Indonesia
NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Satu celah

Jayengrana berdiri kokoh menyangga tumpuan tubuhnya. Gagang kayu tombak pusaka yang terhambat pendar api legam kini menghitam dan meretas rapuh, namun sisa strukturnya masih sanggup menopang tumpuan tempur.

Pria bertopeng kayu bergeming tanpa mengikis jarak. Ia berdiri tenang hanya beberapa langkah di hadapannya.

"Mengapa kau menahan seranganmu?" tanya Jayengrana berhati-hati.

"Aku sekadar memberimu panggung."

"Menanti momentum apa?"

"Kesalahan fatal dari refleksmu."

Jayengrana menyunggingkan senyum tipis. "Skenario kita ternyata serupa."

Pria bertopeng memiringkan kepalanya sedikit. "Apa maksudmu?"

"Aku pun tengah mengincar satu celah dari kesalahanmu."

Keheningan mencengkeram malam. Tak ada gerakan, tak ada desah napas yang terlepas.

Tiba-tiba Jayengrana memacu langkah maju. Tepat satu pakan.

Pria bertopeng tangkas mengangkat tongkat kayunya. Jayengrana menghentikan tumpuan seketika. Tongkat itu kembali diturunkan. Jayengrana memilih melangkah mundur setengah jengkal.

Serangan batal diluncurkan. Ia sedang menguji batas jarak jangkauan lawan.

Sekali lagi, Jayengrana bergerak mendobrak. Pria bertopeng kembali mengacungkan tongkatnya. Kali ini, Jayengrana melempar raganya meliuk tajam ke sisi kiri.

Fsssh!

Lidah api legam menyambar kilat, membakar tipis sisa kain bahu Jayengrana sebelum menghantam tanah.

Memanfaatkan luputnya serangan musuh, Jayengrana melancarkan balasan kilat lewat sabetan poros tombak.

Tak!

Mata tombak menusuk tepat di bagian lengan pria bertopeng. Meski tak menembus dalam, sabetan itu sanggup merobek jubah tebalnya hingga darah segar menetes membasahi tanah.

Jayengrana menyipitkan mata. Musuh gaib ini ternyata raga bernyawa yang sanggup terluka.

Pria bertopeng melirik luka kecil di lengannya. kekeh rendah terlepas dari balik topeng kayu. "Luar biasa. Aku mulai menikmati dinamika pertarungan ini."

Jayengrana tak membalas gertakan itu. Tatapannya justru tertuju rapat pada tumpuan kaki lawan.

Tiap kali pendar api meluncur dari ujung tongkat, posisi kaki kiri pria itu selalu bergeser mundur setengah langkah. Sebuah gerakan yang hampir kasatmata, namun bagi seorang perwira prajurit seperti Jayengrana, detail sekecil apa pun adalah kunci kemenangan.

Jayengrana kembali melancarkan gempuran beruntun. Sabetan tombaknya menyapu mendatar dari kanan. Pria bertopeng menangkisnya dengan gagang kayu. Jayengrana memutar poros tombak, menusuk lurus ke dada, lalu dipatahkan lagi. Ia merendahkan tubuh untuk menyapu tumit musuh.

Lawan melompat ringan menembus udara. Jayengrana terus meningkatkan intensitas serangan, bukan demi mencabut nyawa secara tergesa-gesa; ia ingin memaksa musuhnya mengeksploitasi pendar api legam itu secara terus-menerus.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Tiap kali lidah api menyambar, kaki kiri pria bertopeng konsisten terdorong mundur.

Dugaan Jayengrana terbukti sahih. Ada batasan tegas pada kemampuan gaib musuh—entah itu pengurasan energi batin, jarak jangkauan, atau jeda waktu pemulihan. Pria bertopeng ini tak bisa membakar niat musuh secara serampangan tanpa henti.

"Jayengrana!" jerit istrinya mendadak memecah konsentrasi.

Jayengrana melirik sekilas. Jaka berlari ketakutan dengan bayangan dua prajurit Mataram yang memburu di belakangnya.

"Menjauhlah dari arena!" seru Jayengrana.

Pengemis Tua bergerak memotong jalan, namun satu prajurit berhasil meloloskan diri dan mengayunkan pedangnya ke arah Jaka yang tersandung akar pohon.

Trang!

Pengemis Tua menahan tebasan itu menggunakan kendi tanah liatnya. Benturan keras membuat permukaan kendi kesayangannya meretas pecah.

"Aduhai..." gumam Pengemis Tua prihatin menatap kendinya yang retak. "Ini wadah arak terbaik milikku."

