Rumah sederhana yang selalu terdengar riuh gelak tawa antara seluruh penghuni rumah yang terdiri dari sepasang suami-isteri dengan ke-tiga anak mereka.kecerian itu hadir saat bocah dua tahun selalu melakukan aksinya yang diluar nalar,hal itu selalu membuat mereka tertawa.
Akan tetapi ditengah banyak rencana yang sudah disusun rapi tentang masa depan ketiga anak mereka,sebuah kejadian yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun terjadi.Dituduh menggelapkan barang perusahaan dengan jumlah yang sangat fantastis,2M.
Apa yang terjadi pada keluarga itu selanjutnya!Mampukah mereka menyelesaikan masalah itu dan tetap hidup bersama seperti biasanya.
Ikuti kisah dan perjalanan hidup mereka ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERMINA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24.Taruhan
Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah ditakdirkan untuk memiliki masalah dan cobaan berbeda.Satu pun dari manusia itu tidak tau apa yang terjadi satu menit kemudian.Begitu juga maut,ajal dan jodoh, semuanya tentu rahasia sang Ilahi.Namun tidak ada juga manusia satupun yang bisa menolak takdir itu.
Doa' terbaik yang dilangit kan setelah melakukan kewajiban kita sebagai umat NYA, tidak akan kita dapatkan semudah membalikkan telapak tangan.Ada proses ujian atau cobaan yang harus kita lewati.Cobaan itu tidak hanya datang dari keluarga,bisa jadi dari orang lain, tempat kerja ataupun ditengah perjalanan.
"Allah, lindungilah suami hamba dimana pun dia berada, jagalah kesehatan tubuhnya dalam mencari rejeki yang halal untuk kami, Amin."Mita berdoa untuk anak dan suaminya yang sampai Isya belum juga pulang, hatinya cemas apalagi belum ada kabar sama sekali.
Tidak tau kemana akan bertanya,Andi tidak pernah menghubungi temannya melalui ponsel Mita ataupun memperkenalkan teman teman pada istrinya.Lebaran saja tidak akan ada temannya yang bersilaturahmi kerumah, sebaliknya Mita juga tidak akan di ajak kerumah mereka.Aneh,tapi memang begitu sifat Andi dari dulu sebelum mereka menikah.
Cemburu.
Bisa jadi.Pertemuan mereka diawali taruhan Andi beserta teman temannya untuk bisa mengantarkan Mita berangkat kerja pada jam sepuluh malam,saat itu Mita berangkat dari rumah jalan kaki sendirian.
"Dek,aku antar boleh!"Seorang pemuda menghampiri Mita saat sedang menyisir rambut panjangnya.Mita tentu menolak,dia tidak kenal dengan pemuda itu, melihat saja baru kali ini.Siapa yang tidak curiga coba.
"Heee, tidak usah bang, terimakasih."Mencoba seramah mungkin agar pemuda itu tidak tersinggung.Mita baru satu Minggu di kota ini, namanya rejeki tidak akan kemana,dua kali melamar pekerjaan langsung diterima.Jadi dia belum sempat kenalan atau sekedar keliling sekitar tempat tinggalnya, yang dia tau hanya jalan menuju warung dan tempat kerja.
"Biar ada teman ngobrol dek dijalan, memangnya tidak takut jalan sendirian!"Tanyanya lagi, sedangkan Mita terus merapikan rambutnya sampai selesai.
"Ada Abang disimpang sana menunggu."Alasan yang masuk akal,Mita tinggal dengan kakak perempuan dan calon Abang iparnya, padahal sebenarnya biasnya Mita juga pergi sendirian, tidak pernah diantar atau dijemput,ini hanya alasan agar dia bisa pergi sendiri tanpa didampingi oleh orang yang belum dia kenal.
"Ohh,besok aku yang antar ya dek jadi abangnya tidak capek."Hahhhh mita membuang nafas lega karena akhirnya pemuda itu pergi juga.
Untuk malam ini Mita bisa aman,besok dipikirkan lagi bagaimana caranya agar bisa jauh dari lelaki itu.Tujuan dia datang ke kota ini bukan untuk dekat dengan lelaki tapi merubah nasib.Apalagi dia sudah mendengar bagaimana perangai pemuda di kota besar, mendekati perempuan hanya untuk dimanfaatkan saja.Mita tentu tidak mau dijadikan pohon uang,Aku yang kerja dia yang menikmati hasil.Itu yang ada dipikiran Mita sehingga tidak ada niat untuk dekat dengan laki-laki untuk saat ini.
