Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Kemenangan Sang Ratu
Atmosfer di dalam ruang rapat utama kediaman Pratama begitu tegang hingga terasa hampir meledak. Bau asap cerutu mahal milik Kakek Silas membubung kaku di udara, bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan yang menusuk tulang. Di sepanjang meja mahoni raksasa sepanjang sepuluh meter, seluruh jajaran direksi senior, pengacara klan, dan pemegang saham utama duduk kaku dengan raut wajah cemas.
Skandal pemecatan Bibi Sarah dan Aris dua hari lalu telah meruntuhkan stabilitas bursa saham, membuat nilai kapitalisasi Pratama Group merosot tajam.
Kakek Silas duduk tegap di kepala meja. Tangan tuanya yang dipenuhi keriput mencengkeram erat kepala tongkat naga berbahan perak murni. Mata sang Patriark memancarkan kilatan kebencian yang dipenuhi kalkulasi licik.
Hari ini adalah tenggat waktu pertama dari pertaruhan mustahil yang ia rancang sendiri. Di mata sang penguasa tua, Clarissa hanyalah seorang wanita naif yang sebentar lagi akan merangkak pulang dari Singapura membawa kekalahan memalukan.
"Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi," suara Kakek Silas bergaung berat, memecah keheningan yang mencekam. Ia melirik jam saku emasnya, lalu mengetukkan tongkat naganya ke lantai marmer dengan dentuman keras.
TAK!
"Wanita itu belum juga memperlihatkan batang hidungnya. Sesuai dengan perjanjian tertulis kita, ketidakhadirannya detik ini menandakan kegagalan mutlak. Tulus, siapkan surat pengusiran Clarissa dan pencabutan seluruh akses hukumnya!" perintah Kakek Silas dengan nada dingin tanpa ampun.
"Tunggu dulu, Kakek Silas."
Brak!
Pintu ganda setinggi tiga meter di ujung ruangan terdorong hebat dari luar. Suara langkah sepatu hak tinggi beradu tegas dengan lantai marmer, bergaung ritmis bagaikan nada kematian.
Clarissa melangkah masuk. Keanggunan mutlak seorang penguasa Kerajaan Elisia memancar kuat dari tiap inci geraknya. Ia mengenakan gaun malam berpotongan tegas berwarna hitam pekat dengan leher tinggi, berpadu sempurna dengan kulit mulusnya yang seputih porselen dan bibir merah menyala. Binar keemasan di matanya memancar tajam, seolah menatap seluruh jajaran direksi sebagai abdi yang tak bernilai.
Di belakangnya, Dominic berjalan tegap dengan setelan jas tiga potong. Aura dingin dan mengintimidasi dari Sang CEO mengawal ketat setiap jengkal langkah istrinya.
Seluruh ruangan seketika hening total. Beberapa direksi senior tersentak hingga menegakkan posisi duduk mereka.
"Selamat pagi yang amat indah untuk Kakek Silas... dan para petinggi klan yang terhormat," sapa Clarissa. Suaranya mengalun merdu, jernih, namun memiliki daya tekan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Kakek Silas menyunggingkan senyuman meremehkan, berusaha mempertahankan dominasinya. Ia bersandar santai di kursi kepresidensial.
"Clarissa... kau baru kembali dari Singapura? Kenapa membawa Dominic ikut ke ruangan ini? Apakah kau membutuhkan suamimu untuk memohonkan ampun di hadapanku atas kegagalan konyolmu menembus Vane & Co?"
Tawa kecil bernada ejekan terdengar bersahut-sahutan dari jajaran direksi yang pro-Silas. Merekapun yakin, menembus benteng Vane & Co dalam waktu satu hari adalah keajaiban yang mustahil terjadi.
Namun, Clarissa tidak tersinggung sedikit pun. Ia justru membalas dengan tawa renyah yang amat dingin dan memikat—sebuah tawa yang seketika membungkam seluruh ejekan di ruangan itu.
Jemari lentiknya yang mengenakan cincin zamrud hitam mengambil sebuah dokumen tebal berstempel pita keemasan Singapura dari tangan Tulus.
Clarissa melangkah perlahan mengitari meja mahoni.
Setiap langkahnya memancarkan aura intimidasi yang membuat para direksi senior menundukkan kepala, tak sanggup menatap matanya. Ia berhenti tepat di samping kursi kepresidensial Kakek Silas.
