Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Merayap Naik

Layar ponsel pintar jadul berlayar retak di genggaman Dirga memancarkan pendar hijau-merah dari pergerakan indeks harga saham gabungan. Cahaya samar itu menyoroti raut wajah Dirga yang tenang namun teramat fokus. Di dalam kamar kayu yang hening, aroma tanah basah sisa hujan masih tercium, bercampur dengan denting waktu dari jam dinding tua. Dirga menarik napas dalam-dalam, menata sirkulasi pernapasannya hingga detak jantungnya berada pada frekuensi yang paling stabil.

Uang tunai sebesar Rp65.200.000 yang kini tersisa di akun Rekening Dana Nasabah (RDN) miliknya adalah modal murni tanpa sedikit pun campur tangan dana asing atau utang. Dirga menempelkan ibu jarinya di atas layar, memindai belasan emiten di sektor pertambangan dan komoditas.

"Sektor komoditas selalu bergerak agresif jika ada isu sentimen global," gumam Dirga pelan pada dirinya sendiri. "Aku tidak boleh asal menebak. Mata batin ini harus dipandu dengan pemahaman analisis yang presisi."

Dirga memejamkan mata sejenak, memusatkan seluruh daya pikir dan fokusnya tepat pada titik di antara kedua alisnya. Kehangatan lembut mulai merambat dari tengkuk menuju dahinya. Dalam hitungan detik, kesadarannya bagaikan menembus lorong waktu pendek. Grafik harga saham dari sebuah emiten komoditas nikel bernama PT Nusa Energi Nickel Tbk (NICL) mendadak terbentang jernih di dalam benaknya.

Ia melihat pergerakan grafik yang awalnya mendatar di harga Rp650 per lembar saham. Namun, pada hari kelima hingga ketujuh ke depan, grafik itu melompat tajam membelah batas atas perdagangan, menyentuh harga Rp1.900 per lembar saham setelah pengumuman penandatanganan kontrak pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik dengan konsorsium otomotif raksasa Asia Tenggara.

Dirga membuka matanya seketika. Hawa hangat di dahinya perlahan surut tanpa menyisakan rasa sakit kepala sedikit pun. Kontrol dirinya kini sudah jauh lebih matang.

"PT Nusa Energi Nickel Tbk," bisik Dirga tegas. "Satu minggu dari sekarang, nilainya akan meroket hampir tiga ratus persen."

Tanpa ragu sedikit pun, jari-jarinya bergerak lihai di atas layar ponsel. Dirga memasukkan seluruh modal Rp65.200.000 untuk memborong saham NICL di harga pasar saat ini, yaitu Rp650 per lembar. Transaksi berhasil dieksekusi seratus persen.

Tiga hari berlalu tanpa gejolak berarti. Pasar saham bergerak lambat, dan emiten NICL masih tertahan di zona merah tipis. Namun, Dirga tidak sedikit pun merasa cemas. Keteguhan hatinya tidak lagi bisa digoyahkan oleh fluktuasi jangka pendek. Bagi Dirga, kepastian visi masa depannya adalah fondasi yang jauh lebih kokoh daripada rumor para pelaku bursa.

Pada hari kelima, saat Dirga sedang duduk menikmati segelas air putih hangat di teras rumahnya, ponsel di dalam sakunya bergetar tanpa henti. Notifikasi berita ekonomi nasional bermunculan secara bertubi-tubi di layar.

Pemerintah Resmi Mengumumkan Kerjasama Strategis Sektor Nikel dengan Konsorsium Otomotif Global, Saham NICL Mengalami Auto Reject Atas (ARA) Tiga Hari Berturut-turut!

Dirga membuka aplikasi sekuritasnya. Harga saham NICL melonjak drastis dari Rp650 menembus angka Rp1.900 per lembar. Nilai portofolio investasi Dirga yang tadinya bernilai Rp65.200.000 kini telah membengkak secara fantastis menjadi Rp190.500.000.

Dirga menatap angka sembilan belas digit tersebut dengan napas teratur. Tidak ada tawa histeris, tidak ada selebrasi berlebihan. Yang ada hanyalah sebuah ukiran senyum tipis yang penuh wibawa di bibirnya.

"Tepat satu minggu," ujar Dirga pelan. "Seratus sembilan puluh juta rupiah."

Dirga segera menekan tombol eksekusi penjualan seluruh lot saham miliknya untuk mengamankan keuntungan riil tersebut. Dalam hitungan detik, seluruh dana hasil penjualan itu telah masuk dan mengendap secara sah di dalam rekening RDN miliknya.

Langkah pertamanya dalam membangun kembali harga diri dan kekuatan finansial telah membuahkan hasil yang teramat nyata. Dirga berdiri dari kursi kayunya, menatap ke arah plafon dapur rumahnya yang masih menganga lebar akibat runtuh diterjang hujan badai beberapa waktu lalu. Serpihan kayu lapuk dan tanah bekas kotoran atap masih berserakan di sudut ruangan, mengingatkannya pada masa-masa paling kelam dalam hidupnya.

"Ibu," bisik Dirga lirih seraya memandangi dinding kayu rumah panggung tersebut. "Rumah ini adalah peninggalan terakhir Ibu. Aku tidak akan membiarkan tempat ini terus hancur dan menjadi bahan hinaan orang lain."

Pagi berikutnya, suara langkah kaki berat terdengar mendekati halaman rumah panggung Dirga. Pak Mandor Karno, seorang tukang bangunan senior di desa sebelah yang terkenal jujur dan pekerja keras, berjalan menghampiri teras rumah bersama dua orang anak buahnya.

