Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Elemen Langka
Walaupun kecewa, Chongyue mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia kemudian menatap pria tua itu dengan tatapan yang kembali tegas.
"Mari kita lanjutkan pengujian pada elemen-elemen yang tersisa," ujarnya mantap sambil melepaskan kepalan tangannya.
Lalu kenapa jika dia tidak memiliki elemen kayu? Dia tetap bisa meracik berbagai obat!
Pria tua itu terkejut. Gadis ini masih ingin melanjutkan pengujian?
Mentalnya benar-benar sekuat baja. Kegagalan kecil seperti ini sama sekali tidak menggoyahkan tekadnya.
Namun di bawah tatapan Bei Mingye, pria tua itu tentu saja tidak berani membantah. Dia kemudian mengajak Chongyue menguji pilar elemen petir, angin, serta berbagai elemen spiritual lainnya.
Hasilnya tetap sama. Tidak ada satupun pilar yang memancarkan reaksi.
Berdiri tegak di tengah ruangan, Chongyue tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.
Meskipun terbukti memiliki potensi elemen api, hasil pengujian ini juga memastikan bahwa dia hanya memiliki satu elemen.
Haruskah dia merasa kecewa atau justru bersyukur?
Bahkan dia sendiri tidak mengetahui jawabannya.
"Yang Mulia, seluruh tahapan pengujian telah selesai," lapor pria tua itu sembari melangkah menghampiri Bei Mingye.
Bei Mingye tidak langsung menjawab. Dia melirik Chongyue yang masih berdiri membisu tidak jauh dari sana.
Kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Pak Tua, sepertinya kau memang harus merenovasi ulang seluruh isi ruangan ini," ucapnya santai.
Mendengar itu, wajah pria tua langsung berubah pucat.
"Yang Mulia, kali ini benar-benar bukan kesalahan saya!" serunya panik sambil merentangkan kedua tangannya di hadapan Bei Mingye. "Gadis itu memang hanya memiliki potensi elemen api. Tidak semua orang bisa dikaruniai bakat luar biasa seperti Yang Mulia!"
Chongyue yang mendengar percakapan mereka hanya bisa mendengus pelan.
Apa mereka memang sengaja memamerkan bakat luar biasa di hadapannya?
Ketika Chongyue hendak melangkah menghampiri Bei Mingye, dia melihat dua batang pilar yang berdiri di sudut ruangan.
Salah satunya berwarna hitam pekat, sedangkan yang lainnya memancarkan cahaya keemasan.
Kedua pilar itu berdiri terpisah dari deretan pilar lainnya sehingga tampak sangat mencolok.
Tatapan Chongyue tertuju pada pilar berwarna hitam pekat. Keningnya berkerut tipis. Rasa penasaran muncul di dalam hatinya.
Mengikuti kata otaknya, dia melangkah menghampiri pilar itu.
"Nona Muda, jangan sekali-kali menyentuh pilar itu!" seru pria tua itu tiba-tiba.
Mendengar kepanikan dalam suaranya, Chongyue berhenti dan menoleh.
Namun sudah terlambat. Telapak tangannya telah lebih dulu menyentuh permukaan pilar hitam.
Wajah pria tua itu seketika berubah pucat pasi. "Celaka!"
Pilar itu adalah pilar pengujian elemen kegelapan!
Jika seseorang tidak memiliki bakat elemen kegelapan lalu menyentuhnya, energi pantulan dari pilar tersebut akan menyerang balik dan melukai organ dalam dengan sangat parah.
Jika gadis itu sampai terluka, Yang Mulia Raja Hantu pasti tidak akan mengampuninya.
Lalu jika Raja Hantu mengamuk, seluruh pilar di ruangan ini pasti akan dihancurkan tanpa sisa.
Kalau semuanya benar-benar hancur, dia harus menghabiskan seluruh hartanya untuk memperbaikinya.
Itu berarti dia akan bangkrut total!
Memperhatikan perubahan ekspresi pria tua itu yang silih berganti secara drastis, Chongyue merasa heran.
Apakah tindakannya ini merupakan sebuah kesalahan besar?
Namun, dia sungguh penasaran elemen apa yang diuji oleh pilar hitam itu. Demi keamanan, sebaiknya dia tidak menempelkan telapak tangannya terlalu lama.
Memikirkan hal itu, Chongyue berusaha menarik kembali telapak tangannya. Namun anehnya, telapak tangannya seolah melekat kuat pada permukaan pilar oleh daya magnet yang dahsyat.
Tidak peduli seberapa kuat dia menariknya, tangannya sama sekali tidak dapat dilepaskan.
"Ada apa?" tanya Bei Mingye sambil mengernyit.
Menyadari perubahan raut wajah Chongyue yang tidak biasa, dia segera mendekatinya.
Pria tua itu ikut berlari kecil menyusul dari belakang.
Jika gadis itu sampai terluka, setidaknya dia bisa segera memberikan beberapa butir pil penyembuh tingkat tinggi demi menyelamatkan seluruh pusaka di ruangan ini.
"Telapak tanganku tidak bisa dilepaskan dari pilar ini," jawab Chongyue dengan tenang.
Meskipun situasi di hadapannya cukup aneh, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan.
