Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 :
Arton membeku seketika saat mendengar suara teriakan itu.
"Tuan! Di atas sini!" teriak Leila dari atas pohon dengan sisa-sisa tenaganya.
"Leila...?" gumam Arton tak percaya.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, pria itu langsung bergegas membelah kegelapan mendatangi sumber suara. Ia menyalakan senter di tangannya dan mengarahkan sorot cahayanya lurus ke atas dahan pohon besar tersebut.
"Leila!" teriak Arton dari bawah pohon, matanya membelalak menatap sosok gadis yang selama ini dicarinya. "Kamu..."
Leila terpaku sesaat di atas sana. Tatapannya terkunci pada pria yang berdiri di bawah sorotan lampu. Syok dan tak menyangka akan bertemu Arton di tempat seperti ini, pelukannya pada tubuh Elia mendadak sedikit mengendur.
Goyangan kecil itu membuat tubuh Elia yang sudah lemas kehilangan keseimbangan dan hampir saja merosot jatuh ke bawah!
"E-Eehhh... Maaf!" bisik Leila panik tepat di telinga Elia, refleks menarik kembali tubuh gadis itu sebelum Elia benar-benar terjun bebas dari ketinggian pohon.
"HELENA!" teriak Alex histeris dari bawah, memotong momen nostalgia Arton dan Leila yang baru saja terpaut. Jantung Alex serasa mau melompat keluar melihat tunangannya hampir terjatuh.
"Tuan, cepatlah! Helena kehilangan banyak darah, dia hampir pingsan!" teriak Leila memberitahukan kondisi Elia yang makin kritis.
"Hampir pingsan...?" ulang Alex dengan raut wajah penuh kepanikan dan amarah yang menumpuk. Pria itu menyapu pandangan ke sekitar batang pohon yang tinggi dan licin.
"Nggak ada tangga, nggak ada alat bantu apa pun. Paman bakal sulit membantu Helena turun dari sana," ujar Arton menyuarakan kendala lapangan.
"Aku tahu—"
"Gue bisa... gue masih bisa bergerak..." Suara Elia terdengar sangat lirih dan serak dari atas dahan, mencoba memaksa tubuhnya bergerak sendiri.
"Jangan! Jangan bergerak, Helena! Semakin banyak kamu bergerak, akan semakin banyak darah yang keluar!" bentak Alex tegas membantah, suaranya gemetar menahan rasa takut kehilangan gadis itu.
"Gue bisa... percaya sama gue—"
"Enggak!" potong Alex mutlak.
"Maaf menyela, Tuan. Apa kalian memiliki tali?" tanya Leila tiba-tiba memutus perdebatan mereka dari atas.
"Ada!" jawab Arton cepat tanpa ragu.
"Panjang?"
"Iya, panjang!" jawab Arton lagi, siap siaga.
"Tali itu bisa jadi media untuk membantu Helena turun, Tuan. Anda bisa memanjat ke sini, menggendong Helena, dan mengikat tubuhnya saat membawa dia turun perlahan!"
"Bagus! Lempar talinya ke atas sekarang!" seru Alex gesit.
Tanpa membuang waktu, Arton menyambar tali tambang tebal dari mobil pelacak dan melemparkan ujungnya ke dahan pohon. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Leila menangkap tali tersebut dan mengikatkan pangkalnya pada dahan yang paling kokoh sebagai tumpuan penahan beban.
Sementara itu, Alex sudah bergerak memanjat pohon besar tersebut dengan cekatan. Pria berjas mahal itu sama sekali tidak memedulikan pakaian mewahnya yang kini tercabik dan penuh noda tanah. Di pikirannya saat ini, hanya ada satu hal: menyelamatkan Helena.
Dalam hitungan detik, Alex berhasil menyusul sampai ke dahan tempat kedua gadis itu berada.
Napas Alex tersengal saat matanya menatap langsung wujud tunangannya. Wajah Elia sudah sepucat kertas, bibirnya mengering, dan ikatan kain di betisnya sudah basah kuyup oleh darah merah pekat.
"Helena..." panggil Alex pelan, nada suaranya gemetar menahan amarah sekaligus kepedihan mendalam.
Elia mengangkat kelopak matanya yang terasa amat berat. Penglihatannya mulai kabur berbayang. "A-Alex... lu lama banget..." bisiknya sangat lirih, hampir tak terdengar.
"Maafkan aku, Sayang... Aku di sini sekarang," ucap Alex penuh penyesalan.
Dengan sangat hati-hati, Alex melingkarkan tali pengaman di pinggangnya dan pinggang Elia, memastikan ikatan itu mengunci tubuh gadis itu rapat-rapat di dadanya. Alex menggendong Elia di bagian depan tubuhnya, sementara Leila membantu menahan posisi badan Elia dari belakang.
"Arton! Tahan tali penahan di bawah!" teriak Alex tegas.
"Siap, Paman!" Arton bersama dua anak buahnya mencengkeram erat ujung tali bawah untuk menahan tumpuan beban.