"Mau kerja ya dek, barengan yuk,kita searah soalnya."Pergi satu datang seorang lagi,tapi kali ini mereka malah jalan beriringan.
"Namaku Andi."Pemuda itu mengulurkan tangan kearahnya.
"Mita, terpaksa menyambut uluran tangan Andi.Takut,apa yang membuat dia takut,jalan yang mereka lalui gelap dan bisa dibilang sepi,rumah warga berjarak dan berkelok-kelok dan tidak rata.Dia tidak mau pemuda yang disampingnya marah dan tersinggung dengan kelakuan Mita dan melakukan hal hal yang tidak diinginkan.
Sejak saat itu mereka selalu pergi dan pulang bersama, tidak bertemu hanya saat Mita masuk pagi.Mita tidak pernah keluar dari rumah jika sudah pulang kerja jam tiga kecuali mandi atau ada yang perlu dibeli kewarung,sisanya berkemas dan beristirahat dirumah.
Setahun lebih mereka seperti itu, sesekali Andi sudah berani mengajak Mita jalan saat malam Minggu sekedar makan bakso dan pergi kepantai.Tapi tidak pernah ada terucap kata jadian atau maukah kamu jadi pacarku, seperti cerita teman teman Mita ditempat kerja saat mereka kumpul makan siang.
Tak jarang pula teman Mita bertanya apa hubungan mereka berdua.Jawaban Mita tentu hanya sekedar teman.
"Ya teman tapi mesra."Mungkin itu yang pas untuk mereka.Andi pernah jalan dengan gadis lain Mita tidak masalah,tapi jika Mita yang pergi dengan teman kerjanya Andi pasti meradang.
"Dek,tau gak.Aku pernah taruhan dengan Edi hanya untuk bisa mengantarkan kamu pergi kerja."Suatu sore saat mereka tengah duduk di batu besar sambil menikmati angin sambil memandang ombak di tepi Pantai.Kening Mita mengerut mendengar pernyataan itu.
Apa maksudnya, taruhan, apaan sih bang."Mengubah posisi agar bisa melihat wajah Andi, matanya berkedip melihat kearah Mita yang menunggu jawaban darinya.
"Ya, siapa yang bisa mengantarkan kamu berangkat kerja untuk pertama kalinya akan mendapatkan sebungkus rokok."Andi diam dan mengalihkan pandangan kearah laut luas.Tidak berani menatap wajah Mita yang terlihat marah.
Siapa yang tidak marah mendengar pernyataan seperti itu.sebungkus rokok,murah banget.Tapi kan itu sudah lama berlalu lagian kan selama ini Andi tidak pernah melakukan hal-hal aneh padanya.
"Kamu marah ya,"
"Ia,aku marah banget,masa hanya sebungkus rokok,gak bisa satu slop gitu biar kita bagi dua."Mata Mita membuat Andi terperanjat dan memegang tangan Mita,tapi langsung ditarik Mita cepat.Meski mereka sudah lama kenal tapi untuk bersentuhan seperti itu tentu masih sungkan untuk nya.
"Untuk apa,aku tidak suka sama perempuan yang merokok, jangan sampai pernah aku lihat adek merokok."Hmmmm Andi meletakkan telapak tangan kewajah mita.Disaat mereka tengah asik bermain air ditepi pantai Andi bertemu dengan beberapa temannya.
Mita yang cepat akrab dengan teman Andi tertawa dengan candaan mereka menyebut akan datang kerumah saat malam minggu tiba.karena mita juga bilang dia dan Andi hanya berteman.
"Kok ayah belum pulang ya?kok lama sih,coba telpon wak kantin ma,tanya kemana ayah, sudah malam lho,ayah kan gak bawa obat."Suara itu membuyarkan semua ingatan Mita pada saat perkenalan dia dengan sang suami. Perkenalan yang menurutnya diluar nalar tetapi itulah yang terjadi diantara mereka.
"Eh ia,ambil ponsel mama."Sibuk melamun dia malah lupa pada suaminya yang belum pulang sampai sekarang.Kenapa pula malam ini dia teringat masa lalu, kenangan terindah dengan sang mantan yang sekarang jadi suaminya.
Cemas kembali mendera, beberapa kali menghubungi nomor kakak kantin tidak diangkat juga, padahal berdering.Hatinya semakin tidak karuan, tidak pernah Andi seperti ini.
Allah, apa yang terjadi padanya, bawa kembali ke rumah kami,Mita membatin dan berharap agar Andi segera kembali pulang kerumah mereka.
komen dan dukungan anda sangat penting buat ku.terimakasih.
boleh kasi saran, dengan senang hati akan diperbaiki jika ada yang salah.