Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Takdir

Terpisah Oleh Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:205
Nilai: 5
Nama Author: Diah Lubis27

Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Keesokan harinya Karisa tidak sabar lagi untuk menunggu. Pagi-pagi sekali ia sudah pergi dengan sebuah mobil rental menuju alamat yang tertera di dalam foto kopi KTP yang tadi malam di ambilnya diam-dian saat semua orang sudah tertidur lelap.

Setelah kepergian Karisa kehebohan pun terjadi di rumah kiyai Usman. Karisa meninggalkan sebuah surat yang isinya. "Maaf aku pergi sendiri!" Tidak ada yang tau apa yang difikirkan Karisa mereka hanya berusaha memaklumi nya.

"Sekarang bagaimana? Kita sudah tidak punya alamat pria itu. " Vina agak menyesal kenapa tidak menyimpan foto kopi KTP itu di dalam tasnya.

Kebeningan pun terjadi beberapa saat setelah itu.

"Biarkan kak Karisa melakukan apa yang di inginkannya, kita tunggu saja kabar darinya."

Aisyah duduk diam, pikirannya menerawang mengingat betapa menderitanya kakak iparnya itu selama ini wajar jika ia tidak bisa menunggu lagi.

Mobil yang di tumpangi Karisa Melaju dengan cepat membelah kesunyian jalanan dan dinginnya hari. Namun di dahinya muncul butir-butir keringat seolah cuaca sedang sangat panas.

"Apa yang terjadi denganmu mas? Apa kamu sudah bukan milikku lagi?" Banyak pertanyaan yang terlontar namun tidak mengubah apapun. Suasana di mobil tetap sunyi,karena pertanyaan-tanyaan itu hanya berlalu-lalang di benak Karisa.

Duduk diam seolah patung yang sedang di bawa berpergian begitulah Karisa saat ini.

Cahaya pagi mulai menyingsing diufuk timur menghilangkan bayang-bayang kegelapan. Hiruk pikuk masyarakat juga sudah mulai terlihat saat mobil Karisa memasuki area pedesaan yang mereka tuju.

Jalanan pedesaan itu sangat sempit tidak bisa di lalui oleh dua mobil sekaligus. Jika ada mobil yang saling berpapasan maka salah satunya harus menepi dulu. Seperti yang terjadi saat ini saat mobil Karisa ingin memasuki area pedesaan itu terdengar sebuah klakson mobil lain yang memberi isyarat bahwa mereka ingin lewat. Sopir yang menyetir mobil Karisa pun terpaksa berhenti untuk menepi membiarkan sebuah mobil pickup yang sedang membawa kentang dan semangka lewat duluan.

"Albert sepertinya ada orang kota yang berkunjung ke desa kita. "

Pak Pohan yang sedang berada di dalam mobil pickup bersama Albert menoleh kearah mobil yang sedang menepi itu.

"Mungkin ingin mengunjungi salah seorang keluarganya yang tinggal di desa kita. "Albert kembali fokus menyetir setelah sempat menoleh sebentar ke arah mobil itu.

Setelah bertanya beberapa kali dengan warga desa itu akhirnya Karisa sampai di rumah Jesica.

"Tok...tok...tok...Permisi, apa ada orang?" Karisa mengetuk pintu rumah Albert beberapa kali nun tidak ada jawaban sama sekali.

"Mbak cari siapa?" Tanya salah satu warga yang lewat didepan rumah Albert dan melihat Karisa.

Karisa mendadak gugup di tatap oleh ibu itu. Raut wajahnya tegas dan mengintimidasi logat bahasanya juga keras namun tatapannya bersahabat.

"Saya cari pemilik rumah ini bu, apa ibu tau mereka kemana?"

Karisa tetap berdiri tegak di depan pintu rumah Albert tidak berani mendekat ke arah ibu yang bertanya itu.

"Maksudnya pak Pohan? Dia dan menantunya sedang pergi ke kota menjual hasil panen mereka. Kalau istri dan putrinya mungkin sedang belanja di warung yang ada di ujung gang sana. Di tunggu saja sebentar lagi juga balik. " Ibu itu pun pergi meninggalkan Karisa.