Alex mulai merayap turun perlahan meniti batang pohon, memeluk Elia sangat erat dengan satu tangan sementara tangan lainnya mencengkeram tali dan ceruk kayu. Leila menyusul memanjat turun tepat di belakang mereka.
Tepat saat pendaran kaki Alex menyentuh tanah lapang di bawah pohon, ketegangan Elia merendah total. Rasa aman yang tiba-tiba melingkupi dadanya membuat kesadaran gadis itu ambruk seketika.
Drap!
Kepala Elia terkulai pasrah di dada bidang Alex. Matanya terpejam rapat, dan kedua tangannya terkulai lemas tanpa daya.
"Helena? Helena!" Alex menepuk-nepuk pipi Elia yang terasa semakin dingin. Tidak ada respons. Gadis itu telah pingsan sepenuhnya akibat pendarahan hebat.
"Bos! Nona Helena kehilangan banyak darah, detak nadinya melemah!" teriak Rayyan yang memeriksa pergelangan tangan Elia dengan panik.
"Buka jalan! Rayyan, jalankan mobil sekarang juga! Ke Rumah Sakit Medika sekarang!" bentak Alex menggelegar, matanya menyala merah menahan kepanikan luar biasa.
Pria itu langsung memapah dan membawa Elia dalam garapan tangannya, berlari kencang menuju SUV hitam yang mesinnya sudah meraung. Alex melompat ke kursi belakang tanpa melepas dekapan tubuh lemas Elia.
Di sisi lain, Arton merengkuh pundak Leila yang juga tampak gemetar lelah. "Leila, kamu ikut aku di mobil kedua!" tegas Arton dengan pandangan yang sulit diartikan. Leila hanya bisa mengangguk pasrah, melirik cemas ke arah mobil Alex yang sudah melaju kesetanan membelah malam.
Brummm! Screechhh!
Mobil SUV yang dikendarai Rayyan membelah jalanan Kota A seperti kesetanan. Sirine darurat dipasang di atap mobil, menerobos setiap persimpangan lampu merah tanpa peduli.
Di kursi belakang, suasana terasa amat mencekam.
"Helena... buka matamu. Jangan tidur!" bisik Alex frustrasi. Pria penguasa bisnis yang biasanya selalu berhati dingin dan tenang itu kini gemetar hebat. Ia menekan luka di betis Elia menggunakan sapu tangannya untuk menahan aliran darah, sementara tangannya yang lain merengkuh erat kepala gadis itu ke dadanya.
"Rayyan! Lebih cepat lagi! Kenapa lama sekali?!" bentak Alex murka ke arah kursi depan.
"Ini sudah kecepatan maksimal, Bos! Lima menit lagi kita sampai!" sahut Rayyan panik seraya terus menekan klakson membubarkan barisan kendaraan di depan.
"Bertahanlah, Helena... Aku mohon, jangan tinggalkan aku..." gumam Alex lirih tepat di dahi Elia. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Alex Cassian Veradoux, air mata kecemasan menetes membasahi pipi dingin tunangannya.
Screeechhh!
Mobil berhenti mendadak tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Medika Utama.
Belum sempat pintu dibuka dari luar, Alex sudah mendorongnya kasar. Pria itu menggendong tubuh Elia yang tak berdaya dan berlari masuk melewati pintu kaca rumah sakit.
"DOKTER! CEPAT TOLONG DIA!" teriak Alex menggelegar hingga memenuhi seluruh ruang lobby IGD.
Tim medis dan dokter jaga langsung sigap mendorong brankar besi mendekati Alex. Pria itu meletakkan Elia di atas brankar dengan jemari yang masih enggan melepas genggaman tangan gadis itu.
"Pasien kehilangan banyak darah akibat luka robek dalam! Tekanan darahnya memburuk!" teriak dokter jaga setelah mengecek pupil dan nadi Elia secara kilat. "Bawa ke ruang tindakan darurat sekarang! Siapkan kantong darah golongan O!"
Brankar didorong cepat menyusuri koridor. Alex terus menggenggam jari-jari Elia yang makin dingin, ikut berlari di samping brankar.
"Maaf, Tuan! Anda harus menunggu di luar!" tahan seorang perawat saat brankar hendak menembus pintu ganda ruang tindakan.
"Dia tunangan saya! Biarkan saya masuk!" bentak Alex murka.
"Tuan Alex, tolong tenang! Biarkan dokter bekerja, atau kondisi Nona Helena justru semakin bahaya!" potong Rayyan yang baru tiba, langsung memegang kedua bahu atasaannya dari belakang untuk menahan langkah Alex.
Pintu ganda ruang tindakan pun tertutup rapat. Lampu merah tanda operasi di atas pintu menyala terang.
Alex berdiri membeku di depan pintu. Pria itu menatap telapak tangannya sendiri yang kini berlumuran noda darah kering milik Elia. Dadanya naik turun tidak beraturan, diliputi kecemasan hebat yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Bersambung 🫰🏻🤗