Memperjuangkan nasib pernikahan yang semula
baik-baik saja hingga menutup usia nyatanya tak semudah mengatakan janji.
Perjuangan Bulan di usia pernikahan yang baru akan memasuki tahun kedua harus di terpa badai.
Nasib pernikahan yang semula sangat bahagia berubah seratus delapan puluh derajat saat kehadiran wanita yang tak lain adalah iparnya.
Menjadi perusah di tengah keluarga Bulan dan sang suami, kini semua berita buruk tertuju pada Bulan Ambarwati.
Tidur dengan pria lain dan hamil dari pria lain, itulah yang terlihat di mata Pramudya kala mendapati sang istri tengah berdua di kamar hotel.
Pramudya yang sangat mencintai Bulan, begitu juga sebaliknya.
Akankah pernikahan keduanya mampu melewati segala terpaan badai hingga mampu merajut cinta kembali? Mampukah Bulan membuktikan dirinya istrinyang setia dan mendapatkan pengakuan dari sang suami atas anak yang ia kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberikan Pelajaran
Pergi makan berdua tentu saja membuat wajah Pram tersenyum sepanjang jalan. Meski pemandangan yang ia lihat begitu tidak indah. Wajah cantik yang menekuk dan menatap ke arah jendela samping mobil. Tangan yang bersedekap di depan dada tanpa mau di genggam sang suami.
Beberapa menit berlalu, mobil milik Pram pun akhirnya tiba. Keduanya turun tanpa Bulan mau menunggu sang suami membuka kan pintu untuknya.
“Mau makan apa?” tanya Pram menatap sang istri yang duduk di depannya saat ini.
“Aku sudah kenyang.” jawab Bulan dingin.
Pram pun memesan makanan dengan menu yang sama dan porsi untuk sang istri juga. “Mas, aku sudah makan. Untuk apa memesan dua?” tanyanya yang menatap kesal suaminya.
Pram menatap wajah sang istri dengan tersenyum. “Kamu sudah makan? Yasudah ini itu untuk anak kita. Dia belum makan kan?” tanya Pram membuat Bulan memutar matanya malas.
Merasa tidak sabar berduaan lama, Bulan langsung menyantap makanan saat pelayan datang menyajikan makan mereka. Kini keduanya makan dengan tenang. Pram senang rasanya. Rasa lelah dan lapar yang ia tahan sedari tadi akhirnya terbayarkan dengan makan berdua lagi dengan istri.
Selama makan, pandangan pria itu tak pernah lepas dari wajah jutek sang istri.
Meski butuh perjuangan, tapi Pram berjanji tidak akan lelah. Justru moment ini akan ia jadikan momen mengulang masa dimana ia mengejar-ngejar cinta istrinya.
“Makanlah cepat. Aku lelah ingin tidur.” ujar Bulan yang merasa tak tahan jika di tatap terus oleh sang suami.
Singkat waktu malam itu, Pram pun tiba dengan Bulan kembali ke rumah. Berniat ingin mengajak jalan-jalan. Namun, Pram berpikir ini belum waktunya. Mood Bulan masih tidak begitu baik untuk ia paksa jalan-jalan.
“Pulanglah, Mas.” usir Bulan saat Pram berdiri di depan pintu bersamanya.
“Aku lelah, Bulan. Boleh aku tidur di sini juga?” Setengah mati Pram menunjukkan wajah sedih dan letihnya itu.
Merasa sedang di akali, tanpa berkata apa pun Bulan segera masuk ke rumah dan menutup pintu cepat.
“Bulan!” Panggil Pram setengah berteriak. Ingin mengetuk pintu dan berteriak kembali ia tak enak rasanya. Sebab di rumah itu tidak hanya Bulan saja.
Ada Bu Rini dan Lesti yang mungkin sedang terlelap di dalam rumah sederhana itu.
“Bulan,” Tubuh Bulan terjingkat kaget saat ia ingin membalikkan tubuh masuk ke dalam rumah.
Pintu yang ia kunci membuatnya aman di dalam rumah tanpa Pram bisa mengganggunya.
“Bu Rini, maaf saya ribut. Ibu terganggu yah?” tanya Bulan kaget mendapati wanita paruh baya itu kini berdiri di hadapannya.
Bu Rini tak menjawab. Ia justru tersenyum. “Kenapa suami kamu di tutupi pintu? Dia belum pulang kan?”
Bulan tampak menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Bu Rini. Hingga akhirnya Bu Rini mengintip di jendela.
“Mobilnya nggak di nyalain. Tapi orangnya di dalam. Apa itu artinya Pram tidur di mobil?” tanya Bu Rini yang membuat Bulan penasaran ingin melihatnya juga.
“Biarkan saja, Bu? Saya sudah menyuruh dia pulang tadi. Kita istirahat saja, Bu. Besok sudah harus jualan. Kan gerobaknya udah bagus dan satu lagi yang baru akan di antar besok pagi.” tutur Bulan yang mengingatkan Bu Rini jika mereka kini sudah memiliki gerobak bubur tiga.
Berkat uang keuntungan yang meningkat, akhirnya satu gerobak bisa mereka beli juga.
Bulan dan Bu Rini menuju kamar mereka masing-masing. Meski rasanya Bulan tak tega pada sang suami. Tetap saja ia ingin memberikan pelajaran pada Pram.
Memaafkan tak akan semudah yang ia bayangkan. Agar mengulang kesalahan pun tak akan semudah mengucap kata maaf.
semoga Lesti dapat ganjaran dari perbuatannya itu...😡
sudah di beri peringatan tapi kamu GK mau dengar😡😡
masak an dia suka ma adek kandung sendiri otak nya tergeser banyak mungkin