Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGUMUMAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Alunan musik orkestra yang megah bergema di seluruh aula utama mansion, berpadu dengan suara tepuk tangan yang riuh dan sorak-sorai para tamu undangan. Di atas pelaminan yang dihiasi ribuan kuntum mawar merah, Raka dengan tangan yang sedikit gemetar memasukkan cincin berlian ke jari manis Larasati. Larasati tersenyum, air mata bahagia menggenang di pelupuk matanya, dan dia mengangguk pelan saat penghulu (yang kebetulan juga merangkap sebagai notaris keluarga) mengucapkan kata-kata sakral pertunangan.
Tidak ada hujan badai yang tiba-tiba turun. Tidak ada preman yang mendobrak pintu. Tidak ada Tante Ratna yang pingsan karena alergi bunga mawar. Tidak ada surat wasiat palsu yang dilemparkan ke wajah Pak Darmawan.
Semuanya berjalan... sempurna.
Vania berdiri di sisi kiri pelaminan, memegang gelas sampanye yang bahkan tidak dia minum isinya. Dia menatap "kamera" imajinernya yang melayang di atas chandelier kristal, dan dalam hati, dia menarik napas panjang yang melegakan.
Checklist mental, batin Vania, menandai satu per satu dengan tanda centang hijau yang berkilau di otaknya. Raka bahagia? Check. Larasati bahagia? Check. Tidak ada yang diracun? Check. Tidak ada yang jatuh dari tebing? Check. Aku masih bernapas dan tidak dituduh sebagai pesugihan? Check.
Plot Survival Radar di kepalanya, yang tadi berdetak kencang seperti sirine bom di Episode 34, akhirnya mati total. Jarumnya kembali ke zona hijau yang damai. Vania hampir tertawa lega. Dia berhasil. Dia berhasil melewati Arc 2 tanpa harus mati lebih awal. Dia berhasil menjaga main couple tetap di jalur yang benar. Sekarang, dia bisa kembali ke kamarnya, makan Chiki Balls rasa keju, dan tidur selama dua belas jam tanpa mimpi buruk.
Dia menatap Kevin yang berdiri di sebelahnya. Pria itu mengenakan tuxedo hitamnya dengan sempurna, wajahnya datar, dan tatapannya menatap lurus ke arah Raka dan Larasati. Vania mengira Kevin sedang merenungkan kekalahan kecilnya, atau mungkin sedang menyusun rencana balas dendam untuk Arc selanjutnya. Tidak apa-apa, Kevin, batin Vania dengan rasa iba yang tulus. Kau boleh ngambek. Yang penting aku selamat. Nanti aku belikan kau selai kacang lagi sebagai kompensasi.
Tepat saat Vania bersiap untuk berbalik dan meninggalkan aula yang terlalu pengap itu, sebuah suara tajam dan jernih memecah keriuhan tepuk tangan.
Ting. Ting. Ting.
Suara sendok perak yang diketuk perlahan ke pinggiran gelas kristal. Suaranya tidak keras, tapi memiliki frekuensi yang aneh, seolah-olah suara itu dipaksa untuk menembus setiap gendang telinga di ruangan itu dan membungkam semua orang secara paksa.
Aula utama hening seketika.
Semua mata, dari Pak Darmawan yang duduk di kursi rodanya, hingga ibu-ibu arisan yang sedang memegang foie gras, menoleh ke sumber suara.
Kevin berdiri di sana. Gelas sampanye di tangan kirinya, sendok perak di tangan kanannya. Dia tidak tersenyum. Wajahnya datar, dingin, dan memancarkan aura otoritas yang mutlak. Lampu sorot di langit-langit, entah kenapa, tiba-tiba berpindah dan menyorot tepat ke arahnya, menciptakan efek pencahayaan dramatis yang sangat sinematik.
Vania menatap Kevin, alisnya sedikit terangkat. Oh? Ini dia. Momen karakter development. Villain yang mengakui kekalahan dan memberikan ucapan selamat yang tulus kepada sang pahlawan. Ini sangat dewasa. Ini sangat sehat. Aku bangga padamu, Kevin.
Vania bahkan menyiapkan senyum tipis yang sopan dan sedikit meremehkan di wajahnya. Senyum yang berkata, 'Terima kasih sudah tidak membuat keributan, Tuan Kevin. Kau akhirnya waras juga.'
Kevin menurunkan sendoknya. Dia menatap sekeliling ruangan, membiarkan keheningan itu merayap selama tiga detik yang terasa seperti tiga tahun. Lalu, dia berbicara. Suaranya berat, bergema, dan diucapkan dengan artikulasi yang sangat jelas.
"Terima kasih telah hadir malam ini," ucap Kevin, nadanya datar. "Kita berkumpul untuk merayakan pertunangan Raka dan Larasati. Sebuah momen yang... sangat membosankan, tapi perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas ekosistem keluarga ini."
Beberapa tamu terbatuk pelan. Raka mengertakkan giginya. Larasati menatap Kevin dengan tatapan waspada.
Vania masih tersenyum tipis. Oke, sedikit sarkasme di awal. Klasik. Lanjutkan, Kevin. Ucapkan selamat dan kita bisa pulang.
Kevin berhenti sejenak. Dia menoleh perlahan, dan tatapan matanya yang gelap terkunci tepat pada Vania. Senyum tipis di wajah Vania sedikit memudar, digantikan oleh rasa bingung. Tatapan Kevin bukan tatapan seorang pria yang baru saja mengakui kekalahan. Itu adalah tatapan seorang predator yang baru saja menemukan mangsa yang paling sempurna. Tatapan yang gelap, posesif, dan penuh dengan kegilaan yang tidak bisa lagi disembunyikan.
