berteriak.
Itu membuat Risty semakin kesal.
Bruk!
Dia menutup pintu dengan keras. Meninggalkan ruangan itu dengan langkah kaki yang dihentikan sangat kuat ke lantai.
"Eh, kenapa dia?" Karissa menoleh ke belakang, menatap pintu ruangan yang sudah tertutup rapat.
"Tidak apa-apa! Mungkin dia ada sedikit masalah dengan pekerjaannya. Jadi mencariku untuk sekedar bercerita," jawab Dokter Kevin tidak peduli.
"Oh iya, bagaimana kondisimu sekarang?" Dokter Kevin bangkit berdiri, berjalan menghampiri Karissa lalu duduk di sampingnya. "Apa kepalamu masih terasa sakit?"
"Ya, sedikit!" jawab Karissa dengan sedikit tersenyum.
"Eh, bagaimana dengan hasil rontgen-ku kemarin? Apa hasilnya sudah keluar?"
Niatnya datang ke rumah sakit ini memang untuk melihat hasil rontgen kemarin. Ia khawatir, benturan di kepalanya akan menyebabkan cedera yang serius.