Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Hati Yang Patah (Membawa Benih CEO)

Cinta Untuk Hati Yang Patah (Membawa Benih CEO)

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Hamil di luar nikah / Gadis Amnesia / Angst / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Tamat
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: jnxdoe

Impian Kara hanya satu, menjadi designer ternama yang dapat mengeluarkannya dari lingkaran kebencian di sekitarnya. Ia telah ditolak keluarga kandungnya sendiri. Ia mendapat kekerasan yang seharusnya tidak pernah dialaminya. Dan ia terpaksa mel*curkan diri untuk sesuatu yang sia-sia saja.

Harapannya hancur saat ia kehilangan satu-satunya yang berharga dalam hidupnya, darah dagingnya sendiri.

13 tahun kemudian, di saat kakinya baru dapat berdiri kembali untuk menghadapi dunia, lagi ia dihadapkan pada masa lalu yang dulu pernah menghancurkannya hingga luluh-lantak.

Apakah Kara akan bertahan untuk tetap tegak berdiri, atau justru menyerah dan memilih satu-satunya jalan yang ia tahu dapat menjadi sumber pelarian terakhirnya dari dunia?


Song of the day: Eminem - Mockingbird

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jnxdoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 - "Aku tidak Hamil!"

Hampir 10 hari sejak Adrian tidak ada kabar, pria itu tidak memberi penjelasan apa pun saat datang lagi ke apartemen. Saat Kara membuka pintu, lelaki itu langsung menerjangnya dengan ciuman membabi-buta dan langsung menyeretnya ke kamar tidur. Di sana, ia langsung dig*gahi dengan cukup ganas dan brutal.

Butuh waktu berjam-jam ia harus melayani Adrian hingga pria itu puas dan jatuh tertidur.

Setelah membersihkan diri, Kara duduk di meja makan. Ia sebenarnya letih, tapi tidak ada niatan untuk tidur seranjang dengan pria itu. Hati dan pikirannya sangat kalut saat ini.

Menatap test pack di tangannya, gadis itu sangat bingung menghadapi situasi yang dihadapinya.

Apakah dia harus jujur pada Adrian? Atau harus berbohong?

Pintu kamar yang terbuka membuat Kara terburu-buru mengantongkan benda kecil itu ke sakunya.

"Kamu sudah bangun?"

"Aku lapar sekali. Kamu ada makanan?" Suara lelaki itu sangat serak dan tampangnya capek.

"Ada sisa makanan tadi malam. Sebentar aku panaskan dulu."

Menunggu makanan itu dipanaskan, Adrian duduk di sofa dan menyelonjorkan kakinya. Ia masih memakai kaki prostetik-nya. Pria itu tidak melepasnya tadi.

"Kara. Kemarilah."

Gadis itu hampir duduk di sofa saat Adrian menghelanya ke atas pengkuannya. Pria itu memeluk erat.

"Hmmh... Aku rindu baumu... Kamu tidak tahu, aku hampir gila selama 10 hari tidak bisa memelukmu..."

Pengakuan itu membuat d*da gadis itu berdebar-debar. Ada setitik kebahagiaan dalam hatinya. Tangannya mengusap-usap rambut pria itu yang lebat dan lurus sempurna.

"Aku juga rindu kamu..."

Bibir panas Adrian mulai menelusuri leher gadis itu yang jenjang dan memberikan kecupan basah. Hampir saja mereka berciuman, saat dentingan microwave mengalihkan perhatian keduanya.

"Sudah matang. Ayo kita makan."

Melihat tampang pria itu yang loyo, Kara terkekeh pelan. Ia menarik kedua tangan Adrian dan berusaha menghela tubuh besar lelaki itu yang malas-malasan untuk berdiri dari sofa.

"Ayolah, Adrian. Aku tidak akan pernah sanggup memangkumu."

Barulah pria itu tertawa dan memeluk bahu Kara. Ia memberikan kecupan kilat.

"Thanks, Kara. For everything."

Kata-kata itu terasa sangat tulus dan kembali, secercah harapan mulai mekar dalam hati gadis itu.

Tapi apa yang diharapkannya, ternyata tidak sesuai dengan kenyataanya beberapa menit kemudian.

Ia baru selesai mengeringkan piring-piring bersih, saat terdengar pertanyaan Adrian dari arah belakangnya.