Kevin mengangkat gelas sampanyenya sedikit ke arah Vania, lalu menatap kembali ke seluruh ruangan.
"Namun," lanjut Kevin, suaranya merendah, namun setiap suku katanya terdengar jelas seperti palu hakim yang mengetuk meja. "Ada satu hal yang lebih penting untuk diumumkan malam ini. Satu hal yang akan mengubah seluruh dinamika di ruangan ini."
Vania menelan ludah. Plot Survival Radar di kepalanya, yang tadi sudah mati total, tiba-tiba menyala kembali. Tapi bukan berdetak pelan. Kali ini, radarnya berteriak histeris, jarumnya membentur ujung kanan dengan kekuatan penuh. BEEP! BEEP! BEEP!
"Malam ini aku memutuskan," ucap Kevin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang tampan, namun sangat, sangat mengerikan. "Aku akan menikahi Vania."
Hening.
Bukan hening yang sopan. Bukan hening yang kaget. Ini adalah hening yang absolut. Hening di mana oksigen di dalam ruangan seolah tersedot keluar, meninggalkan semua orang di sana dalam keadaan mati rasa.
Vania menatap Kevin. Matanya terbelalak lebar. Gelas sampanye di tangannya miring, cairan keemasan di dalamnya hampir tumpah ke gaun velvet hijau zamrudnya.
Hah? batin Vania. Otaknya yang terbiasa memproses logika 2026 dan alur cerita sinetron 90-an mengalami fatal error. Tunggu. Tunggu dulu. Apa yang baru saja dia katakan? Menikahi aku? Di Arc 2? Ini tidak ada di naskah! Di naskah asli, kamu harusnya menculik Larasati di Arc 3, aku harusnya menyelamatkan Larasati, lalu aku melamar kamu di Arc 4 sebagai strategi survival! Kita tidak menikah di Arc 2! Ini penyimpangan plot! Ini fatal error!
Vania menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan panik yang murni. Kalian dengar itu?! Dia gila! Dia benar-benar gila! Ini bukan bagian dari skenario!
Di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah suara kecil terdengar.
Pletak.
Gelas sampanye di tangan Tante Ratna terlepas dari genggamannya. Gelas itu jatuh dalam gerakan slow motion yang sangat dramatis, memantul di atas lantai marmer, dan pecah berantakan.
KRAAAAK! (Efek suara kaca pecah pertama, nyaring dan menusuk telinga).
Tante Ratna menatap pecahan gelas itu, lalu menatap Kevin, lalu menatap Vania. Wajahnya yang dipoles tebal memucat, lalu memerah padam, lalu kembali memucat. Mulutnya terbuka dan menutup seperti ikan yang terlempar ke daratan.
KRAAAAK! (Efek suara kaca pecah kedua, kali ini dari gelas Om Reza yang ikut terlepas).
Om Reza menatap Kevin dengan tatapan horor, seolah dia baru saja melihat hantu nenek moyangnya berdiri di samping pria itu. Bibi Marni di sebelahnya langsung memegang dadanya, bersiap untuk pingsan sesuai dengan SOP sinetron 90-an.
KRAAAAK! (Efek suara kaca pecah ketiga, kali ini dari gelas seorang ibu-ibu arisan yang saking kagetnya sampai meremas gelasnya hingga hancur).
Tiga kali suara kaca pecah bergema di aula utama, menandakan bahwa tingkat kejutan dan drama di ruangan ini telah mencapai level maksimal yang diizinkan oleh undang-undang sinetron Indonesia.
Vania tidak peduli pada Tante Ratna. Dia tidak peduli pada Om Reza. Dia hanya menatap Kevin, napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat.
"Kevin..." bisik Vania, suaranya bergetar, kehilangan seluruh ketenangan dan arogansinya. "Apa... apa yang baru saja kau katakan? Kau tidak bisa... ini tidak sesuai... naskahnya..."
Kevin menatap Vania. Dia melangkah maju, mengurangi jarak di antara mereka hingga Vania bisa melihat pantulan wajah paniknya sendiri di pupil hitam Kevin. Pria itu tidak terlihat gila. Dia terlihat sangat waras, sangat tenang, dan sangat puas dengan dirinya sendiri.
Dia tersenyum. Senyuman yang membuat bulu kuduk di seluruh tubuh Vania berdiri tegak. Senyuman yang tampan, menawan, namun menyimpan ancaman yang bisa meruntuhkan tembok beton.
"Aku tahu kau bingung, Sayang," bisik Kevin, suaranya serak dan bergetar rendah, hanya cukup untuk didengar oleh Vania dan "kamera" imajiner yang melayang di antara mereka. "Kau selalu bicara tentang naskah. Kau selalu bicara tentang alur cerita. Kau pikir kau bisa mengurungku di dalam kotak yang kau buat."
Kevin mengangkat tangannya, jari-jarinya yang panjang dan kuat menyentuh pipi Vania dengan lembut namun mencengkeram, memaksa Vania untuk tetap menatap matanya.
"Tapi dengar baik-baik, Vania," desis Kevin, matanya berkilat dengan obsesi dan cinta yang sangat toxic namun sangat tulus. "Aku tidak peduli naskahmu. Aku menulis ulang ending-nya."
BERSAMBUNG...