Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Cahaya pagi menyusup lembut lewat tirai apartemen yang terbuka setengah. Angin tipis membuat kain putih itu melayang sedikit, bagai desahan halus sebuah rahasia. Matahari menorehkan garis-garis keemasan di atas sprei yang kusut, membelai perlahan kulit telanjang Zaira, seakan hendak membangunkannya dengan kelembutan. Kehangatan yang lambat itu menelusuri lekuk punggungnya yang terbuka, menyalakan kontras bentuk tubuhnya di antara bayang-bayang kamar.
Zaira bergerak samar, masih terbenam dalam kantuk sisa semalam. Kasur di bawahnya masih hangat, kulitnya masih beraroma hasrat, anggur merah, dan janji-janji yang patah. Panas tubuhnya tersimpan di balik selimut... tapi sisi ranjang yang lain terasa dingin.
Kosong.
Getar dingin menjalar sepanjang tulang punggungnya, memecah selubung tidurnya seperti kaca yang pecah di lantai.
Ia membuka kelopaknya perlahan. Berkedip, masih bingung, kelopak matanya berat seolah memikul beban mimpi yang runtuh.
"Leonardo?" gumamnya dengan suara serak, terseret, seakan menyebut nama seorang hantu. Ia menjulurkan tangan ke sisi ranjang yang lain, menyentuh bantal kosong dengan jemari yang gemetar. Yang terasa hanya dinginnya kain. Cekungan bekas ketiadaannya.
Hampa.
Sunyi yang memenuhi kamar itu terasa mencekik. Pekat. Tak tertahankan. Hanya deru lalu lintas pagi dari kejauhan, kicau lirih sepasang burung di balkon, dan dengung mesin pendingin ruangan yang menemani kebingungannya. Tapi tak satu pun dari itu adalah dirinya.
Zaira tersentak bangkit, dengan jantung berdebar keras, mendekap sprei ke dada telanjangnya seolah bisa menutupi kerentanan yang membanjirinya.
Ia mengedarkan pandangan, kehilangan arah, menyapu tiap sudut kamar seolah mencari bukti bahwa apa yang mereka lalui bukan fatamorgana.
Tak ada jejak lelaki itu.
Sepatunya sudah tak ada lagi di samping ranjang.
Jaket yang tadinya tersampir di sandaran kursi lenyap, seakan dihapus dari adegan itu.
Dan aroma memabukkan parfumnya, wangi kayu yang tajam dan maskulin yang semalam membungkusnya bagai selubung, memudar seiring berlalunya jam. Kini, sebagai gantinya, hanya tersisa bau sprei yang bercampur, bau bercinta, bau kesepian.
Zaira menelan ludah dengan susah payah, merasakan simpul yang perlahan mengetat di kerongkongannya, kencang, berduri, kejam.
Lelaki itu telah pergi. Tanpa meninggalkan pesan. Tanpa sepatah kata. Tanpa satu pun "selamat tinggal" yang keparat itu.
Ia mengatupkan bibir, matanya berkilau dengan campuran perih antara tak percaya dan amarah. Ia belum menangis. Belum bisa. Seolah tubuhnya masih berusaha mencerna hal yang sudah jelas di depan mata. Ia menggeser kakinya turun dari ranjang dengan gerakan lambat, mekanis. Dingin.
Setiap langkah saat memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai terasa seperti tamparan bagi harga dirinya. Bra yang tergeletak di kaki ranjang. Gaunnya yang kusut di sandaran kursi. Setiap helai yang ia pungut adalah sebuah kenangan, gema belaian, desahan, tubuh lelaki itu yang membenamkan diri ke dalam tubuhnya seakan dunia berakhir di situ.
Cermin kamar mandi memantulkan seorang perempuan dengan rambut acak-acakan, bibir yang masih membengkak oleh ciuman yang beberapa jam lalu membuatnya bergetar, dan mata yang berkaca-kaca, letih, hancur.
Ia merapikan rambut dengan jemari gugup, mencoba menaklukkan kekacauan di kepalanya. Sebisa mungkin ia hapus jejak malamnya: membasuh kulit dengan air sedingin es, menggosok sisa maskara di bawah matanya, lalu memaksakan senyum yang hampa.
Ketika ia keluar dari apartemen, langkahnya bergaung keras di koridor yang sunyi. Setiap gema adalah penegasan yang kejam: ia sendirian. Sekali lagi.
Lift turun dengan lambat, dan ia mendekap dirinya sendiri di dalam kotak logam sempit itu, seakan tubuhnya sendiri adalah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Dingin baja menembus tulangnya. Ia memejamkan mata sejenak dan menelan tangisnya, mendorongnya kembali ke tempat yang paling menyakitkan.
Sesampainya di rumah, matahari sudah menerangi dinding depan berwarna krem dengan tanaman gantung yang mekar malu-malu. Pakis dan bugenvil menari diembus angin, tak peduli pada badai yang ia bawa di dalam dada.
Pintu berderit saat menutup di belakangnya. Ia masuk berjingkat, seolah tak ingin mengusik kedamaian rumah yang hanya semu.
"Zaira?" seru ibunya dari dapur.
"Iya, Ma. Aku lari pagi sebentar. Sebentar lagi turun," jawabnya cepat, menyembunyikan suaranya di balik kenormalan yang dibuat-buat. Kebohongan itu menggores kerongkongannya.
