Indonesia
NovelToon NovelToon
Affair With Hot Secretary

Affair With Hot Secretary

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Kehidupan di Kantor
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 - Perdebatan

Tristan segera cepat menyela sebelum suasana makin runyam. Ia mengibaskan tangannya ke arah pintu, bermaksud menyuruh sekretarisnya itu segera angkat kaki dari area panas tersebut. "Nayla, kamu bisa kembali ke mejamu sekarang. Rapikan berkas-berkas yang tadi sempat kamu catat."

Nayla yang sejak tadi menahan napas langsung mengangguk cepat. Rasa lega menjalar di dadanya meski ketegangan belum sepenuhnya sirna. "Baik, Pak. Saya permisi."

Tanpa membuang waktu atau menatap mata Olivia lebih lama, Nayla bergegas melangkah melewati wanita itu. Bau parfum mahal Olivia yang menusuk hidung sempat terhirup oleh Nayla, memicu kembali ingatan masa lalu yang pahit. Namun, Nayla memilih menunduk rapat, melangkah keluar, dan segera menutup pintu kaca tebal ruangan CEO rapat-rapat.

Begitu pintu tertutup, Olivia langsung berbalik memutar tubuhnya dengan kasar. Matanya menyalang menatap Tristan yang sedang berusaha merapikan kemeja serta meja kerjanya yang masih sedikit berantakan.

"Tristan! Kamu gila, ya?!" seru Olivia dengan suara melengking penuh nada ketidakpercayaan. "Kenapa wanita seperti itu bisa bekerja di sini?! Kamu sadar tidak siapa dia?!"

Tristan menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang masih terasa panas. Ia berusaha bersikap setenang mungkin di depan istrinya. "Memangnya kenapa? Kau bicara seolah mengenalnya. Tenanglah..."

"Tenang kamu bilang?!" Olivia melangkah mendekat, tumit sepatu hak tingginya menekan lantai kayu dengan bunyi nyaring yang menggelegar. "Dia sepertinya cewek miskin dan tidak berpendidikan! Aku yakin dia tidak punya latar belakang pendidikan tinggi yang pantas untuk duduk di kursi sekretaris CEO perusahaan sebesar ini! Bagaimana bisa kamu meloloskan cewek kelas bawah seperti dia?!"

Olivia memilih tetap merahasiakan fakta kalau dia dan Nayla dulu sahabat. Fakta mengenai ayahnya yang berselingkuh dengan ibunya memang sempat mencuri perhatian dulu.

Mendengar hinaan yang dilontarkan Olivia, raut wajah Tristan mendadak meredup, berubah dingin. Ada rasa tidak nyaman yang menyengat dadanya saat mendengar Nayla direndahkan seperti itu.

"Jaga bicaramu, Olivia!" potong Tristan dengan nada berat dan datar. "Keahlian Nayla sudah sesuai dengan standar ketat perusahaan kita. Dia memang tidak punya gelar dari universitas ternama luar negeri seperti teman-teman sosialitamu, tapi dia punya pengalaman kerja bertahun-tahun di berbagai bidang. Dia terbukti mampu menyelesaikan pekerjaannya jauh lebih rapi!"

"Aku tidak peduli mau dia rajin atau tidak!" bentak Olivia, dadanya kempas-kempis menahan amarah. "Aku tidak mau dia ada di sekitar kamu! Pecat dia sekarang juga! Hari ini juga keluarkan dia dari gedung ini!"

Tristan menyandarkan pinggulnya di pinggiran meja mahogany, bersedekap dada sambil menatap Olivia tanpa ekspresi. Tatapannya teramat dingin, cukup untuk membuat ruangan terasa kian membeku.

"Aku tidak akan memecatnya," jawab Tristan lugas tanpa ragu sedikit pun.

"Tristan!"

"Kamu lupa dengan isi perjanjian pra-nikah kita, Olivia?" sindir Tristan dengan sudut bibir terangkat sinis. "Sebelum kita mengikat janji di pelaminan dulu, ada poin tertulis yang sangat jelas, kamu tidak punya hak sedikit pun untuk ikut campur dalam urusan bisnis dan operasional perusahaanku. Apa kau perlu aku cetakkan lagi salinan dokumennya agar kau ingat?"

Wajah cantik Olivia mendadak menegang. Warna merah akibat emosi di pipinya perlahan memudar, berganti pucat kaget.

Tristan tidak berhenti di situ. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah perlahan mendekati Olivia dengan gestur intimidatif yang menekan. "Lagipula, mari kita bicara jujur. Gaya hidup mewahmu, gaun bermerek yang kamu pakai sekarang, tas mahal di lenganmu, dan uang bulanan berlimpah yang kamu nikmati setiap tanggal satu... dari mana semua itu berasal jika bukan dari hasil keringat saya mengelola perusahaan ini? Dari bisnis yang sedang kamu recoki ini?"

Kalimat Tristan bagaikan tamparan keras di wajah Olivia. Skakmat.

Wanita itu mendadak ciut. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala terkatup rapat. Olivia tahu betul posisi tawarnya. Sejak kecil ia memang terbiasa hidup berkecukupan, namun setelah menikah dengan Tristan, kemewahan hidupnya melesat tanpa batas.

Reputasi sebagai istri CEO ternama dan akses tanpa batas menuju gaya hidup kelas atas adalah segalanya bagi Olivia. Ia sangat takut kehilangan status sosial itu. Ia tahu, jika Tristan benar-benar marah dan membatasi fasilitasnya, dirinya tak akan bisa mempertahankan gengsinya di hadapan teman-teman kelompok sosialitanya.

Melihat Olivia yang bungkam dengan napas tersendat, Tristan memutar tubuhnya kembali ke balik meja kerja. Ia duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung, lalu menatap istrinya dengan pandangan menilai.

