“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: aku dipungut oleh pria kaya
Pagi ini aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Di meja makan terhidang pemandangan yang luar biasa: sarapan yang begitu lengkap dan mewah. Ada rendang ayam yang gurih, tumis daging lezat, berbagai hidangan manis yang menggugah selera, hingga minuman kesukaanku tersedia di sana.
"Ya ampun... banyak sekali makanannya," gumamku bingung sekaligus senang, tak tahu harus mulai dari mana.
Koki pribadi yang melayaniku tersenyum hormat. "Iya Nona, silakan dinikmati saja. Saya koki pribadi Ibu. Kalau ada yang kurang atau tidak pas, silakan bilang saja, biar saya segera ganti."
"Tidak kok, semuanya terlihat enak sekali," jawabku antusias.
Aku pun menyantap hidangan itu satu per satu. Rasanya sungguh lezat luar biasa! Tak lama kemudian, Kevin menghampiriku. Wajahnya sudah segar kembali, luka-lukanya pulih, dan ia kembali berdiri tegak di sampingku—kami bersatu lagi seperti sedia kala.
"Bagaimana? Kamu suka?" tanyanya lembut menatapku.
"Suka banget kok, Kevin. Enak sekali semuanya," jawabku dengan hati yang berbunga-bunga.
"Kalau kamu butuh apa-apa atau ingin masakan tertentu, bilang saja sama dia ya. Nanti akan dibuatkan makanan sesuka hatimu," ucap Kevin lembut penuh perhatian.
"Boleh, boleh... nanti aku bilang ya," jawabku santai sambil tersenyum lebar, merasa sangat dimanja dan bahagia.
"Cepat habiskan sarapanmu ya, nanti kita berangkat ke kantor bareng," ajak Kevin dengan nada ceria.
Aku dan Kevin melangkah masuk menuju kantor. Jantungku sempat berdebar saat melihat sosok yang sudah terbayang di sana: Jessica.
Kevin langsung bertanya datar, "Kenapa kamu ada di sini, Jes?"
Jessica tersenyum tenang, "Oh iya, aku ke sini untuk membawa dokumen penting. Harus kamu tanda tangani segera."
"Oke, langsung ke ruanganku saja ya, Jes," jawab Kevin singkat.
"Baik..." sahutnya pelan, tapi matanya menatapku tajam dan sinis penuh ancaman yang tersembunyi.
Aku menahan napas, lalu segera melangkah pergi dari sana, menjauh dari tatapan yang membuat kulit merinding itu.
Alya tersenyum semangat, menjawab lincah: "Oke, siap Bos!"
Aku dan Kevin melangkah masuk menuju kantor. Jantungku sempat berdebar saat melihat sosok yang sudah terbayang di sana: Jessica.
Kevin langsung bertanya datar, "Kenapa kamu ada di sini, Jes?"
Jessica tersenyum tenang, "Oh iya, aku ke sini untuk membawa dokumen penting. Harus kamu tanda tangani segera."
"Oke, langsung ke ruanganku saja ya, Jes," jawab Kevin singkat.
"Baik..." sahutnya pelan, tapi matanya menatapku tajam dan sinis penuh ancaman yang tersembunyi.
Aku menahan napas, lalu segera melangkah pergi dari sana, menjauh dari tatapan yang membuat kulit merinding itu.
Di dalam ruangan kerja Kevin, Jessica mulai berbicara dengan nada tenang dan sopan.
"Oh iya, sebenarnya Papa saya yang seharusnya datang, tapi beliau tidak bisa hadir hari ini," jelasnya. "Jadi aku yang ditugaskan membawakan dokumen-dokumen penting ini."
Kevin mengangguk singkat, lalu menyambut berkas itu dengan hati-hati.
"Baik... aku cek dulu isinya ya," jawabnya serius, matanya meneliti setiap lembar dengan saksama.
"Dokumen ini isinya sudah disepakati, aku sudah setuju," ucap Kevin setelah meneliti dengan teliti. "Nanti kita bahas lebih lanjut lagi kapan waktunya."
Jessica mengangguk sopan, meski di dalam hatinya masih tersimpan niat lain. "Baik, Kevin. Kalau begitu aku pamit dulu."
"Iya, sampai jumpa di lain waktu," balas Kevin singkat.
Jessica pun melangkah keluar, meninggalkan ruangan kantor Kevin dengan langkah tenang.