"Pak apa kalau orang batak wajahnya memang seperti itu ya datar dan tegas, saya agak takut?"

Karisa bertanya kepada sopir yang mengantarkannya ke desa ini.

"Ha... ha... ha... " Sopir itu langsung tertawa mendengar ucapan Karisa.

"Ya pada umumnya sih begitu, tapi pada sadarnya mereka baik-baik kok cuma rata-rata orang batak itu blak-blakan dan terus terang jika suka ya suka jika tidak suka ya tidak suka. Sama halnya dengan istri saya yang juga suku batak. " Kata sopir itu menjelaskan.

"Kalian siapa?" Tanya seorang wanita yang baru saja tiba menghentikan percakapan antara Karisa dan sang sopir.

Karisa menatap wanita yang baru saja tiba itu dengan seksama, matanya begitu jernih dengan sudut sedikit sipit hidungnya tidak mancung tapi juga tidak pesek dengan bibir tipis dan dagu agak lancip tidak bisa dibilang cantik luar biasa namun tidak bosan untuk terus di pandang.

"Perkenalkan nama saya Karisa saya datang kesini ingin mencari seseorang!"

Karisa kemudian mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasnya menyerahkannya kepada Jesica.

Jesica menerima foto itu matanya mengerjab beberapa kali.

"Ini suami saya kenapa anda mencari suami saya?"

Jesica menyerahkan kembali foto itu kepada Karisa.

"Bisa kita bicara di dalam?"

"Hmmmm.. " Jesica mengangguk.

"Silahkan!"

Keduanya kini sedang duduk berhadapan hanya di pisahkan oleh sebuah meja.

"Orang di dalam foto itu juga suami saya. "

Ucap Karisa memulai percakapan mereka.

Jesica mengepalkan tangannya untuk meredam gejolak emosi yang melanda di hatinya.

"Ternyata dia benar sudah menikah!" Jesica menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya.

"Apa? Maksudnya kamu sudah tau kalau dia sudah menikah dan kamu tetap bersedia menikah dengannya?" Karisa langsung berdiri karena kaget.

"Bukan seperti itu, sebaiknya anda tenang dulu. "

Jesica berusaha tetap tenang walaupun hatinya hancur. Namun sejak awal menikah dengan Albert dia sudah menyiapkan mental jika ternyata Albert memang sudah menikah.

"Waktu itu tepatnya setahun yang lalu saya dan ayah saya menemukan Albert yang sedang terluka parah dan tidak sadarkan diri di kaki gunung belakang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Setelah beberapa hari kami rawat akhirnya dia sadar tapi tidak ingat apapun, hanya saja saat itu dia menyangka aku ini istrinya. Katanya dia tidak ingat apapun kecuali bayangan samar tentang pernikahan dan raut wajah seorang wanita."

Jesica terdiam lalu menunduk.

"Tadinya aku tidak perduli karena saat itu memang belum ada perasaan di hatiku untuknya. Tapi lama kelamaan aku mulai jatuh cinta dan tidak ingin lagi mempermasalahkan hal ini. Aku mulai berfikir kalau bayangan pernikahan itu mungkin saja pernikahan adiknya. Ini memang salahku cinta sudah membutakan mataku. "

Jesica tidak berani egois dalam hal ini dia tau dirinya lah yang bersalah terhadap Karisa. Walaupun saat ini sebenarnya dia sangat ingin mengusir Karisa agar tidak bertemu dengan Albert.

"Tapi apakah kamu tau kalau Albert itu seorang muslim dan nama aslinya adalah Farhan. "

"Tidak mungkin, jelas-jelas saat kami menyelamatkannya dulu kami menemukan KTP di dompetnya atas nama Albert dan beragama Kristen. Walaupun sebagian besar dari KTP itu rusak parah namun namanya masih terlihat jelas. "

Tidak ada keraguan sedikit pun di mata Jesica saat mengatakan hal itu.

"Jesica, apa ada tamu?" Bu maria masuk dengan menenteng belanjaan di tangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!