"Selamat pagi, Mas Dirga," sapa Pak Karno ramah seraya melepas topi capingnya. "Tadi malam Mas Dirga menelepon saya, katanya ada perbaikan emergency untuk atap rumah?"

Dirga melangkah keluar menyambut Pak Karno dengan senyuman sopan. "Selamat pagi, Pak Karno. Terima kasih sudah mau datang sepagi ini. Mari masuk dulu, Pak."

Pak Karno dan dua anak buahnya melangkah masuk ke area dapur. Mata Pak Karno mendadak terbelalak kaget saat mendongak menatap atap dapur yang sudah terbuka luas menembus langit.

"Masya Alloh, Mas Dirga!" seru Pak Karno prihatin. "Ini mah bukan sekadar bocor lagi, Mas! Rangka kayunya sudah lapuk total dan roboh dihantam hujan. Kok bisa didiamkan sampai seperti ini, Mas?"

"Kemarin-kemarin saya belum ada rezeki lebih untuk perbaiki, Pak Karno," jawab Dirga jujur dan tenang. "Tapi sekarang, alhamdulillah saya sudah punya dana yang cukup. Makanya saya panggil Pak Karno ke sini."

Pak Karno mengangguk-angguk paham, lalu mengeluarkan meteran gulung dan buku catatan kecil dari saku celananya. "Baik, Mas. Kalau boleh tahu, Mas Dirga cuma mau tambal bagian dapur ini saja, atau bagaimana?"

Dirga menatap sekeliling interior rumah panggungnya yang tampak lusuh. Kayu-kayu dindingnya mulai kusam, dan rangka atap ruang tamu pun sebenarnya sudah memperlihatkan tanda-tanda pelapukan.

"Saya tidak mau sekadar menambal, Pak Karno," tegas Dirga dengan suara mantap. "Saya ingin Pak Karno membongkar seluruh rangka atap rumah ini dari depan sampai belakang. Ganti semua kayu lapuknya dengan baja ringan kualitas terbaik. Gentengnya diganti total dengan genteng metal yang kokoh dan tahan bocor."

Pak Karno menghentikan goresan pensilnya di kertas, menatap Dirga dengan raut wajah penuh terkejut. "Ganti total pakai baja ringan dan genteng metal, Mas? Wah, itu biayanya tidak sedikit, Mas Dirga. Bisa habis belasan sampai puluhan juta rupiah itu!"

"Berapa perkiraan total biaya bahan bangunan dan jasa tukang untuk pengerjaan total ini, Pak Karno?" tanya Dirga tanpa ragu.

Pak Karno menghitung sejenak, menggoreskan angka-angka di kertas catatannya seraya berbisik dengan anak buahnya. Setelah beberapa menit, Pak Karno mendongak menatap Dirga.

"Untuk pembongkaran total, pembersihan puing, pemasangan rangka baja ringan baru seluruh rumah, atap genteng metal, plus perbaikan plafon interior yang rusak, estimasi kasar saya sekitar tiga puluh lima juta rupiah, Mas Dirga," terang Pak Karno hati-hati. "Itu sudah termasuk biaya tukang empat orang selama dua minggu kerja."

"Baik, Pak Karno," jawab Dirga singkat. Ia merogoh tas selempangnya, lalu mengeluarkan sebundel uang tunai pecahan seratus ribu rupiah yang masih terikat rapi dari bank. "Ini uang muka sebesar dua puluh juta rupiah. Pak Karno bisa langsung beli bahan-bahannya hari ini dan mulai pengerjaannya besok pagi."

Pak Karno terpaku menatap ikatan uang tunai tebal yang disodorkan Dirga. Tangannya sedikit gemetar saat menerima uang tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka, seorang pemuda yang setahunya hanya sebagai pemuda biasa di kampung itu bisa menyerahkan uang tunai puluhan juta rupiah tanpa berkedip sedikit pun.

"Mas... Mas Dirga serius ini?" tanya Pak Karno dengan nada suara masih tidak percaya. "Uang mukanya besar sekali, Mas."

"Saya serius, Pak Karno," jawab Dirga mantap seraya tersenyum tipis. "Saya ingin pengerjaannya dilakukan dengan kualitas terbaik. Tolong jaga rumah peninggalan almarhumah ibu saya ini ya, Pak."

Pak Karno mengangguk tegas, raut wajahnya berubah menjadi sangat penuh rasa hormat. "Siap, Mas Dirga! Jangan khawatir! Besok pagi jam tujuh, saya dan tim akan langsung bongkar total atap rumah ini. Saya jamin hasilnya bakal kokoh dan rapi!"

"Terima kasih banyak, Pak Karno," ujar Dirga seraya berjabat tangan erat dengan tukang bangunan tersebut.

Dari kejauhan, di tepi jalan raya depan halaman rumah, Bu Marni yang sedang menyapu halaman rumahnya tampak memicingkan mata. Ia memperhatikan dengan cermat saat Pak Karno menerima bundelan uang tebal dari tangan Dirga dan berjabat tangan penuh kehangatan. Rasa penasaran dan desas-desus baru mulai merayap di benak para tetangga sekitar yang menyaksikan pemandangan tersebut.

Dirga berdiri di ambang pintu, menatap Pak Karno yang berjalan pulang dengan wajah sumringah. Di dalam hatinya, Dirga tahu bahwa transformasi hidupnya tidak bisa lagi disembunyikan. Kehidupan barunya telah dimulai, dan pondasi rumah tua peninggalan ibunya ini akan menjadi saksi bisu kebangkitan seorang Dirga dari titik paling bawah menuju puncak kejayaan.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!