Tanpa peringatan, Clarissa mengangkat dokumen tersebut lalu melemparkannya tepat ke tengah meja mahoni Sang Patriark.
BRAK!
Dentuman keras berkas yang menghantam meja membuat Kakek Silas tersentak kaget.
"Aku tidak pernah membuang waktuku untuk memohon, Kakek," bisik Clarissa amat tajam. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menopang jemarinya di tepi meja seraya menatap lurus ke dalam manik mata tua Patriark.
"Di dalam berkas itu tertulis perjanjian akuisisi penuh dan pengalihan seluruh hak kelola investasi Vane & Co untuk Pratama Group. Ditandatangani secara resmi oleh Julian Vane... kemarin malam."
Kakek Silas membelalak. Tangannya yang memegang tongkat naga gemetar hebat.
"A-Apa?! Tidak mungkin! Jangan membual di ruang rapat ini, Clarissa!"
"Buka dan baca sendiri jika mata tuamu masih sanggup membaca stempel resminya," tembak Clarissa tanpa ampun, menyengat gengsi sang Patriark di hadapan seluruh bawahannya.
Dengan napas memburu dan dada yang naik-turun oleh amarah bercampur rasa syok, Kakek Silas menyambar dokumen tersebut.
Jemari tuanya membocorkan ketakutan saat membuka lembaran demi lembaran. Di lembar terakhir, stempel emas murni Singapura serta tanda tangan legendaris Julian Vane tertera jelas, lengkap dengan stempel basah kementerian perdagangan internasional.
Namun, yang paling mematikan adalah Klausul Khusus Nomor 1: "Kesepakatan investasi sebesar 50 triliun rupiah ini hanya berlaku selama Nyonya Clarissa Pratama memegang jabatan Pengawas Komisaris Utama dengan hak veto independen."
Brak!
Kakek Silas berdiri dari kursinya hingga kursi megah itu terdorong ke belakang. Wajah tuanya pucat pasi, matanya memerah oleh rasa malu dan kekalahan yang menghantam telak.
"Ini... ini pasti palsu! Bagaimana mungkin Julian Vane yang dingin itu memberikan hak istimewa seperti ini padamu?!"
Dominic melangkah maju satu titik, berdiri tepat di samping Clarissa seraya menyilangkan tangan di dada. Aura penguasa dari Dominic menekan seluruh ruangan saat ia membuka suara dengan nada berat dan mutlak.
"Dokumen itu seratus persen valid, Kakek," ujar Dominic dengan tatapan dingin yang tak terbantahkan.
"Saya menyaksikan sendiri bagaimana Tuan Julian Vane menandatangani berkas tersebut di hadapan Clarissa. Tidak ada penipuan, tidak ada celah hukum."
Gemuruh syok dan kepanikan luar biasa meledak di antara para anggota dewan direksi. Mereka saling berpandangan dengan wajah pucat. Proyek raksasa yang gagal ditembus klan Pratama selama dua tahun... ditaklukkan oleh Clarissa hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam!
Clarissa menyunggingkan senyuman Ratu yang paling dingin dan memikat. Ia melangkah satu titik lebih dekat, menatap Kakek Silas dari atas dengan tatapan penguasa yang siap mencabut nyawa lawannya.
"Pertaruhan tiga hari tuntas dalam satu hari, Kakek Silas," bisik Clarissa halus, namun suaranya bergaung memotong seluruh keributan di ruangan.
"Sesuai dengan perjanjian tertulis yang kau tandatangani di depan seluruh keluarga... serahkan sepuluh persen saham veto Pratama Group secara pribadi kepadaku. Sekarang."
Kakek Silas mencengkeram tepi meja mahoni hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Napasnya tersedak oleh amarah, ketakutan, dan kehancuran harga diri.
Di hadapan seluruh petinggi perusahaan, Sang Patriark tua terpaksa menyaksikan takhta klan Pratama perlahan merosot dan jatuh ke dalam genggaman jemari wanita yang dulu paling ditindas di rumah ini.
Clarissa mengulurkan tangan kanannya yang lentik ke udara, menunggu penyerahan kekuasaan dengan senyuman kemenangan mutlak.
sangat menarik sekali