"Sekarang, katakan padaku," ucap Tristan dingin. "Untuk apa kamu datang ke kantor siang-siang begini tanpa memberi tahu sekretaris depan lebih dulu?"

Olivia menelan ludahnya kaku. Keangkuhannya yang tadi meluap-luap mendadak menguap, berganti raut wajah memohon yang dipaksakan agar terlihat anggun. Ia membetulkan letak tas di lengannya sebelum bersuara.

"Aku... aku cuma mau bilang, minggu depan aku dan geng sosialitaku mau liburan ke luar negeri," ujar Olivia pelan, suaranya tak lagi melengking tinggi seperti tadi. "Kami mau ke Paris selama sepuluh hari. Jadi... aku butuh uang tambahan dari kamu. Limit kartu kreditku bulan ini sudah hampir penuh."

Tristan mengerutkan dahinya dalam-dalam. Keheranan dan rasa lelah seketika terpancar jelas di matanya. Pria itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

"Uang tambahan lagi?" tanya Tristan dengan intonasi tak percaya. "Olivia, ini baru pertengahan bulan. Seminggu yang lalu kamu baru saja minta transferan seratus juta rupiah dengan alasan untuk bayar booking tempat acara arisan kelompokmu. Dan sekarang kamu minta uang tambahan lagi untuk liburan?"

"Ya memangnya kenapa?!" sahut Olivia, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya meski suaranya agak bergetar. "Teman-temanku semuanya diberi fasilitas luar biasa oleh suami mereka! Masa aku istri seorang CEO besar harus tampil gembel di depan mereka?! Seratus juta itu sudah habis untuk beli pakaian baru dan perawatan wajah kemarin! Lagi pula, uang segitu kan tidak ada apa-apanya buat kamu!"

"Uang itu dicari dengan kerja keras, Olivia! Bukan tinggal memetik dari pohon!" tegas Tristan, menaikkan nada suaranya satu tingkat. Sabarnya mulai tergerus habis. "Setiap bulan aku selalu menuruti keinginanmu, tapi tidak untuk kali ini. Aku tidak akan memberikan uang tambahan untuk liburan foya-foya yang tidak jelas itu. Pakai saja uang bulanan yang tersisa di rekeningmu."

"Kamu pelit sekali, Tristan!" teriak Olivia frustrasi, tidak terima penolakan tersebut. "Aku ini istri kamu! Sudah kewajiban kamu membiayai semua kebutuhanku! Kenapa sekarang kamu jadi perhitungan begini?!"

"Cukup, Olivia! Keluar dari ruangan saya!" bentak Tristan seraya berdiri menggebrak mejanya.

"Aku tidak mau keluar sebelum kamu transfer uangnya!" seru Olivia tak kalah kencang, benar-benar kalap karena merasa gengsinya dipertaruhkan.

Perdebatan hebat itu berkecamuk hebat di dalam ruangan berpendingin udara tersebut. Suara teriakan Olivia yang melengking tinggi dan bentakan tegas Tristan yang bergelombang penuh emosi menembus celah-celah pintu kaca tebal ruangan CEO.

Di luar ruangan, Nayla duduk mematung di balik meja sekretarisnya. Tangannya yang memegang pena tampak gemetaran hebat. Setiap kata demi kata pertengkaran dari dalam ruangan, hinaan Olivia tentang dirinya yang miskin, hingga jeritan menuntut uang, terdengar amat jelas di telinganya. Dadanya bergemuruh pilu, berbaur antara rasa bersalah, cemas, dan kenangan masa lalu yang kian menggebu-gebu menghantuinya.

1
Mita Paramita
mungkin Denis bukan anak kandung Tristan... hasil perselingkuhan Olivia & zay😈😈😈 lanjutin Tristan sampe puas bikin Nayla tepar 🤣🤣🤣🫡
Mita Paramita
gass terus Nayla bikin Tristan lupain Olivia 🤣🤣🤣 rebut sekalian
Mita Paramita
bos dan sekretaris jadi lupa batasan malah curcol masalah rumah tangga 🫡🫡🫡 kasian ternyata Tristan Pria kesepian
Mita Paramita
Nayla takut gelap 😭😭😭 tapi kalo sekarang lebih takut kehilangan Tristan 🤣🤣🤣
Rommy Wasini Khumaidi
monggo dilanjutkan saja mas Tris
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
jangan-jangan Denis bukan anak Tristan sama Olivia lagi, Olivia kan suka di celup-celup😂
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
langsung jadian deh Tristan sama Nayla menjadi pacar selundupaan 🤭
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
kalau udah mabuk pasti lupa sama janji ya Tristan 😂
Dinda Putri
Kenapa ga nikah siri aja sih biar greget gitu
Rommy Wasini Khumaidi
gimana rasanya mas Tris?
Ass Yfa
yg katanya tdk akan terulang lagi mlh berkelanjutankan...
tattoo
lagi 🌚🌚🌚
Rommy Wasini Khumaidi
lanjutkan Nay,aku mendukungmu
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
itu beda ya nay karena itu cuma reflek aja 😂
Mita Paramita
SituationShip 🫡🫡🫡
Mita Paramita
zay cocok banget jadi selingkuhan Olivia sama sama manusia redflag 🤣🤣🤣 semoga perselingkuhan mereka cepet terbongkar nih
Mita Paramita
Nayla udah terang terangan mau jadi gundik Tristan 🤣🤣🤣
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
astaga kasihan kau Tristan lagi tanggung-tanggung nya eh di stop😂😂😂
tattoo
belum pernah dengar😭
Ass Yfa
😄😄😄Tristan dibuat kentang sama Nayla rasain...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!