Devina hampir selama hidupnya mengalami mimpi buruk yang menyiksa: dikejar ular hitam besar bermata merah.
Mimpi itu semakin menjadi ketika ibunya meninggal dunia dalam kecelakaan nahas.
Dan semenjak saat itu, hidup Devina tidak pernah tenang. Satu persatu masalah berdatangan dan membuat Devina masuk semakin dalam ke dalam jerat iblis.
"Kamu milikku, hanya milikku. Itulah janjinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahesvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHILANGAN RUMAH
“Maaf, Dokter!”
Devina hanya bisa mengatakan hal itu kepada Dokter Aang setelah menyeret Dokter Aang keluar dari gedung perusahaannya.
“Aku nggak papa, Dev!” Dokter Aang mengangkat tangannya dan memberi isyarat menunjuk wajah Devina yang tadi menerima tamparan dua kali dari Rilian. “Kamu sendiri gimana? Wajahmu itu kena tamparan dua kali.”
Devina menyentuh wajahnya yang terasa panas. Ini mungkin akan bengkak! Devina memasang senyum palsu meskinya dirinya ingin menangis. Tapi karena air matanya tidak bisa keluar, Devina tidak punya pilihan selain tersenyum. “Setelah ini … aku akan mengompresnya dengan es, Dok! Dokter tenang saja. Yang penting sekarang Dokter harus pergi! Reputasi Dokter bisa memburuk jika trus di sini! Sekali lagi, maaf, Dok! Padahal Dokter banyak membantuku, tapi karena aku-“
“Devina!!” Dokter Aang mengangkat kedua tangannya dan memegang erat dua bahu Devina. “Lihat aku!!”
Devina yang sejak tadi menundukkan kepalanya karena merasa bersalah, akhirnya mengangkat kepalanya melihat Dokter Aang. “Y-ya, Dok.”
“Aku baik-baik aja.” Dokter Aang memasang senyum ramahnya yang selalu diperlihatkannya kepada semua orang. “Jangan khawatirkan aku! Aku ini dokter psikolog! Kejadian seperti ini bukan cuma satu atau dua kali terjadi padaku! Ingat itu!!”
“Ehm.” Devina menganggukkan kepalanya.
“Nanti sepulang kamu kerja, hubungi aku! Aku akan ke rumahmu dan memeriksa wajahmu itu!”
“Tapi, Dok-“
“Nggak ada tapi-tapian!! Gimana pun kamu begini juga karena aku!! Ingat untuk hubungi aku!!”
Setelah Devina mengiyakan permintaan Dokter Aang, pria yang selalu menolong Devina itu akhirnya mau pergi dari kantor Devina meski wajahnya mengatakan enggan untuk pergi karena merasa khawatir dengan Devina. Sementara itu … Rilian yang membuat ulah memalukan di lobi perusahaan, mendapatkan sanksi keras dari perusahaan. Entah itu kebetulan atau tidak, Devina tidak tahu. Tapi saat kejadian memalukan itu, Pak Raka kebetulan juga turun ke lobi lantai satu untuk menemui anaknya yang mengantarkan barang dari istrinya. Pak Raka melihat apa yang terjadi pada Devina karena Rilian dan berkat itu … Pak Raka memberikan pembelaannya kepada Devina. Di mata Pak Raka … Devina tidak bersalah sama sekali karena Devina sama sekali tidak membalas dua tamparan Rilian padanya meski merasa kesal dan malu.
Tapi karena apa yang terjadi, Devina terpaksa kena sanksi juga. Devina diminta untuk tidak masuk kerja selama tiga hari. Hukuman itu masih lebih baik karena Rilian diminta untuk tidak masuk selama seminggu lamanya dan begitu masuk, Rilian akan dipindahkan ke departemen lain.
“Maaf, Dev! Aku sudah usaha tapi kamu tetap kena sanksi juga.” Pak Raka yang sudah berusaha untuk membela Devina, hanya bisa memberikan kata maaf karena gagal menghilangkan sanksi Devina.
“Nggak papa, Pak. Lagi pula … saya juga terlibat. Tahu Bapak membela saya, itu sudah cukup membuat saya senang, Pak!” Devina memasang senyum kecilnya ketika jam kerja berakhir dan Pak Raka bicara dengannya.
“Aku bener-bener nggak habis pikir!” Pak Raka menggaruk kepalanya dan membuat rambutnya yang tertata rapi sejak pagi, akhirnya berantakan. “Gimana Rilian bisa sampe kayak gitu loh?? Padahal seperti katamu, dia sudah ditolak oleh Dokter itu! Kalo bukan karena dokter itu adalah dokter konseling dari anak direktur, Rilian mungkin sudah dipecat.”
“Dokter Aang masih membela Rilian?” Devina terkejut karena tidak percaya Dokter Aang yang sudah dipermalukan di depan umum, masih mau membela Rilian.
“Ya.” Pak Raka menggaruk kepalanya lagi dan membuat rambutnya kini terlihat seperti tersengat listrik. “Nggak heran sih! Soalnya itu dokter ganteng banget!! Kamu tahu tadi waktu Rilian mukul kamu, orang-orang awalnya penasaran dengan kamu dan Rilian! Tapi begitu melihat Dokter itu pasang badannya buat kamu, orang-orang justru sibuk mengagumi dokter itu dan mungkin sudah jatuh hati padanya detik itu juga!!”
