Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Hidangan sop buntut yang nikmat dan hangat telah tandas, meninggalkan rasa kenyang dan kehangatan yang merata di perut mereka berempat.
Setelah menikmati makan siang dan berbincang santai untuk melepas rindu, mobil yang mereka tumpangi kembali membelah jalanan kota Jakarta, mengantar kepulangan mereka menuju unit apartemen.
Setibanya di lantai unit apartemen, suasana berubah menjadi lebih intim.
Namun, waktu kunjung kedua orang tua Alena hari itu harus usai karena urusan pekerjaan sang Papa yang tidak bisa ditinggal lama.
Di ruang depan, Mama Alena memeluk putrinya erat-erat, mengusap punggung dan perut buncit Alena penuh kasih sayang.
"Jaga kesehatan baik-baik ya, Sayang. Kalau ada apa-apa, jangan ragu kabari Mama atau Papa."
Papa Alena menepuk bahu Baskara dengan senyuman bangga.
"Bas, istirahat yang cukup. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja dulu. Urusan perusahaan biarkan Kenan dan tim yang handle sementara waktu."
"Baik, Pa, Ma. Terima kasih banyak sudah datang menemani kami hari ini," jawab Baskara sopan sambil menyalami tangan kedua mertuanya bergantian, diikuti oleh Alena.
Setelah berpamitan dan melepas senyuman terakhir, ayah dan ibu Alena melangkah masuk ke dalam lift, meninggalkan Baskara dan Alena yang berdiri berdampingan di ambang pintu.
Pintu lift tertutup rapat, menyisakan keheningan yang nyaman di dalam unit apartemen mereka—menandakan babak baru kehidupan yang tenang, damai, dan sepenuhnya milik mereka berdua.
Pintu unit apartemen tertutup rapat, mengunci segala kebisingan dan hiruk-pikuk kota Jakarta di luar sana.
Suasana mendadak menjadi jauh lebih tenang, menyisakan keheningan yang nyaman di antara Baskara dan Alena.
Baskara mengembuskan napas panjang, melepaskan sisa-sisa ketegangan yang masih melekat di pundaknya sejak dari pemakaman hingga rumah makan tadi.
Ia menoleh ke arah istrinya, lalu merentangkan sebelah lengannya.
Alena tersenyum manis, dengan sigap melangkah mendekat dan membiarkan tubuhnya masuk ke dalam dekapan hangat sang suami.
Baskara memeluknya dengan hati-hati, memastikan punggungnya tidak tertekan, lalu mendaratkan ciuman lembut di puncak kepala Alena.
"Akhirnya, kita bisa berdua saja," bisik Baskara parau, menikmati aroma lembut dari rambut istrinya.
"Terima kasih sudah selalu ada di sisiku, Alena. Tanpa kamu, aku mungkin sudah menyerah sejak lama."
Alena mendongak, menatap mata suaminya yang kini memancarkan ketulusan dan ketenangan sejati.
Ia merangkum rahang Baskara dengan telapak tangannya yang hangat.
"Jangan bicara begitu, Bas. Kita sudah berjanji untuk melewati semuanya bersama-sama, susah maupun senang."
Baskara tersenyum, sorot matanya melembut. Ia meraih jemari Alena, lalu menggenggamnya erat sambil menuntun istrinya berjalan pelan menuju sofa ruang keluarga yang menghadap langsung ke pemandangan gedung-gedung tinggi ibu kota di balik dinding kaca yang bersih.
"Sekarang, tugas utamaku hanya satu," kata Baskara lembut saat mereka duduk berdampingan.
Alena mengerjap, mengangkat sebelah alisnya dengan penasaran.
"Apa itu?"
Baskara mendekatkan wajahnya, mengecup singkat pipi istrinya dengan senyuman usil yang jarang sekali terlihat.
"Menjaga ratu rumah ini dan bayi kita agar tetap bahagia, tidak kurang suatu apa pun. Dan mungkin, menemanimu kalau nanti tiba-tiba ngidam makanan aneh tengah malam lagi."
Tawa renyah langsung meledak dari bibir Alena. Ia memukul pelan dada suaminya, merasa begitu lapang dan ringan. Hari-hari penuh duri dan air mata telah resmi tertutup di belakang mereka.
Di dalam dekapan hangat itu, masa depan yang damai, penuh cinta, dan kehangatan keluarga kini benar-benar menjadi milik mereka seutuhnya.
Jarum pendek di dinding kamar menunjuk tepat ke angka dua.
Suasana apartemen terlelap dalam keheningan malam yang pekat, ditemani cahaya lampu tidur yang temaram.
Tiba-tiba, Alena bergerak gelisah di atas ranjang. Ia menyiku pelan lengan suaminya yang terlelap di sebelah.
"Bas, bangun," bisik Alena dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, sembari mengguncang pelan bahu suaminya.
Baskara yang masih dalam masa pemulihan mengerjap lambat-lambat.
Ia langsung terbangun, matanya siaga penuh karena khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Baskara panik, suaranya terdengar berat sambil buru-buru menegakkan posisinya dan meraba lampu nakas.
"Kamu kesakitan? Perutmu mules? Atau mau air hangat?"
Alena menggeleng pelan, wajahnya tampak memelas penuh harap.
"Aku ingin makan nasi pecel."
Baskara tertegun sejenak. Otaknya yang baru setengah sadar mencoba mencerna kalimat istrinya.
"A-apa? Nasi pecel? Jam dua pagi?" tanyanya memastikan, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Alena menganggukkan kepalanya mantap dengan mata berbinar-binar.