Ia naik seperti seorang buronan, mendekap tas ke dadanya. Setiap anak tangga adalah pertempuran agar tak runtuh. Dirasakannya air mata mendesak keluar, tenggorokan tercekat, jantung terhimpit.
Ketika akhirnya sampai di kamarnya, ia menutup pintu dengan bunyi tumpul dan membiarkan tubuhnya merosot bersandar padanya, kehabisan tenaga.
Dan saat itulah, ia runtuh.
Air mata mengalir tanpa izin. Panas, deras, membasahi pipinya dalam tangis yang bisu namun mencabik-cabik. Ia terjatuh berlutut di atas karpet dan menyembunyikan wajah di antara kedua tangannya.
"Aku bodoh sekali..." bisiknya di sela isak. "Apa yang ada di kepalaku?"
Ia merasa telah dimanfaatkan. Dipermalukan. Seperti sebuah benda yang dipinjam seseorang untuk semalam lalu dikembalikan tanpa perasaan. Seperti sebuah kisah yang terputus tanpa akhir, tanpa penjelasan, tanpa rasa hormat.
Seperti salah satu dari sekian banyak perempuan yang di mata Leonardo Santos hanyalah tubuh yang siap ia pakai. Dibayar. Sekali pakai buang.
Meski semalam lelaki itu tak memperlakukannya seperti itu. Meski belaiannya terasa nyata. Meski kata-katanya, bisikan di dekat telinganya, jemarinya yang menelusuri hingga ke jiwanya... tampak sungguh-sungguh.
Semua itu, pikirnya kini, pasti hanya bagian dari permainan. Permainan lelaki itu.
Ia hanyalah pengalih perhatian. Tubuh muda untuk melupakan... entah apa yang lelaki itu sembunyikan di balik topeng rayuannya yang elegan.
Ia bangkit dengan susah payah. Kakinya gemetar. Ia duduk di ranjang, menarik napas lewat hidung, merasakan perih tangis membakar kulitnya. Ia mengusap wajahnya.
Ia tak boleh membiarkan ini menghancurkannya. Tidak untuk kali kedua.
Jantungnya masih berdebar keras, tapi kali ini bukan karena hasrat... melainkan karena amarah. Karena harga diri.
Lalu, ia teringat ponsel yang diberikan lelaki itu.
Ia mengeluarkannya dari tas. Ponsel itu mahal, elegan, masih tersimpan dalam kotak mewahnya. Hitam berkilau, canggih. Dingin. Seperti lelaki itu.
Ia menyalakannya. Layar menyala dengan cahaya yang hambar. Tanpa pesan. Tanpa jiwa. Sebuah mesin sempurna untuk mengendalikan jarak.
Ia langsung membuka daftar kontak. Hanya ada satu.
Leonardo Santos.
Zaira menatap layar sejenak, ragu. Ibu jarinya menggantung di atas nama itu, gemetar tipis.
Lalu ia menyuntingnya.
Nama kontak: "Suggar-ku".
Ia menatapnya sebentar. Bayangan dirinya di layar menampilkan senyum pahit, miring, sarat sinisme.
"Itu memang dirimu, kan?" gumamnya dengan suara serak. "Hanya itu."
Seorang lelaki berkuasa. Kaya. Penuh misteri. Yang mengangkatnya keluar dari lubang kesulitan ekonomi. Yang membayarnya. Yang menginginkannya. Tapi yang tak akan pernah... tak akan pernah memandangnya sebagai sesuatu yang lebih.
Bukan sebagai perempuan sungguhan. Bukan sebagai seseorang yang layak dikasihi. Apalagi dicintai.
Dan ia tak akan mengulangi kesalahan mengidealkannya lagi.
Ia menegakkan tubuh. Ia mengikat rambutnya menjadi kuncir tinggi yang kencang, bagai sebuah perisai. Ia menatap ke luar jendela. Matahari bersinar terik, tak acuh pada kesedihan yang melandanya. Tapi cahaya itu juga membawa kejernihan.
Zaira menarik napas panjang, dalam-dalam. Udara membakar paru-parunya, tapi juga membersihkan jiwanya.
Ia melangkah ke lemari pakaian. Diambilnya baju yang nyaman, ia mandi hingga menghapus setiap jejak lelaki itu. Ia berias dengan tangan mantap, menggarisi matanya penuh keteguhan, seakan mempersenjatai diri untuk berperang.
Ia kembali menatap cermin.
Ia bukan lagi gadis yang tertidur dalam pelukan Leonardo sambil berpikir bahwa mungkin... hanya mungkin... ia bisa menjadi istimewa baginya.
Kini ia adalah perempuan yang memahami aturan permainan.
Dan ia tak akan membiarkan perasaannya sendiri merenggut nyawanya.
"Baiklah, Leonardo Santos," ucapnya pelan, dengan tatapan dingin dan bulat. "Aku akan menjadi apa pun yang kauharapkan, aku akan menikmatinya sama seperti kau. Tapi kau takkan pernah melihatku runtuh."
Sebab kalau ia harus menjadi "sugar baby"-nya, ia akan menjadinya. Tapi tak akan pernah menjadi perempuan bodoh yang jatuh cinta padanya.