Mendengar jawabannya, Bei Mingye langsung meraih kerah pakaian pria tua di belakangnya. Dia menunjuk pilar hitam itu dengan tatapan dingin yang membuat bulu kuduk pria tua itu berdiri.
"Apa kau sengaja mengoleskan perekat di pilar ini?" tanyanya dengan suara rendah.
"Bagaimana mungkin saya melakukan hal sekonyol itu hanya untuk bercanda?!" bantah pria tua itu dengan wajah panik.
"Kalau begitu, mengapa dia tidak bisa menarik kembali telapak tangannya?!" desak Bei Mingye sambil mempererat cengkeramannya pada kerah pria tua itu.
"Saya..." Pria tua itu terdiam dengan wajah serba salah, lalu buru-buru menggelengkan kepala. "Ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan fenomena seperti ini! Saya benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!"
Selama puluhan tahun mengawasi ribuan proses pengujian elemen, ini memang pertama kalinya dia melihat seorang penguji yang telapak tangannya melekat pada pilar dan sama sekali tidak dapat ditarik kembali.
"Sepertinya kau memang tidak ingin melihat seluruh barang di ruangan ini tetap utuh." Setelah mengatakan itu, Bei Mingye melepaskan cengkeramannya dari kerah pria tua itu dan segera menghampiri Chongyue.
Namun, tepat ketika dia berdiri di belakang Chongyue, pilar hitam yang semula redup tiba-tiba memancarkan cahaya yang sangat dahsyat.
Bukan sekadar cahaya biasa.
Kobaran cahaya hitam pekat menyembur keluar dan dalam sekejap menyelimuti seluruh ruangan.
Aula yang sebelumnya terang langsung berubah gelap gulita, seolah ditelan malam tanpa setitik pun cahaya bintang.
Dari balik gumpalan cahaya hitam, terdengar suara retakan kristal yang memekakkan telinga.
Mendengar suara itu, ekspresi Bei Mingye seketika berubah. Dia sangat mengenali suara itu.
Tanpa ragu, Bei Mingye melangkah maju dan merangkul tubuh Chongyue ke dalam pelukannya. Tangannya mencengkeram lengan kanan gadis itu, lalu menyentakkannya dengan kuat hingga telapak tangan Chongyue terlepas dari pilar.
Cahaya hitam pekat terus memancar dengan kekuatan mengerikan, menyelimuti seluruh aula sebelum perlahan-lahan meredup.
Beberapa saat kemudian, kobaran cahaya hitam tersebut akhirnya menghilang.
Pria tua itu berdiri mematung di belakang Bei Mingye dan Chongyue dengan wajah dipenuhi keterkejutan.
Sementara itu, Bei Mingye masih mendekap erat tubuh Chongyue, memastikan gadis itu tidak terluka oleh serpihan pilar yang hancur.
Di hadapan mereka, pilar hitam yang sebelumnya berdiri kokoh kini telah hancur berkeping-keping. Yang tersisa hanyalah tumpukan pecahan batu berserakan di atas lantai.
Chongyue menatap pecahan itu sambil mengernyitkan kening.
Apakah aku baru saja menghancurkan pilarnya?
"Elemen kegelapan... elemen kegelapan murni..." gumam pria tua itu dengan suara bergetar.
Meskipun tubuhnya masih diliputi keterkejutan, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar jelas di telinga Chongyue dan Bei Mingye.
Chongyue menoleh kepadanya dengan kening berkerut. "Apa itu elemen kegelapan?" tanyanya penasaran.
Melihat reaksi pria tua itu, jelas bahwa elemen kegelapan bukanlah jenis elemen spiritual biasa.
"Elemen yang paling merusak, paling mematikan, sekaligus paling mendominasi di seluruh dunia ini." Pria tua itu menatap Chongyue dengan mata membelalak, lalu melanjutkan dengan penuh kegembiraan, "Bahkan di antara sepuluh ribu praktisi, belum tentu ada satu orang yang memiliki bakat elemen kegelapan!"
Begitu mengucapkan kalimat itu, dia langsung melesat menghampiri Chongyue. Kedua tangannya mencengkeram tangan gadis itu, lalu dia berseru dengan penuh kegembiraan, "Saya sungguh tidak pernah membayangkan ternyata kau memiliki bakat elemen kegelapan!"
Chongyue melirik telapak tangannya sejenak sebelum menariknya perlahan dari cengkeraman pria tua itu.
Setelah itu, dia melepaskan diri dari dekapan Bei Mingye dan melangkah menuju pilar berwarna emas murni yang berdiri di sampingnya.
"Pilar yang ini digunakan untuk menguji elemen apa?" tanyanya sambil menepuk permukaan pilar emas tersebut.
"Pilar itu berfungsi untuk menguji..." Pria tua itu baru saja hendak menjawab ketika ucapannya mendadak terhenti.
Pilar emas tiba-tiba memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan.
Meskipun sinarnya tidak menyebar memenuhi seluruh sudut ruangan seperti kobaran cahaya hitam sebelumnya, tingkat kecemerlangannya sungguh luar biasa.
"Jenius tiada duanya!" seru pria tua itu dengan mata membelalak dan mulut menganga.
Begitu Chongyue menarik kembali telapak tangannya, pancaran cahaya emas dari pilar emas perlahan meredup.
saya ingin sekali mencabik Xuan meng😡