"Apa ini?"

Bola mata Kara yang berwarna biru sedikit melebar melihat benda pipih yang ada di tangan pria itu.

Kapan benda itu jatuh?

"Itu-"

Tangan Adrian menghentakkan benda itu ke meja makan. Wajahnya menggelap.

"Jangan bilang kalau kau hamil, Kara! Sekarang bukan saatnya kau main-main dengan punya anak!"

"Main-main?"

"Kau tidak hamil, kan!? Kau rutin datang konsultasi ke dokter kandungan, kan? Kau minum pil KB, bukan?"

Pertanyaan beruntun itu membuat Kara bungkam. Ia tahu, ia seharusnya datang ke dokter kandungan segera setelah dirinya berhubungan s*ks dengan Adrian. Pria itu pun telah mengingatkan beberapa kali.

Tapi kejadian demi kejadian dengan ayahnya, kakak perempuannya dan juga ibunya, membuatnya sempat depresi hingga sulit berkonsentrasi beberapa waktu. Ia baru mengingat kewajibannya ini beberapa hari lalu saat ia ternyata menemukan dirinya telah hamil.

"KARA!!"

Sentakan itu membuat tubuh Kara sedikit terlonjak. Ia balas menatap Adrian tajam.

"Kalau kau takut aku hamil, seharusnya kau berfikir memakai pengaman tiap kali kau mengg*uliku, Adrian! Seharusnya sebagai pria berpengalaman, kau tahu resikonya saat pria dan wanita tinggal bersama!"

"Jangan pernah mengancamku, Karalyn Kennedy! Kau, aku bayar untuk berhubungan s*ks denganku! Jangan menilai dirimu terlalu tinggi hanya karena kita tinggal satu atap! Kau tidak ada artinya dalam hidupku!"

Pria itu dengan gusar masuk ke kamar tidur dan keluar lagi dengan memakai kemejanya asal. Ia menarik kesal resliting celana jins-nya.

Setelah mengantongkan kunci mobilnya, Adrian mencekal lengan atas Kara cukup kasar.

"Ayo!"

"Kau mau membawaku kemana?"

"Rumah sakit. Kita pastikan kau tidak hamil sekarang juga!"

"Ti- Tidak! Aku tidak hamil!"

"Aku tidak percaya! Kalau memang ada sesuatu dalam perutmu, sekarang juga aku akan minta dokter untuk langsung menggugurkannya!"

"AKU TIDAK HAMIL!!" Sekuat tenaga, Kara menghentakkan lengannya lepas dari cekalan Adrian.

Dua orang yang baru beberapa menit lalu terlihat mesra, kini berhadapan seperti musuh bebuyutan.

Rahang Adrian mengeras dan pria itu mengepalkan kedua tangannya kencang.

"Kara-"

Tanpa berkata-kata, Kara menyambar benda pipih itu dari meja dan membuangnya kasar ke tong sampah.

Ia memandang pria di depannya dan berkata dingin, "Aku bilang aku tidak hamil, Adrian! Aku juga tidak akan pernah hamil anakmu! Kau jangan khawatir!"

"Kalau kau tidak hamil, lalu apa itu-"

"Hanya cek rutin. Hasilnya negatif."

Mata kaca pria itu mulai menyipit. Ia bukan orang bodoh. Beberapa kali dulu pernah ada wanita-wanita yang ingin menjebaknya dengan cara-cara b*ngsat seperti tadi. Ia tahu caranya membaca test pack. Seingatnya, benda pipih itu tadi menggambarkan dua garis berwarna merah.

"Aku tidak percaya kata-katamu. Aku-"

Kata-kata pria itu terhenti saat terdengar deringan ponsel dari kantongnya. Ia menjawab refleks, "Halo?"

Kedua alis gelap Adrian berkerut dalam. Tampang pria itu tegang dan kaku.

"Baik, papa. Aku akan ke sana sekarang!"

Menyimpan lagi ponselnya ke kantong, pria itu hampir saja langsung keluar saat teringat sesuatu. Ia berbalik ke arah sosok yang masih mematung di depannya.

Tangannya membuka dan mengepal beberapa kali, sampai pria itu mendekati Kara dan mengecup dahinya.