Tanpa membuang waktu atau protes panjang, Baskara langsung meraih ponselnya yang tergeletak di nakas.
Dengan mata yang masih menyipit mengantuk, jemarinya lincah mengetik di mesin pencari, mencari warung makan tradisional yang sudah buka di jam-jam rawan seperti ini.
Beberapa detik kemudian, senyuman lega terukir di wajah Baskara.
"Ketemu! Ada penjual nasi pecel langganan di Jalan Ahmad Yani yang ternyata sudah buka buat sarapan subuh."
Baskara langsung menyingkirkan selimutnya, bangkit berdiri meski punggungnya masih terasa sedikit kaku.
Ia menatap istrinya dengan penuh cinta dan senyuman geli.
"Ayo, Sayang, lekas ganti pakaian," ajak Baskara sambil merapikan jaketnya.
"Kita berburu nasi pecel sekarang juga sebelum bayinya protes!"
Udara malam Jakarta yang dingin menyambut langkah terburu-buru Baskara dan Alena keluar dari lobi apartemen.
Di depan pintu drop-off, sang supir sudah siap siaga di balik kemudi mobil hitam mereka.
Tanpa buang waktu, keduanya segera masuk ke dalam mobil, dan kendaraan langsung meluncur membelah sunyinya jalanan ibu kota menuju Jalan Ahmad Yani.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di lokasi.
Namun, setibanya di warung nasi pecel yang dimaksud, pemandangan di depan mereka cukup mencengangkan.
Meskipun hari masih menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh dini hari, antrean pembeli sudah mengular panjang di trotoar jalan.
Baskara menoleh ke arah Alena yang duduk di kursi penumpang dengan wajah berbinar penuh harap.
Menyadari kondisi punggung suaminya yang belum sepenuhnya pulih, Alena sempat ragu.
"Bas, antriannya panjang banget. Kamu yakin mau ikut mengantri?"
Baskara tersenyum kecil, mengelus puncak kepala istrinya.
"Demi request ratu kecil dan calon buah hati kita, apa sih yang tidak?" jawabnya lembut.
Ia meminta Alena untuk tetap duduk nyaman di dalam mobil yang ber-AC, sementara ia membuka pintu dan melangkah keluar bergabung dalam barisan antrean.
Di tengah kerumunan pembeli yang sabar menunggu giliran, ketampanan Baskara yang berdiri dengan balutan jaket kasual kontras dengan suasana malam itu.
Posturnya yang tegap dan wajahnya yang karismatik rupanya menarik perhatian seorang wanita berpenampilan mencolok yang juga sedang mengantri beberapa langkah di depannya.
Wanita itu melirik beberapa kali, lalu perlahan mendekati Baskara dengan senyuman menggoda.
"Sendirian saja, Mas? Panjang ya antriannya. Kalau bosan, boleh banget nunggu bareng saya," bisik wanita itu dengan nada manja, mencoba mencuri kesempatan.
Baskara mengernyitkan keningnya dan merasa risih.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas godaan tersebut, Baskara mengangkat tangan kirinya tepat di depan wajah wanita itu.
Jari manisnya yang melingkar sebuah cincin pernikahan perak berdesain elegan terpampang nyata di bawah temaram lampu jalan.
Melihat kilau cincin di jari manis Baskara, wanita itu seketika tersadar.
Wajahnya langsung memerah karena rasa malu yang luar biasa akibat salah tingkah.
Tanpa membuang waktu lagi, wanita itu membuang muka, mundur teratur, dan langsung pergi meninggalkan antrean dengan langkah seribu.
Sementara itu, dari balik kaca jendela mobil yang sedikit terbuka, Alena menyaksikan seluruh kejadian tersebut dengan jelas.
Alih-alih cemburu, sebuah senyuman geli dan rasa bangga justru mengembang di bibirnya.
Ia terkekeh pelan, menyadari bahwa pesona suaminya memang tidak pernah luntur, bahkan di tengah antrean nasi pecel pukul dua pagi sekalipun.
Dari balik kaca mobil yang hangat, Alena menatap punggung tegap suaminya yang masih sabar berdiri di tengah antrean panjang demi memenuhi keinginannya.
Matanya berbinar, dipenuhi rasa haru dan cinta yang teramat dalam.
"Kamu sangat beruntung, Alena. Mendapatkan suami berusia dua puluh lima tahun yang begitu setia dan luar biasa mencintaimu." gumam Alena pelan pada dirinya sendiri, diiringi senyuman tulus yang tersungging di bibirnya.
Usia muda sama sekali tidak mengurangi kedewasaan, ketegasan, dan rasa tanggung jawab yang dimiliki Baskara.
Pria itu justru membuktikan bahwa di balik segala cobaan berat yang baru saja mereka lewati—dari reruntuhan masa lalu hingga ancaman musuh-musuh mereka—kesetiaan dan ketulusan cintanya tidak pernah goyah sedikit pun.
Tidak lama kemudian, Baskara berbalik badan sambil mengangkat tinggi-tinggi bungkusan kertas cokelat berisikan dua porsi nasi pecel hangat dengan senyuman kemenangan di wajahnya.
Ia berjalan kembali ke arah mobil dengan langkah ringan, siap memanjakan sang istri tercinta yang tengah menunggu.
Alena segera merapikan duduknya dan membukakan pintu mobil untuk suaminya, menyambut kepulangan Baskara dengan pelukan hangat dan ucapan terima kasih yang tulus di dini hari yang dingin itu.
kalo pun ad di real life yx perbandingan ny 1 : 10000
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