“Eh??” Devina kaget karena teringat dirinya tadi menyuruh Dokter Aang untuk segera pergi dan ternyata semua mata yang menatap ke arahnya sedang merasa kagum dengan wajah Dokter Aang. “Pak Raka nggak bohong kan??”
“Ya nggak lah! Wong aku denger sendiri omongan mereka!! Bisik-bisik mereka itu loh, kedengaran banget!!” Pak Raka terkekeh. “Nggak heran Rilian ngeyel banget meski udah ditolak!”
“He, kayaknya gitu, Pak.” Hingga saat ini, Devina masih tidak paham kenapa banyak wanita yang menyukai Dokter Aang bahkan hanya dalam hitungan tiga detik ketika mata mereka bertemu dengan Dokter Aang.
Setelah pulang dari kantor, Decvina melihat Rilian dan mobilnya yang melaju terlalu dekat dengannya hingga Devina harus melompat sedikit untuk menghindari jika Rilian mungkin ingin menyerempetnya. Rilian pasti sangat marah sekali! Pasti sekarang Rilian merasa nggak adil sama seperti biasanya ketika situasi tidak berpihak padanya!
Devina berbalik ke belakang melihat mobil Rilian yang melaju kencang dan semakin tak terlihat oleh matanya. Pada akhirnya … aku nggak bisa mempertahankan Rilian dan persahabatan kami! Tapi bahkan jika aku ingin mempertahankannya, apa aku harus terima saja dipermalukan seperti tadi siang??
Huft!! Devina menghela napas sembari berjalan menuju motornya yang diparkir. Bahkan jika aku punya kesabaran tanpa batas, Ibuku saja tidak pernah memukulku! Tapi Rilian justru memukulku bukan satu tapi dua kali!! Dan itu alasan aku nggak bisa biarin Rilian gitu aja!!
*
Tok, tok!!
Begitu tiba di rumahnya, Devina melihat beberapa pria kekar datang ke rumahnya dan mengetuk rumahnya dengan agak kencang.
“Ya?? Bapak cari siapa??” tanya Devina begitu turun dari motornya.
“Kami ingin bertemu dengan Ibu Devina!”
“Itu saya, Pak!”
“Saya datang mengantarkan ini, Bu!” Salah satu dari dua pria yang datang ke rumah Devina, kemudian memberikan sebuah amplop kepada Devina.
“I-ini??” Devina langsung memasang wajah terkejut karena apa yang tertulis di dalam surat itu. “Bukannya pinjamananya berlangsung selama satu tahun pembayaran?? Kenapa sudah mau melelang rumah ini??”
Devina terkejut karena menemukan pinjaman sertatus juta dengan jaminan rumah milik Ainur yang ditinggalinya, kini berniat dilelang bahkan sebelum sebulan setelah Devina mengajukan pinjaman.
“Mohon maaf, Bu! Kami tidak tahu menahu mengenai keputusan. Kami datang hanya untuk mengantarkan surat itu dan meminta Ibu untuk mengosongkan rumah dalam tiga hari karena rumah ini akan dilelang minggu depan!”
Deg! Jantung Devina berdetak kencang karena membayangkan dirinya kehilangan rumah peninggalan Ainur.
Tes, tes!! Setelah dua pria yang mengantarkan surat untuk Devina pergi, Devina menangis di depan rumahnya karena tidak tahu harus berbuat apa. Tiwi!! Kamu di mana?? Devina berulang kali menghubungi Tiwi, tapi panggilannya selalu gagal. Tiwi!! Kamu di mana?? Aku butuh bantuan!! Aku nggak bisa kehilangan rumah ini karena rumah ini adalah satu-satunya peninggalan Ibu!!
“Dev?? Kenapa kamu nangis di sini??”
Devina yang sedang menangis, terkejut mendapati Dokter Aang sudah ada di depannya dan memasang wajah cemas. Tidak ingin Dokter Aang tahu mengenai masalahnya, Devina segera menghapus air matanya. “Ke-kenapa Dokter di sini??”
“Bukannya tadi siang aku minta kamu buat hubungi aku setelah kerjamu selesai?? Kamu nggak kunjung hubungi aku, jadi aku datang ke sini buat meriksa!! Tapi kenapa kamu nangis di sini??”
Devina menggelengakan kepalanya. “N-nggak papa, Dok!”
Set. Ketika Devina berusaha bangkit dari duduknya di depan rumahnya, surat lelang rumahnya jatuh dari dalam saku jaketnya.
“Apa ini?” Dokter Aang memungut surat itu dan membukanya,
“Jangan dilihat, Dok!!” Devina berusaha untuk menghentikan Dokter Aang untuk melihat isi surat itu, tapi Dokter Aang yang tinggi tubuhnya jauh cukup berbeda dengan Devina berhasil menggunakan tinggi tubuhnya dengan baik.
“Rumahmu dilelang?? Kenapa?”