Tanpa membuang waktu, Pengemis Tua mengayunkan bagian bawah kendinya yang tebal tepat ke pelipis sang prajurit.

Buk!

Prajurit itu langsung rubuh tak sadarkan diri.

"Jangan pernah berani merusak barang kesayanganku," gerutu Pengemis Tua.

Jaka menatapnya takjub dengan mata berbinar. "Paman pengemis sangat hebat!"

"Hentikan julukan menggelikan itu."

"Paman pengemis yang sangat hebat!"

Pengemis Tua menghela napas pasrah.

Jayengrana kembali memusatkan seluruh kesadarannya pada pertarungan utama. Pria bertopeng telah mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Kobaran api legam membumbung kian pekat.

Namun kali ini, bukannya melompat mundur untuk berlindung, Jayengrana justru melesat menembus jarak tempuh musuh!

Pria bertopeng mengayunkan tongkatnya secara mendatar. Jayengrana memutar raga di udara; lidah api menyambar sisi pakaiannya hingga hangus terbakar. Meski sengatan panas menembus kulitnya, ia mengabaikan rasa sakit itu dan terus menerjang!

Tusukan tombak Jayengrana meluncur bagai kilat. Pria bertopeng berupaya menangkisnya, namun terlambat.

Srak!

Ujung tombak menembus bahu kanan pria bertopeng. Tubuh musuh terdorong mundur, kehilangan keseimbangan untuk pertama kalinya selama pertempuran.

Jayengrana menarik kembali tombaknya dengan cepat. Pria bertopeng menekan luka di bahunya, membiarkan darah kental mengalir merembes di sela jemarinya.

"Jadi..." desisnya sambil menatap darah di tangannya. "...seperti ini sensasi rasa sakit manusia."

Jayengrana pasang kuda-kuda untuk melancarkan sabetan penentu. Tiba-tiba pria bertopeng itu tertawa pelan—sebuah tawa dingin seperti seseorang yang baru saja menemukan teka-teki yang lama dicari.

"Sangat menarik."

Tok!

Ia menghentakkan tongkat kayunya ke tanah. Pendar api legam membual liar, membentuk lingkaran gaib yang mengepung area pertarungan.

Pengemis Tua berteriak dari jauh, "Jayengrana! Cepat keluar dari lingkaran itu!"

Jayengrana bersalto ke belakang melintasi udara untuk menjauh. Lingkaran hitam itu mengembang pesat; tanah di dalamnya memudar mati, pohon-pohon mendadak layu, dan rerumputan kehilangan pendar kehidupannya.

Pria bertopeng berdiri tenang di pusat lingkaran gaib tersebut. Pendar darah dari lukanya perlahan mengering dan tertutup secara tidak wajar.

"Pertarungan ini belum mencapai waktunya," ucap pria itu datar.

Jayengrana mengerutkan dahi ketat. "Apa yang sedang kau rencanakan?"

"Aku sekadar menguji kepastian."

"Kepastian atas hal apa?"

Pria bertopeng menatap lurus ke dada Jayengrana—tepat di mana simpul perjanjian gaib bersemayam. Suaranya berubah menjadi bergema berat.

"Dugaanku tak meleset. Kau memang sosok yang ditakdirkan itu."

Jayengrana tertegun. "Maksud dari ucapanmu?"

Pria bertopeng tak memberikan jawaban. Lingkaran gaib hitam menyusut cepat, menarik raganya menyatu ke dalam kegelapan malam.

Sebelum sosoknya melenyap sepenuhnya, sebuah pesan bergema tipis di udara:

"Lanjutkan langkahmu menuju Watu Ireng."

Jayengrana membeku di tempat. Musuhnya mengetahui secara mendalam arah tujuan perjalanan mereka.

"Tunggu!" seru Jayengrana hendak menerjang kegelapan.

Pengemis Tua tangkas mencengkeram bahu Jayengrana. "Tahan langkahmu."

"Mengapa menghalangiku?"

"Karena jebakan sesungguhnya adalah membiarkan dirimu terpancing mengejarnya."

Jayengrana menatap pekatnya malam. Pria bertopeng telah sirna tanpa jejak. Pertempuran fisik di tempat itu resmi berakhir.

Namun bagi Jayengrana, malam tersebut justru melahirkan tumpukan teka-teki yang jauh lebih besar. Bagaimana mungkin musuh misterius itu mengetahui keberadaan perjanjian gaib di dadanya?

Dan apakah makna sesungguhnya di balik sebutan "sosok yang ditakdirkan" itu?

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!