"Aku harus pergi ke LA entah untuk berapa lama. Ada kebakaran besar di sana. Kita akan bicarakan lagi soal ini setelah aku kembali dari sana. Jaga dirimu."

Setelah itu Adrian langsung masuk ke dalam lift, dan pintu besi itu kembali tertutup.

Ditinggalkan sendirian, perlahan Kara berjongkok dan mengambil lagi test pack yang tadi dibuangnya. Gadis itu kembali duduk di kursi makan dan memandangi benda itu nanar.

'Kau, aku bayar untuk berhubungan s*ks denganku! Jangan menilai dirimu terlalu tinggi hanya karena kita tinggal satu atap! Kau tidak ada artinya dalam hidupku!'

'Kau tidak ada artinya dalam hidupku!!'

Perkataan pria itu terngiang-ngiang di telinga Kara dan gadis itu menutup kedua matanya rapat.

Sesaat dia lupa. Dengan tidak tahu malunya, ia telah lupa. Dia telah dibayar untuk menjadi p*lacur seorang pria bernama Adrian Manfred. Sampai kapan pun, Adrian akan menganggapnya seorang gadis murahan yang ia bayar untuk s*ks. Gadis miskin yang akan melakukan segalanya demi uang.

Pemikiran itu pun semakin tertanam dalam diri gadis malang itu, saat beberapa minggu kemudian ia melihat berita heboh di layar ponselnya.

"Sang ahli waris K Group yang berhasil bangkit dari kematiannya, kini dipertemuan kembali dengan mantan kekasihnya dulu. Seorang model terkenal, Gigi Hammond dalam sebuah peristiwa tidak terduga. Apakah tali kasih yang sempat putus dulu, akan terangkai kembali karena peristiwa ini?"

Dalam video singkat itu, terlihat pasangan rupawan itu saling berciuman dan juga bergantengan tangan. Dua orang itu seperti pasangan kasmaran yang tertawa cerah. Beberapa kamera wartawan mengabadikan momen-momen kebersamaan keduanya saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.

Meski tahu itu adalah potongan-potongan video lama, tetap saja hati Kara ter*mas sakit.

"Tuan Krieger. Apakah tujuan Anda datang ke LA ini adalah khusus untuk menemui nona Hammond?"

Tampang pria tampan di layar itu terlihat kaku dan dingin.

"Selain untuk mengunjungi beberapa pemegang saham dari K Group yang terdampak karena kebakaran ini, saya tidak ada kepentingan lain untuk datang ke LA."

"Apakah benar, tuan Krieger? Karena-"

"Manfred!"

Entah dari mana, tapi di layar muncul sosok seorang wanita yang sangat cantik dan langsung memeluk lengan Adrian yang berdiri kaku di sebelahnya.

Senyuman wanita itu cerah dan tanpa basa-basi, langsung memberikan ciuman panjang ke pipi Adrian.

"Terima kasih sudah bertanya. Hubungan aku dengan Manfred-"

Tidak tahan lagi, Kara mematikan ponsel itu dan tersenyum getir.

Mereka pasangan yang cocok. Kau ini hanya serpihan debu dalam hidup Adrian Manfred, Kara. Lupakan pria itu. Dia berada jauh di atasmu, dan sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa menjangkaunya.

1
nokdenok
cerita bagus,,tapi sayang tinggal tulis nama aja pake muter2,,bikin ilfil
nokdenok
awal baca,, Bagus
Endang Sulistia
bagus banget Thor....
Endang Sulistia
happy ending yg bikin nyesek Thor....
bagus bnget
Endang Sulistia
sedih ...😭😭😭😭😭
Endang Sulistia
waaoo...
Endang Sulistia
baru tau Steven si kampret...🤣🤣🤣🤣
Endang Sulistia
hebat papa dorian..lelaki sejati
Endang Sulistia
waahhh..,..
Endang Sulistia
Adrian tantrum takut banyak yg naksir kara.....
Endang Sulistia
segitu detailnya Adrian..othornya pinter ih...
Endang Sulistia
langsung keluar tanduk si kara...
Endang Sulistia
tampol pake sepatu kara...
Endang Sulistia
grup sakit jiwa
Endang Sulistia
si papa ...🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
semangat kara
Endang Sulistia
gpp kara...
Endang Sulistia
hajar si kampret kara..
Endang Sulistia
banyak dosa sih Lo bro...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!