Gadis berusia 21 tahun itu terduduk lemas dengan luka dibeberapa bagian tubuhnya. Namun, bukannya langsung pergi kerumah sakit, ia malah memilih pergi dan menjauh saja.
Mobil mewah yang baru saja mengalami kecelakaan, tepat sepuluh kilometer dari tempatnya terduduk saat ini. Telah hangus terbakar oleh kobaran api, yang bisa saja ikut menelan dirinya, jika ia tak berusaha menyelamatkan dirinya sendiri tadi.
"Kenapa aku di lupakan? " Ujarnya dengan suara lirih, menyeka air mata yang jatuh dengan sendirinya tanpa diminta lagi. Sambil menatap sebuah mobil pengangkut barang, yang tadi pergi membawa Ibu dan juga saudaranya untuk kerumah sakit.
Siapakah, dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopita Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Pagi
Keesokan harinya, Zein mulai mengerjapkan mata. Di saat sinar matahari pagi, mulai menembus tirai karena terpaan angin dari arah luar sana. Kelopak mata pria kekar dan tampan itu, mulai bergerak perlahan. Namun, pasti.
"Haisss, kepala ku sakit sekali" Ujarnya pelan. Saat sadar, jika semalam ia minum terlalu berlebihan. Dengan kadar alkoholnya tinggi.
Ia memijat kepalanya, sambil menyibak selimut. Tapi, pakaiannya sudah di ganti dengan piyama tidur santai. Dahinya mengerut, memflashback kembali kejadian semalam.
"Apa, semua ini Selena yang melakukannya? " Tanya Zein, pada dirinya sendiri.
"Aa, pasti Han. Mana, mungkin Selena yang membuka bajuku sendiri?. Walaupun, kami sudah pernah polos berdua. Tapi, " Zein menjeda ucapannya. Lalu, langsung menggeleng sambil menepuk kepalanya.
Otaknya, malah tiba-tiba saja mesum. Ketika, ingat bagaimana bentuk tubuh Selena. Wanita yang telah ia nikahi beberapa jam lalu. Walaupun, hanya sekedar acara sederhana. Di rayakan oleh para anggota, serta para perkerja di mension tersebut saja.
Ceklek!
Ketika, Zein sedang berusaha. Untuk mengontrol pikiran kotor di otaknya. Bertepatan dengan itu pula, pintu kamar mandi malah terbuka. Zein segera menatap kearah sana. Namun, matanya membulat saat ia melihat Selena baru keluar, hanya mengenakan handuk saja. Yang ia ikatkan sebatas dada.
"Suamiku sudah, bangun? " Selena tersenyum manis. Ketika, ia melihat Zein yang sudah duduk di atas ranjang. Sambil menatapnya sedikit terkejut.
"Kenapa, kau berpenampilan seperti itu? " Pungkas Zein dengan nada bicara, yang sedikit gugup.
Jakun nya mulai turun naik, saat ia bisa melihat belahan d*da milik Selena. Yang nyata dan padat tersebut, apalagi, saat ini Selena malah menghampiri dirinya.
"Memang nya, kalau habis mandi. Harus bagaimana? " Tanya balik Selena sambil melangkah santai kearah Zein.
"Ganti dulu, pakaian mu! " Seru Zein, yang semakin tak karuan saja. Otaknya, semakin ngeres di tambah lagi penampilan Selena dengan rambut basahnya. Sisa air di bahu dan punggung wanita itu, masih terlihat jelas di matanya.
Bukannya langsung berbalik arah. Selena malah semakin gencar menghampiri Zein, keatas ranjang sana. Hal, itu justru membuat Zein semakin ketar-ketir saja.
"Stop disana!, atau aku yang,,, "
"Apa?. Kau mau apa? " Selena malah semakin berani saja.
Wanita itu tersenyum penuh arti. Seakan ia tahu, apa yang sedang ada di pikiran pria tampan. Di hadapan nya saat ini, Bahkan Selena sama sekali tak merasa canggung. Padahal, mereka baru resmi menikah kemarin sore.
"Selena... Stop! " Zein, masih saja berupaya. Untuk menghentikan langkah kaki Selena. Tapi, wanita itu sepertinya memang sengaja. Membuat Zein ketar-ketir sendiri.
Demi, menghindari Selena pagi ini. Walaupun, otaknya tak bisa di kontrol dengan baik. Zein, segera beranjak dari atas ranjang sana. Berniat untuk masuk kedalam kamar mandi saja. Sebab, ia tak ingin membuat adegan panas sepagi ini. Di saat ia merasa Selena sebenarnya belum siap, akan pernikahan mereka.
Tapi, nasib baik tak berpihak padanya. Zein, malah terjerembab jatuh menabrak badan Selena. Saat kakinya terikat oleh selimut yang ia buang asal.
Brukkk!!
"Aaaaaww,,!? " Pekik Selena lantaran terkejut. Dimana, Zein sudah terlanjur gugup. Sehingga, ia tak sempat berpikir untuk menyeimbangkan diri. Bahkan, tangan Zein malah ikut meraih handuk yang di kenakan Selena.
Keduanya jatuh di atas karpet bulu sana. Namun, salah satu tangan Zein, sempat menjadi bantal kepala Selena. Walaupun, terasa sedikit kebas. Tapi, ia lega kepala Selena tak terbentur lantai marmer tersebut.
"Syukurlah, kau... " Zein baru akan merasa lega, saat Selena baik-baik saja. Berada di bawah kungkungan tubuhnya. Tapi, yang membuat Zein mendelik tak percaya.
Tangan kanan Zein, malah berpegangan pada buah d*da Selena. Dengan kata lain, ia tak sengaja meremas benda itu. Sehingga, Zein menatap dalam kebingungan nya sendiri.
"Ak,,, "
"Ini sudah jadi milik mu, tuan! " Potong Selena malah merasa santai saja. Saat salah satu buah padatnya di remas oleh Zein. Padahal, Zein ingin melepaskan tangannya dari sana. Namun, Selena malah menahan tangan suaminya.
"Apa, tuan akan membuatku menganggur. Pagi, ini? " Goda Selena dengan senyum menawan.
"Apa maksud mu? "
Selena masih tersenyum. Dan menarik ceruk leher Zein. Bibirnya menyambar benda sensual Zein. ********** dengan nakal. Walaupun, masih bar-bar dalam berciuaman. Tapi, sesapan Selena juga tidak buruk. Otak Zein, yang daritadi sudah mesum. Langsung terkoneksi begitu saja. Ia mulai membalas sesapan Selena. Hingga, keduanya lupa diri. Semakin lama ciuaman itu semakin panas. Hingga, udara di dalam kamar tersebut terasa gerah.
"Lakukanlah, tuan! " Bisik Selena dengan suara parau, saat ciuaman mereka terjeda.
"Sungguh! "
Tanpa banyak bicara, Selena malah melebarkan kedua kakinya. Dengan sedikit mendorong pelan dada bidang Zein. "Mau, mulai dari mana? " Tanyanya dengan nada sensual.
"Kau pasti akan menyesalinya! " Jawab Zein, yang langsung mundur ke bawah. Dan menatap bagian pangkalan p*ha Selena. Dengan tatapan penuh hasrat.