Alya duduk di mejanya, namun telinganya tak sengaja menangkap percakapan rekan kerja di dekatnya.
"Tadi kan Nona Jessica Baskara... cantik banget ya. Dia itu dari kalangan orang-orang sukses, kan?" ucap salah satu staf kagum.
"Iya bener, aslinya cantik banget lho," sahut Puput setuju. "Ngomong-ngomong, dia ke kantor kita ada urusan apa ya?"
"Katanya sih soal kerja sama besar sama perusahaan kita," jawab yang lain.
Lalu suara Clara terdengar penuh kekaguman sekaligus gosip, "Bukan cuma itu... Ada rumor yang beredar, katanya dia itu tunangan Pak Kevin lho!"
"Wow... tunangannya?! Gilaa... emang cocok banget sih," seru mereka beriringan. "Cantik, pintar, kaya, berwibawa pula."
Kata-kata itu menusuk hati Alya perlahan. Dia menunduk, memeluk perasaannya yang kembali goyah mendengar perbandingan yang tak adil itu.
"Dan sepertinya Pak Kevin kayaknya juga ada rasa sama Nona Jessica deh... makin bikin hati was-was nih," tambah Puput seolah makin yakin.
"Ih kamu ini... Awalnya aku pikir Pak Kevin suka sama wanita yang sederhana saja," potong Clara heran.
"Ya mana mungkin lah... Orang kaya pasti cari yang setara, sama-sama punya status dan harta juga. Mana mungkin mereka mau sama orang biasa kayak kita begini?" tegas Puput dengan nada meremehkan.
Di meja kerjaku, setiap kata itu terasa seperti jarum yang menusuk perlahan. Aku menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajah yang mulai pucat. Keraguan yang sempat hilang, kini kembali merayap di hati: Apakah benar mereka? Apakah aku terlalu rendah untuk Kevin?
Puput dan Clara sengaja melirik ke arah meja Alya sambil tersenyum sinis.
"Lihat deh tuh si Alya... sepertinya dia denger semua ucapan kita," bisik Puput dengan nada meremehkan.
Clara ikut menimpali dengan ketus dan angkuh, "Pantesan Pak Kevin cuma sekadar baik saja, mana mungkin dia serius sama dia. Lagian wajar ya... kalau dibandingkan sama Nona Jessica, dia itu cuma anak magang biasa. Bukan apa-apanya, jauh sekali bedanya."
Kata-kata pedas itu terngiang jelas di telinga Alya, membuat dadanya terasa sempit dan perih. Dia merasa begitu kecil dan tidak berharga di mata semua orang.
Tiba-tiba langkah tegap Kevin lewat di sana, mendengar semua bisikan jahat mereka. Wajahnya dingin dan tajam.
"Kalian ini dari tadi cuma bergosip saja! Kerjakan tugas kalian masing-masing!" bentaknya tegas. "Saya tidak butuh orang-orang yang tidak berguna di sini, cuma bisa menggunjingkan orang lain."
Puput dan Clara pucat seketika.
"Tuh kan... Bos marah," bisik mereka panik ketakutan. "Ayo cepat kita kerja, jangan dihukum."
"Maaf, Bos!" jawab mereka serentak tertunduk takut.
Kevin pun melanjutkan langkahnya kembali ke ruangan, meninggalkan mereka yang diam seribu bahasa dan Alya yang lega sekaligus terharu.
Namun di dalam hati, Alya tak bisa menahan perasaannya yang hancur. Ucapan Kevin tadi tak cukup mengobati luka di hatinya.
"Tapi yang mereka katakan itu benar..." batinnya pilu. "Dibandingkan dengan Jessica, aku ini bukan apa-apa. Aku sadar diri... aku hanyalah wanita biasa, sederhana, yang kebetulan ditemukan dan dipungut oleh pria kaya seperti Kevin."
Perasaan tidak pantas dan rendah diri kembali menyelimutinya, membuatnya merasa seperti beban yang tak berharga.
Keraguan itu terus merayap, menggigit ketenanganku. Tapi... apakah Kevin benar-benar mencintaiku? Apakah dia tidak akan meninggalkanku suatu hari nanti?
Jantungku berdebar cemas, dinginnya rasa takut menjalar di sekujur tubuh. Bagaimana jika suatu saat Kevin sadar bahwa dia salah memilih? Bagaimana jika pesona Jessica dan kesamaan status mereka memikatnya?